"Loh ... kamu ko sama dia, Mas? Kalian habis jalan?" tanyaku saat melihat Lika turun dari mobil dengan langkah pelan.
Lelaki di depanku ini gelagapan. Mukanya terlihat pias dengan gakunnya yang naik turun, susah payah menelan cairan dari mulutnya. Dasar kada*, giliran berbuat aja berani.
"Ng–nggak ko, Sayang. Tadi ketemu Lika di depan, lagi jalan kaki pulang. Katanya dia dari minimarket depan beli sesuatu. Mas ajak aja sekalian, 'kan kasian," ucap Mas Bagas panjang lebar memberi alasan, tapi terlihat sekali jika dia sedang berbohong. Matanya liar kesana-kemar, tidak berani menatapku.
Aku menautkan Alis mendengar ucapan Mas Bagas. Pintar sekali suamiku itu mencari alasan. Baiklah, anggap aku percaya.
"Ada ya, Mas, pembantu duduk di kursi depan sama majikannya. Hebat ya kamu Alika, bisa memecah rekor pembantu," ucapku pada Mas Bagas dan beralih menatap Lika dengan sorot mata tajam, tapi tatapanku sedikitpun tiada arti bagi madu busuk itu. Ia mengangkat sudut bibirnya tersenyum tipis seperti mengejek. Merasa menang kali? Berani sekali dia!
"I–itu, Sayang ... anu, ta–tadi tuh anu. Pintu belakangnya susah dibuka, makanya Lika duduk di depan. Iya 'kan Lika." Aku tersenyum tipis mendengar jawab Mas Bagas. Dia kira aku bodoh, percaya dengan ucapannya sedangkan aku sudah menyaksikkan sendiri tadi.
Kaki ini melangkah cepat mendekat ke arah mobil, dan ....
Kreeet!
"Sayang, tung–"
Pintu mobil terbuka, memotong ucapan Mas Bagas. Aku tau pria itu mencoba menghalangi-halangiku.
"Ini bisa kok terbuka," ucapku seraya membuka luas pintu mobil. Mas Bagas menggaruk kepalanya yang kuyakini tidak gatal. Lelaki itu terlihat salah tingkah
"Loh kok bisa, ya? Tadi susah kok, Sayang bukanya." Ia berjalan mendekat, sambil menggaruk kepalanya. Tingkahnya semakin terlihat bodoh dimataku.
Kulirik Lika yang masih berdiri di tempatnya. Pelakor itu menenteng paper bag ditangan. Dia memutar bola mata seolah memperlihatkan kejengahannya. Dengan langkah perlahan kuhampiri madu busuk suamiku itu.
Aku berdiri tepat di depannya, mataku melirik sekilas paper bag yang ada di tangan wanita itu, lalu dengan sekali tarik paper bag sudah berpindah ke tanganku. Alika mencoba mengambil kemabli barangnya yang sudah melekat di genggamanku, tapi itu tidak akan pernah terjadi. Barang ini hasil rampasan, jadi aku takkan membiarkan perempuan busuk ini memilikinya. Setidak, harus menjadi bekasku dahulu.
Wow ...." Pekikku, saat mengetahui isi paper bag. Hal itu membuat muka Lika merah padam. Ia melirik sinis padaku yang sedang mengeluarkan isi paper bag tersebut satu per satu. Sebuah lingerie dan beberapa baju kurang bahan, luar biasa. Dengan sedikit mengangkat ke atas lalu sengaja kujatuhkan ke lantai. Baru saja tangan Lika ingin memungut tapi segera semua baju itu kuinjak.
Ups! Maaf sengaja!
"Kamu keterlaluan, Dewi!" teriaknya murka. Wanita itu mengangkat tangannya ingin menamparku. Berani sekali pelakor ini, dia pikir aku akan membiarkannya menyentuh wajahku dengan tangan kotornya. Gerakannya terhenti oleh bentakanku
"Kamu mau ngapain? Mau nampar? Kamu nggak terima," ucapku menatapnya dengan tatapan menantang. Seketika madu busuk itu menurunkan tangannya. Wanita itu memalingkan wajah pada Mas Bagas, tapi yang di pandang terlihat cuek, lalu bola matanya bergulir pada baju yang masih kuinjak. Kasian sekali kamu Lika, makanya jangan coba-coba, kamu ingat melakor itu gampang. Kamu pikir ini zaman di mana istri sah akan menangis saat suaminya mendua. Bangun! ini zaman istri sah akan membalas pelakor dengan bermain cantik dan halus. Pelan tapi pasti.
"Itu balasan karena kamu sudah berani naik ke mobil suamiku, dan duduk di kursi depan. Kuperingatkan padamu, jangan lancang sebagai pembantu. Jangan pernah menggunakan apapun di dalam rumah ini tanpa seizinku, mengerti! Lagian baju kurang bahan begitu gak pantes di pakai, pantasnya jadi keset. Nanti aku ganti dengan baju yang lebih pantes," ucapku sinis dengan senyum mengejek.
"Lagian, kamu kok masih gadis, beli baju begituan. Apa kamu berpikir mau menggoda suamiku?"
Muka Alika merah padam bak kepiting rebus. Mungkin emosi atas perlakuanku padanya, tapi tidak bisa melawan karena terhalang status. Ditambah lagi sang suami siri yang ia harapkan tidak berdaya membelanya. Atau mungkin juga, malu, karena ucapanku benar semua. Entahlah!
Berbeda dengan Mas Bagas. Suami brengse*ku itu tersedak ludahnya sendiri, mendengar ucapanku. Dasar!
Sejujurnya aku bukanlah orang yang jahat. Apalagi sampai menghina seseorang seperti barusan, tapi kelakuan Lika tidak bisa di ambil diam. Wanita itu bisa kapan saja menikam dari belakang. Dia seperti virus, yang bisa saja meracuni, secara perlahan jika tidak segera di basmi.
Aku melangkah handak masuk ke dalam rumah, tapi langkahku terhenti. Aku melupakan sesuatu.
"Oh ya, cepat masuk bikinin saya jus mangga. Sama satu lagi, untuk makan malamnya saya mau kamu masak, bahan-bahannya sudah saya siapin di kulkas. Harus kamu yang masak jangan Ibu kamu, kasian dia sudah tua," ucapku. Lika hanya tertunduk, entah apa yang dirasakan maduku itu. Ada rasa tak tega, tapi segera kutepis. Dia aja mengambil suamiku tanpa sedekitipun rasa kasihan padaku. Lalu untuk apa aku kasihan padanya.
"Ayo, Mas masuk. Kok malah bengong di situ." Kupanggil Mas Bagas yang diam di tempat bak patung di toko busana dengan melambaikan tanganku. Laki-laki itu mendekat lalu mengikutiku masuk ke dalam rumah, meninggalkan Lika madu busuknya sendirian di teras.
"Sayang, apa kamu tadi gak keterlaluan pada Lika? Meskipun dia pembantu, tapi dia manusia loh, Sayang. Nggak pantas kamu kayak begitu." Mas Bagas berucap, mencoba menasehatiku. Sekilas terdengar sangat bijaksana pembelaannya pada Lika, si perempuan busuk. Andai saja aku tidak tau hubungan mereka, pasti aku akan mengiyakan ucapan suami kadalku itu.
"Kamu ngebelain Lika, Mas? Apa menurutmu, pantas seorang pembantu duduk di kursi depan sama majikannya? Orang yang tidak kenal pasti mengira kalian suami istri!" Mas Bagas seketika menghentikan langkah kakinya. Pria itu kemudian memutar badan menghadapku. Melihatnya berhenti, otomatis langkahku juga terhenti dengan sendiri. Kutatap laki-laki di depanku itu, tapi ia malah memalingkan wajahnya, tidak berani menatapi mataku. Ciri-ciri orang yang sedang berbohong, matanya liar kemana-mana.
"Apa'an sih kamu, Sayang. Ya nggaklah! Lagian, tadi aku hanya ketemu di jalan kok sama Alika, nggak jalan bareng." Mas Bagas seakan tidak terima ucapanku, tapi aku tau, itu hanyalah topeng saja.
"Loh ... aku 'kan nggak bilang kalian jalan bareng! Santai aja, Mas. Kamu kok gugup gitu sih? Seperti baru ketahuan selingkuh aja." Mata Mas Bagas membulat sempurna, mungkin merasa tertampar.
"Sudah, sudah ... makin lama kamu makin ngelantur aja ngomongnya." Mas Bagas melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar, aku mengikuti dari belakang. Sampai di kamar, suamiku itu langsung meraih handuk, dan masuk ke kamar mandi. Aku tersenyum tipis melihat tubuhnya yang hilang di balik pintu kamar mandi. Cara jitu menghindar, jika hampir ketahuan.
Dreeet!
Getaran Hp Mas Bagas mengalihkan fokusku. Aku melirik benda pipih suamiku yang diletakkannya di atas meja rias samping tas kerja sebelum masuk ke kamar mandi tadi. Cepat kumelangkah dan meraih benda tersebut.
[Mas, aku gak terima atas perlakuan Dewi. Harga diri ku di injak dan kamu hanya diam tanpa membela.] Aku tersenyum tipis membaca pesan dari madu busuk itu. Segera ku hapus pesannya menghilangkan jejak. Jangan sampai Mas Bagas tau pesan istri sirinya.
Harga diri konon ... orang yang mengambil milik orang lain secara licik, apakah masih punya harga diri?