Pagi-pagi aku sudah siap-siap ke butik peninggalan almarhum mama yang kini diserahkan padaku. Aku yang sudah mengembangkannya beberapa tahun terakhir, tepatnya semenjak mama tak lagi fit untuk pergi ke sana-sini sesukanya. Sakit kanker yang menggerogotinya, membuat mama harus banyak istirahat di rumah. Tak boleh terlalu kecapaian apalagi banyak beban pikiran. Akhirnya, papa memintaku untuk mengurus semuanya. "Bi, saya berangkat ke butik dulu. Mau sekalian cek gaun pengantin," pamitku pada Bi Minah yang masih sibuk membersihkan isi kulkas. Setiap dua hari sekali Bi Minah memang membersihkannya, agar sayuran tetap terjaga kesegarannya. Begitu yang sering Bi Minah katakan padaku tiap kali kutanya perihal bersih-bersih itu. Kupacu mobil merahku itu dengan kecepatan sedang. Mobil mulai

