Episode 2

657 Words
Setiap pagi Arley selalu berolahraga, walaupun hanya joging di sekitaran kompleks rumahnya. Rumahnya berada di kawasan elit, hanya orang-orang terpandang yang bisa membeli rumah di sana. Seperti biasa, Arley berlarian kecil di jalan depan rumahnya, terdapat beberapa ibu-ibu dan anak gadis yang sedang joging juga. Ya, mereka seperti itu karna hanya ingin bertemu dengan Dokter tampan Arley, ketampanan dan ramahnya membuat sifat psychopathnya tidak terlihat. "Pagi Dokter." Sapa ibu-ibu yang melintas di depannya. Arley tersenyum. "Pagi juga." Ibu-ibu itu tampak kegirangan, mereka senang walaupun hanya di jawab sapaan mereka. "Dokter tampak lebih segar hari ini." Ucap salah satu ibu-ibu yang lain. "Benarkah, apa aku tidak terlihat segar di hari sebelumnya?" Tanyanya sambil tertawa kecil. Mereka pun ikut tertawa bersama sambil melanjutkan olahraga pagi. Dua puluh menit sudah Arley melemaskan otot-ototnya, kini ia sedang berada di bak mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Kini Arley sudah rapi dengan pakaiannya, ia melajukan kendaraan roda empatnya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Kedatangannya membuat semua wanita di sana mengaguminya dan menyambut kedatangannya, bukan hanya suster, tetapi pasien juga sangat senang bila di rawat olehnya. Banyak wanita yang pura-pura sakit dan minta di rawat, hanya karna ingin menemui Dokter tampan Arley. Pasiennya sering memanggil dengan sebutan Dr.Ar saat di rumah sakit maupun di luar tempat kerja. "Pagi Dr.Ar." sapa suster yang melintas di depannya. Arley tersenyum ramah. "Pagi juga." Kemudian ia langsung masuk kedalam ruangannya. Rumah sakit yang sebelumnya sepi, kini saat Arley datang menjadi ramai, pasien di sana seperti mendapat sihir dan sembuh dadakan. Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu. "Masuk." "Pagi Dok, hari ini Dokter ada jadwal bedah dengan pasien di ruang 309" ucap suster. "Baik, siapkan semua alat-alatnya, sebentar lagi saya akan kesana." Arley sangat senang saat bermain dengan darah, entah apa yang ada di fikirannya, pekerjaannya itu seperti karya seni yang luar biasa di anggapnya, membedah tubuh dan menjaitnya, itu seperti ia sedang melukis di taman bungan seribu. Dua jam sudah berlalu, pekerjaannya sudah selesai, tidak terasa kini sudah waktu jam makan siang. Arley keluar dari rumah sakit, ia melajukan mobilnya menuju cafe langganannya. Saat ia memarkirkan mobilnya, di sana terdapat gadis mungkin berumur 20 tahun, gadis itu tampak kebingungan melihat daerah sekitarnya sambil memegang kertas kecil. Arley yang melihat gadis itu kebingungan, ia menyunggingkan senyum, mangsa baru batinnya, dan ia menghampiri gadis itu. "Ada yang bisa saya bantu." Tanyanya saat sudah berdiri di depan gadis itu. Gadis itu tersenyum padanya, tentu saja, wanita mana yang tidak mengagumi kesempurnaannya. "Maaf Om, aku sedang mencari alamat kakek ku, tapi saat aku sudah tiba di sini, aku bingung harus kemana." Arley tersenyum menyeringai. "Coba aku lihat alamatnya." Arley mengambil kertas yang ada di tangan gadis itu. "Oh.. Ini om tau, mau om antar ke sana?" Ucapnya ramah. Dengan cepat gadis itu mengangguk. "Mau om, makasih ya om udah baik banget, ganteng lagi." Arley mengacak rambut gadis itu dengan lembut. "Ayo masuk mobil om." Ajaknya sambil membukakan pintu mobil, mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Arley membawanya entah kemana, di fikirannya di mana ada tempat sepi, di situlah ia akan melancarkan aksinya, sudah dua jam ia mengendarai mobilnya di jalan raya. "Om, masih jauh ya?" Tanya gadis itu. Sekilas Arley melihat ke arah gadis itu dan tersenyum. "Sebentar lagi kok, kalau kamu ngantuk tidur aja, nanti om bangunin kalau udah sampai." Gadis itupun tersenyum dan mengikuti perintah Arley. Arley memberhentikan mobilnya di gedung tua, gedung yang sudah lama terbengkalai. Ia membopong tubuh gadis yang tengah tertidur itu, ia mengikat tubuhnya di salah satu besi. Dinginnya lantai dan pengapnya debu menusuk kedalam hidung, perlahan gadis itu membuka matanya. Ia terkejut melihat tubuhnya yang sudah terikat, ia mendongak melihat siapa pria di hadapannya. "Om mau apa, lepasin aku." Arley tertawa kegirangan. "Lepasin kamu, kamu akan aku jadikan karya seni ku yang baru, kamu sudah sangat tepat memilih sesorang untuk membantu mu." Ucap Arley sambil berjalan mendekat. "Jangan mendekat, ku mohon. Tolonggggg." Teriak gadis itu. "Tolongggg.." Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD