[Mas, aku gak terima atas perlakuan Dewi. Harga diri ku di injak dan kamu hanya diam tanpa membela.] Aku tersenyum tipis membaca pesan dari madu busuk itu. Segera ku hapus pesannya menghilangkan jejak.
Harga diri konon ... orang yang mengambil milik orang lain secara licik itu, apakah masih punya harga diri.
"Tunggu saja, takkan kubiarkan kau mencapai tujuanmu. Wanita sepertimu yang sanggup menghancurkan hidup orang lain tidak akan kubiarkan menang. Akan kupastikan kau akan menyesal, bahkan jika perlu menangis darah!" batinku geram.
Aku tidak akan tinggal diam! Wanita itu sudah masuk ke rumah tanggaku, menjadi duri dalam hubungan yang sebelumnya baik-baik saja. Untung saja tidak ada anak dalam rumah tangga ini, jika ada, pastilah akan ikut menjadi korban kerana ulahnya!
Kukembalikan ponsel Mas Bagas ke tempatnya semula. Jangan sampai si empunya melihat aku sedang memeriksa ponselnya. Aku tak mau laki-laki kadal itu curiga. Belum waktunya mereka mengetahui, jika aku sudah tuu tentang hubungan mereka berdua, sebelum aku memberi balasan yang setimpal pada mereka. Untuk Mas Bagas jika sampai dia melakukan zina sebelum menikahi Alika, tidak akan kuberi ampun, aku tidak mau ikut menanggung dosanya. Lebih baik aku hidup menjanda daripada bersama seorang pezina.
Setelah ponsel Mas Bagas kembali ke tempatnya, kutarik nafas panjang untuk mengurangi sesak di dalam d**a. Sungguh Mas Bagas dan Alika telah menguras banyak emosiku. Dua pasang manusia busuk tak tau malu itu, telah menyakitiku sampai ke ubun-ubun. Mereka yang telah menanam dendam membara di hati ini, maka aku tak akan berhenti sampai mereka mendapatkan balasannya.
Dengan tangan terkepal kucoba berdamai dengan emosi. Aku harus menjaga kewarasan agar bisa berpikir jernih. Jangan sampai salah langkah, yang bisa merugikan diriku sendiri. Tenang ... tapi jangan di sangka air yang tenang tak ada buaya!
Mas Bagas keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai handuk yang melilit di bagian bawah pinggangnya. Laki-laki yang telah menikahiku dua tahun silam itu terlihat tampan dengan titik-titik bekas air mandi yang menetes di ujung rambut. Jika dulu, sebelum aku mengetahui pria bergelar suamiku itu telah mendua, memberiku madu busuk, saat-saat seperti ini adalah momen favoritku.
Mencium wangi sabun yang melekat di badannya dan menatap wajah tampan sehabis mandi adalah candu buatku, tapi tidak untuk sekarang. Setelah aku tau jika laki-laki ini telah membagi hati dan raganya, semua rasa itu menguap entah kemana. Mungkin saja, saat seperti ini juga menjadi momen favorit Alika. Membayangkannya hatiku sakit bagai di sayat-sayat. Selama ini, aku menjaga hati dan kesetiaanku untuknya, tapi apa balasan yang aku dapat? Pria itu memberiku madu! Madu busuk pula!
Aku berdiri hendak berlalu meninggalkan kamar. Malas rasanya melihat Mas Bagas berganti baju, lebih tepatnya muak dan jijik. Laki-laki yang tidak bisa menjaga mata dan s**********n, hingga tega mengkhianati cinta suci pernikahan tidak pantas mendapatkan perhatiaku. Selama ini kuperlakukan dia seperti seorang raja, tapi apa balasannya padaku.
"Mau kemana, Yang?" tanya Mas Bagas saat tanganku hampir menarik handle pintu. Mungkin pria itu merasa heran, karena dulu setiap dia habis mandi aku akan menungguinya sampai selesai berpakaian, tapi sekarang melihatnya saja, aku tak sudi.
"Keluar, Mas. Tadi aku minta jus sama Lika. Kayaknya minum yang seger-seger enak, bisa menurunkan emosi, yang diciptakan oleh suami dan pembantuku." Sengaja aku menyindirnya. Siapa tau dia tersindir, dan menyadari kesalahannya padaku.
"Apa'an sih kamu, Yang? Jangan aneh-aneh deh," balasnya, seraya menggapai pintu lemari, membukanya dan mencari baju. Saking terbawa emosi, aku sampai lupa menyiapkan baju ganti untuknya, tapi, baguslah ... anggap saja ini latihan. Karena sebentar lagi, ini sudah tidak menjadi tugasku, tapi Alika, si madu busuk itu.
Tanpa peduli omongan Mas Bagas, ku putar handle pintu, dan berlalu meninggalkannya sendirian di dalam kamar.
Ku seret kakiku pelan menapaki satu per satu keramik putih yang tersusun rapi di atas lantai. Tujuan utamaku adalah dapur, ingin memastikan apakah madu busuk itu mengikuti perintahku.
Sejauh mata memandang, di dapur Lika sedang menyiapkan bahan mentah yang akan dia olah menjadi santap malam yang kuperintahkan. Sesekali wanita mengoceh tidak jelas, seperti sedang membaca mantra. Ditambah gerakan tangannya yang seperti melempiaskan kesal. Marahkah dia? Bodo amat! Dialah yang menjadi pemicu semua kejadian ini, bukan aku.
Aku tidak bisa mendengar dengan jelas, apa yang keluar dari mulut perempuan busuk itu. Posisi kami terhalang jarak beberapa meter, intonasi suaranyapun sangat kecil.
Kubawa langkah mendekat padanya. Sepertinya ia tak menyadari kehadiranku, madu busuk itu bicara sendiri. Telingaku menangkap ucapannya dengan jelas, saat sudah berdiri di belakangnya.
"Tunggu saja ... aku akan membalas ini lebih sakit lagi, Dewi!" ucapnya penuh penekanan. Wanita itu meluapkan amarahnya pada wortel yang sedang di potongnya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Sontak dia membalikan badannya, kaget. Matanya menatapku sekilas lalu membalik lagi badannya ke posisi asal. "Apa yang akan kau lakukan, hah?" tanyaku mengulang ucapan dengan nada naik beberapa oktaf.
"Ga pa-pa. Nyonya salah dengar!" balasnya dengan menekan nada di kata Nyonya. Aku tertawa dalam hati. "Memang itulah posisi mu, pelakor."
Kuambil gelas yang sudah berisi jus mangga pesananku. Ternyata pelakor suamiku ini menurut juga. Duduk di meja makan sambil meminum jus bikinan maduku, mata ini lekat memperhatikan wanita yang sedang melakukan perintah memasak dariku itu. Ia terlihat salah tingkah dengan kehadiranku. Mungkin risih, atau merasa terawasi, tapi mata ini terus saja memandang ke arahnya. Biakan dia merasa terintimidasi, biar kena mental!
"Kamu itu niat kerja nggak, sih?" tanyaku dengan nada pelan. Seketika Lika menghentikan gerakannya.
"Iya Nyonya," jawabnya malas, lalu melanjutkan gerakan tangannya yang sempat terhenti.
"Tapi kalau saya liat, kamu sepertinya tidak ada niatan kerja. Semua kamu lakukan asal-alan. Apa ada niat lain kamu masuk ke rumahku?"
Ucapanku sontak membuat wanita bermata bulat itu membalikan badannya. Menatapku dengan sorot mata penuh dendam. Entah dendam apa yang ia pelihara terhadapku. Sebelumnya, kami tidak saling mengenal.
"Ma–maksud Nyonya apa? Saya memang mau kerja di sini," gagapnya, yang hanya ku tanggapi dengan senyum kecil.
"Tapi menurut kaca mata saya, sepertinya kamu punya maksud lain," tuturku lagi, membalas tatapannya dengan tak kalah menantang. Madu busuk itu mengepal tangannya tanpa suara.
"Maaf, jika merasa tidak nyaman dengan sikap saya, tapi saya di sini beneran mau kerja," ucapnya melunak. Sorot matanya terlihat sendu tidak seperti tadi. Mungkin takut ku usir, makanya ia menekan emosinya, tidak nyolot lagi seperti tadi. Pintar sekali wanita ini memainkan ekspresi.
"Saya tidak tau, apa niat kamu sebenarnya. Saya juga tidak punya masalah sama kamu. Sebelumnya saya tidak mengenal kamu, tapi jika kamu ada niat lain, tolong jangan di teruskan. Karena saya tidak akan tinggal diam," ucapku, seraya berdiri berlalu menuju ruang nonton dengan membawa gelas berisi jus, meninggalkan Alika. Sebelum melangkah aku sempat meliriknya sekilas. Wanita itu hanya menunduk dengan tangan terkepal, petanda jika ia sedang marah tapi berusaha ia tahan.
Aku tersenyum tipis melihat tingkah maduku itu. Pintar sekali dia mengatur emosi. Salut kuapresiasi dengan empat jempol, tapi terbalik. Dasar bunglon! sangat serasi dengan suami kadalnya.