Ditemukan!

2076 Words
Seorang bocah perempuan dengan jaket berwarna merah jambu, tengah berlari akan menyeberangi jalan. Di mana keadaan lalu lintas sedang ramai dengan kendaraan. Dialah, Emilia Fawwaz Esser. Anak kandung dari Almahyra, dengan Abizard yang saat ini berusia lima tahun. “Emil, mau buah itu, Ma,” tunjuk Emilia dengan wajah lugu. “Iya, Mama mengerti kamu memang suka sama buah itu,” sahut Almahyra lembut, “tapi, Sayang dengan kamu berlari di tengah jalan raya kayak tadi. Kamu dapat saja terserempet mobil, atau yang lainnya. Dan itu akan membuat kamu terluka dan sakit.” Almahyra mencoba memberikan pengertian kepada sang anak. Agar kelak dia akan mengerti bahwa tindakkan seperti itu akan sangat berbahaya. Almahyra mengecup dahi sang gadis cilik. Keduanya tampak begitu saling menyayangi. Almahyra selalu memberikan penjelasan yang dapat dimengerti sang anak, ketika ia melarang putrinya tersebut melakukan sesuatu. “Maaf ‘kan Emil, Ma,” ujar bocah dengan wajah cantik itu, setelah mengatakan permohonan maafnya ia menundukkan wajahnya. Almahyra membelai wajah manis sang anak. Entah kenapa tiba-tiba manik matanya berkaca-kaca. Sepertinya dia tidak sampai hati melihat putri semata wayangnya menjadi murung. Namun itu semua dilakukan demi kebaikan sang buah hati. Sebagai seorang ibu, tentu saja ia tidak rela terjadi hal yang buruk kepada sang anak. Bola mata dengan warna cokelat terang milik sang buah hati. Kini menatapnya dengan lembut. Rambut ikal dengan warna pirang berkilau membuatnya sang mirip dengan sang ayah. Paras cantik yang dimiliki bocah itu, tentu saja didapatnya dari gen yang diturunkan oleh ayah dan ibunya. Almahyra memeluk anaknya dengan erat. “Lain kali, kalau kamu menginginkan sesuatu harus bilang ke, Mama terlebih dulu, ya,” kata Almahyra membujuk sang putri. “Baik, Ma. Maafkan, Emil, ya, Ma,” jawab Emilia lirih. “Mama kenapa menangis?” tanya Emilia. Perlahan tangan mungilnya menghapus air mata sang ibu yang masih terus mengalir. “Hikks―hikss.” “Tidak apa-apa ‘kok, Sayang. Hanya saja, Mama selalu memiliki kekhawatiran berlebih terhadapmu,” dusta Almahyra. Almyhara seketika menundukkan pandangannya. Lalu perlahan air matanya jatuh mengalir dengan sendirinya. Emilia yang ada di hadapannya mengerutkan dahi. Tampak bingung apa yang sebenarnya terjadi pada sang ibu. Trotoar jalanan menjadi saksi bisu. Betapa sebenarnya, Almahyra itu rapuh dan membutuhkan sandaran. Selama ini ia hanya mencoba menyembunyikan segala duka laranya dari dunia nyata. Almahyra selalu berusaha memperlihatkan betapa ia tangguh dan tegar. Meski sebenarnya, ia sangat merindukan sosok sang kekasih. Hanya saja, dengan sekuat tenaga ia menyembunyikannya di balik topeng senyuman palsu. Begitu banyak rasa sakit yang ia derita setelah kehilangan cinta dalam hidupnya. Ia bukan saja kehilangan pria yang selalu mendukungnya, akan tetapi dia harus benar-benar menyingkir dari dunia nyata. Almahyra selalu mengatakan kepada semua orang. Bahwa dia telah mengubur segala kisahnya bersama sang CEO tampan. Namun hati tetaplah―ia tidak dapat diperintah untuk memilih siapa. Ialah yang menentukan, pada siapa ia ingin melabuhkan cintanya. “Tuhan, tolong jangan pernah buat aku sekejap saja jauh dari anakku,” gumam Almahyta yang tampak masih syok. “Ma, are you oke?” kembali Emilia mengajukan sebuah pertanyaan dikarenakan belahan jiwa Alma ini mendengar permintaan dari sang ibu. “Hm?” “Sepertinya mama sedang sakit.” “Tidak. Mama baik-baik saja.” Sering kali ia mendapatkan pertanyaan menohok. Akan di mana sebenarnya keberadaan sang suami dari buah hatinya. Namun, Almahyra tidak pernah mengungkapkan kebenaran kisah itu kepada sang anak. Lima tahun sudah, ia bersembunyi dalam dunia kelam. Dia harus benar-benar menghilang jika ingin jiwa sang anak selamat. Entah sudah berapa banyak pria yang merasakan perihnya ditolak. Kian hari, pesona yang dimilikinya semakin matang. Sejak dulu ia selalu menjadi objek nyata dari wanita idaman kaum adam. Tidak jarang ada beberapa pria yang rela bertindak berlebihan. Demi mengejar cinta, Sang Primadona. Sayangnya, hingga detik ini ia masih memilih sendiri. Tampaknya tak mudah baginya membuka hati untuk orang baru lagi. Seberapa pun ia terluka karena kisah lalu, akan tetapi ia tetap menjadikan sosok Abizard sebagai pria terbaik. Hari demi hari, dilalui oleh Almahyra teramatlah sukar. Banyak kerikil tajam yang menusuk telapak kakinya, hingga menimbulkan luka dan berdarah. Namun, dengan segala ketegaran ia tetap memilih bertahan dan melanjutkan perjalanan hidupnya yang terjal. “Sayang. Tolong jangan pernah melakukan sesuatu yang akan membuat, Mama mati rasa lagi,” pinta Almahyra pada anaknya. “Baik, Ma. Emil, tidak akan membuat, Mama ketakutan lagi,” ujar Emilia tampak tulus. “Emil janji tidak akan mengulanginya lagi?” “Emil janji, Ma.” “Baiklah kalau begitu, ayo kita duduk di taman.” “Ayo!” Setelah itu, keduanya menyeberangi jalan yang tadi ingin dilalui sang bidadari kecil. Sesampainya di tempat yang ingin didatanginya, Emilia langsung menunjuk buah anggur yang tergantung pada sebuah kios buah. Almahyra tersenyum riang memperhatikan sang anak. Setelah mendapatkan yang diinginkannya, Emilia mengajak sang ibu duduk pada sebuah bangku taman. Emilia tampak berlari-lari di bawah hangatnya sinar mentari pagi. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan keduanya dari kejauhan. Sesosok pria dengan wajah yang sedikit memiliki kesamaan dengan Abizard. Dia tampak terperangah ketika melihat wajah, Almahyra dan juga sang anak. “Alma!” ujar Pria itu berusaha meyakinkan dirinya sendiri. “Apa aku tidak salah lihat? Apa benar itu dia?” “Tidak, tidak! Aku yakin sekali itu Almahyra!” “Alma, iya, aku yakin sekali itu dia!” Sepertinya ia sangat mengenal Almahyra. Dia terus memperhatikan keduanya dengan perlahan ia semakin mendekati mereka. Matanya berkaca-kaca dengan mulut yang juga terbungkam. Namun, pada ujung bibirnya tersungging sebuah senyuman kegembiraan. Raut wajah Almahyra seketika mengeras. Ketika matanya tertuju pada, seorang pria yang kini berdiri dengan gagah tepat di hadapannya. Terdiam tanpa kata dengan segala keterkejutannya. Ia benar-benar tertegun untuk beberapa saat melihat siapa yang sedang berhadapan dengannya saat ini. Sontak dengan sorot mata yang masih tertuju kepada pria tersebut, Almahyra berdiri dari posisi duduknya dengan tubuh sedikit bergetar. Terlihat jelas dari mimik muka yang ditunjukkannya. Ia tidak akan menyangka akan bertemu pria ini di sini. Sedangkan sang pria menatap lekat wajah, Almahyra penuh rasa haru. “Sayang, ayo, kita pulang. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan,” Almahyra dengan lembut mengajak anaknya untuk meninggalkan tempat tersebut. “Tapi, Ma. Emilia masih mau di sini,” jawab Emilia dengan nada yang ciri khas anak kecil yang lugu dan polos. “Iya, Sayang. Besok kita akan ke sini lagi, Mama masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan hari ini,” ujar Almahyra mencoba memberikan pengertian kepada sang anak. “Hm. Baiklah.” Seketika pria itu terdiam melihat anak kecil yang sedang bersama Almahyra. Dia menatap lekat sang anak kecil. Seakan ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Almahyra baru saja akan beranjak dari hadapan orang asing yang masih bungkam dengan tatapan aneh. “Tunggu!” tegas pria itu seraya menahan tangan Almahyra dengan erat. “Aku baru saja menemukan kalian. Tolong jangan pergi dariku lagi Alma.” “Sudahlah. Semuanya sudah selesai ‘kan dan sekarang biarkan aku menjalani hidupku dengan tenang.” Almahyra tampak berusaha sekuat mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh. “Alma, aku mohon maafkan kebodohan aku di masa lalu. Tolong kembali pada kami. Aku benar-benar tidak bisa merasakan kehidupan dengan tenang semenjak kamu pergi.” “Maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa, aku sudah bahagia berada di sini.” Setelah berkata demikian, Almahyra menghempaskan tangannya dari genggaman erat sang pria. Dan langsung menggendong putri kecilnya. Kemudian keduanya beranjak meninggalkan tempat di mana saat ini, pria itu masih terpaku membisu ditemani kesunyian yang melanda. Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan, Almahyra menoleh ke belakang dan dilihatnya sang pria masih tertegun dengan rasa penyesalan yang mendalam. Kemudian dengan tergesa-gesa dia mengajak sang anak naik ke mobil yang diparkirkan  tidak jauh dari tempat mereka sebelumnya. Ia bersiap-siap mengemudikan kuda besi yang terlihat sangat feminin dengan warna biru pastelnya. Dengan manik mata yang polos, Emilia memandangi sang Ibu yang menengadahkan kepala menatap ke atas. Dengan kedua tangan yang sudah berada pada kemudi. “Mama kenapa? Apa ada yang sakit, Ma?” tanya Emilia dengan polosnya. Almahyra memandangi wajah bersih anaknya dengan tatapan penuh haru. Dia berusaha agar tetap tersenyum dan terlihat menunjukkan sikap elegan di hadapan sang anak. Agar semuanya tetap terlihat baik. Dia tidak ingin anaknya mengetahui betapa hatinya saat ini ingin menangis dan sangat hancur. Almahyra masih dengan senyuman palsu yang sangat jelas tampak dipaksakan. “Mama, enggak apa-apa, Sayang,” jawab Almahyra dengan mengelus kepala Emilia. “Paman yang tadi itu siapa?” “Beliau itu teman Mama dulu.” “Teman sekolah?” “Hm.” “Oh!” Emilia langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu. Ia memilih diam dan tidak berkomentar lagi tentang apa yang dilihatnya beberapa saat yang lalu. Setelah itu, keduanya mengendarai mobil menuju jalan pulang ke rumah. Sesampainya pada kediaman mereka Almahyra membawa putri kecilnya masuk ke dalam rumah. “Bu, Alma masih ada urusan di luar. Tolong titip Emil sebentar boleh, Bu?” tanya Alma pada ibunya. “Kamu ini ngomong apa Alma? Kamu pikir Ibu tetangga kamu tempat kamu menitipkan anak. Dia itu cucuku dan menjaganya adalah hakku!” balas sang ibu dengan nada yang terdengar kesal. “Maaf, Bu bukan begitu maksudku.” “Lalu? Apa—” Alamhyra tidak berani menjawab kembali. Ia paham benar hal itu bisa saja menjadi percekcokan panjang. Apabila diteruskan dan ia tidak diam. Untuk menghindari perselisihan itu, Almahyra memilih beranjak dari rumahnya. Di tengah perjalanan air yang tidak berwarna itu mulai mengalir dan membasahi wajahnya. Terlihat jelas kesedihan yang dirasakan Almahyra saat ini. Bahkan, wajahnya sampai memerah akibat dari tangisan yang semakin menjadi. Tidak lama ia menghentikan laju kuda besi dengan 4 roda itu tepat di samping sebuah dermaga. Dengan tertatih ia berjalan menghampiri pagar pembatas. Almahyra terduduk di sana dengan tangisan yang semakin menjadi. Sepertinya saat ini dia sedang dirundung oleh rasa pilu yang mendalam. Jari-jemarinya berpegangan pada rangkaian besi yang dibentuk menjadi sebuah penghalang masuknya pihak yang tidak berkepentingan. Meskipun saat ini, ia tepat di bawah sinar mentari yang mulai meninggi serta memanas. Tampaknya semua itu tak berlaku untuk Almahyra yang tetap bertahan dengan mendung di hatinya. Semua itu diperburuk setelah pertemuannya dengan, Amir beberapa saat yang lalu. Yang seolah kembali membuka lembaran lama dan membuatnya tercekik akan kenangan pahit yang menyayat. “Kenapa kalian tega padaku? Aku sudah bahagia bersama anakku di sini,” gumam Almahyra dengan nada yang lirih dan seakan dipenuhi rasa sakit. “Aku sungguh tidak akan mampu jika harus bertemu denganmu lagi, Abizard!” lanjutnya lagi. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menutupi betapa tersiksanya dia. “Kau tak boleh kembali! Setelah aku berjuang dengan segala kesakitan yang aku rasakan selama ini. Tidak boleh, kau tidak diperbolehkan datang lagi Abizard!!!” Dari kejauhan Amir terus memperhatikan pergerakan Almahyra yang terlihat rapuh. Rasa bersalah seakan memaki dirinya sendiri. Seakan ia tahu bahwa dirinya sudah memberikan penderitaan kepada wanita yang saat ini diperhatikannya. Tampak sangat jelas berjuta penyesalan sedang dirasakan oleh Amir. Matanya berkaca-kaca menyaksikan betapa ironisnya yang terjadi kepada Almahyra. Ternyata sedari awal Amir telah mengikuti Almahyra. Bahkan ia juga sudah mengetahui letak kediaman Almahyra. Ia tidak sanggup melihat Almahyra yang masih meratapi nasibnya. Amir memutuskan untuk kembali ke hotel dan menemui sang kakak. Amir tampak serius dengan keputusan yang ia ambil kali ini. “Aku harus memperbaiki semua kesalahan yang telah kulakukan di masa lalu. Kakak harus tahu kalau Alma masih hidup, selain itu ada anak itu yang harus Kakak tahu juga,” gumam Amir pada dirinya sendiri seraya terus mengemudikan kendaraannya. Sesampainya di hotel. Amir tampak tergesa-gesa menuju kamar Abizard yang bersebelahan dengan kamar yang ia tempati. Sesampainya di depan pintu kamar Abizard entah mengapa Amir malah tampak ragu-ragu. Beberapa kali dia ingin mengetuk akan tetapi kembali digagalkannya. “Huh! Aku enggak bisa bayangkan bagaimana tanggapan Kakak kalau tahu yang sebenarnya. Tapi, bagaimanapun aku harus tetap menceritakan semuanya!” tegas Amir pada dirinya agar yakin dengan keputusan yang telah diambilnya. Tok! Tok! Amir terlihat semakin gugup. Tidak lama pintu kamar itu terbuka. Abizard membuka pintu dengan rambut yang acak-acakan pertanda dia sama sekali belum keluar dari kamar. “Kamu, Mir? Kenapa, tumben sekali ke sini,” ujar Abizard seraya membalikkan badannya. “Kakak enggak keluar kamar dari tadi?” tanya Amir berbasa-basi. “Alah buat apa juga. Pekerjaan aku masih bertumpuk itu, banyak yang harus aku periksa dan kontrol.” “Kak, kamu itu enggak lagi di kantor jadi tidak harus tetap mengawasi semuanya. Cobalah bersantai sedikit, Kak.” “Kalau aku santai terus perusahaan bangkrut. Memangnya kamu mau biayai kehidupan aku?” “Mau asal Kakak kembali pada Alma dan anak kalian.” “—“
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD