Holiday in Swedia 3...

1651 Words
Adrian, Bram dan Kevin pv.... Mendapat panggilan telfon dari Jasmine, mendengar pembicaraan mereka Kevin segera melacak keberadaan Jasmine. "Mereka di cafe victoria." Tegas Kevin bergegas meninggalkan rumah. Bram membawa senjata seri terbaru dibeli saat kemaren berkunjung ke Paris. "Gue akan memecahkan kepala Mark jika terjadi sesuatu pada Fene dan Jasmine." Geram Adrian. "Tidak mungkin Mark akan menyakiti Fene dri." Bram merangkul bahu Adrian. "Hmmmm... Nothink is imposible bram." Senyum bak devil menyeringai diwajah Adrian. Bram menghampiri cafe victoria, melalui pintu belakang. Melihat Fene dan Jasmine. Disaat penembakan terjadi, Fene dan Jasmine menunduk berlari menuju pintu belakang, Bram menahan tangan Fene agar berlindung bersamanya. Tapi.... BHUUUK... Satu pukulan dilayangkan Fene kewajah Bram. Sakit memang, tapi setidaknya reflex Fene sangat cepat untuk mengamankan dirinya. Bram mengendap mencari tau siapa penembak. Karena bagaimana pun itu sangat membahayakan Fene dan Jasmine. Ternyata Alberth. Bram berusaha menghentikan orang suruhan Edward, karena akan melukai dirinya, ataupun musuh mereka. 'Nggak bisa yah, menyelesaikan dengan kepala dingin.' sesal Bram. Bram berdiri diluar, tidak memperhatikan keberadaan Fene, ataupun Adrian. Tiba-tiba... BHUUUK... Tubuh mereka terjatuh ditanah. Bram melihat Fene sangat sexi berada di atas tubuhnya. Membuat otak mesum Bram sedikit bekerja dalam situasi penuh tanda tanya ini. "Sayang." Fene memintanya untuk pergi. Dia akan menyelesaikan Mark dan Hanz. Mengikuti semua apa kata mereka. 'Oooooh...' Tentu dada Bram berkecamuk saat mendengar penuturan Fene akan ikut bersama mereka. "Mereka siapa... Membawa istriku." Batin Bram. Adrian muncul akan menggantikan posisi Fene. Seketika Hanz mengatakan akan menikahkan Adrian dan Fene. "What....????? Rencana apa ini.? Ide dari mana menikahkan istri ku dan suami orang lain." Batin bram lagi dan lagi. Bram berusaha tenang mendengar pernyataan mereka. "Seserius inikah mereka ingin menghancurkan aku dan Fene.?" Jeritnya. Bram bersyukur Mr.Kohl datang tepat waktu mengulurkan senjata pada kepala yang nggak ada isi itu. Hanya faktor keberuntungan Hanz dan Mark menjadi kaya, padahal pecundang. "Fuck." Adrian sangat memahami hati Bram, sebelum memasuki mobil Adrian hanya mengatakan "lupakan." Ketelinga Bram. "Apa yang mesti gue lupakan.? Jujur hati gue cemburu. Fene sangat mengikuti kemauan Hanz dan Mark." Bisik Bram ketelinga Adrian. Adrian hanya menepuk lagi dan lagi bahuku. "Jujur aku frustasi, melihat kejadian ini. Satu sisi yang menembak terlebih dahulu orang suruhan daddy, orang yang seharusnya melindungi Fene dan Jasmine tapi malah menghujamkan peluru kemeja mereka. Kenapa daddy tidak menelfon ku, kenapa daddy membuat pikiranku makin kacau.??? Pertanyaan itu berada di kepala ku. Apakah mereka sebenarnya ingin tau kebersamaan kami.? Apakah mereka ingin tau seberapa kuatnya persahabatan kami antara satu dan yang lainnya. Jika ini terjadi, aku akan pergi pulang ke Jakarta mengurus pekerjaan kami disana." Bram benar-benar memiliki pikiran sendiri. Adrian memeluk membicarakan kematian, membuat hati ku terluka. Adrian memarahi Fene, aku pahami mereka. Fene harus tau kata-kata seperti apa yang harus keluar dari mulutnya dihadapan musuh. Bukan menyerahkan diri dan mengorbankan yang lain jika sedang diposisi terancam. Wanita pintar tapi bodoh dalam mengambil keputusan. Geram Bram makin menjadi saat mengingat tinjuan Fene yang melayang seketika dipipinya. Rasa sakit campur aduk. "Ternyata istrinya memiliki tenaga luar biasa. Sakiiiit... Shiiiit." Adrian berusaha tenang, tapi saat mendengar dua wanitanya menangis meminta pulang. Emosi Adrian kembali memuncak. "Emang pulang bisa menyelesaikan masalah gitu." Adrian berteriak didepan Bram, saat Fene berada di pelukan Bram. Berteriak tanpa bersuara. Hmmmm.... Situasi tidak memungkinkan. Semua kepala terasa penuh. Lebih mencekam dan mengancam mereka. "Tuhaaaaan kapan semua akan berakhir." Kevin duduk disudut ruangan. Tampak wajah lelah. Wajah panik tapi berusaha tenang dihadapan istri tercintanya Nichole. Hanya Nichole yang tidak mengeluarkan kalimat pulang. Dia hanya ketakutan. Sesungguhnya didalam fisik wanita yang kuat memiliki kerapuhan saat mereka tidak dapat mengendalikan dirinya. Hanya pulang... Pulang dan pulang. Sebenarnya yang kuat, Fene, Jasmine atau Nichole.?? Hmmmm.... Pagi setelah kejadian.... Adrian menarik tangan Fene. Sepertinya hati Adrian masih belum bisa berdamai atas kejadian kemaren. "Apalagi seeeh dri.?" Fene mengikuti langkah Adrian dengan wajah yang sangat cuek dan memandang kearah yang lain. Adrian memeluk erat tubuh Fene. "Maafkan aku. Aku telah kasar padamu." Bisik Adrian ketelinga Fene. Fene hanya mematung tidak membalas pelukan Adrian. Hanya beberapa detik pelukan Adrian dapat mendamaikan hatinya, Fene mengusap lembut punggung Adrian. "Ya, seharusnya aku yang minta maaf." Senyumnya. "What... Aku...?? Lo demam, sejak kapan lo pakai kata AKU ke gue." Adrian menyentuh rambut Fene yang menutupi wajah cantiknya menyematkan didaun telinga Fene. Adrian menangkup wajah Fene dengan sebelah tangannya. Mata mereka saling tatap. Seakan mata mereka bicara. "Eheeeeem.... Gue ada disini. Jangan sok yakin... kalian akan cipokan depan gue. Gue nggak mau ngelihat dosa kalian." Racau Kevin terdengar seketika. Sebenarnya Kevin mengikuti langkah Adrian. Karena dia nggak mau kejadian yang sama terulang lagi, membuat rumah tangga sahabatnya hancur berantakan karena nafsu sesaat. "Otak lo mesum banget yah." Sinis Adrian. "Siapa yang mesum, apa coba kalau udah megang mesra gitu. Kalau gue begitu sama Fene pasti kalian udah bakar gue hidup-hidup." Njleeeeb..... Kata-kata Kevin bercanda, tapi nusuk. "Hmmm... Udah aaaagh... Gue masuk, gue udah maafin lo. Oke." Fene memegang lembut pipi Adrian dengan sentuhan yang berbeda. "Gue... Nggak Fen..." Teriak Kevin melihat Fene menjauh dari mereka. "Ogah... Ilfil gue ama lo." Fene menjulurkan lidahnya. Tanpa mereka sadari ada empat mata yang melihat kemesraan Adrian dan Fene pagi itu. Bram dan Jasmine. 'Seberapa besar seeeh cinta Fene pada Adrian." Batin Bram. 'Apakah bule biasa seperti itu.?' batin Jasmine. "Sayang..." Fene melihat Bram berdiri dijendela sambil menyaksikan tingkah Adrian dan Kevin semenjak Fene meninggalkan mereka. "Hmmmm... Kamu, dari kapan disni.?" Fene memeluk Bram dari belakang. "Dari Adrian berusaha ingin menciummu." Suara bariton Bram menyentakkan lamunan manja Fene. "Sayang." Fene mengambil posisi disamping Bram. "Aku hanya mendengar permintaan maaf Adrian, dan aku ingin belajar memaafkannya." Jelas Fene. "Jawab aku, apa kamu mencintai Adrian Fen. Karena tatapan matamu sangat berbeda." Cemburu Bram mulai merasuki kepalanya. Fene berdiri dihadapan Bram. Menatap kedua mata Bram. "Apa kamu meragukan aku sayang.?" Fene mengelus lembut pipi Bram. "Aku cemburu Fen, aku cemburu pada Adrian." Bram menangkup wajah Fene dengan kedua tangannya, mendekap dan saling tatap. Bram mencium bibir Fene, Fene membalas ciuman Bram merasakan kelembutan ciuman Bram. Lembut berubah menjadi sedkit ganas. Bram melumat dalam, memainkan lidahnya. Fene terbuai. Perlahan ciuman Bram turun ke leher Fene, menyentuh payudara Fene dari luar bajunya. Fene sangat liar pagi itu membalas decapan ciuman Bram. Bram menggendong tubuh Fene keatas ranjang untuk bercumbu disana. Begitu hangat cumbuan mereka berdua saling balas, saling bertatapan, geliat Fene sangat menggairahkan. Saat Bram akan membuka baju Fene yang sudah berbalut gairah... Mata Kevin dan Adrian tak berkedip menyaksikan sahabat gilanya akan melakukan itu dengan pintu kamar terbuka. "Heeeeeiiii... Bisakah kalian bercinta di ruangan keluarga ini." Teriak Kevin, membuat lamunan kedua sejoli yang sedang dimabuk nafsu itu saling tatap. "Aaaaaaaah.... Kevin, Adrian." Fene menutup kedua gunung kembarnya yang masih berbalut bra. Bram turun dari ranjang mengacungkan jari tengahnya, sambil membanting pintu dan menguncinya. Mata Kevin dan Adrian bertatapan kembali. Di otak mereka sama. "Kok... gue... jadi...." Adrian dan Kevin berlari menuju kamar masing-masing. Melakukan sesuai apa yang mereka saksikan barusan. "Hmmm..." Adrian mengunci kamarnya. Melihat Jasmine berdiri tanpa mata berkedip. Menatap keluar kamar, melihat kejadian apa yang baru terjadi tadi. "Heeeeiii... Apa yang kamu lihat sayang.?" Adrian menangkup kedua pipi Jasmine. "Seorang pria yang akan menciumi sahabatnya sendiri." Jasmine menatap mata Adrian. "Hmmmm... Tidak seperti yang kamu lihat sayang." "Tapi tatapan kamu beda beib sama mba Fene." Wajah Jasmine masih datar. "Tapi perasaan aku beda sayang antara kamu dan Fene." Pujuk Adrian. "Apa bebeb mencintai mba Fene.?" Jasmine menatap mata Adrian. "Pertanyaan apa ini sayang, nggak lucu." Adrian memeluk Jasmine, tapi Jasmine menghindar. "Aku bisa melihat sikap bebeb, berbeda dengan mba Fene. Beda ke mba Nichole. Untung tadi ada pak Kevin, kalau nggak.... Iiiiiigh.... Nggak kebayang aku gimana reaksi pak Bram saat mba Fene dicium kamu bebeb." Racau Jasmine. "Hmmmm... Tapi aku pernah mencium Fene. Aku sering memeluknya." Bela Adrian. "Tapi nggak didepan pak Bram kan bebeb.?" Jasmine cemburu. "Sini, bebeb duduk deket aku." Jasmine menepuk sofa agar Adrian duduk. "Apa kalian sering bersama dulu.? Apa kalian punya perasaan.? Apa bebeb akan meniduri mba Fene.? Apa bebeb nggak sayang sama pak Bram.?" Jasmine masih menutupi perasaannya. "Sayang, aku sama Fene saling sayang. Sebelum dia mengenal Bram, kamu tau aku sering menghabiskan waktu bersamanya selain sama Veni. Jujur aku pernah khilaf, melanggar komitmen kami sebagai sahabat. Aku hancur seketika, hubungan ku dan Bram berantakan, aku kehilangan Veni seketika, aku kehilangan Fene saat aku koma. Aku kehilangan semua sahabat ku. Saat aku dirawat di berlin, Fene tak pernah mengunjungiku. Tapi setelah semua membaik, aku mencoba ikhlas atas kesungguhan Bram agar lebih menjaga Fene. Aku menyesal, karena gagal menjaga sahabat baikku." Tunduk Adrian. Jasmine menarik nafas dalam. "Makanya bebeb memilih aku, karena mba fene menikah, dan penghianatan mba Veni.?" Tak terasa mata Jasmine terasa hangat atas kejujuran Adrian. Dada sangat sakit. "Bukan begitu sayang, aku memilih kamu, karena aku melihat kamu makin cantik, setelah berbulan-bulan aku meninggalkan Jakarta. Kamu wanita pertama yang kulihat saat aku memasuki gedung kantor baru. Wangi tubuh mu. Kepolosanmu. Membuat aku ingin mengenalmu lebih dekat. Hanya itu." Adrian menggenggam jemari Jasmine. "Sakit beib, ternyata bebeb menyukai mba Fene. Nyeri hati aku." Tangisnya. "Aku berjanji tidak akan melakukan hal gila itu selama kamu masih ada bersama ku." Adrian memeluk dan mencium kepala Jasmine. 'aaaaagh.... Ini yang dirasakan Bram ternyata.' batin Adrian. "Dengar... Aku akan menjaga jarak pada Fene jika sayang tidak menyukainya. Aku janji, tapi bantu aku. Agar selalu menjaga sikapku. Deal.??" Adrian memberikan kelingkingnya sebagai janjinya agar saling menjaga. "Ehmmmmm.... What ever." Jasmine hanya menerima jari kelingking Adrian dengan wajah datar. "Apa aku tidak bisa kamu percaya.?" Mata Adrian menatap Jasmine sambil berpangku tangan diatas dadanya. "Hmmmm... Aku percaya pada bebeb, tapi apakah pak Bram percaya pada bebeb.?" Adrian tertegun seketika mendengar ucapan Jasmine yang begitu jujur. "Bram adalah pria yang baik, semoga dia dapat memahami. Karena berubah itu juga butuh waktu sayang." Adrian memeluk tubuh Jasmine meletakkan kepalanya didadanya. 'Aku akan bicara pada Bram, semoga kesalah pahaman ini segera berakhir.' batinnya. Mereka hanya saling berpelukan membuat mata kedua insan ini menjadi berat. Zzzzzzz.... Tobe continue....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD