Tamparan dan pukulan benda tumpul berkali-kali terarah tepat di kepala gadis itu, tidak ada tangisan atau permohonan yang terdengar lagi dari gadis malang itu.
Arley tertawa puas setelah melakukan aksinya yang seperti iblis, rasa kasihan atau kemanusiaan tidak ada lagi di dirinya, matanya berkabut dan haus akan darah membuat ia menjadi candu untuk membunuh.
Arley memikirkan cara bagaimana ia membereskan tubuh gadis malang itu, akhirnya sebuah ide pun muncul di benaknya.
Ia mulai memutil*asi tubuh korban, memotongnya hingga 17 bagian, dan memasukkannya di dalam plastik berwarna hitam. Kemudia ia melajukan kendaraannya menuju hutan di dekat puncak. Ia menutupi tubuh korban dengan dedaunan kering dan ranting-ranting pohon, lalu ia membakarnya.
Arley tertawa puas, wajahnya menyeringai seperti iblis, membunuh adalah hobbynya, hatinya beku seperti bongkahan es yang telah menggunung.
Setelah menghilangkan jejak dengan sempurna, dan memastikan tidak ada celah sedikit pun, akhirnya ia kembali di kediamannya.
**********
Pagi yang cerah telah tiba, mentari pagi sudah mencondong menjulang tinggi, menyinari bumi dengan kehangatannya, sosok gadis menggeliat di atas kasur, menguap, dan merenggangkan persendiaannya.
Ia melirik jam di atas meja samping ranjangnya, jarum jam menunjukkan pukul 08.00. Freya menghembuskan nasaf panjang seperti ia telah melakukan kegiatan berat.
Ya, gadis itu ialah Freya kirana, gadis muda yang baru menyelesaikan sekolah menengah atas tahun lalu, ia bekerja di salah satu toko bunga terkenal, tidak memiliki biaya membuat Freya harus bekerja keras untuk dapat melangsungkan hidupnya.
Sebenarnya Freya ingin menikmati hidup seperti teman seusianya, melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita yang selama ini ia impikan, tapi inilah kenyataan, setelah tamat SMA ia memutuskan untuk keluar dari panti asuhan yang sudah 15 tahun menjadi rumah ternyamannya, kini ia harus berjalan mengarungi kehidupan yang sudah di takdirkan untuknya.
Freya telah tiba di toko bunga tempat kerjanya, "Pagi Pak" sapa Freya kepada Bosnya itu.
"Pagi Kembali" balas Anton selaku Bos Freya.
Seperti biasanya, Freya langsung mengerjakan tugasnya, hari ini toko mereka mendapat pesanan bunga untuk acara anniversarry pernikahan, Freya dan teman kerjanya pun segera mempersiapkan berbagai bucket bunga segar dengan berbagai ukuran.
"Freya, entar malam Lo ada acara nggak?" tanya Mimi teman kerja Freya.
Freya menoleh, dan sejenak ia berhenti melakukan aktivitas tangannya. "Eemmm,,, kayanya enggak Mi, kenapa?"
"Entar malem temenin gue mau nggak?"
"Kemana?"
"Ke taman, gebetan gue ngajak ketemuan." Mimi tersenyum malu. "Mau ya,, please" bujuk gadis itu sambil menangkupkan kedua tangannya.
Freya tersenyum geli. "Iya, entar gue temenin, tapi.." ucapannya sengaja ia gantung membuat Mimi penasaran.
"Tapi apa?"
"Tapi motor Lo tinggal dong, gue males pulang jalan kaki sendirian"
"Iya.. Iya"
"Iya mulu Lo, entar kaya minggu lalu, minta di temenin, terakhir gue Lo tinggal sendirian" kesal Freya.
Mimi pun merangkul pundak Freya. "Kali ini gue janji, nggak akan ninggalin elo, entar Lo bawak aja motor gue pulang, doain ya gue jadian"
Freya menggelengkan kepala sambil tertawa geli melihat temannya itu, baru satu minggu putus, kini sudah memiliki gebetan dan ingin mulai pacaran kembali.
Tidak seperti dirinya, jangankan pacaran, memiliki teman lelaki saja tidak ada, apa lagi gebetan.
Tidak terasa waktu terus berjalan, Freya dan Mimi telah menyiapkan pekerjaannya, toko pun telah tutup.
"Freyaaaaa....." teriak Mimi membuat sebagian orang yang melintas melirik kearah mereka.
Freya pun menghembuskan nafas panjangnya, sudah biasa ia mendapat perlakuan seperti itu dari Mimi, gadis bertubuh sedikit berisi, dan mengendarai motor bebek berwarna kuning.
"Apaan sih Mi, nggak pake teriak-teriak segala kali." Dengus Freya kesal.
"Gue cuman mau ngingetin, jangan lupa entar gue jemput jam 07.00,oke sayang" Mimi mengerlingkan satu matanya.
"Iya.. Iya.. " Freya pun kembali berjalan menyusuri trotoar. Tidak lupa ia membeli nasi goreng kesukaannya untuk ia santap setelah tiba di kost nanti..
Bersambung...