Kayleen Berusaha Mendekati Bastian

1843 Words
Pukul setengah enam, Aliong datang ke tempat Jimmy ditemani oleh Chen. Saat masuk, dia tidak melihat siapapun, akan tetapi mendengar suara Jimmy dan Bastian di dapur. Aliong berjalan ke dapur dan melihat Jimmy serta Bastian tengah sibuk menyiapkan bahan-bahan. “Mana yang mesti gua kerjain?”  “Oh, elo udah dateng,” ujar Jimmy. “Tolong siapin bumbu aja Liong.” “Oke.” Aliong mengambil pisau dan mulai mengupas bawang putih yang terletak di meja. Chen langsung membantu Aliong dan duduk di seberang pria itu. Bastian tertawa kecil melihat kakak angkatnya. Selama ini, jika menginap di pondok, urusan memasak adalah bagiannya. “Kenapa ketawa?” tanya Aliong. “Gapapa Ko,” sought Bastian. “Elo pikir gua nggak bisa masak?!” ujar Aliong sambil mendengkus sebal. “Maaf,” gumam Bastian yang belum bisa berhenti tertawa. “Pengen gua lempar pake bawang?!” ancam Aliong sambil bersiap-siap melemparkan bawang ke arah Bastian. “Sori Ko, rasanya aneh aja, baru kali ini Tian liat Koko masuk dapur,” “Aliong tuh sebenernya bisa masak, cuma males,” sela Jimmy yang mendengarkan pembicaraan antara Aliong dan Bastian. “Kalo masih ngebahas masalah ini, mending gua pulang,” gerutu Aliong dengan suara keras. Setelah itu tidak ada lagi yang menggoda Aliong. Mereka berempat menyelesaikan persiapan untuk makan malam dengan cepat.  Begitu pun saat para tamu datang, mereka berbagi tugas sehingga semua dapat berjalan dengan lancar hingga selesai. Aliong membantu Jimmy di dapur, sedangkan Bastian dan Chen bertugas mengantarkan setiap pesanan ke meja. “Akhirnya selesai juga,” desah Aliong saat tamu terakhir meninggalkan restoran. “Mau teh Ko?” tanya Bastian yang sedang membawa piring kotor. “Kopi aja. Gua butuh asupan kafein.” “Oke,” sahut Bastian. “Ko Chen?” “Sama kayak dia,” ujar Chen sambil menunjuk Aliong. “Baiklah.” Bastian melanjutkan langkahnya menuju dapur. Setelah menaruh piring kotor, dia memasak air untuk membuat kopi bagi Aliong dan Chen, juga teh untuk Jimmy dan dirinya. Sambil menunggu, Bastian mencuci sebagian piring yang menumpuk. Setelah kopi dan teh jadi, Bastian membawanya ke ruang depan menggunakan nampan. Dia meletakkan di meja. “Diminum dulu, mumpung masih hangat.” “Oke. Makasih,” sahur Aliong. “Pa, mau makan apa?” tanya Bastian pada Jimmy. “Bahan apa yang masih tersisa?” “Masih ada ayam dan daging sapi. Papa mau masak apa?” “Elo aja yang masak,” ujar Aliong. “Biarin Ko Jim istirahat.” “Oke.” Bastian kembali ke dapur untuk membuat makan malam bagi mereka semua, termasuk untuk Meylan. Dia memperhatikan sisa bahan yang masih ada, sambil berpikir cepat untuk membuat apa. Setelah memutuskan, Bastian mulai mempersiapkan bahan dan mulai memasak. “Tian mana?” tanya Meylan yang baru turun. “Lagi masak. Kenapa elo turun?” tanya Jimmy. “Bosen di kamar Ko, lagian demam nya udah turun.” Meylan berjalan menuju meja yang menjadi tempat berkumpul Jimmy, Aliong, dan Chen. Dia menarik kursi yang ada di samping suaminya dan duduk di sana. “Hm …, aromanya enak,” gumam Meylan saat tercium masakan dari dapur. “Iya, betul, bikin gua makin laper,” timpal Aliong. “Itu anak masak apaan?” Diam-diam Jimmy tertawa dan memuji Bastian dalam hati. Dirinya merasa bangga, karena semakin hari, kemampuan masak Bastian semakin baik. Banyak tamu yang datang tidak percaya jika pesanan mereka adalah hasil anak itu.  “Siapa dulu dong gurunya,” goda Meylan sambil melirik pada Jimmy. “Mungkin sudah waktunya gua pensiun ya, biar Tian yang gantiin.” “Jangan Ko!” cegah Meylan cepat. “Kenapa?” “Dari yang gua tau, Tian pengen kuliah masak supaya bisa makin ahli. Kalo elo suruh dia gantiin di sini, gimana caranya dia mau belajar?” Jimmy terdiam mendengar perkataan istrinya. Selama ini dirinya tidak pernah tau apa yang diingini oleh anak angkatnya, karena memang Bastian jarang menceritakan urusan pribadinya. Walaupun terbilang dekat, Jimmy terkadang masih merasa Bastian menjaga jarak dengannya. “Emang dia bilang sama elo?” tanya Jimmy. “Iya, beberapa waktu yang lalu.” “Berarti gua nggak jadi pensiun dulu dong?” ujar Jimmy mencoba berkelakar. Aliong mengamati raut wajah Jimmy dengan seksama. Dia sangat yakin, pria itu khawatir memikirkan biaya untuk pendidikan  Bastian yang pasti cukup besar. Karena itulah, secara diam-diam Aliong sudah mempersiapkan segalanya. “Ayo makan dulu,” ujar Bastian sambil membawa baki besar berisi makanan. “Elo masak apa?” tanya Aliong penasaran. Bastian meletakkan mangkuk besar berisi sup ayam di meja, tumis kailan, dan stim tahu. Keempat mata memandang tiap jenis masakan dengan penuh minat. “Sepertinya enak,” gumam Meylan. “Kapan elo belajar bikin stim tahu?” tanya Jimmy heran. “Udah boleh dimakan?” tanya Aliong sambil menggosok-gosokkan tangannnya. “Tunggu sebentar. Tian ambilin nasinya dulu.” Bastian bergegas ke dapur untuk mengambil nasi yang sudah ditaruh dalam mangkuk-mangkuk dan membawanya ke depan. “Silakan makan,” ujar Bastian setelah selesai meletakkan nasi. “Ayo makan!” seru Aliong yang sudah kelaparan. Bastian mengambil sup ayam ke dalam mangkuk bersih dan memberikannya pada Meylan. “Ini buat Mama, biar badannya hangat.” “Makasih.” Bastian kembali mengambil sup, dan kali ini memberikannya pada Jimmy. “Ini buat Papa, biar badannya tetep sehat dan capenya ilang.” “Makasih,” ujar Jimmy yang merasa senang, juga terharu dengan perhatian kecil Bastian. “Gua nggak diambilin?!” tanya Aliong pura-pura marah. Bastian hanya tertawa mendengar perkataan Aliong. Tanpa diminta pun, dia akan mengambil serta memberikan untuk pria itu dan juga Chen. *** Pagi ini Bastian terlambat bangun karena semalam dia belajar sampai larut. Tanpa sempat sarapan, dia bergegas berangkat ke sekolah. “Tumben terlambat,” ujar Kayleen saat Bastian tiba di kelas. Bastian tidak mengacuhkan perkataan gadis itu dan terus berjalan ke mejanya. Untung bel belum berbunyi, sehingga Bastian tidak terlambat. Kayleen mengentakkan kakinya dengan keras. Dia merasa kesal karena Bastian bersikap dingin padanya. Andai bukan karena taruhan yang dia buat bersama sahabat-sahabatnya, dan karena mulai tertarik dengan Bastian, dia tidak akan mau melakukan hal ini. Harga dirinya sangat terluka dengan perlakuan Bastian. Selama ini Kayleen selalu mendapat perhatian dari lawan jenis, juga dipuja. Banyak teman laki-lakinya yang bersedia melakukan apapun yang dia minta, bahkan membelikan apapun yang dia inginkan. Namun, baru kali ini dia diacuhkan oleh seorang anak laki-laki.  “Kenapa muka kamu cemberut?” tanya Ann saat bertemu Kayleen di koridor. “Kesel!” “Sama? Karena?” tanya Ann. “Bastian! Dia selalu bersikap dingin dan menganggap saya tidak ada!” “Menurut saya itu wajar Kay, karena dia kan tidak kenal dengan kamu. Jangankan kenal, berbicara saja kalian tidak pernah.” “Tapi seharusnya dia kenal dengan saya! Apalagi saya itu populer, dan juga cantik. Tidak ada yang tidak mengenal saya!” sahut Kayleen dengan emosi meluap-luap. Ann tertawa mendengar perkataan Kayleen. Harus diakui, temannya ini memang sangat cantik. Namun, sangat disayangkan karena merasa cantik, Kayleen menjadi sedikit sombong, dan menganggap semua lawan jenis itu sama, akan langsung tertarik dengan Kayleen. “Saya rasa nggak semua laki-laki seperti itu Kay. Dari yang saya tau, Bastian itu memang berbeda. Kamu sendiri kan lihat sendiri saat di kelas seperti apa.” “Kenapa kamu sepertinya selalu membela dia?! Apa kamu suka sama Bastian?!” tanya Kayleen dengan nada tinggi. “Hei, kenapa bicara kamu jadi ngawur?!” tegur Ann tidak suka. “Lebih baik saya ke kelas.” Selesai mengatakan hal itu, Ann berjalan ke kelas dan tidak mempedulikan Kayleen yang memanggil dirinya. Sepanjang hari itu, suasana hati Kayleen sangat buruk. Segala sesuatu salah di matanya. Ann hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan temannya. Ketika waktunya pulang, Ann sengaja keluar terakhir karena ingin berbicara dengan Bastian. Setelah tidak ada orang lagi di kelas, Ann menghampiri Bastian. “Boleh saya berbicara sama kamu?” tanya An saat tiba di meja Bastian. “Mau bicara apa Ann?” tanya Bastian ramah. “Bagaimana kalo kita bicara di taman?” “Baiklah,” sahut Bastian sambil berdiri. “Ayo.” Bastian menunggu sampai Ann berjalan terlebih dahulu. Mereka berjalan bersisian menuju ke taman. Selama ini, Ann memang kerap mengobrol dengan Bastian, bahkan terkadang bertanya tentang pelajaran. Karena itulah menurut Ann, Bastian itu adalah anak yang baik dan ramah.  “Kamu mau bicara apa?” tanya Bastian setelah tiba di taman. “Apapun yang saya tanyakan, kamu nggak boleh marah.” “Sepertinya saya tau kamu mau bertanya apa.” “Apa?” tantang Ann sambil tersenyum manis. “Tentang teman kamu, betul?” “Hm.” “Kenapa?” “Kenapa kamu selalu bersikap dingin pada Kayleen?” “Saya? Sepertinya biasa saja,” sahut Bastian tenang. “Saya tidak kenal dengan dia, jadi rasanya aneh kalo tiba-tiba dia jadi ramah terhadap saya.” Ann tertawa mendengar penuturan Bastian yang jujur dan tidak dibuat-buat. Memang yang dikatakan Bastian sepenuhnya benar.  “Kenapa kamu bertanya hal ini?” tanya Bastian. “Saya penasaran. Kenapa kamu bisa bersikap baik pada saya, tapi tidak pada Kayleen. Saya sempat berpikir kamu membenci dia.” “Untuk apa membenci jika tidak kenal,” sahut Bastian tenang. “Lagipula selama ini bukankah dia yang selalu mengganggap saya tidak ada. Rasanya aneh tiba-tiba dia bersikap ramah.” “Lalu pada saya? Kenapa kamu mau berbicara dengan saya?” tanya Ann penasaran. “Karena dari awal, kamu selalu baik dan tidak pernah membedakan saya dengan yang lain.” Ann tersipu mendengar jawaban yang keluar dari bibir Bastian. Tidak dipungkiri Bastian itu termasuk tampan, walaupun warna kulitnya lebih gelap dibanding yang lain. Sikapnya yang dingin, dan jarang berbicara, semakin menambah daya tarik Bastian. “Masih ada yang mau dibicarakan?” tanya Bastian saat Ann diam saja. “Oh, nggak ada,” sahut Ann tersipu. “Kalo gitu saya pamit pulang ya. Kamu pulang dengan siapa?” “Sendiri, karena pasti yang lain sudah pulang.” “Kalo gitu, biar saya antar,” ujar Bastian. “Antar?” tanya Ann tidak percaya. “Iya Ann. Mari saya antar pulang, setelah itu saya akan langsung pulang.” Setelah mengatakan hal itu, Bastian berjalan meninggalkan taman. Melihat Bastian pergi, Ann tersadar dan langsung berlari mengejar. Tanpa mereka sadari, Kayleen memperhatikan mereka dari jauh. Hatinya semakin kesal melihat Ann dapat mengobrol dengan Bastian, bahkan diantar pulang. Setelah mengantar Ann pulang, Bastian langsung pulang untuk membantu Jimmy, karena Meylan belum pulih sepenuhnya. “Tian pulang,” ujarnya saat tiba. “Tumben telat,” sahut Meylan yang duduk di balik meja kasir. “Maaf Ma, tadi Tian anterin temen dulu.” “Cowok? Cewek?” tanya Meylan bersemangat. “Namanya Ann.” “Nama yang cantik,” gumam Meylan merasa bahagia. “Tian ke atas dulu Ma.”  Bastian berjalan ke arah tangga, akan tetapi sebelum dia naik, Meylan memanggilnya. “Tian!” “Ya Ma?” “Kapan-kapan ajak gadis yang bernama Ann ke sini, Mama mau kenal sama dia.” Bastian tidak menjawab, dan meneruskan langkah kakinya ke atas untuk menaruh tas dan mengganti baju. Dia bingung harus menjawab apa pada Meylan. Bagaimana mungkin membawa Ann ke sini, sedangkan dia hanya menganggap gadis itu seorang teman, sama seperti Zack dan Dave.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD