Mengobrol Berdua

1625 Words
Bastian sedang berjalan menuju gerbang sekolah, saat dia melihat Aliong berdiri sambil bersandar di mobil. Saat melihat Bastian, pria itu melambaikan tangannya. Bastian mempercepat langkah kakinya menghampiri Aliong. “Kenapa ke sini Ko?” tanya Bastian saat tiba di hadapan Aliong. “Gua mau ajak elo pergi.” “Ke?” “Liat aja nanti. Sekarang masuk mobil, karena banyak yang ngeliatin,” ujar Aliong sambil membuka pintu mobil. Bastian mengikuti perintah Aliong. Dia berjalan memutari mobil dan langsung masuk setelah membuka pintu samping kanan mobil. Aliong langsung menjalankan mobil meninggalkan area sekolah Bastian. Dia mengendarai mobil ke arah pertokoan yang berada di tengah kota.  “Turun!” ujar Aliong setelah memarkir mobil. “Tapi mau ngapain ke sini?” tanya Bastian bingung. “Gua mau ngobrol banyak sama elo. Kalo di rumah, Ko Jim pasti denger.” “Oh …, baiklah.” Bastian membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil. Dia berjalan mengikuti Aliong yang mengarah ke salah satu kafe. Setelah memesan kopi, dan minuman untuk Bastian, serta roti, Aliong membawa baki berisi pesanan ke tempat duduk yang berada di luar. “Koko mau ngomong apaan?” tanya Bastian setelah mereka duduk. “Nyantai Tian, baru juga duduk,” protes Aliong. “Ko Chen mana? Kenapa nggak ikut?” “Ada di sekitar sini,” sahut Aliong tak acuh. Bastian memandang berkeliling mencari sosok Chen, akan tetapi tidak kelihatan.  “Mau lo cari sampe itu kepala copot juga nggak akan ketemu,” ledek Aliong. “Kadang Tian suka penasaran sama Ko Chen. Dia itu pernah istirahat nggak sih? Kenapa juga selalu nggak terlihat.” “Dia memang seperti itu, dan juga karena memang tugasnya adalah ngejaga gua. Tapi dia juga manusia normal kayak kita, perlu tidur, makan, dan bersenang-senang.” Bastian yang sedang menyedot minumannya, hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Sekarang elo mau ngomong apa?" tanya Aliong.  "Masih inget Zack?" "Hm, kenapa?" "Dia mau belajar bela diri sama Koko. Waktu itu mau tanya langsung tapi nggak sempet, karena Koko langsung pergi." Aliong tidak langsung menjawab pertanyaan Bastian. Dia menatap remaja di depannya.  "Asal elo tau, gua nggak pernah punya murid, dan nggak niat Terima murid," ujar Aliong.  "Terus Tian? Emang bukan murid?" "Beda cerita. Gua ngajarin karena elo anak Ko Jim. Gua nggak bisa setiap saat jagain mereka, tapi kalo elo kan bisa, karena elo anak mereka dan selalu bersama mereka." "Terus gimana dong? Zack berharap banget bisa belajar dari Koko," sahut Bastian.  "Suruh dia belajar di tempat latihan umum." "Tapi emang kenapa sih Koko nggak mau? Pasti ada alasan nya kan?" "Asal elo tau, gua bukan orang yang senang terikat. Kalo temen lo belajar sama gua, otomatis gua harus selalu luangin waktu buat ngelatih dia, dan gua nggak mau," ujar Aliong memberi penjelasan. "Ke elo juga kan gua nggak selalu datang buat ngelatih, betul nggak?" "Iya sih," sahut Bastian. "Tapi Ko," "Nggak ada tapi-tapian. Gua nggak mau bahas hal ini lagi." "Baiklah." Bastian mengalah dan tidak memperpanjang tentang keinginan Zack yang ingin belajar pada Aliong. Dia mencoba menghormati keputusan kakak angkatnya.  "Terus Koko mau ngomong apa sama Tian?" "Gua pengen tau cita-cita lo, dan apa yang bakal elo lakuin kalo udah selesai sekolah menengah?" "Tian mau sekolah masak, " ujarnya dengan mantap.  "Serius?" "Iya. Dan Tian udah nabung tiap sen uang yang dikasih sama papa atau mama. Bahkan Tian juga selalu simpan uang hasil bantuin di rumah makan." Aliong terdiam cukup lama dan berpikir setelah mendengar semua perkataan Bastian.  "Elo udah yakin dengan apa yang akan elo lakuin? Seberapa besar kesungguhan lo? Karena sekali elo melangkah, elo nggak akan bisa kembali!" ujar Aliong.  "Yakin Ko. Memang itu cita-cita Tian sejak kecil. Apalagi sejak tinggal di sini, papa banyak ngajarin Tian tentang masak." "Oke, anggaplah elo memang mendalami dunia masak. Setelah itu, apa yang akan elo lakuin dengan ilmu yang elo dapet?" Aliong bertanya seperti ini karena dia ingin mengetahui apakah Bastian sudah memikirkan akan masa depannya sendiri. Karena suatu saat, anak itu harus bisa mandiri dan memiliki kehidupan nya sendiri.  "Rencana Tian, kalo udah lulus, mau kerja dulu, selain nambah pengalaman, juga nabung sehingga suatu saat nanti bisa punya rumah makan sendiri. Dan Tian mau, kalo sudah mampu, papa dan mama biar diem aja di rumah." Selama Bastian menceritakan semua keinginannya, Aliong terus menatap mata anak itu untuk melihat kesungguhan hati Bastian. Di dalamnya hatinya, Aliong merasa bangga dengan remaja di hadapannya ini. Tidak sedikitpun terlihat keraguan di mata Bastian saat mengatakan semuanya.  "Oke, jika memang itu keinginan elo. Gua akan bantu sebisa mungkin. Tapi ingat, elo harus menepati semua perkataan elo!" "Maksud Koko?" tanya Bastian kurang mengerti.  "Dari sekarang elo cari tempat pendidikan masak terbaik yang elo mau. Mengenai biaya, akan gua bantu. Nggak mungkin mengandalkan penghasilan Ko Jim sepenuhnya untuk biayain elo," sahut Aliong.  "Beneran Ko?" tanya Bastian dengan hati luar biasa senang.  "Hm. Syarat gua cuma satu, belajar yang bener dan buktikan sama gua kalo elo mampu." "Makasih Ko," ujar Tian dengan mata berkaca-kaca.  Bastian sama sekali tidak menyangka jika Aliong akan membantu mewujudkan mimpi terbesar dalam hidupnya.  "Heh, anak laki-laki pantang menangis untuk hal sepele," goda Aliong yang juga terharu melihat Bastian.  "Tian nggak nangis kok." "Ya… , ya… , gua percaya," sahut Aliong. "Gimana sama latihan lo?" lanjut Aliong mengubah topik pembicaraan.  Selama beberapa waktu terakhir, Aliong memang belum melatih Bastian lagi. Dia sengaja menyerahkan anak itu pada Chen, karena ada urusan mendesak yang harus dilakukannya.  "Baik Ko, tapi lebih enak belajar sama Koko dibanding Ko Chen." "Kenapa?" tanya Aliong terkejut.  Sepengetahuan nya, Chen sangat mahir dan tidak kalah darinya dalam hal bela diri.  "Nggak banyak ngomong dan lebih kaku dari Koko. Kadang Tian suka bingung kalo berhadapan sama dia," ujar Tian sedikit kikuk.  Aliong tertawa keras saat mendengar perkataan Bastian. Memang seperti itulah sosok Chen, orang kepercayaannya, yang selalu dapat diandalkan. Aliong jadi teringat saat Chen datang padanya dan meminta ijin untuk melatih Bastian beberapa waktu yang lalu. “Ko, gua mau ngomong sesuatu, elo lagi luang nggak?” tanya Chen. “Tumben amat mau ngomong aja ijin. Emang elo mau ngomong apaan?” sahut Aliong sambil meletakkan kertas yang sedang dibaca. “Tentang Bastian.” “Kenapa sama Bastian? Apa dia dapet masalah?” tanya Aliong. Atas permintaan Aliong, Chen juga selalu mengawasi Bastian dan menjaga keselamatan remaja itu. Jika Chen sedang melakukan sebuah pekerjaan, maka tugas itu dialihkan pada Alung, salah satu anak buah Aliong lainnya. “Nggak Ko. Sejauh ini, anak itu selalu berusaha menghindari masalah, seperti yang elo bilang ke dia.” “Terus?” “Gua mau minta ijin buat ngelatih dia,” ujar Chen. “Atas dasar apa? Selama ini dia selalu menunjukkan kemajuan yang pesat kan?” “Iya. Gua cuma mau ngelatih aja, karena anak itu memang memiliki kemampuan yang baik. Gua jadi pengen nanganin dia, bukan cuma soal bela diri, tapi juga kemampuan lainnya.” Aliong terdiam sejenak, memikirkan perkataan Chen. Harus diakui, jika Bastian ikut bergabung dengan kelompoknya, anak itu pasti akan cepat mendapat posisi yang penting. Selain ilmu bela dirinya yang tidak bisa dianggap remeh, Bastian memiliki insting yang baik.  Namun, dia sudah berjanji pada Jimmy untuk tidak melibatkan Bastian dalam dunianya.  “Memang apa yang akan elo ajarin sama dia? Dan kenapa tiba-tba?” tanya Aliong. “Sejujurnya, pihak seberang sudah mengenali Bastian, dan itu sedikit membuat gua cemas Ko. Andai dia bisa menggunakan senjata lain dan mendapat pelatihan lebih, gua yakin dia bukan hanya mampu menjaga dirinya sendiri, tapi juga Ko Jim dan Ci Mey. Bukan gua meragukan kemampuan dia sekarang, tapi ada baiknya dia menguasai semuanya.” “Baiklah, jika memang itu mau lo,” ujar Aliong menyetujui keinginan Chen. “Gimana latihan lo sama dia?” “Baik Ko. Ko Chen itu lebih keras dan tegas saat latihan, tapi banyak hal juga yang Tian dapet dari dia.” “Contohnya?” “Salah satunya mengenai senjata Ko. Saat keadaan terdesak, dan kita nggak punya senjata, semua barang yang ada di sekitar kita bisa digunakan untuk melawan.” “Terus?” tanya Aliong lagi. “Walaupun terlihat nggak mungkin untuk menang, tetep harus berusaha dan mencari celah untuk melarikan diri. Jangan dipaksain, supaya nggak mati konyol.” “Ada lagi?” Bastian berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Aliong. “Oh iya, Ko Chen juga bilang, jangan pernah lengah, walaupun keadaan terlihat kita bisa menguasai keadaan.” “Ternyata banyak juga yang dia ajarin ke elo ya,” sahut Aliong. “Tapi gua harap, elo nggak sampe mengalami keadaan seperti itu,” “Karena?” sela Bastian cepat. “Gua nggak mau elo terlibat dengan kekerasan, apalagi sampe ngebahayain diri!” “Memang kenapa nggak boleh?” tanya Bastian penasaran. “Gua pengen elo hidup benar, menjalani hari-hari dengan baik, dan meraih semua mimpi lo,” “Tapi kenapa Koko boleh?” desak Bastian. “Menurut Tian,  Koko itu keren dan hebat, dan Tian pengen bisa kayak Koko.”  “Elo mau liat Ci Mey nangis?!” tanya Aliong yang kehabisan kata untuk mendebat Bastian. “Nggak,” “Kalo nggak mau liat orang tua lo sedih, maka lupain tentang bergabung sama gua!” “Iya Ko,” sahut Bastian dengan terpaksa. “Kalo udah selesai, kita pulang sekarang.” “Iya Ko.” Tidak lama setelah itu, Aliong mengantarkan Bastian kembali ke tempat Jimmy, dan langsung pergi karena ada yang harus dikerjakan. “Kamu dari mana?” tanya Jimmy ketika Bastian masuk. “Habis diajak jalan sama Ko Aliong.” “Ke?” “Ke pusat kota, terus ngobrol di kafe,” sahut Bastian. “Ganti baju, setelah itu bantuin Papa,” ujar Jimmy yang tengah mengaduk daging dalam bumbu. “Baik Pa.” Bastian bergegas ke atas, menaruh tas, mengganti baju, dan langsung ke dapur untuk membantu kedua orang tuanya. Sudah beberapa waktu ini, Jimmy mempercayakan dirinya untuk memasak pesanan yang datang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD