Bab 1

1027 Words

Ponsel Mas Dimas di atas meja bergetar. Ponselnya memang terkunci, tapi aku tahu passwordnya. Mas Dimas tipe pelupa jadi semua password mesdosnya pakai tanggal lahirnya saja. Terlalu mudah untuk kubuka. Biasanya aku tak pernah kepo dengan ponsel Mas Dimas. Namun kali ini entah mengapa ada dorongan kecil agar aku membuka ponselnya.

|Si Dimas mentang-mentang sekarang punya bini dua, udah nggak pernah nongol lagi di grup. Sibuk sama dua bininya. Mana yang satu lagi hamil pula|

Sebuah pesan di grup whatsapp alumni milik Mas Dimas tak sengaja kubaca. Mungkin aku tak terlalu ambil pusing dengan pesan itu jika si pengirim tak mencolek nama Mas Dimas-- suamiku yang setahun belakangan  sah secara agama dan negara menjadikanku sebagai istri. 

|Bener banget. Dimas makmur sekarang hidupnya. Bininya cantik-cantik. Mana bini yang kedua tajir melintir. Nggak perlu kerja pun Si Dimas oke aja. Kaya tujuh turunan. Tinggal ongkang-ongkang kaki menikmati hidup dengan dua istri.|

Kubaca kembali pesan di sana yang semakin menyudutkan nama Dimas.

|Asal nggak ketahuan bini keduanya aja itu. Kalau ketahuan hancurlah dunia persilatan. Jangankan menikmati kehidupan damai dengan dua istri, yang ada dia bisa ditendang ke jalan. Lebih parahnya bisa saja dia dijebloskan ke polisi|

|Nggak semudah itu juga menjebloskan orang ke polisi, Bro. Dimas kan nggak memanipulasi data buat nikah yang kedua|

Teman-teman di grup itu saling sahut. Hal wajar memang jika ada satu dua berita yang lain saling menimpali. Yang jadi masalah adalah nama Mas Dimas suamiku itu dicolek beberapa kali.

Apa teman-temannya keliru mencolek nama? Ah kupikir nggak juga. Nama Dimas mungkin memang banyak di grup itu, tapi dia jelas-jelas mencolek Dimas suamiku. Bukan Dimas yang lain. Lantas apa maksudnya dua bini? 

Mas Dimas memiliki bini lain selain aku, begitu? Benarkah? Tapi kapan dia menikahi perempuan itu? Sementara pernikahanku dengan Mas Dimas sah secara agama dan negara. Atau baru beberapa bulan belakangan mereka menikah secara siri di belakangku? 

Pikiranku mendadak kacau gara-gara pesan nggak jelas di grup alumni SMA Mas Dimas itu. Iseng kutulis saja balasan di sana. 

|Dimas siapa sih? Jangan salah colek, bisa ngamuk bini gue kalau nggak sengaja baca!|

Kutunggu hampir lima menit lamanya baru muncul balasan dari nomer yang sama. Balasan yang justru membuatku kaget seketika. 

|Ah lo sok jaim. Mentang-mentang sudah enak, lupa lo sama kita-kita, Dim. Kapan traktirannya? Denger-denger lo sudah berhasil merebut hati istri baru lo sama papa mertua. Bahkan sudah diangkat jadi manager muda sekarang|

Nomor lain pun ikut memberi komentar yang tak jauh beda, membuatku benar-benar ternganga. 

|Iya nih si Dimas sudah lupa sama kita. Jangan jadi kacang lupa kulitnya begitu dong, Dim. Gue bini satu aja belum dapet, lo maruk amat udah punya dua. Kasihan yang jomlo meronta-ronta hahaha|

|Bener banget, nasib jomlo nggak laku-laku nih gue. Cariin bini yang tajir melintir kayak bini lo dong, Dim. Gue capek kerja banting tulang hasilnya nggak seberapa. Mending sekalian cari bini tajir kayak lo gitu. Hahaha|

Deg. Deg. Deg. Mataku mulai memanas membaca balasan dari teman-temannya itu. Ingin rasanya teriak sekencang-kencangnya namun itu tak mungkin kulakukan. Tak ada gunanya. Kuseka air bening yang mulai jatuh ke pipi.

|Nah serang aja si Dimas. Bukannya dulu dia janji mau pilih salah satu? Bahkan dia bilang mau pilih Niken karena dia cinta pertamanya? Bulshit emang dia. Nyatanya sampai setahun lebih dia santai aja. Keenakan pastinya tuh!|

|Eh bukannya si Niken udah mau melahirkan, ya? Perutnya udah gede banget. Aku pernah ketemu dia seminggu lalu di baby shop|

|Sekarang Dimas di mana sih? Di Jakarta rumah bini barunya apa masih di kampung?|

|Di kampung soalnya kemarin aku baru melihat mereka pulang dari pasar. Berdua makin mesra aja| 

|Btw orangnya kemana? Nggak nongol lagi? |

|Ngumpet di bawah selimut sama bininya kali. Hahahha|

|Bisa aja lo Bim hahah|

Makin lama makin banyak komentar di sana dengan nomer berbeda-beda. Itu artinya yang mereka bicarakan memang Mas Dimas suamiku. 

Entah mengapa rasanya emosi ini sudah mencapai ubun-ubun. Berulang kali istighfar, namun belum juga merasakan sedikit ketenangan. Mungkin karena gemuruh luka, nelangsa dan dendam begitu membara dalam d**a.

Ingin rasanya kubalas komentar-komentar mereka di sana namun kutahan. Aku harus tetap pura-pura tak tahu kelakuan busuknya ini di belakangku. Jika dia memang terbukti membagi hati dengan perempuan lain, aku pasti tak akan tinggal diam.

|Ponsel Dimas dia yang bawa atau bini mudanya nih? Soalnya kemarin aku lihat dia ke luar dari counter dengan Niken, menenteng box ponsel baru.|

Balasan dari nomer yang berbeda lagi dan semuanya laki-laki. Grup alumni ini memang sepertinya khusus untuk para laki-laki karena tak kulihat nama cewek  satu pun di sini. 

|Bisa kena damprat si Dimas kalau dia tahu kita ngomongin dia begini di grup|

Hati kembali berdebar tak tenang membaca berulang kali balasan yang dikirimkan teman-teman Mas Dimas itu. Tak salah lagi sekarang, teman-teman di grup whatsapp itu memang menceritakan Mas Dimas suamiku bukan Dimas yang lain, karena dua hari belakangan Mas Dimas memang pamit ada tugas di luar kota. Tak sengaja ponselnya terjatuh di taman belakang dalam keadaan lowbat. 

Kebiasaannya jika tugas luar kota memang tak ingin diganggu, aku harus sabar menunggu dia yang menelepon duluan. Ternyata ada udang di balik batu? Tak kusangka jika tugas ke luar kota hanya dia jadikan alasan untuk pulang kampung bertemu istrinya yang lain. 

Astaghfirullah, berarti selama ini dia sudah menipu aku dan papa? Bilang belum pernah menikah tapi nyatanya aku justru dijadikan istri kedua? Betapa kecewanya papa jika tahu menantu kesayangannya melakukan ini semua. 

Betapa terlukanya papa jika tahu dia sudah berdusta dan bersandiwara. Apa karena aku lumpuh hingga membuatnya sengaja memainkan perasaanku? Bahkan kini sudah berhasil mencabik-cabik hatiku?

Mungkin Mas Dimas pikir aku akan diam saja menerima nasib? Mungkin dia berpikir, perempuan lumpuh sepertiku tak akan bisa berbuat apa-apa jika tahu dia memang mendua? Sungguh dia salah besar jika berpikir demikian. 

Tadinya aku ingin memberinya kejutan saat dia pulang dari luar kota, karena kakiku sudah bisa diajak jalan meski baru beberapa langkah, namun ternyata aku salah. Justru aku lah yang diberi kejutan oleh teman-temannya lewat pesan-pesan mengerikan di grup whatsappnya. Aku benar-benar tak menyangka Mas Dimas bisa melakukan sandiwara mengerikan seperti ini setahun lamanya. Ya Allah, aku harus kuat. Aku nggak mungkin diam saja melihat sikapnya.

Kita lihat saja, Mas. Siapa yang bisa memainkan perannya dengan cantik di sini. Aku atau kamu!

***

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd