Kunikmati jus dari madu busuk suamiku sambil santai menonton TV. Sebenarnya aku bukanlah orang yang suka menonton apalagi acara ikan terbang, seperti ini. Menurutku, sangat berlebih-lebihan sekali. Aku lebih suka membaca, karena bagiku membaca adalah jendela ilmu, tapi biarlah, kucoba nikmati sebentar acara TV sambil mengawasi Lika. Meskipun, mata ini lebih banyak melirik ke arah dapur daripada TV.
Entah kenapa, Alika selalu saja membuat aku was-was, semua gerak geriknya membuat aku menyimpan curiga. Setelah merebut Mas Bagas, aku tidak mau perempuan itu sok berbuat sesukanya di rumahku. Sekarang aja, dia bahkan sudah berani menantang secara terang-terangan.
"Yang!" sapa Mas Bagas, suamiku itu sudah berdiri di samping sofa di mana aku duduk.
"Hmmm." Malas sekali rasanya menanggapi laki-laki kadal ini. Menoleh meliriknya sebentar, netra ini menangkap basah pria itu sedang mengarahkan pandanganya ke arah dapur. Matanya liar ke sana kemari. Dasar kadal belang.
"Ngapain kamu, Mas?" tanyaku, yang membuat pengkhianat itu menoleh. Pria itu gelagapan karena tertangkap basah olehku.
"Hah? Apa, Yang?" jawabnya gugup. Saat mata kami bertabrakan, lekas ia membuang pandangan ke sembarang tempat.
"Kamu ngapain? Cari siapa? Kok gitu amat nengok ke dapur, Kamu lapar?" ucapku pura-pura, sembari mengambil remote di atas meja. Dengan lihai, jari-jari ini menekan tombol mengganti siaran di layar benda pipih di depanku.
"Cari siapa! Nggak kok ... ng–nggak cari siapa-siapa," balasnya tergagap, lalu melangkah duduk di sofa yang berhadapan denganku. Seiring langkah kakinya, pandangan pria itu sesekali menuju dapur, dan berganti padaku. Mas ... Mas, dasar brengse* kamu!
Lama aku dan Mas Bagas duduk menonton TV. Sesekali aku melirik ke arah Mas Bagas dengan ekor mata, dan selalu kudapati kepalanya menoleh ke arah dapur. Dasar laki-laki gil*, padahal aku berada tepat di depannya tapi matanya malah liar mencari keberadaan Alika.
"Dasar laki-laki buaya! Bisa-bisanya dia selingkuh sama pembantu sendiri!" Sontak Mas Bagas menoleh padaku. Dari ekor mata, aku dapat melihat pria itu melotot, seakan bola matanya ingin melompat keluar. Aku tertawa dalam hati.
"Ma–masudmu apa, Yang?" tanyanya tergagap. Aku suka sekali ekspresinya.
"Ini loh, Mas. Masak selingkuh sama pembantu sendiri. Apa sih yang di cari? Padahal istri sahnya lebih cantik dari pembantu, tetap aja pembantu di embat, Dasar kadal!" ucapku seraya menunjuk layar TV dengan remote yang ada di tangan.
"Ya ... nggak bisa nyalahin suaminya juga. Istrinya harus introspeksi diri, kenapa suaminya selingkuh." Aku tertawa mendengar ucapan Mas Bagas. Buaya ini ternyata membela temannya.
"Suaminya aja yang nggak bersyukur, Mas. Dasar laki-laki buaya! Mata keranjang! Selingkuh kok sama pembantu, rendah betul seleranya. Ibarat kata, buang sepatu dapat sendal," ucapku sinis. Mas Bagas menatapku dengan sorot yang sulit k****a. Marah 'kah dia? Tersinggung 'kah? bodo amat!
"Kamu kenapa, Mas? Kok tegang gitu?" ucapku lagi. Pria itu langsung membuang mukanya.
Adzan maghrib menggema di setiap sudut ruangan, panggilan kemenangan bagi setiap umat muslim yang percaya terhadap Tuhannya. Tanpa terasa, ternyata aku sudah membuang waktu duduk bersama Mas Bagas di sini. Gagas kuangkat tubuh berdiri, lebih baik aku sholat daripada terpancing emosi. Bisa khilaf aku. Habis ini suami brengse* nanti.
"Mau kemana?" tanyanya saat melihat tubuhku berdiri.
"Mau sholat, Mas. Minta pengampunan sama Tuhan, biar dosa nggak bertumpuk. Bisa-bisa masuk neraka bareng Abu Lahab," ucapku datar. Sengaja menyindirnya ... itu pun kalau laki-laki ini tersinggung.
Tapi Mas Bagas hanya ber oh ria. Dasar laki-laki otak m***m. Bisa-bisanya dia hanya santai mendengar panggilan adzan. Kutinggalkan Mas Bagas sendiri di ruang nonton. Sejak tau dia berkhianat rasanya malas sekali mengajaknya melakukan kebaikan. Biarlah, syurga dan neraka pilihan masing-masing.
Aku melenggang pergi meninggalkan laki-laki buaya itu. Entah apa yang mau dilakukannya, bodo amat! kalaupun ia mau meminta haknya pada Lika terserah sudah. Setidaknya mereka suami istri tidak berzina. Aku tidak mau ikut menanggung dosa. Lagian sejak pertama masuk ke rumah ini mereka belum melakukan hubungan, karena memang aku mengawasi semua langkah mereka.
Setelah selesai melakukan kewajiban, aku tidak langsung keluar kamar. Menikmati hidup sebentar dengan bersantai, kubaringkan tubuh rampingku di atas tempat tidur. Membuka ponsel, niat hati ingin membaca sambungan cerita yang sedang k****a, tapi sebelumnya jari lentikku mampir dulu ke aplikasi biru.
Bibirku tersenyum manis saat melihat postingan Sandra yang lewat di berandaku. Poto yang di posting Sandra adalah photo selfi dirinya dan suami, dilatar belakangi pemandangan pantai. Ini adalah photo lama, saat Sandra bulan madu ke Bali, tapi baru di posting beberapa jam yang lalu. Dengan caption Suami Dunia Akhirat.
Teringat dulu ketika awal mengenal Mas Bagas. Aku yang patah hati akibat di putuskan melalui pesan oleh orang sangat dicinta, merasa sangat hancur. Mas Bagas hadir dengan seribu pesona dan kesabaran mengobati lukaku, hingga aku menerima saat dia meminta ku menjadi istrinya. Namun, kenapa begitu mudahnya dia berkhianat? Tidakkah ia ingat perjuangannya dulu mengobati lukaku hingga akhirnya aku bisa menerimanya dan melupakan masa lalu. Entahlah!
Setelah puas menerawang ke masa lalu, aku melangkah pelan menuju pintu. Niat hati ingin keluar, entah apa yang sedang terjadi diluar. Apa yang pasangan siri itu sedang lakukan?
Keningku mengerut, saat mendapat ruang nonton dan dapur kosong. Kemana Mas Bagas? Lika juga seharusnya dia sedang memasak. Di meja makan juga belum terhidang apa-apa. Kuikuti ayunan langkah kaki, dari arah halaman belakang, sayup-sayup telinga ini menangkap seperti ada orang yang sedang ngobrol.
Pelan kuseret langkah kaki mendekat, dengan sedikit berjinjit, agar tak menimbulkan suara. Aku ingin tau, apa yang mereka bicarakan. Jangan sampai ada yang terlewatkan, aku tak mau mereka menipuku. Aku harus dengar rencana apa yang akan mereka buat.
"Mas, kenapa sih gak jujur aja sama Dewi! Aku ini juga istrimu, Mas! Dewi memperlakukan ku seperti pembantu, dzalim, tapi kamu hanya diam! Aku capek begini terus, Mas!Suara Lika tertangkap oleh pendengaranku. Wanita itu terdengar membentak suami sirinya
"Tunggulah sebentar, Sayang. Aku akan membujuk Dewi supaya mengerti dan mau menerimamu. Kasih Mas mu ini waktu," ucap Mas Bagas terdengar sangat lembut. Kupingku memanas mendengar ucapan pria bajinga* itu. Sampai kiamat pun aku tidak akan pernah menerima Alika. Madu busuk itu tidak akan pernah menjadi madu bagiku. Jika Mas Bagas menginginkannya, maka akulah yang akan mundur.
Kuedarkan pandangan mencari tempat aman untuk menguping. Aku harus tau semua yang mereka omongkan, agar bisa mematahkan semuanya.
Sakit sekali rasanya hati melihat suami yang sangat di cintai memanggil sayang pada wanita lain. Rasanya tak Sudi lagi sebutan itu ia sematkan padaku. Bersusah payah aku menjaga kesetiaan hanya untuknya, tapi malah dia yang berbuat curang.
"Kamu itu dari kemarin suruh aku sabar, Mas! Apa kamu nggak liat perlakuan Dewi ke aku, hah! Mana pernah kamu belain. Dosa kamu Mas, mendzolimi istri." Suara Alika terdengar pelan tapi penuh penekanan.
"Makanya Mas bilang, nggak usah tinggal disini. Kamunya aja yang ngeyel mau satu rumah sama Dewi. Ya sekarang sabarlah. Biarkan aku cari jalan keluarnya dulu."
"Ya iyalah, Mas! Masak Dewi aja yang kamu kasih enak, tinggal di rumah mewah ini. Aku 'kan juga istrimu, Mas! Mana semua Dewi yang kontrol keuangan. Aku kamu kasih apa, Mas!" Ucapan Alika terdengar lucu di telingaku. Jelaslah semua aku yang kendalikan. Orang aku istri sah, ingi sekali keluar, lalu ketawa salto di depan dua manusia tak berotak itu.
"Kan kamu sudah Mas bukain usaha? Sudah ada sumber penghasilan. Dewi hanya dapat dari gaji yang aku dapat itupun harus dibagi sama jatah ibu." Mataku membulat dengan kedua tangan menutup mulut. Hampir saja aku berteriak mendengar ucapan Mas Bagas. Ternyata aku ketinggalan.
Kenyataan yang barusan kukengar, bagai belati, mengiris hatiku. Aku bukan perempuan mata duitan, tidak sama sekali, tapi mendengar ini hatiku sakit, tidak ikhlas. Ternyata sudah sejauh ini mereka melangkah di belakangku.
"Astaghfirullah." Ku ucap istighfar untuk menenangkan gejolak di d**a.
"Mas, ternyata kamu sudah sejauh ini. Bodohnya aku yang terlambat tau."
Kutarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Aku harus tenang, tenang agar bisa berpikir dengan jernih.
Baiklah ...