Bab 8 Kamu ketahuan

1226 Words
Alika .... Mataku membulat sempurna. Didepan sana Mas Bagas suamiku dan Lika si madu busuk itu sedang menikmati makan siang berdua, so sweet sekali, perempuan busuk itu terlihat sedang merajuk dengan bimoli nya (bibir monyong lima inci). Sekilas pandang memang tidak ada yang salah karna mereka sepasang suami istri, meskipun hanya nikah siri, tapi salahnya mereka telah curang padaku. Kebahagian mereka atas lukaku. Jika saja Sandra tidak menghalangi, mungkin sekarang sudah kubejak-bejak tuh pelakor, tapi aku harus sabar, jika aku bertindak bar-bar, bukan hanya dia yang malu, aku juga pasti ikut merasakannya, karena ini aib rumah tangga kami. Mungkin juga akan mengurangi nilai plusku dimata Mas Bagas, si madu busuk pasti akan merasa senang. Meskipun, sebenarnya aku tak peduli tentang penilaian Mas Bagas terhadapku, tapi jika itu terjadi, sama saja memberi ruang besar pada Lika mencari muka. Aku tidak mau, akan kuberi mereka pelajaran dengan cara yang halus dan cantik. Agar mereka akan mengingatnya seumur hidup. Aku harus Menahan rasa sakit ini sebentar saja. Bak kata pepatah, mengalah tidak semestinya kalah, tapi mengalah untuk kemenangan. "Jangan meremehkanku. Diamku ini agar bisa memberi pelajaran lebih sakit lagi pada kalian," batinku dengan tangan terkepal. "Sepertinya mereka sudah selesai, Wi," ucap Sandra. Aku yang hampir saja terbawa emosi mengarahkan pandangan pada kedua pengkhianat itu. Rasa sakit ini mencengkram jiwa. Jika mau menuruti hawa nafsu, ingin rasanya berlari dan menjambak rambut wanita itu, tapi aku harus membujuk hatiku agar sabar sampai semua sudah kugenggam. Bersabar menahan sakit demi untuk sebuah kemenangan. Sandra membawaku menyingkir. Bersembunyi di balik tembok, sudah seperti kami yang bersalah. Padahal penjahat sesungguhnya sedang bergandengan tangan melenggang keluar dari cafe. "Kenapa kita sembunyi, Ra? Biar aja mereka lihat, aku ingin dengar apa yang akan mereka katakan," ucap dan tanyaku pada Sandra. Bukankah lebih bagus jika bertemu langsung. Aku pingin lihat bagaimana cara mereka memberiku alasan. "Biarkan mereka pergi, kita liat apa yang akan mereka lakukan setelah ini," jawab Sandra santai. Sahabatku ini sudah seperti detektif, tapi biarlah kuturuti saja apa maunya. Karena aku sendiri juga ingin tau apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Kami mengikuti kemana arah mobil Mas Bagas merayap. Beruntungnya, saat ini kami memakai mobil Sandra jadi Mas Bagas tidak tau jika dia sedang di ikuti olehku. Mereka memasuk area sebuah mall. Dari balik kaca mobil aku memperhatikan Mas Bagas memarkirkan mobilnya. Mataku membulat penuh amarah menyaksikan dua insan yang sedang bergandengan tangan. Berjalan masuk ke dalam mall dengan senyum mesra terpancar di bibir keduanya. Tak ada kecanggungan sama sekali, seolah mereka sudah terbiasa melakukan keromantisan seperti ini. Hatiku bagai di remas-remas menyaksikannya. Sakit bukan main. "Pengkhianat." Hati kecil ku berteriak. Air mata hampir saja merembes keluar, tapi secepatnya ku cegah dengan mendongakkan kepala ke atas. Air mataku terlalu mahal untuk laki-laki pengkhianat seperti Mas Bagas. Kukeluarkan ponselku dari dalam tas, kemudian memotret pemandangan yang ada di depan mata. Sebagai bukti, siapa tau suatu saat nanti aku membutuhkannya. "Ayo kita pulang, Ra," ucapku pada Sandra, setelah berhasil menangkap poto Mas Bagas dan Lika. Tidak ada gunanya juga mengikuti mereka, hanya akan membuat capek dan sakit hati bertambah. Toh ... tau atau tidak apa yang akan mereka lakukan tidak akan mengubah keadaan. Nyatanya sekarang aku sudah di madu, suamiku sudah mendua bersama pelakor itu. Aku hanya perlu bersabar sampai saatnya tiba. Sandra yang mengerti keadaanku, segera menjalankan mobilnya tanpa banyak bertanya. Sekilas sahabatku itu melirik iba padaku. Raut kasihan terlihat jelas di wajah cantiknya. "Sabar Wi." Hanya itu yang tercetus dari bibirnya. "Tenang aja, Ra. It's o.k wa'e, aku ra po-po," ucapku mencoba bercanda, mencoba mencairkan ketegangan. Meski sangat menyakitkan, tapi sekuat tenaga kutahan. Sandra hanya tersenyum kecil sambil matanya fokus melihat ke depan. "Lebih baik kita cari makan dulu, daripada memikirkan kedua manusia brengs*k itu, unfaedah," ucap Sandra dengan nada sinis. Aku hanya menganggukkan kepala tanda sepakat. "Kita singgah di rumah makan padang aja. Di bungkus aja, Ra. Kita makannya di rumah," saranku. "Ok," balas Sandar tanpa suara, hanya gerakan bibirnya saja yang terlihat, seraya tangan kirinya menyatukan jempol dan jari tunjuk menjadi lingkaran. Kami singgah di rumah makan padang yang tidak jauh dari rumahku. Setelah membungkus 3 porsi nasi berserta lauknya, aku dan Sandra berlalu setelah membayar makanan. "Ini untuk Bibik." Aku menyerahkan kantong plastik yang berisi satu bungkus nasi padang kepada Bibik. Wanita paruh baya itu menyambut uluran tanganku dengan senyum yang melebar. Meskipun, di sini Bibik adalah ibu palsu Alika, tapi aku tidak membencinya. Wanita paruh baya ini tidak bersalah, ia hanya di suruh Alika. "Terimakasih, Bu," ucapnya tersenyum, seraya berlalu ke dapur dengan menenteng plastik berisi seporsi nasi padang. Aku dan Sandra mengikuti langkah Bibik dari belakang. Bibik menyiapkan piring dan juga air putih untukku dan Sandra kemudian beranjak kebelakang, mungkin ia ingin menikmati nasi padangnya juga. Padahal makan di sini bersama aku dan Sandra juga sebenarnya tidak masalah, tapi biarlah toh makan disini atau di dapur sama saja. Kunikmati makananku dengan perasaan plong, mencoba berdamai dengan hati agar sakit berkurang. Meskipun sebenarnya sulit, karena aku masih mencintai suamiku, tapi apa boleh buat, dia telah membagi hatinya. Mungkin ini memang jalanku, aku harus bisa menerima suratan takdir yang telah dituliskan untukku. "Aku pulang ya, Wi. Takutnya kalau ketemu Bagas bisa khilaf aku nantinya," ucap Sandra beranjak dari duduknya. Sahabatku itu merapikan gamisnya sebentar. Selesai makan tadi kami memilih duduk di teras rumah. Menurunkan makanan yang baru saja masuk ke perut, agar bisa di cerna oleh bagian pencernaan dalam tubuh. "Iya, kamu hati-hati ya. Makasih untuk hari ini," balasku yang juga ikut berdiri lalu cipika–cipiki. Setelah kepergian Sandra, aku memilih tetap duduk di teras rumah. Niat hati ingin menunggu Lika sang pelakor pulang. Apakah pulang sendiri ataukah di antar oleh sang suami siri. Bagaimana nanti reaksi mereka jika melihatku duduk menunggu di sini. Kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya mobil Mas Bagas muncul di depan pagar. Lama juga mereka belanja. Lelaki yang masih duduk di kursi kemudi itu, sesaat tertegun melihat keberadaanku. Dari kejauhan mata kami bertemu, saat aku mengangkat kepala. Dari balik kaca mobil, aku bisa melihat Mas Bagas diam membisu. Aku memilih tetap bertahan di tempat dudukku. Dari kejauhan dapat kulihat di dalam mobil Mas Bagas dan Lika terlibat percakapan. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, sedang mencari alasan mungkin. "Kutunggu alasan apa yang akan kalian berikan," batinku. Pandanganku terus saja lurus ke depan. Ku kunci bola mata pada sosok Mas Bagas. Agar pria itu merasa terintimidasi. Pintu mobil terbuka perlahan, Mas Bagas keluar terlebih dahulu. Pria itu melangkah mendekatiku yang masih setia duduk di kursi. Rasanya malas sekali berdiri menyambut laki-laki pengkhianat itu. "Sayang, kamu ko di rumah?" ucap lelaki yang masih bergelar suami sahku itu. Terlihat sekali kegugupan di matanya, meskipun ia berusaha terlihat tenang. "Loh emang aku kemana, Mas? Kok kamu nanyanya gitu?" balasku penuh selidik. Aku memicingkan mata menanti jawaban darinya. Pasti Alika bilang, jika aku dan Sandra sedang jalan. Makanya mereka merasa aman. "Oh eng–nggak ko, Sayang," gagapnya. Matanya liar kesana–kemari menghindari mataku. Ketara sekali jika ia sedang ketakutan. "Loh ... kamu kok sama dia, Mas? Kalian habis jalan," tanyaku saat melihat Lika turun dari mobil dengan langkah pelan. Lelaki di depan ku ini gelagapan. Mukanya terlihat pias dengan gakunnya yang naik turun menelan cairan dari mulutnya. Dasar kada*, giliran berbuat aja berani. "Kena kamu Mas. Ayo ... alasan apa lagi yang ingin kamu sampaikan." Dalam hati bersorak riang menunggunya mencari alasan. Tuhan ... bisakah aku tertawa jahat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD