Holiday in Swedia 2

1681 Words
Cuaca Swedia masih belum bersahabat ditubuh Jasmine. "Cuaca disini sangat dingin yah mba.?" Tanya Jasmine sambil mengusap kedua tapak tangannya. "Iya, disini memang cool... Makanya saya lebih suka di Jakarta." Tutur Fene, merangkul Jasmine saat menemani Nichole membeli sesuatu di supermaket. "Kamu mau coklat panas Jasmine.?" Fene menghampiri dan memilih duduk disebuah cafe, membeli dua roti dan dua susu coklat. Jasmine mengikuti langkah Fene, sambil menunggu kehadiran Nichole. Drrrrtt...drrrrt... 'no nomber' Fene memperhatikan situasi. "Ya." "Fen... How are you.?" Suara dingin dari sudut telfon membuat Fene mengingat pemilik suara. "Papi...!!!" Mata Fene memperhatikan sudut kota, menggenggam paha Jasmine, memberi kode agar menekan nomor Adrian, Bram, atau Kevin. Dia hanya diam memperhatikan situasi dengan wajah tenang. "Kamu tidak aman disini, karena Hanz ada...." Telfon tertutup. Fene mencoba menoleh kebelakang mengajak Jasmine berdiri, tapi seseorang menyentuh punggung belakang Fene dan Jasmine, meminta mereka untuk tetap stay. Jasmine menatap mata Fene, tatapan Fene memohon Jasmine agar tetap tenang. "Halo sweety." Fene dikejutkan oleh sosok pria tampan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. "You remember me.?" You wanna play with me... sweety.?" Wajah itu mendekati Fene yang saat ini menggenggam erat jemari sebelah Jasmine. "Ho..." Fene menelan salvianya dalam. "Papi Hanz. Hanz Parker. You remember.?" Senyum menyeringai dengan wajah sangat kaku. Tak terlihat tua, makin gagah menggunakan jam Rolex seri terbaru menghiasi tangan kanannya. "Oooh. Apa aku mengenalmu.? Bukankah kau telah menjualku kepada Mark.?" Tatapan tajam Fene memandang kedua mata Hanz. Fene dan Hanz berbicara dengan wajah sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti. "Hmmmm.... Darimana kamu mendengar aku menjualmu.? Aku hanya membantu Mark agar dia tidak kesepian karena pernikahannya dengan adikku tidak menghasilkan keturunan. Apakah Edward yang telah mencuci kepalamu, hingga kamu lupa siapa darahmu Fene Lincoln.?" "Tapi aku tidak pernah mendapatkan perhatian darimu.? Kenapa baru sekarang kau muncul dihadapanku.? Apa lagi yang harus aku dengar.? Kenapa tidak Daddy Edward yang kau cari, selesaikan masalahmu dengannya. Kenapa mesti kami yang kau hantui.?" Jawab Fene sarkas. Suasana cafe menjadi tertutup seketika. Jasmine berusaha tenang, menatap wajah Fene dari samping, yang sangat tenang. Saat masih berhadapan dengan Hanz. Tiba-tiba Mark muncul dihadapan mereka berdua. "Hmmmm..." Fene menarik nafas dalam. Menatap tajam Mark dan Hanz. "Apa yang kalian inginkan dariku.?" "Sweety... Tinggalkan Bram, tinggal kan Edward. Jangan pernah mendengar ucapannya. Aku akan memberimu lebih banyak uang jika kamu butuh uang. Sangat menggiurkan bukan." Fene hanya menatap. "Aku mencintai Bram, aku tidak akan pernah meninggalkan dia." Jawab Fene sambil terus menatap keluar kaca. Jasmine berkali-kali menarik nafas, melihat kedua bule masih terlihat sangat tampan tanpa berkedip. 'oalah ndalah... ganteng-ganteng iki bapaknya mba Fene tooh, ya Allah... ganteng banget.' bisik hati Jasmine. "Hmmmm.... Apa yang diberikan Edward pada mu.? Bagaimana jika setengah sahamku untuk mu.?" Hanz membuka laptopnya. Melihatkan saham Hanz hari ini. Sangat sombong. "Aku tidak tertarik." Jawab Fene, mencoba berdiri agar bisa meninggalkan cafe, tapi terdengar suara tembakan dari kejauhan menembus kaca tempat duduk mereka. Fene melindungi Jasmine lari menundukkan tubuhnya menuju pintu belakang, tapi tangannya ditahan oleh seseorang, membuat Fene memberi satu pukulan secara reflex. Fene dan Jasmine berlari mencari keberadaan Adrian berada disatu sisi tidak jauh dari cafe. "Run....run....run....run...." suara Adrian berteriak. Dilokasi kejadian masih terdengar suara tembakan membuat kaki Fene dan Jasmine ada kekuatan agar lari lebih cepat. Adrian memeluk Fene dan Jasmine, membawa mereka menuju mobil yang dikendarai Kevin. "Bram mana Vin." Fene panik seketika dengan nafas tersengal. "Bram disana." Kata Kevin. "Nichole.?" "Nichole ama lo kan Fen.?" "Fuck..... gue cari Nichole. Jasmine lo tunggu disini." Fene berlari mendekati lokasi, mencari keberadaan Nichole, Bram. Fene melihat Mark dan Hanz dibalik tembok, mengokang senjatanya untuk menghujamkan pada Bram, Bram tengah berdiri tak seberapa jauh dari Fene berdiri. Fene berlari kearah Bram, memeluk tubuh Bram untuk menghindar dari hujaman senjata Hanz. Bram tersentak seketika, kembali memeluk tubuh Fene hingga terjatuh. "Sayang." Kaget Bram. "Pergi ke mobil Kevin, aku akan ikut mereka." Perintah Fene pada Bram. "Nggak Fen, aku mencintai kamu." "Aku akan menyelesaikan semua ini. Pergilah..." Fene mencium bibir Bram yang masih berada di atas tubuh Bram. Terdengar suara tepuk tangan Hanz, "sangat romantis sweety, kamu telah menyelamatkan suamimu." "Apa yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Asal jangan kau sakiti suami ku." "Fen, gila lo. Gue yang pergi sama mereka, bukan lo." Adrian menatap tajam kearah Mark dan Hanz. "Aku mau, kamu dan Fene Adrian. Karena aku akan menikahkan kalian." Senyum sinis keluar dari bibir Hanz. "What...? You crazy.?" bola mata Fene membesar menatap tajam kearah Hanz. Terdengar dua senjata berada tepat dikepala Hanz dan Mark. "Mr.Khol.?" Mata mereka saling tatap, penuh dendam dan kemarahan. Kohl memberi kode pada Adrian agar segera meninggalkan tempat ini. Adrian membawa Fene dan Bram. "Nichole, Nichole mana.?" Fene melihat Nichole dengan tangan mengatub tubuhnya sangat ketakutan. Fene menghampiri Nichole, membawanya dengan sangat menggigil. Ada raut trauma diwajahnya. "You oke.?" "Aku takut Fen." Tangisnya. "Tenang, semua baik-baik aja." Mereka pulang ke gueshouse yang telah dipersiapkan oleh Edward. Media Swedia, ternyata meliput kejadian mereka. Mencari keberadaan anak asuh Edward, Mark dan Hanz. Sangat meresahakan. Edward Lincoln... Media terus mengulang siaran tv, membuat Bram mematikan tv rumah mereka. Mr.Kohl membawa team medis, agar Nichole dan Jasmine bisa tenang. "Apa yang mereka inginkan uncle.?" Tanya Bram sedikit berbisik. "Dia hanya ingin mengambil hak asuh sepenuhnya anak mereka. Agar semua kembali seperti dulu. Melakukan kegiatan sesuai tempat masing-masing." Jelas Kohl. "Mereka terlambat, setelah kami menikah, mereka menghantui kami. Kenapa Mark dan Hanz begitu menjijikkan.?" Tanya Bram. "Persaingan bisnis ingin menguasai semua. Hanz Amerika, Mark Eropa. Edward cukup bersama Mr.Huang. Just it." "Tapi kenapa kami yang disiksa mereka uncle.?" Tunduk Bram. "Tenanglah, Edward akan beretemu dengan mereka, dan kalian akan hadir disana. Tenangkan diri kalian." Ucap Kohl. "Iya uncle." Adrian menghampiri Bram. Bram memeluk erat Adrian, "apa yang akan terjadi jika salah satu kita mati.?" Tangis Adrian. "Tenanglah, semua akan membaik." Hibur Bram. "Daddy akan menyelesaikan masalah ini." Jasmine, Nichole masih shook dengan kejadian hari ini. Jasmine berharap akan berlibur bulan madu, malah dibuat shook. Nichole trauma karena pernah terluka. Begitu juga Fene, hanya bisa berusaha tenang, walau hatinya sangat hancur. Jasmine menarik tangan Adrian. Menangis dipelukan Adrian. "Kenapa begitu sadis keluarga kalian.? Apa aku terjebak dengan mu pak Adrian." Adrian hanya bisa menenangkan Jasmine, memahami emosinya. Menenangkan, membawa kekamar agar istirahat. "Aku nggak mau tidur. Aku bukan anak kecil." Tangisnya. "Sayang, tenanglah. Kami akan menyelesaikan semua ini. Aku minta kamu tenang." Pujuk Adrian. "Aku sedih lihat mba Fene, di hantui kedua orang tuanya. Nggak tega aku bebeb. Gimana mau hamil coba. Kita pulang." Tangisnya lagi. "Dengar, kita akan pulang, setelah semua aman." Adrian memeluk lagi tubuh Jasmine. Fene mengetuk, membuka pintu kamar memasukkan kepalanya. "Apa kita bisa ngobrol.?" "Ya Fen, masuk lah." Adrian membukakan pintu lebih lebar. Fene memeluk Jasmine. Mengusap lembut punggungnya. "Maafkan saya, karena mengancam nyawamu. Dengar, dia bukan keluarga saya. Saya tidak pernah merasakan kasih sayang mereka. Mungkin mereka menganggap saya milik mereka, karena mereka adalah ayah biologis dan ayah angkat saya, mereka tidak pernah melukai saya. Jadi apa yang kamu dengar tadi, lupakan saja. Anggap saat ini mereka kalah karena saya menikahi Bram, anaknya Edward. Mungkin jika Bram anak orang lain, tidak terjadi seperti ini." Fene melepas pelukannya. "Saya hanya kaget mba, saya seperti melihat sosok yang pernah bertemu sama saya. Waktu saya umur 12 tahun. Tapi saya ragu mba." Jasmine menatap Fene. "Jujur... mereka sangat awet muda." Tunduk Jasmine. "Apa kamu mengingat sesuatu.? Melihat mereka.?" Fene kembali meyakinkan Jasmine. "Iya mba, tapi saya ragu." "Dia yang memberi uang pada salah satu orang tertua dikampung saya, banyak mba... satu kopor. Tapi saya nggak dikasih apa-apa." Iba Jasmine. "Hmmmm.... Sayang, kamu bersih-bersih dulu, nanti kita ngobrol lagi. Kamu sudah sholat.?" Tanya Adrian lembut. "Iya bebeb, maafkan aku. Karena aku sedikit marah sama kamu." "Nggak apa-apa, saya ngerti kok." Adrian mengecup kening Jasmine. Meninggalkan Jasmine, Adrian membawa Fene keluar kamar. "Bener felling gue kan dri. Ini pasti kerjaan Mark." Geram Fene. "12 tahun memory sudah menyimpan kan.? Kita aja masa kecil main dirumah oma, jalan-jalan masih inget, temen kita Petter juga inget. Berarti Jasmine mengingat sesuatu." Tambah Adrian. "Kalau benar Papi yang melakukan semua, apa dia harus mendekam dipenjara.?" Tanya Fene. "Ntaaaahlah." Adrian merebahkan tubuhnya disofa ruang keluarga. Kevin menemani Nichole dikamar, "Vin, lo udah cek barang Mr.Huang.?" Saat Adrian melihat Kevin keluar dari kamar. "Sudah. Mr.Kohl masih disini kan.?" Lanjut Kevin. "Ya... Saya baru memberi kabar pada Edward. Kita akan segera ke LA." Jelas Khol. "Ya. Kenapa daddy tidak kesini uncle." Kesal Fene. "Mereka kan masih disini." Tambahnya. "Sweety, mereka yang ingin diselesaikan disana." Sambung Bram. "Hmmmm... aku pengen pulang ke Berlin, atau ke Jakarta." Fene menutup wajahnya menangis sejadi-jadinya. Bram menghampiri Fene. "sayang, aku ada disini. tenanglah... semua akan baik-baik saja." pujuk Bram. "Aku nggak mau kehilangan kamu." Fene memeluk Bram. Ada rasa ketakutan di wajah Fene. Adrian memberikan bir pada Bram, kembali kesofa didepan Fene, menatap Fene yang sangat rapuh. mengingat ucapan Fene untuk ikut sama mereka. "Nih, minum." Bram memberikan bir pemberian Adrian. "Fen, lain kali jangan pernah gue denger lo mau ikut apa kata mereka. Gue nggak mau terjadi apa-apa sama lo. Lo nggak denger rencana busuk mereka suruh kita nikah.? Apa lo nggak mikir gue, Bram, Kevin yang selama ini jagain lo... lo nggak mikir apa." emosi Adrian. "Gue kalau ikut, gue akan buat perhitungan sama mereka dri. Bukan ngikut gitu aja." Bela Fene. "Perhitungan apa.??? Perhitungan biar lo dapat saham di Las Vegas, terus memberikan Garmen lo yang di Jakarta pada Mark... itu perhitungan lo.? Perjuangan gue dan Bram lo anggap apa Fene.??" Adrian kembali membentak. "Daripada kita semua terancam kayak gini, setidaknya mereka tidak akan nyakitin gue Adrian." Fene mulai menjawab. "Ooooh.... lo mau jauh dari kita semua, demi Las Vegas, haaaaah.??? mana yang katanya setia, mau sama-sama. Bhulshiiit..." Adrian melempar kareng bir yang ada digenggamannya. "Dri. Stop it. oke. colling down." Kevin menenangkan Adrian berdiri dibelakangnya. Bram hanya mengusap punggung Fene sambil memeluk Fene. Fene kembali menangis dipelukan Bram. Mr.Kohl hanya menepuk bahu Adrian. Agar tidak menambah masalah. Adrian, Bram, Kevin dan Kohl hanya diam... masuk kedunia pikiran mereka masing-masing. Jasmine dari balik pintu, sempat mendengar perdebatan Adrian dan Fene. Nichole juga mendengar perdebatan Adrian dan Fene. "Hmmmm... not bad... not good." tobe continue....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD