Aliong, Bastian, Alung, dan juga Ahong menaiki pesawat dan duduk di kursi masing-masing. Bastian duduk bersama Aliong. Tidak lama kemudian, pesawat lepas landas dari bandara. Bastian memperhatikan semuanya dari jendela. Bastian sangat senang, karena ini pertama kalinya lagi dia bisa pergi menggunakan pesawat setelah sepuluh tahun yang lalu.
“Kayak anak kecil lo,” ledek Aliong sambil terkekeh.
“Biarin Ko, ini kan pertama kalinya sejak pertama Tian naik beginian lagi.”
“Ya, ya, gua ngerti,” sahut Aliong. “Kalo elo udah puas, baca ini.”
Aliong meletakkan amplop cokelat di pangkuan Bastian. Setelah itu Aliong memejamkan matanya untuk beristirahat.
“Tapi Ko, berapa lama perjalanan kita sampe di sana?”
“Masih lama. Elo bahkan bisa bosen nungguinnya karena cuma duduk diem di sini.”
“Baiklah.”
“Kalo elo ngantuk, tidur aja.”
“Iya Ko.”
Setelah itu, Aliong benar-benar tidur. Sementara Bastian menghabiskan waktu dengan membaca dokumen yang diberikan Aliong, serta mengingat semua detil yang tertulis di sana. Karena bosan, akhirnya Bastian memilih tidur, seperti yang dilakukan Aliong.
Setelah penerbangan yang cukup panjang, akhirnya pesawat yang ditumpangi Aliong mendarat di bandara Macau. Bastian yang masih terlelap, tidak menyadari hal itu sampai Aliong membangunkannya.
“Tian, bangun!” ujar Aliong sambil menepuk bahu Bastian.
“Mm.” Hanya itu yang keluar dari bibir Bastian.
“Bangun! Kalo nggak bangun, gua tinggal lo sendirian di sini!” ancam Aliong.
Bastian langsung membuka matanya ketika mendengar perkataan Aliong.
“Emang udah sampe?”
“Udah dari tadi! Elo nggak liat ini tempat udah mau kosong?!”
Bastian mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan memang benar bahwa kabin sudah hampir kosong, karena para penumpang banyak yang sudah turun. Lalu, Bastian memandang keluar. Gelap, hanya terlihat lampu-lampu yang menerangi sekitar landasan.
“Maap Ko. Tian ngantuk banget.”
“Hm. Sekarang ayo kita turun.”
“Sekarang jam berapa Ko?”
“Hampir tengah malam. Kenapa?”
“Kita berangkat malam, dan sekarang udah malam lagi?”
“Hm. Sekarang buruan turun. Gua cape, ngantuk, juga laper.”
“Baiklah.”
Aliong berdiri dan meregangkan tubuhnya sebentar. Bastian mengikuti apa yang dilakukan Aliong barusan. Kemudian bersama-sama mereka turun dari pesawat.
“Alung sama Ahong mana Ko?”
“Udah turun duluan.”
Setelah selesai mengurus segalanya, serta mengambil bagasi, Aliong, Bastian, Alung, dan juga Ahong berjalan keluar dan mendapati jika sudah ada yang menunggu mereka. Dia adalah Don, bawahan Aliong di Macau.
“Silakan masuk Ko,” ujar Don yang sudah membukakan pintu mobil untuk Aliong.
“Tian, elo bareng gua.”
“Iya Ko.”
Bastian masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Aliong di bagian belakang mobil. Sepanjang perjalanan, Bastian tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan malam kota Macau yang begitu menarik. Don membawa mereka ke sebuah rumah peristirahatan yang terletak di pinggiran kota. Rumah yang dibeli Aliong bertahun-tahun yang lalu. dengan uang hasil jerih payahnya.
“Kita mau ke mana Ko?” tanya Bastian.
“Ke rumah gua.”
“Wah …, yang bener? Rumah sendiri?”
“Iyalah, emang mau rumah siapa lagi?”
“Keren …,” puji Bastian.
“Elo juga bisa kok kayak gua,” sahut Aliong.
“Wah …, kayaknya nggak mungkin Ko. Kalo mau kayak Koko, Tian mesti punya uang yang banyak banget. Dan masih lama banget buat bisa sampe di tempat Koko sekarang.”
“Memang perlu waktu, tapi kalo elo tekun dan rajin, semua pasti bisa elo raih, walaupun harus melalui proses yang panjang.”
“Semoga Tian bisa Ko.”
“Elo harus punya keyakinan yang kuat, juga prinsip yang teguh.”
“Iya Ko.”
Setelah tiba di rumah, Aliong langsung masuk ke dalam dan berjalan menuju ke meja makan yang sudah penuh dengan berbagai macam hidangan. Bastian yang berdiri tepat di belakang Aliong sampai tercengang melihat isi meja.
“Wah …, kayak mau pesta,” gumam Bastian.
“Ko, elo baik banget,” ujar Alung yang baru tiba di meja.
“Wah, makan besar kita,” timpal Ahong dengan wajah gembira.
“Ayo cepetan makan, setelah itu kalian istirahat,” ujar Aliong. “Don, elo juga ikut makan, sekalian gua mau kenalin elo sama adik gua.”
“Siap Ko,” sahut Don.
Masing-masing orang duduk di kursi yang mengelilingi meja makan berbentuk bundar dengan bersemangat karena sudah merasa sangat lapar. Makanan di pesawat memang nikmat, akan tetapi tidak cukup untuk membuat mereka kenyang. Mereka makan dengan lahap, dan menghabiskan semua masakan yang tersedia.
“Ah …, sekarang cacing di perut gua udah kenyang,” desah Ahong sambil mengusap perutnya yang membuncit karena kekenyangan.
“Betul, betul, sekarang gua bisa tidur nyenyak,” timpal Alung.
“Kalian pasti cape dan ngantuk. Ayo gua tunjukkin kamar kalian,” ujar Aliong sambil bangit berdiri.
“Siap,” sahut bastian, Alung, dan Ahong.
“Don, elo juga di sini. Mana yang lain?” tanya Aliong.
“Mereka akan datang besok pagi-pagi, Ko,” sahut Don.
“Oke. Tian, sini lo!”
“Iya Ko?” ujar Bastian sambil mendekat. “Kenapa?”
“Ini Don, orang yang ngurus semua di sini, dan selalu ngasih laporan ke Chen.”
Bastian mengulurkan tangan pada Don yang disambut hangat oleh pria itu.
“Gua Don. Kalo ada apa-apa, elo bisa minta tolong sama gua.”
“Iya. Saya Bastian, adiknya Ko Aliong.”
“Jadi ini orang yang sering diceritain Chen?” tanya Don sambil memandang Aliong.
“Hm.”
“Seneng ketemu sama elo,” ujar Don hangat.
“Sama, Tian juga seneng bisa kenal sama Koko.”
“Perkenalannya cukup sampe sini, sekarang ke atas, gua cape.”
Aliong meninggalkan ruang makan, berjalan ke arah tangga melingkar yang ada di tengah ruangan. Bastian, Alung, dan Ahong mengikuti Aliong ke atas hingga tiba di depan sebuah pintu.
“Ini kamar kalian,” ujar Aliong pada Alung dan Ahong.
“Siap Ko,” sahut mereka berdua bersamaan.
“Tian di mana?”
“Ikut gua.”
Bastian berjalan mengikuti Aliong menuju ke ujung lorong di mana ada dua pintu yang berseberangan. Aliong membuka salah satunya dan memperlihatkannya pada Bastian.
“Ini kamar lo.”
“Tian tidur di sini sendirian?”
“Emang mau sama siapa lagi? Mesti ditemenin sama gua?”
“Bukan gitu, tapi kenapa beda sama Alung dan Ahong?”
“Karena elo adik gua, maka tempat lo di sini!” ujar Aliong dengan suara pelan.
“Iya Ko. Maaf.”
“Sana masuk, langsung istirahat.”
“Iya,” sahut Bastian sambil berjalan masuk. “Koko di mana?” tanya Bastian sambil membalikkan badan.
“Di sana,” ujar Aliong menunjuk kamar yang tepat berada di seberang.
***
Sejak lima menit yang lalu, akan tetapi belum terdengar suara Bastian. Karena itulah, Aliong mengetuk dengan keras. Bastian terbangun ketika mendengar suara keras dari arah pintu. Setengah terpejam, Bastian turun dari tempat tidur dan berjalan tersaruk-saruk untuk membuka pintu.
“Cepetan mandi!” ujar Aliong saat Bastian membuka pintu.
“Hm?” gumam Bastian yang belum sepenuhnya bangun.
“Mandi!” ulang Aliong.
“Mandi? Emang mau ngapain?”
Aliong berdecak keras mendengar jawaban Bastian. Kemudian Aliong mengangkat tangannya dan menyentil kening Bastian dengan keras.
“AW!” pekik Bastian yang langsung sadar dan memegangi keningnya. “Sakit Ko.”
“Sana mandi! Udah gitu ikut gua!”
“Iya Ko.”
Bastian membalikkan badan dan berjalan ke kamar mandi yang menyatu dengan kamar. Lima belas menit kemudian. Bastian keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk menemui Aliong.
“Tian udah siap Ko,” ujarnya saat melihat Aliong tengah duduk di ruang tamu sambil membaca berkas.
“Kalo gitu kita jalan sekarang.”
Aliong beranjak dari sofa dan berjalan keluar menuju ke mobil yang sudah menunggunya. Bastian mengikuti dari belakang, dan terkejut saat tiba di teras melihat beberapa pria yang berdiri di sana.
“Mereka siapa Ko?” tanya Bastian.
“Orang-orang gua, dan mereka ada di sini buat ngejaga rumah selama gua di sini.”
“Wuih …, keren,” ujar Bastian sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Aliong di bagian belakang. “Tian jadi penasaran, sebenernya Koko ini siapa dan posisi di kelompok tuh apa?’ lanjutnya.
“Nanti juga elo pasti tahu dengan sendirinya. Sekarang fokus aja sama apa yang bakal kita kerjain.”
“Baiklah,” sahut Bastian mengalah. “Tapi Alung sama Ahong mana?”
“Di mobil belakang.”
“Oh.”
Setelah itu Bastian tidak bertanya lagi. Perhatiannya teralih dengan pemandangan di luar mobil. Semalam dia tidak dapat melihat dengan jelas, akan tetapi sekarang karena sudah terang, dia dapat melihat lebih jelas. Bastian sangat kagum dengan gedung-gedung menjulang, juga arsitektur setiap bangunan.
“Elo laper?” tanya Aliong saat mendengar bunyi yang keluar dari perut Bastian.
“He …, he …, he …, iya Ko. Kan Tian belum makan,” sahutnya sambil meringis malu.
“Masih bisa tahan kan?”
“Bisa Ko, tenang aja,” sahut Bastian santai.
“Oke. Selesai gua ketemu sama orang, gua bakal ajak elo makan enak,” janji Aliong.
Tidak lama kemudian, mobil memasuki pelataran hotel dan berhenti di depan lobi. Pria yang duduk di sebelah kiri bagian depan turun dan membukakan pintu untuk Aliong.
Aliong turun dan memasuki hotel, diikuti oleh Bastian dan anak buahnya. Mereka berjalan ke elevator. Setelah menunggu sejenak, mereka masuk, dan Alung langsung menekan tombol angka lima, menuju ke tempat pertemuan.
Aliong berhenti di depan sebuah kamar, dan mengetuk pintunya dengan ketukan berirama sebanyak tiga kali. Tidak lama kemudian, pintu dibuka oleh seorang pria berbadan tegap. Aliong melangkah masuk ke dalam, diikuti oleh Bastian. Sedangkan Alung, Ahong, dan yang lainnya tetap menunggu di depan kamar.
“Apa kabar Ko Ceng?” sapa Aliong sambil menjabat tangan pria di hadapannya.
“Baik. Elo?”
“Selalu baik. Seperti yang elo lihat,” sahut Aliong. “Oh ya Ko, kenalin ini Bastian, adik gua.”
“Oh …, jadi ini pemuda yang pernah diceritain Jack ke gua. Apa kabar?” tanya Ceng pada Bastian.
“Baik.”
“Kalo Aliong sampe ngangkat elo jadi adiknya, berarti elo itu istimewa,” puji Ceng pada Bastian.
Bastian meringis mendengar perkataan Ceng yang begitu spontan. “Makasih,” gumam Bastian pelan.
Sejak Aliong mengambil alih Macau, atas perintah Jack, dia sudah melakukan banyak hal yang membuat daerah ini semakin bertambah kuat dan memberikan keuntungan yang sangat besar. Dan Aceng, sebagai bawahan Jack, sangat menyukai cara kerja Aliong yang begitu efisien dan terarah. Karena itu, dia sangat menghormati Aliong, walaupun usianya lebih muda beberapa tahun dari Aceng.
“Duduk Liong,” ujar Ceng. “Elo juga Bastian.”
“Makasih Ko.”
Aliong duduk di kursi di depan meja kerja, berhadapan dengan Aceng.
“Jack sehat?” tanya Aceng membuka percakapan.
“Sehat Ko, dan dia titip salam buat elo.”
“Bagus kalo begitu,” sahut Aceng. “Masalah apa yang bikin elo dateng ke sini?”
“Mengenai hotel ini dan kasino yang dikelola sama Kenji. Gua nemuin banyak kejanggalan di laporan keuangannya. Gua udah pantau sejak beberapa bulan, dan semakin hari semakin gua yakin kalo dia berbuat curang dan menggelapkan uang.”
“Gua rasa juga begitu Liong. Gua sendiri juga lagi mencaritahu masalah ini. Dari info sementara yang gua dapet, dia ada main sama kelompoknya Dong San.”
“Terus kenapa elo diem aja Ko?”
“Elo mau gua ngelakuin apa?” tanya Aceng.
“Selidiki lebih lanjut, dan terus kabarin. Gua ada di sini sampe hari Kamis. Kalo bisa dapetin buktinya, akan gua tindak. Tapi kalo nggak, gua bakal balik ke sini lagi secepatnya.”
“Oke. Nggak masalah. Akan langsung gua kerjain. Ada lagi?”
“Ko Jack puas dengan hasil yang elo capai. Keuntungan meningkat pesat selama setahun ini. Gua jadi penasaran elo pake cara apa?”
“HAHAHA ….” Cen tergelak mendengar perkataan Aliong. “Gua cuma ngikutin cara elo. Masa elo nggak nyadar?”
“Emang gua ngapain?” tanya ALiong.
“Masih pura-pura nggak tau. Cara elo nanganin anak buah dan musuh, juga cara pendekatan elo ke orang, itu yang gua pelajari dari elo. Dan ternyata itu berhasil.”
“Ngasal lo kalo ngomong. Lagian kenapa baru sekarang?”
“Gapapa,” sahut Ceng yang tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. “Ada lagi yang harus gua lakuin?”
“Tentu ada.”
“Apa? Bilang aja, pasti gua lakuin.”
“Bastian baru kalo ini dateng ke Macau. Tolong ajak kita makan enak selama di sini,” ujar Aliong.
“HAHAHA ….” Ceng kembali tertawa mendengar permintaan Aliong. “Oke. Nggak masalah.”