Ditengah kepanikan anak asuhnya, Edward justru sedang menikmati liburannya bersama Katty sebelum melanjutkan perjalanan ke LA.
"Honey... Apakah kamu tidak berniat untuk jujur pada mereka.?" Katty menyuapkan cake vanila ke mulut Edward.
"Hmmmm... Belum sayang, aku hanya ingin mereka mengerti, bagaimana cara mempertahankan persahabatan mereka." Senyum Edward.
"Tapi mereka akan menjauhi mu sayang, jika mereka tau." Nasehat Katty pada Edward.
"Apapun yang mereka ketahui nanti, aku ingin melihat kesungguhan cinta Fene pada putra ku. Bisakah dia memperjuangkan Bram." Mata Edward berembun seketika.
"Hmmm... Aku sangat memahami dirimu. Tapi aku hanya ingin anak asuhmu tidak membenci mu." Katty memberikan tisyu pada Edward.
"Aku melihat kepanikan pada Fene, saat dia bingung dalam memilih. Dia mencintai Bram, tapi dia juga mencintai Adrian." Tunduk Edward pada bahu Katty.
"Biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka, dengan tidak mengancam mereka." Bela Katty.
"Apa yang dialami Bram, pernah dialami Chiang Lim Papi Adrian sayang. Aku telah menyelesaikan bisnis ku pada Hanz, dan kami memegang komitmen kami untuk memerangi Mark. Hanz tidak pernah terima adik kandungnya terus disakiti Mark. Aku paham betul siapa Hanz. Dia sangat mencintai putrinya. Begitu juga Mark, sangat menyayangi Fene dan Adrian. Tapi kecurangannya telah menyakiti Chiang Lim, sahabat kami." Rundung Edward.
"Hmmmm... Apakah Mark akan hadir di LA besok.?" Katty membelai kepala Edward.
"Ya, Adriana, Irene dan Marisa akan hadir disana." Jelas Edward.
"Hmmm... Aku akan menjadi saksi." Katty membuang pikiran cemburunya.
"Saksi.? Apakah kamu cemburu, jika aku bertemu Adriana.?" Canda Edward.
"Hmmmm... Sedikit."
Edward sangat mengerti akan Katty, karena mereka tidak pernah menyembunyikan apapun.
Edward mencumbui Katty agar percaya, bahwa dia mulai mencintainya.
"Aaaaagh... Kamu nakal..." Bisik Katty.
"Setidaknya kamu telah membuat ku bahagia." Rayu Edward.
"Apa kita akan menikah.?" Tanya Katty.
"Of course... Setelah saya resmi berpisah dari Adriana." Edward mencium puncak kepala Katty.
"Ya... Ya... Ya... Aku selalu menunggu." Kekeh Katty manja.
Edward hanya memeluk Katty dari belakang, menyandarkan dagunya dibahu Katty.
Drrrrrt....drrrrt...
"Apakah kamu masih disitu.?"
"Ya... Masuklah."
"Baik."
Telfon tertutup.
Pintu terbuka lebar, saat melihat Hanz Parker datang membawa tas. Melemparkan keatas meja Edward.
"Hentikan permainan ini bung, karena orang mu hampir saja mencelakai ku." Tegas Hanz.
"Apa kau takut.?" Ledek Edward.
"Jika mengenai putriku, akan ku habisi kau Edward Lincoln." Kekeh Hanz.
"Hmmmm... Apa kau berani melukai ku seujung kukumu.?" Senyum Edward.
"Aku tidak pernah ingin melukai siapapun."
Mereka berpelukan, bak sahabat lama.
"Kemana pecundang itu.?" Tanya Edward.
"Dia menyiapkan datanya untuk pertemuan besok. Aku rasa besok adalah adalah hari kemiskinannya dan akan mengemis pada Adriana." Tawa penuh kebencian terlihat dari wajah Hanz.
"Hmmmm.... Dia bermain tidak rapi, besok adalah penentuanmu untuk mengambil hak asuh sepenuhnya pada Fene.
"Ya... Aku akan merebut Fene dari Mark."
"Apakah kau sudah menyiapkan semua datamu Hanz.?" Tanya Edward.
"Of course. Semua telah diurus oleh Marisa."
"Good..." Mereka saling bercerita, seputar bisnis haram mereka.
"Apakah uang mu untuk ku.?" Canda Edward.
"Tapi kau membutuhkannya untuk project menantumu, Fene." Senyumnya.
" Ya...."
"Albeeeert...." Panggil Edward pada pengawalnya.
"Ya tuan."
"Kirimkan uang ini ke rekening Fene, setelah itu kau berikan barang itu sesuai permintaan Hanz." Tegas Edward.
"Baik tuan" Alberth membawa tas, melaksanakan sesuai perintah Edward.
"Apa kau masih menjadi pecandu.?" Kekeh Edward.
"Canduku hanya pada Irene, jika aku pecandu, aku tidak akan sekaya ini Edward." Hanz merangkul bahu Edward sambil terkekeh bersama.
"Hmmmm.... Kenapa kau ingin menikahi Fene dan Adrian.?" Tanya Edward pada Hanz.
"Aku hanya ingin melihat kesungguhan Bram dalam memperjuangkan putriku. Ternyata putramu sangat mencintai putriku Edward." Hanz melihatkan sebuah foto hotel yang sudah diambil alihnya.
"Hmmmm.... Aku rasa ini milik Adriana. Kenapa kau mengambilnya.?" Tanya Edward.
"Adriana membutuhkan dana untuk memberikan uang pada Mark." Rundung Hanz.
"Untuk apa.? Atau Mark sengaja memeras Adriana.? Wanita bodoh." Kesal Edward.
"Yaaaah... Itulah cinta buta bung. Kita tidak pernah tau. Tapi aku kemaren melihat wanita indo bersama Fene.? Siapa dia.?" Tanya Hanz penasaran.
"Jasmine, istri Adrian. Secretarisnya." Jelas Edward.
"Ooooh... Sama sepertimu, mencintai secretaris sendiri." Kekehnya.
"Yaaa.... Terkadang orang yang mengetahui tentang kita adalah orang terdekat kita." Sambil menepuk pelan pundak Hanz.
"Watak Adrian sangat berbeda dengan watak Adriana dan Mark."
"Ya, Adrian sangat berbeda, dalam menyikapi masalahnya." Cerita Edward.
"Apakah mereka akan ke LA hari ini.?"
"Besok."
"Baiklah, sampai jumpa." Hanz memeluk Edward. Sesekali bercanda penuh kehangatan.
Drrrrt...drrrrrt...
'Fene' bisik Edward.
"Ya Fen."
"Daddy mengirimkan uang sebanyak itu pada ku diluar kontrak kita.?" Tanya Fene penasaran.
"Ya, ada seseorang memberikan uangnya pada ku. Aku tidak begitu membutuhkan. Pakailah dulu." Jelas Edward.
"Terimakasih dad. I love you."
"I love you too sweety."
LA....
Bram, Adrian, Kevin, Fene, Nichole, dan Jasmine menginjakkan kaki di LA. Mereka saling bercengkrama selama diperjalanan.
"Hmmmm.... Aku bahagia bebeb." Kekeh Jasmine.
"Syukurlah. Yang penting sekarang kamu terus bersama ku." Senyum Adrian.
Kevin terus melakukan siaran langsung, akan keberadaan mereka di LA. Beberapa paparazi mengambil gambar mereka, saat mereka memasuki hotel bintang lima.
Jadwal pertemuan keluarga mereka telah dijadwalkan oleh orang suruhan Hanz. Semua dikawal dalam pengamanan yang nyaman. Pemberitaan ditv, membuat Bram makin bertanya-tanya.
"Dri... Apakah ini sebuah drama.?" Bram menghembuskan asap rokoknya, saat berdiri di balkon.
"Ya... Gue merasakan itu dari kemaren." Tunduknya.
"Oya... Apa lo ingin bertanya sesuatu pada gue.?" Tanya Adrian menatap mata Bram.
"Hmmmm.... Gue hanya memperjuangkan cinta gue dri. Gue hanya cemburu." Jujur Bram.
"Itu yang terjadi pada Jasmine beberapa hari ini. Maafin gue, terkadang gue lupa ama perasaan gue sendiri." Adrian merangkul bahu Bram.
"Hmmm..." Bram memebalas memeluk Adrian.
"Maaf." Adrian mengucapkan satu kata itu lagi.
Bram hanya mengangguk.
Tok tok tok....
Fene membuka pintu.
"Nyonya, semua sudah berkumpul, silahkan keruangan ballroom yang sudah disiapkan melalui jalan ini. Menghindari media nyonya." Pengawal Edward menunggu mereka bersiap.
Dengan pengawalan ketat anak asuh Edward, dihadapkan dengan wajah orang tua mereka.
Disana ada penegak hukum, dan mata mereka tertuju pada sosok ibu mereka.
"Wooooow.... Amaziiing." Jasmine melihat para wanita cantik, berbalut kemewahan. Sangat cantik. Bisik hatinya.
"Mami Marisa.? Papi Mark? Acara apa ini Bram.?" Panik Fene seketika membuat darahnya mendidih saat matanya menatap mata Mark.
"Tenang, kita ikutin dulu yah." Senyum Bram.
"Ada aunty Katty dan Mr.Kohl.?Ada apa ini honey.?" Tanya Nichole.
"Hmmmm... Pengalihan saham sayang." Kevin terus merangkul Nichole.
Adrian menjelaskan pada Jasmine, siapa-siapa saja bule yang ada dihadapan mereka, dan untuk apa mereka hadir.
"Mata Fene saling tatap dengan mata Irene." Fene melihat sosok ibu kandungnya. Yang benar-benar mirip dengannya.
Sangat tegang wajah mereka, karena tidak mengetahui apa tujuan mereke berkumpul disini. Baru kemaren rasanya jantung mereka dipermainkan dengan dentuman senjata, saat ini mereka hadir membawa kedamaian.
Pertanyaan semua sama.... "Ada apa ini.?"
Anak asuh Edward duduk berdampingan dengan pasangan masing-masing saling menggenggam dingin tangan pasangan.
"Apa seperti ini mereka menyelesaikan permasalahan mereka.? Yaaaah semoga saja." Batin Fene.
Pintu terbuka, Edward Lincoln muncul didampingi Hanz Parker membuat mata Mark Claire Zurk memerah. Terlihat saat rahangnya menggeram. Tangannya mengepal. Apa ini yang dinamakan pengkhianatan sesungguhnya.??
Beeenk.... Mental Mark seketika hancur dipermalukan oleh sahabat sendiri. Ditusuk seperti dia menusuk Chiang Lim.
Edward duduk, berdekatan dengan Hanz. Menatap anak asuhnya satu persatu sambil tersenyum.
"Eheeeem... Selamat siang. Perkenalkan saya Katty secretaris tuan Edward Lincoln.
Terimakasih kalian sudah hadir diacara ini. Kita semua berkumpul disini untuk pembagian saham dan pengalihan.
Penentuan mengambil alih hak asuh sepenuhnya dari tuan Mark Claire Zurk dan nyonya Marisa kepada Hanz Parker dan Irene Parker.
Pengalihan sepenuhnya hak asuh Adrian Moreno Lim dari nyonya Adriana kepada tuan Edward Lincoln.
Semua akan di putuskan didalam ruangan ini, silahkan melengkapi berkas kepada pihak pengadilan.
Wajah Fene memanas seketika, bagaimana bisa dia dialihkan begitu saja, tanpa pembicaraan terlebih dahulu. Apalagi dia sudah menikah, dan dia berhak menentukan hidupnya. "Acara seperti apa ini.???" Bentak Fene didalam ruangan menjadikan satu ruangan hening.
Dengan nafas terasa sesak dia memilih keluar ruangan sambil menangis.
Adrian reflex menahan tangan Fene, memohon agar tetap tenang. Tapi Fene lebih memilih keluar... Adrian dan Bram mengejar Fene.
"Feeeen..." Adrian membuka tangannya untuk Fene menangis di pelukannya.
Bram terlambat selangkah. Bram mendekati Adrian dan Fene.
Menepuk punggung Adrian pelan. "Fen." Bram mengalihkan tubuh Fene untuk memeluknya.
"Tenanglah sayang. Semua akan baik-baik saja." Bram mencium kepala Fene.
Adrian mengusap punggung Fene. Berlalu masuk kembali kedalam ruangan.
"Aku nggak mau disini Bram, aku mau pulang." Tangisnya.
"Ya... Tapi kita mendengar dulu. Jangan terlalu gegabah. Tahan, ada aku. Ya sayang." Bram mengangkat dagu Fene memohon agar masuk keruangan kembali.
Fene masuk keruangan, Bram merangkul.
Kevin hanya menggenggam jemari Fene karena duduk mereka tidak berjauahan.
Adrian sesekali mengusap puncak kepala Fene. Yang selalu di lirik oleh Bram.
"Gatel..." Teriak Bram dengan suara yang tertahan.
Adrian terkekeh melihat wajah cemburu Bram.
"Baik... Acara kita lanjutkan." Suara Katty terdengar setelah seluruh berkas terkumpul.
"Saham Mark yang ada di seluruh eropa sepenuhnya diambil alih tuan Hanz Parker dan akan dialihkan kepada nyonya Fene Lincoln dan Bram Lincoln, sebagai anak kandung tuan Hanz Parker dan menantu Hanz Parker."
"Saham alamrhum tuan Ciang Lim yang ada di shanghai dan las vegas, italy sepenuhnya dialihkan perhari ini kepada tuan Adrian Moreno Lim, diambil dari nyonya Adriana selaku pewaris kepada anak kandung yang diakui secara hukum oleh almarhum Chiang Lim."
Mata mereka saling tatap... Semua punya ekspresi wajah masing-masing. Ntah bahagia, ntah sedih, ntah benci. Semua masih campur aduk.
"Untuk hak asuh Fene Lincoln resmi secara hukum beralih ke tuan Hanz Parker dan nyonya Irene."
"Hak asuh tuan Adrian Moreno Lim resmi secara hukum diserahkan seluruhnya pada tuan Edward Lincoln."
"Jika ada yang keberatan dalam keputusan hari ini silahkan ajukan banding dengan ketentuan yang telah kita sepakati. Terimakasih."
Katty menutup acara.
Mark menggeram kepada Hanz. Menatap tajam Hanz penuh dendam dan kemarahan.
"Tega kau padaku Hanz." Emosi dan kecewa Mark terlihat jelas dari rahang yang mengeras.
"Aku telah mendapatkan hak ku Mark, karena kau menyia-nyiakan putriku dari usia dia 20 tahun." Bentak Hanz.
"Aku menjaganya dengan baik Hanz." Wajah Mark memerah.
Anak-anak Edward saling tatap, penuh tanya. Bram terus mencium kepala Fene.
"Kau menjauhkannya dari ku, kau kirim dia ke Jakarta agar tidak bisa bertemu dengan ku. Perjanjian kita hanya 20 tahun Mark. Apa kau lupa...???" Hanz mencoba mengingatkan Mark.
"Kau menjebakku Hanz." Mark seketika menghampiri Hanz hampir menyentuh kerah baju Hanz, tapi senjata Edward sudah berada tepat dikepala Mark.
"Keluar atau ku pecahkan kepalamu." Edward memberi kode pada pengawalnya untuk mengeluarkan Mark dan Adriana dalam ruangan.
"Adrian..." Teriak Adriana yang berusaha menggapai tangan Adrian.
Adrian hanya menatap Adriana dan Mark dengan hati yang hancur melihat ibunya diperlakukan seperti ini oleh Edward.
Air mata Adrian tak terbendung. Jasmine mencoba menenangkan Adrian.
Kevin dan Bram ikut menenangkan Adrian. "Hancur hati gue." Tangisnya. Wajah bulenya yang teduh ternyata sangat rapuh melihat ibunya diperlakukan tidak baik.
Tapi Adrian, punya alasan tersendiri akan sikapnya pada Adriana, karena Adriana hanya berpura-pura baik selama ini, tanpa memikirkan perasaan Marisa, istri Mark.
tobe continue....