Kabar Tak Mengenakkan

1958 Words
Mendengar pertanyaan Amir seketika itu juga Abizard menghentikan kegiatannya. Ia menatap tajam ke arah sang adik. Abizard memang tidak pernah suka jika ada yang menjadikan Alma sebagai bahan perbincangan kosong. Baginya, Almahyra bukanlah bahan pembahasan umum. “Apa maksudmu bicara seperti itu di depanku, Mir!” Abizard memberikan penekanan pada kalimatnya kali ini. “Kakak jangan salah paham dulu. Aku memang bertemu Alma dan dia berhasil membesarkan putri kalian dengan baik,” terang Amir dengan nada bergetar. “Amir! Sekali lagi aku katakan, 'Aku tidak ingin bercanda. Terlebih bahasan yang kau angkat adalah wanita yang paling kucintai!’ Jangan pernah memancingku untuk marah!” “Kak, aku sedang tidak bercanda. Ini kenyataannya. Bahwa, Almahyra Batari masih hidup! Dia selamat dan berhasil membesarkan anak kalian dengan sangat baik.” “Tenangkan dulu dirimu, kalau Kakak sudah kembali tenang. Temui aku di kamar, aku mau mandi dulu.” Setelah mengatakan hal tersebut Amir langsung meninggalkan Abizard yang masih terdiam. Tampaknya, Abizard masih belum mampu menguasai dirinya. Setelah menerima informasi dari sang adik. Abizard terdiam tak bergerak dengan raut wajah seolah baru saja melihat sesuatu yang mengejutkan. Tentu saja informasi itu sangat membuat Abizard syok. Hal itu dikarenakan selama ini tidak ada yang bisa melacak keberadaan Almahyra. Namun, setelah berpikir beberapa saat tampaknya Abizard mulai sadar. Kemungkinan kebenaran dari apa yang dikatakan Amir itu kenyataan sangat besar. Mengingat daerah yang mereka datangi saat ini masih sangat terisolir. “Apa yang dikatakan Amir itu benar adanya?” gumam, Abizard yang masih saja tidak dapat mempercaya kebenaran cerita―. “Sepertinya aku harus kembali menemui Amir untuk memastikan kebenaran cerita ini.” “Sejujurnya hatiku sendiri sangat yakin kalau Alma masih hidup.” “Baiklah! Mari kita ungkap semuanya.” Setelah berucap pada dirinya sendiri, Abizard bangkit dari duduknya. Ia bergegas menemui Amir yang berada di kamar—. Abizard tampak menyiapkan diri untuk benar-benar meyakinkan bahwa apa yang didengarnya tidak salah. Terlihat ada sedikit keraguan pada wajahnya. Tok! Tok! Pintu terbuka. Amir berdiri di sana dengan mimik wajah tak kalah tegang dari sang kakak. Suasana antar kedua kakak beradik ini terasa kaku dan tidak nyaman. Dua pria dewasa berada dalam satu ruangan yang sama dengan pembahasan masa lalu dari percintaan sang kakak. Amir mempersilahkan Abizard untuk masuk. Setelah berada di dalam keduanya masih saja enggan memulai percakapan. Setelah beberapa menit berlalu, Amir memberanikan diri untuk bertanya. Dan tentu saja hal itulah yang dinantikan sang kakak yang kaku. “Ada yang bisa aku bantu, Kak?” tanya Amir dengan menggaruk kepala bagian belakangnya. “AH! tentu saja, jadi begini―” kalimat Abizard terhenti, ia menarik napas terlebih dahulu, “apa kalian sudah bertemu? Apa dia mencariku? Apa dia masih mengingatku? Apa anak itu benar anakku? Atau dia sudah menikah.” Abizard menyerbu sang adik dengan berondongan pertanyaan. Seolah ia memiliki satu juta kalimat yang akan diajukan. Tampaknya Abizard benar-benar sudah ingin sekali menemui wanitanya secara langsung. Rasa rindu yang menggebu terpancar dari sorot matanya. Sebagai seorang adik yang baik. Amir tampak memahami perasaan sang kakak. Terlebih kini buah hati keduanya benar-benar tumbuh menjadi anak yang cantik, sehat, dan pintar. Satu perkara tidak mudah bagi seorang wanita untuk bertahan dalam situasi yang menyulitkan seperti itu. Dan Amir pun tentu tahu benar. Bagaimana tersiksanya sang kakak selama ini, harus hidup bersama wanita yang tidak dicintainya. Hanya karena keinginan ibu mereka yang selalu menjunjung tinggi nilai kasta, kesetaraan derajat, serta asal-usul dari seseorang. Sebuah aturan yang sebenarnya tidak disukai oleh anak-anaknya yang menganggap semua orang memiliki hak yang sama. “Maafkan, aku, Kak. Sebenarnya selama ini dia sengaja menghindari, Kakak ... ini semua terjadi karena dia tidak ingin mengecewakan Mama. Dia tidak pernah berniat menjauh darimu,” ungkap Amir, “bahkan dia sangat mencintaimu. Tapi hari itu―” Kalimat Amir terhenti. Sepertinya ia teringat akan sesuatu yang akan menambah luka hati sang kakak tercinta. Amir menundukkan wajahnya, ia terlihat menyesal sudah terlanjur mengatakan kalimat yang memancing rasa penasaran Abizard. Dan benar saja, Abizard langsung terlihat semakin tertarik. “Apa maksud kamu, Mir! Mama? ada apa dengan, Beliau? Apa yang sudah Beliau lakukan?” runtutan kata kembali keluar dari mulut Abizard, “atau jangan-jangan Beliau yang meminta hubunganku dengan Alma berakhir?” Saat mengatakan kalimat tersebut bibir Abizard tampak bergetar. Sepertinya dia tidak menginginkan pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Abizard terlihat berusaha keras untuk menguatkan dirinya. Ia sampai terlihat mengepalkan tangannya. “Maafkan aku, Kak. Tapi, bukan aku yang menceritakan semuanya kepada Beliau. Aku hanya berusaha melindungi dia dari kejamnya mereka. Aku tidak tega melihat, Alma―” kembali, Amir tidak dapat menyelesaikan perkataannya. “AAAAGHHHHHHHHHKK!!!!” “Mengapa aku tidak tahu kejadian itu? bagaimana sampai aku tidak mengetahui wanitaku menderita? Aku di mana saat itu! katakan Amir!” “―” “Jawab AMIR!!!” “Ampun, Kak. Mereka melakukannya ketika, Kakak pulang untuk meminta izin menikah.” “Bukankah aku sudah memintamu untuk menjaganya?” “Maafkan aku, Kak. Mereka menyerbu kami, dan aku hanya bisa membawa Almahyra lari.” “B-e-r-e-n-g-s-e-k!” “B-a-n-g-s-a-t!” Kali ini, Abizard sudah tidak dapat menahan amarahnya. Dia menghamburkan semua benda yang ada di dekatnya. Dengan cepat dia menarik kerah baju Amir seraya mengeluarkan umpatannya. Matanya memancarkan aura kebencian yang bergelora. “Katakan padaku, siapa yang sudah menghancurkan hidup Almahyra!!” nada suara yang berat dan bergetar itu terdengar sangat mengerikan. Ditambah dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah. “Ka-a-aa-ak-kk ... A-an-ka,” jawab Amir dengan terbata-bata. Amir dengan terpaksa mengatakan yang sebenarnya kepada Abizard. Tampaknya dia sudah tidak dapat menyimpan rahasia mengerikan yang disembunyikan oleh keluarganya selama ini. Anka adalah saudara ipar dari keduanya, suami dari adik perempuan Abizard yang lainnya. Karena Abizard dan Amir enggan meneruskan usaha keluarga mereka. Maka Ankalah yang dipercaya memimpin semua usaha yang dijalankan keluarga Esser. Selama ini Anka selalu bersikap baik dan tidak pernah menunjukkan jati dirinya di hadapan Abizard. Selama ini, Abizard selaku anak tertua merasa dibohongi dengan kelakuan sang ipar. Setelah apa yang dilakukannya untuk pria itu, kini balasan yang harus diterimanya adalah kenyataan bahwa sang adik iparlah yang menjadi dalang dari hancurnya hidup ia dan sang kekasih. “Anka? Ha-ha-ha apa dia sudah gila! Beraninya dia merusak kehidupanku!” “Anka! Kurang ajar! Kurang apa aku padanya!” Abizard bagaikan tengah mendapatkan serangan bertubi-tubi dari berbagai arah. “Apa aku pernah berbuat salah padanya? Kurasa tidak, lalu mengapa aku diperlakukan demikian? Apa aku kurang, berbuat baik kepada kalian selaku adik-adikku, Ha!” “Tidak, Kak. Tidak ada yang salah darimu. Kamilah yang terlalu bodoh!” sahut Amir dengan wajah tertunduk menatap lantai. “Agggh!” Kemarahan Abizard kali ini tampak tidak main-main. Dia terlihat seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya. Sorot mata, serta kerutan keningnya menandakan bahwa ia tengah berperang dengan batinnya sendiri. Ia seakan tengah mengalami pergolakan yang akan mengubah segalanya. Abizard memang dikenal tidak mudah melepaskan orang-orang yang telah membuat ia menderita. Terlebih ketika itu, dibarengi dengan orang yang paling disayanginya pun mengalami hal serupa. Bagi, Abizard menghadiahi seorang yang telah melakukan kejahatan, dengan sebuah kejahatan pula itu merupakan sebuah kebaikan yang tersembunyi. Maka dari itu dia tampak mengatur segalanya dalam diamnya. Amir terlihat menyadari kesalahannya, hanya terdiam dengan segala rasa bersalah yang membuatnya tidak berdaya. Setelah beberapa saat berlalu dari ketegangan tersebut, Abizard berusaha meredakan gejolak amarah. Yang hampir saja membakar hatinya. Ketika ia telah mampu mengalahkannya, ia langsung terduduk lesu tanpa gairah. Seakan saat itu juga segala daya tubuhnya, menghilang begitu saja tanpa sebab yang jelas. Sepertinya hari ini menjadi hari terburuk baginya, orang yang selama ini ia percayai ternyata tega menghancurkan kehidupannya dari belakang. Abizard memegangi bagian perutnya, ia juga menempelkan kepalanya pada tembok. Dari wajahnya terlihat ia tengah mengatur nafasnya agar lebih tenang. “Kak, apa, Kakak baik-baik saja?” tanya Amir dengan lirih. “Bawa aku menemuinya sekarang juga, Amir. Setelah aku memastikan dia akan kembali padaku. Barulah aku akan mengatur segalanya,” sahut Abizard sambil meraih pundak sang adik yang berada di depannya. “Baik, Kak. Aku akan membawamu padanya dan aku akan memperbaiki segalanya,” jawab Amir kembali bersemangat, “ayo ikut aku sekarang, Kak. Aku yakin dia masih ada di sana atau, Kakak mau mendatangi rumahnya langsung?” “Aku ingin melihat dia. Wanitaku di mana pun aku dapat menemukannya.” “Baik, Kak.” Tanpa banyak bicara lagi. Keduanya langsung keluar dari hotel, dan bergegas menuju mobil yang memang sudah disediakan untuk mereka selama berada di sana. Di tengah perjalanan, Abizard yang duduk di sebelah, Amir yang tengah mengemudikan mobil. Menempelkan kepalanya pada kaca jendela―. Pandangannya sayu, menatap kosong ke luar. Ia tampak gelisah dan juga gugup. Mungkin karena ia akan kembali melihat wanita yang sangat ia cintai. Amir secara diam-diam memperhatikan sang kakak dari balik kemudi. Abizard tampak cemas, akan sebuah pertemuan yang telah lama ia nantikan. Beberapa kali, Amir juga tampak mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Lalu memainkan jarinya pada kemudi mobil. Dua pria tampan, kakak beradik yang tengah dilanda gelisah. “Amir. Apakah dia akan menerima kehadiranku?” tanya Abizard dengan nada penuh keraguan. “Aku berani menjamin, Kak. Dia akan langsung menangis ketika melihat kehadiran, Kakak di sana kelak,” jawab Amir terlihat meyakinkan. Sepertinya ia sengaja melakukan hal tersebut, agar Abizard tidak selalu dirundung rasa gelisah. Serta Kurangnya percaya diri dalam jiwa sang kakak. Keduanya memang memiliki kepribadian yang berbeda. Abizard dengan sifat kaku, dingin, dan cueknya, sedangkan Amir dengan segala kekonyolan, jahil dan juga percaya diri di atas rata-rata. “Tapi, bukannya dia sangat membenci aku?” tanya Abizard dengan nada pasrah. “Kakak tidak pernah melakukan kesalahan. Dan dia sangat tahu itu, akulah yang tengah melakukan banyak kecerobohan di sini, aku juga yang sudah memisahkan kalian berdua,” jawab Amir, “lantas apa yang bisa menyebabkan seorang wanita sebaik Alma bisa membencimu, Kakakku Yang Tampan.” Amir selalu berusaha menghibur sang kakak. Ia tak ingin kakaknya merasakan kesedihan, setelah selama ini telah menanggung beban selama ini. Abizard yang masih belum tertarik untuk bercanda, hanya menatap sang adik dengan ekspresi wajah yang datar. Amir cengengesan melihat tanggapan sang kakak. “Sudah sangat lama aku menantikan hari ini. Selama ini, setiap hari, setiap malam, bahkan, hampir setiap menit aku selalu merindukannya. Dan berharap waktu bisa kembali berputar,” ujar Abizard lirih. “Ya, aku tahu itu, Kak, sepertinya burung-burung yang ada di atas pohon kamarmu pun bahkan mengetahui hal itu, karena sejak kehilangan Alma. Kakak selalu murung, seakan tidak ada minat hidup lagi,” sahut Amir. “Aku selalu berhadap dialah yang berada di dekatku selama ini, bukan Ayda yang sudah nyata tidak kuinginkan,” sambung Abizard, “dan ternyata hari ini. Semua doa dan pintaku benar-benar menjadi nyata.” “Berarti, Tuhan menyayangimu. Atau mungkin, dia hanya kasihan padamu, Kak?" Abizard menoleh ke arah Amir dengan tersenyum tipis. Bahkan sangat tipis serta manik matanya memancarkan kesedihan yang sangat mendalam. Amir sangat mengetahui bahwa, Abizard tidak akan pernah merasa dendam terhadap perbuatan masa lalu yang dia lakukan. Hanya saja, tentunya sebagai seorang adik. Amir tidaklah akan sampai hati menyakiti sang kakak yang telah baik padanya. Selama ini, Abizard tidak pernah menuntut apa pun kepadanya. Namun apa yang didapatnya, dia kehilangan orang yang paling dia cintai karena ulah dan tingkah sang adik yang ceroboh. Tidak lama mereka sudah tiba pada dermaga tempat di mana tadinya, Almahyra meratapi sedihnya di tempat itu, entah kenapa kini ia sudah tiada di sana. Amir seakan teringat sebuah tempat, mereka langsung menuju kediaman Almahyra. Tidak lama mereka tiba pada sebuah rumah dengan model klasik dengan warna dominan putih dan hijau muda. Bangunan yang tampak sangat rapi nan cantik dari luar sana. Dengan banyaknya tanaman hijau, bunga berwarna-warni, dan juga pohon-pohon rindang yang menambah kesejukan. Dan di rumah itulah, Almahyra beserta anak dan ibunya tinggal bersama. “Dia tinggal di sini?” tanya Abizard dengan menunjuk rumah dengan cat berwarna putih itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD