Hanz Parker dan Irene menghampiri Fene yang masih berada dipelukan Bram.
"Fen... Bisa Papi memelukmu.?" Fene menatap Bram, Bram memberikan tangan Fene kepada Hanz, Fene menatap wajah Hanz dan Irene secara bergantian.
Marisa menghampirinya Fene.
"Maafkan mami." Ucap Marisa dan Irene secara bersamaan. Fene berusaha bersahabat pada keadaan, mencoba tersenyum. Walau kepalanya masih berkecamuk membayangkan Hanz dan Mark saat di Swedia. "Hmmmm."
"Apa aku harus berlutut agar putriku mau memelukku." Hanz berlutut dihadapan Fene, Bram, Marisa dan Irene, disaksikan dengan semua yang hadir.
Fene menelan salivanya, barharap saat ini dia ketemu ranjang untuk tidur, dan besok sudah ada di Jakarta. Lebih baik Fene dihadapkan dengan permasalahan perperangan dari pada permohonan seperti saat ini.
"Hmmmm.... Ya." Fene membuka tangannya untuk Hanz. Hanz berteriak bahagia seakan dia pemenang lotre triliunan.
"Ooooh God, terimakasih kau mau mengembalikan putriku." Bisiknya ditelinga Fene.
"Thanx my sweety, my girl, my baby. I love you." Ucap Hanz sambil mencium punggung tangan Fene berkali-kali.
Edward menyambangi Adrian, memeluknya membawa Adrian dan Jasmine ikut bersamanya.
Memberi isyarat pada Hanz agar membawa Fene dan Bram.
Tiba diruangan tidak begitu besar, cukup nyaman.
Semua mata saling tatap, Kevin dan Nichole tidak pernah terlewatkan walau namanya tidak disebutkan.
"Spechles gue... Kekayaan lo lebih dari kekayaan gue bro." Kekehnya sambil membuka handphone pintarnya untuk membuktikan saham Adrian yang baru dialihkan menjadi nama pribadi Adrian.
"Adrian Moreno Lim." Racau Kevin.
"Eheeeeem.... Bagaiamana.? Apa yang kalian pikirkan.?" Suara bariton Edward menggema saat mematik cerutu buatan deli Indonesia.
"Hmmmm... Aku tidak memikirkan apa-apa dad. Hanya ingin menjalani hidupku di Jakarta. Home sweet home." Tunduk Adrian.
"Me too." Sambung Bram.
"Mungkin saya besok akan ke Las Vegas berjudi bersama Nichole sebelum Nichole melanjutkan pekerjaannya." Gelak Kevin tanpa dosa.
"Home sweet home." Tambah Fene.
"Okay.... Saya Papi Hanz Parker meminta maaf pada anak asuh Edward Lincoln, sudah membuat kalian tidak nyaman selama di Swedia. Saya hanya menunjukkan pada Mark, bahwa saya dapat menemukan kalian. Tentu atas izin Edward. Saya tidak pernah berniat menyakiti kalian. Saya sangat mencintai kalian.
Fene, kamu adalah anak ku yang diminta Marisa, untuk menghiburnya semasa pernikahannya bersama Mark. Mark berjanji padaku hingga usiamu 20 tahun dia akan mengatakan padamu, bahwa aku Hanz Parker adalah Papi kandungmu. Dia mengkhianatiku, dengan menjauhkanmu dariku. Berbagai alasan dia beri padaku, saat aku meminta pertemukan aku denganmu. Bagaiman aku harus terus menjalani hidup berpura-pura, mendengar perlakuan Mark terhadap Marisa adikku. Aku bisa menghubungi Edward agar bertemu dengan kalian semua. Holi dengan bebas memilih karier or bisnis, karena Holi tidak bisa menjalani duniaku. Aku sengaja membiarkan Holi berlibur dengan kalian di Bali, agar Holi dapat berinteraksi dengan kakaknya sebelum kita mengadakan pertemuan besar seperti ini.
Fene Lincoln putri ku, Bram Lincoln menantuku, semoga kalian dapat memahami kerja keras ku, agar bisa bertemu putri ku dulu. Kau adalah putri kecilku. Kau terlalu mirip dengan Irene. Mau kah kau memaafkan ku Fen.?" Suara Hanz dari keras tiba-tiba serak kemudian menangis.
Fene mendekati Hanz, mengalah dan memahami.
"Pi... Aku akan coba membuka hati ku. Aku memahami semua keadaan kita." Fene memeluk Hanz, sangat lama. Tak luput dari sorot camera Kevin untuk di publikasikan.
Bram sangat bahagia melihat Fene bisa menerima Hanz. "Thanx dad, akhirnya aku mengerti daddy sangat mencintai kami." Edward menyambut pelukan Bram dan merangkul Hanz dan Fene.
"Saat inilah yang aku tunggu." Bisik Edward pada Hanz.
"Oya Adrian.... Aku akan mengurus pengalihan kepemilikan Hotel Adriana yang di Swiss menjadi milik mu. Sebagai hadiah pernikahan ku untukmu." Hanz memeluk Adrian.
Bola mata anak asuh Edward membulat seketika, mendengar Hotel Adriana telah dibeli oleh Hanz.
"Untuk apa uangnya sama Mami Adriana uncle.?" Kejut Adrian.
"Untuk Mark." Hanz menaikkan bahunya.
"Oooh..." Adrian mencoba mengingat untuk apa uang sebanyak itu, sementara daddy masih memberi Adriana uang.
"Shiiit..." Batin Adrian.
"Beib... Bebeb punya saham dan Hotel.?" Bisik Jasmine.
Adrian hanya merangkul mengusap pelan punggung Jasmine.
"Secretaris bebeb... Lo harus jaga Adrian, untuk menjaga uangnya, jangan boros, jangan jadi pecandu... biar makin kaya. Selamat yah.? Semoga kalian bahagia selalu." Pesan Kevin sambil memeluk Jasmine yang masih terlihat shook untuk semua hal dia dengar hari ini.
'Mimpi apa aku.... Ternyata bule ku kaya.' riangnya dalam hati.
Akhirnya semua bahagia melanjutkan pertemuan dengan keluarga besar Edward Lincoln, Keluarga Stuard, dan Keluarga Parker.
Adrian dan Jasmine menetap di LA beberapa minggu, menyambangi keluarga Lincoln, Stuard, dan Parker secara bergantian. Ternyata membuka tabir kekompakan keluarga orang Amerika, sangat hangat, sangat menghargai perbedaan.
Beberapa kali Jasmine memasakkan masakan khas indonesia. Pujian kecil sering Jasmine dapatkan dari masing-masing keluarga.
"Ternyata keluarga bebeb Adri sangat hangat, membuat saya malas pulang ke Jakarta." Racau Jasmine pada Adrian.
"Iya dong.... Menantunya baik. Tentu disayang." Puji Adrian.
"Mba Fene sama pak Bram kapan pulang beib.? Udah rindu." Jelas Jasmine saat menyiapkan makan malamnya.
"Hmmmm.... Mereka itu kan autis, kalau udah jalan-jalan mana ingat pulang." Kekeh Adrian.
Mereka menghabiskan waktu di Las Vegas berjudi bersama, mengenal kasino Papi Hanz. Semua dinikmati mereka, tentu dengan fasilitas VIP.
Kevin yang berdarah Amerika asli sangat merindukan suasana hangat ini. Sudah lama dia merindukan untuk pulang bersama Bram, tapi Kevin masih menjaga hati sahabatnya Adrian dan Fene.
Nichole darah Amerika yang bekerja menjadi model fashion di Paris, teryata sangat dekat dengan keluarga Kevin.
"Mba Nichole akan balik ke Paris.?" Tanya Jasmine sedikit berbisik.
"Ya, karena saya akan mengikuti fashion week dua minggu lagi." Senyumnya.
"Saya pengen jalan-jalan sama bebeb Adri, biar romantis." Senyumnya sedikit menghayal.
Adrian beradu pandang menatap Nichole hanya tersenyum melihat khayalan Jasmine.
"Iya... Kita nanti ke Paris." Adrian membuyarkan lamunannya.
"Aaaaagh.... Bebeb... Kaget." Jasmine memukul lembut bahu Adrian.
Fene dan Bram berlibur ke beberapa tempat, miami, dan hawai.
"Semoga kamu cepet hamil yah sayang." Peluk Bram saat menghabiskan waktu bersama di tepi pantai.
"Aku kangen rumah. Kapan kita pulang ke Jakarta Bram.?" Fene memikirkan pekerjaannya.
"Hmmm... Nanti dong... Aku rindu suasana berdua sama kamu, tanpa ada Kevin atau Adrian." Peluk Bram.
"Apa yang kamu pikirkan setelah semua ini terjadi Bram.?" Tanya Fene penasaran.
"Hmmmm.... Kecewa. Sangat kecewa. Tapi aku berusaha memahami, walau aku sebenarnya kurang memahami cara pemikiran daddy." Bram melepas pelukannya.
"Kita belum sempat bicara sama daddy kan.?" Fene menatap wajah Bram.
"Daddy masih sibuk mengurus pekerjaannya." Jelas Bram.
"Nanti jika ada time yang tepat kita akan tau apa maksud daddy. Dan aku akan mencari waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama Papi Hanz agar saling mengenal. One person, nggak sama kamu." Peluk Fene manja.
"Ya, aku mengerti. Aku akan memberi izin." Bram mencium bibir Fene.
"Aku akan menyambangi sanfransisko."
"Ngapain.?"
"Mencari mantan ku." Goda Bram.
"Hmmmm.... Gadis exotic yang kriwil dan selalu mengirim pesan padamu." Fene mencubit kecil perut Bram.
"Kamu cemburu.?" Canda Bram lagi.
"Hmmm... Nggak."
"Terus" Bram menaikkan alisnya.
"Aaaaaagh.... Bram. Dia lebih cantik dari aku, dan sepertinya sangat hot..... Braaaaaam..." Kesal Fene sambil mengejar Bram yang berlari mengitari pantai sambil tertawa. Tertawa bahagia melihat Fene ternyata punya perasaan cemburu.
"Ternyata kamu sering lihat hp aku.?" Godanya.
"Ya iyalah, kamu kan suamiku." Belanya, mendekap erat tubuh Bram.
"Go home..."
Fene mengangguk berlalu pulang.
Beberapa waktu menghabiskan waktu bersama.
Kevin pulang ke Paris menemani Nichole.
Adrian, Bram, Fene, dan Jasmine melanjutkan pekerjaan mereka di Jakarta.
Beberapa kali bertemu Holi dan Petter yang menyempatkan hadir saat makan malam bersama keluarga Lincoln, Stuard dan Parker.
"Gue akan pulang ke Jakarta, tapi gue nemanin Nichole dulu di Paris beberapa hari." Jelas Kevin pada sahabatnya.
"Hmmmm... Jangan lama-lama, ntar gue kangen gimana.?" Grutu Fene.
"Hmmmm... Apa kamu sedang menggoda ku sweety." Kevin menyentuh dagu Fene, membuat reaksi Bram dan Adrian sangat aneh pada Fene terutama Kevin.
"Mesum." Fene memeluk Kevin, tanda perpisahan mereka. Sedikit menangis saat memeluk Nichole.
"Gue nggak jadi keParis deh, ada lampu hijau dari sahabat gue." Goda Kevin lagi.
"Keviiiiin...." Suara Bram dan Adrian keluar bersamaan, saling tatap antar mereka.
"Oke... Oke... Fine." Candanya.
"Pak Kevin. Bapak hati-hati, saya pasti merindukan bapak." Jasmine berdiri dihadapan Kevin membuat semua mata tertuju padanya.
Adrian langsung menggendong Jasmine membawa ke mobil, "jangan ikutan menggodanya, nanti dia mengejarmu." Geram Adrian.
"Iya secretaris bebeb, saya juga merindukanmu." Teriak kevin.
Adrian hanya memberikan jari tengahnya pada Kevin.
"I miss you pak Kevin..." Teriak Jasmine yang masih berada di pelukan Adrian.
Adrian makin geram melihat kelakuan istrinya.
Bram dan Fene memeluk hangat Kevin, dan berlalu meninggalkan Kevin menyusul Adrian dan Jasmine.
"Kenapa mesti di gendong seeeh bebeb.?" Kesal Jasmine saat Adrian memasukkannya ke mobil.
"Kamu nggak pantas jadi wanita penggoda, kamu godain aku aja." Adrian melumat bibir Jasmine tanpa persetujuan.
"Hmmmm...." Jasmine menikmati kelakuan suami bulenya.
Adrian dan Jasmine dikejutkan oleh Fene dan Bram. Saat Bram membuka pintu melihat Adrian dengan sangat rakus melumat bibir istrinya.
"Hmmmm... Sambung dirumah deh." Bram menghela nafas menyaksikan kejahilan Adrian.
Fene tersenyum melihat kelakuan Adrian.
"Go home, dri." Bram memerintahkan Adrian segera meninggalkan bandara.
Adrian terkekeh melihat reaksi Bram. "Gue bahkan sering melihat lo berdua lebih mesum." Kekeh Adrian.
"F**** you dri..."
Adrian malah tertawa mendengar kata kiasan Bram. "F**** you too Bram." Melirik dari kaca spions tengah sambil mengacungkan jari tengahnya.
"Gue iket lo yah." Geram Bram sambil merangkul leher Adrian. Adrian terkekeh.
"Bram stop... Nanti aja becandanya." Teriak Fene.
Bram menatap kearah Fene, memberikan ciuman hot pada Fene tanpa memperdulikan Adrian dan Jasmine.
"What are you doing Bram." Teriak Adrian yang menyakisikan dari kaca spions tengah.
Bram hanya melanjutkan permainannya.
Tobe continue....