Episode 1

529 Words
--------------------+++---------+++++++---------- Sebelum kalian membacanya, harap dapat memahami, karna cerita ini terdapat perkelahian fisik, bahkan sebagian kata-kata yang kejam. -----------+++++++------------++++++++++--------- Sreettt.. Suara pis*u yang beradu dengan besi, suara yang sangat jelas, membuat siapa pun yang mendengar terasa sangat ngilu. Tap.. Tap.. Tap.. Suara langkah kaki penuh penekanan melangkah semakin lama semakin terdengar mendekat dan sangat jelas. Keadaan malam itu sangat mendukung untuk seseorang yang tengah melakukan aksinya, rintik-rintik hujan, dan gelapnya malam membuat suasana semakin mencekam. Deg... Deg.. Deg.. Detak jantung seorang pria yang sangat kencang. Rasa takut mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Kematian sudah di depan mata. Berjalan mundur hingga punggungnya sudah menyentuh pohon besar, pria itu sudah tidak bisa lari lagi, dengan tubuh yang penuh luka. "Aku mohon, lepaskanlah aku, aku akan memberi mu uang sebanyak yang kau mau." Ucapnya dengan suara bergetar. Gelagak tawa seorang pria yang memegang pisau daging itu sangat menggema di semak belukar yang di penuhi pepohonan besar. "Kau bilang apa, melepaskan mu, setelah kau merebut wanita ku, dan melecehkannya, dan kau membunuhnya, kini kau memintaku untuk melepaskan mu." Gelagak tawanya semakin melengking, membuat pria yang nyawanya di ujung tanduk itu semakin ketakutan. "Sekarang kau nikmati saja sisa hidup mu, dan ini balasan dendam dari wanita ku." Dengan cepat seperti kilat, pria itu mem*tong kaki lelaki di hadapannya dengan sekali teb*san. Teriakan yang penuh tangisan itu membuat Arley semakin bersemangat, tangisan dan rasa sakit itu di anggap seperti alunan lagu yang memberikan ketenangan untuk menghantarkan tidur. Pria di hadapannya terduduk lunglai sambil memegangi kakinya yang terp*tong. Arley melangkah mendekat, kemudian dia langsung men*suk perut pria itu dan mengoyaknya, hingga isi per*t pria itu keluar, darah yang mengalir cukup banyak dan mengotori kemeja putih Arley. Arley tersenyum senang atas apa yang ia lakukan, pria yang di hadapannya semakin pucat dan perlahan menutup matanya. Arley tertawa kegirangan, perbuatannya itu membuat ia senang dan bangga. Kemudian ia mengeluarkan semua jero*n pria itu, menusuk-nusuk d**a bagian jantung. Kemudian ia berdiri dan tersenyum sinis. "Ini akibatnya karna kau telah mencari masalah dengan ku." Arley berjalan menuju mobilnya, kemudian ia membuka bagasi mobil, tampak beberapa a*jing di sana. Arley membuka ikatan a*jing itu lalu mengarahkan ke pria yang tadi ia bunuh dengan k**i. Setelah melancarkan aksinya, Arley melajukan mobilnya pergi dari sana menuju rumahnya. Cukup lama ia mengemudi, kini sudah sampai di kediamannya, rumah yang tidak terlalu besar, tetapi cukup mewah, dengan halaman yang luas, dan pria berjas hitam tampak berjaga di setiap sudut rumahnya. Arley masuk kedalam rumah, ia langsung menuju kamarnya, membuka semua bajunya yang terkena cipratan darah. Kemudian ia berendam di bak mandi, cukup lama ia berendam di sana. Kini jam menunjukkan pukul 00.00. Arley masih setia duduk di depan kaca tembus pandang yang ada di kamarnya. Melihat ke langit yang sangat gelap, seperti ia sedang menghitung rintik hujan yang turun ke bumi. Arley memegang sebuah bingkai foto, di sana terdapat sebuah foto wanita yang tersenyum lebar sambil merangkulnya. Arley mengusap pipi foto wanita itu, tidak di sangka air matanya jatuh dan mendarat di foto itu. "Eva,, maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu, maaf kan aku." Kemudian ia memeluk bingkai foto itu dan terus menangis. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD