Bab 12 Kena kamu, Mas!

1440 Words
Tak pernah terpikirkan suami yang sangat ku cinta dan selalu kubanggakan telah menipuku habis-habisan. Dia yang aku pikir adalah seorang pahlawan yang senantiasa menjaga dan melindungiku ternyata hanyalah seorang pecundang. Aku benci! Muak! Sakit rasanya telah dikhianati seperti ini. Setengah mati mencinta, tapi kecurangan juga akhirnya. Dengan teganya Mas Bagas mengkhianati janji suci yang telah dia ucapkan di depan penghulu dahulu. Jika ia izin menikah, mungkin tidak akan sesakit ini. Di khianati di saat lagi cinta-cintanya pada pasang itu rasanya seperti menggenggam bara api yang panasnya, menjulur ke seluruh anggota badan terlebih hati. Ku ayun langkah menuju teras belakang, keluar dari persembunyian. Ingin memergoki kedua suami istri siri itu. Aku ingin lihat apa yang akan mereka katakan untuk menutupi hubungan mereka. "Mas!" ucapku. Mata ini menatap sangar pada Mas Bagas. Pria itu sontak berdiri dari duduknya dan membalikkan badan menatapku. Sangat terlihat gugup di wajah pria itu. "Yang!" serunya, seraya menarik kaki mendekat padaku. Kutatap Mas Bagas lalu beralih menatap ke arah Alika. Tanpa senyum mata ini terus melotot seolah menyudutkan. "Apa yang kalian lakukan?" tanyaku sinis sambil menyilangkan tangan di depan d**a. "A–anu, Yang. Tadi Mas liat Lika sedang nangis. Makanya Mas samperin. Mau nanya kenapa dia nangis. Jangan sampai kita jadi majikan zalim loh, Yang," ucap Mas Bagas beralasan. Ingin ketawa mendengar ucapannya pintar sekali ia mencari alasan. Dasar pembohong! "Terus kamu pinjami bahu kamu untuk bersandar gitu, Mas? tanyaku meledeknya. Jujur alasan Mas Bagas sangat mengada-ngada. Kumelirik Alika, perempuan itu memutar bola matanya dengan ekspresi wajah malas. Dia meperlihatkan tidak sukanya mendengar ucapanku barusan. Aku menarik sebelah sudut bibir membalas ekspresi Alika. Sebenarnya aku sudah muak melihatnya di rumah ini. Ingin sekali mengusir madu busuk suamiku itu, tapi belum saatnya. Aku ingin tahu, usaha apa yang telah dibuatkan Mas Bagas untuknya. Pengkhianat sepertinya harus merasakan pembalasanku dahulu, sebelum kutendang keluar. Wanita itu harus merasakan sakit yang sama seperti yang telah ia tancapkan di hati ini. Perlahan tapi pasti perempuan busuk itu akan kubuat hancur seperti dia menghancurkanku. "Dan kamu! Ngapain kamu di sini? Harusnya kamu di dapur, masak makan malam. Bukan malah di sini. Sana pergi ke dapur, terusin tugasmu," tanya dan suruhku pada Alika. "Baik Nyonya," ucapnya penuh penekanan. Menatapku dengan tatapan sinis lalu menyeret kakinya masuk ke dapur. Meski dia adalah istri dari Mas Bagas, tapi dia masuk ke rumah ku sebagai pembantu. Jadi bukan salahku jika aku memperlakukannya layaknya pembantu. Sakit menjadi pembantu di rumah suami sendiri, tak sebanding dengan sakitnya di khianati. Ia masuk kedalam kehidupanku yang sama sekali tiada masalah dengan niat mencuri. Hubunganku dan Mas Bagas sedang baik-baik saja. Tiba-tiba ia masuk sebagai penggoda. Iya! Apalagi kalau bukan sebagai penggoda. Mana ada wanita baik-baik mau menjalin kasih dengan pria beristri kalau bukan w*************a. Meskipun hubungan tidak akan terjadi jika salah satu antara mereka ada yang menolak, tapi mana ada kucing yang tidak doyan ikan? Begitupun Mas Bagas, laki-laki kadal sepertinya ikan asin pun pasti di sikat. "Yang, kamu jangan salah faham. Aku betulan cuma nanyain dia tadi." Mas Bagas mencoba menjelaskan. Suami brengse*ku ini meraih dan menggenggam tanganku. Di tatapnya mataku dengan mimik wajah yang serius. Rasanya jijik sekali mendapat tatapan darinya. Barusan mata itu menatap Alika penuh cinta, lalu sekarang diberikan padaku. No thank you! Mas, Mas. Kamu pikir aku ini bodoh. Seenak jidat kau bohongin. Tunggu saja, sampai semua sudah dalam kendaliku, maka kau akan melihat sisi lain dari seorang Dewi Afifah! Selama ini kutunjukan baktiku padamu. Kau menyuruh berhenti dari pekerjaanku yang saat itu sedang naik-naiknya, ku lakukan demi rasa cinta dan hormatku, tapi ternyata kau sama sekali tidak pantas mendapatkan cinta suci dariku. Kutarik tangan yang sedang di genggam Mas Bagas. "Mas, Lika itu perempuan. Aku takut jika kamu terlalu over memberi perhatian dia akan salah sangka. Niatmu prihatin tapi malah bisa di anggap sebaliknya olen Lika." Ku coba mengingatkan walau sudah terlambat karena mereka sudah sah menikah, tapi setidaknya aku sudah mengingatkannya. Sebenarnya aku sangat membenci pengkhianatan, tapi untuk saat ini, aku belum tahu apa sebenarnya yang terjadi antara mereka. Jika nanti Mas Bagas terbukti tidak melakukan kesalahan, ia di jebak Lika misalnya dan berada dalam tekanan. Maka aku akan memaafkannya dan menerima kembali. Asalkan ia menceraikan Lika, mumpung mereka belum punya anak. Namun, jika sebaliknya, maka akan kubuat mereka berdua menyesal sampai ke tulang sum-sum. "Kamu jangan seudzon gitu Sayang. Lika itu perempuan baik ko. Mana mungkin menaruh hati sama Mas. Majikannya." Ingin tertawa rasanya mendengar ucapan Mas Bagas membela istri simpanannya. Bisa-bisanya ia mengatakan itu. Membela selingkuhannya di depanku, istri sahnya. Apa lagi mengatakan Alika perempuan baik. "Tidak sedikit rumah tangga hancur karena seorang pembantu. Bahkan ada suami yang memasukkan sendiri selingkuhannya ke dalam rumah tangga mereka. Dengan berkedok pembantu, Mas. Aku harus waspada sebelum itu semua menimpaku." Ucapanku membuat raut wajah Mas Bagas berubah total. Lelaki itu kelihatan gugup, sesekali terlihat menelan ludahnya. Mungkin kata-katakuku menjadi pukulan telak buatnya. Menusuk sampai ke ulu hati. Bagaimana tidak, semua yang aku ucapkan benar terjadi. Lika selingkuhan Mas Bagas yang ia masukkan ke dalam rumah tangga kami sebagai pembantu. Kena kamu Mas! "Udah ah, Yang. Kamu makin ngawur aja makin kesini." Dapatku lihat ada ketakutan di matanya. Cemen! Berani berbuat tidak berani mengakui. Kusungging senyum tipis. "Lihat aja Mas, sampai aku tahu kebenaran kalian. Maka jangan panggil aku Dewi jika tak membalas," bisik hati kecilku. Kubalik badan kemudian melangkahkan kaki masuk kedalam rumah meninggalkan Mas Bagas yang masih berdiri di tempatnya. Aku harus memberi tahu Sandra, siapa tahu dia ada solusi. Pokoknya aku harus buat sesuatu supaya semua harta dalam kuasaku setelah bercerai, tanpa harus ada gono gini. Bagaimanapun caranya semua harus menjadi milikku. Aku tidak sudi Lika menikmatinya dengan mudah. Jika ia menginginkan Mas Bagas, maka ambil sajalah, tapi harus mulai dari nol, seperti aku dan Mas Bagas dahulu. Tidak menikmati yang menjadi hakku. "Yang ... Sayang tunggu! Kamu ini kenapa, sih?" tanyanya sedikit berteriak, setelah sadar aku telah menjauh dari tempatnya berdiri. Lelaki itu mengikuti langkahku masuk ke dalam rumah. Saat melewati dapur, Lika sedang memperhatikanku dan Mas Bagas. Madu busuk itu menyungging senyum kecil, tapi saat mata ku menangkap basah matanya yang sedang memperhatikan, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke lain arah. Salah tingkah seperti maling yang kedapatan orang sekampung. Tanpa mempedulikan Lika, terus kuayunkan langkah. Ingin segera bertemu dengan HP dan mengabari Sandra. Aku harus cepat sebelum semua terlambat. Aku tidak tahu apa yang di rencanakan oleh Lika, tapi yang pasti ia mempunya rencana untukku. Aku harus bertindak lebih dulu sebelum perempuan busuk itu. Sampai di kamar, aku duduk di depan meja rias. Kulihat HP ku tergeletak di atas meja di depanku. Menggapai benda pipih itu, lalu menekan nomer Sandra. Entah sudah panggilan yang ke berapa, tapi tidak ada tanda-tanda Sandra akan mengangkat benda canggihnya. Kuhela nafas panjang. Mencoba mengatur nafas yang tersengal-sengal akibat berjalan laju dan menahan emosi. [Ra lagi apa? Kalau baca WA ku nanti telpon balik ya. Penting!] Kutulis pesan w******p pada Sandra. Hampir lima menit memandangi layar HP. Berharap ada balasan dari Sandra, tapi tetap centong 2 abu-abu, petanda pesanku belum dibaca olehnya. Aku berdiri dari duduk dan melangkah ke tempat tidur. Kuputuskan berbaring sejenak sambil membaca sambungan cerbung, sembari menunggu isya'. Mas Bagas entah kemana, kukira tadi ia mengikuti masuk ke dalam kamar. Taunya entah kemana lelaki itu. Amarahku sedikit terobati, saat membaca cerbung. Tokoh wanita dalam cerita yang k****a, akhirnya bisa membuat suaminya menyesal. Setelah sekian lama berkhianat dan abai terhadap istri dan anaknya. Penyesalan memang selalu berada di akhir, jika di awal itu namanya pendaftaran. Buat para lelaki di luar sana, apalagi seorang yang bergelar suami. Hargailah apa yang telah kau miliki karena saat ia telah pergi tidak akan pernah kembali. Selingkuh itu memang indah, tapi indahnya hanya sementara. Wanita selingkuhan tidak akan bertahan seperti seorang istri. Yang rela mendampingi di saat kau hancur dan terjatuh. Wanita selingkuhan tidak akan mau merasakan sakitmu, ia akan pergi mencari penggantimu di saat kau terpuruk dan jatuh. Ada duit abang sayang, tak ada duit abang di tendang. Begitulah kira-kira ciri w*************a. Sedang asyik membaca cerbung, perlahan kulihat pintu kamar terbuka. Dari balik pintu, muncul sosok Mas Bagas. Lelaki itu menyuguhkan ku senyum termanisnya. Ogah! "Yang, lagi apa?" tanyanya. Terdengar sekali basa-basi. Apa ia tidak lihat aku sedang memegang HP? Kulirik sekilas ke arahnya yang sudah berdiri di samping ranjang. "Yang pasti tidak lagi sibuk menebar pesona dengan sok-sokan care sama pembantu," ucapku, sambil menunjukkan layar HP padanya. Mas Bagas meneguk cairan di mulutnya. Jakunnya terlihat turun naik, mungkin omonganku tepat sasaran hingga ia merasa mati kutu. Kuabaikan saja aku lanjut membaca cerbung. Merasa diabaikan pria itu melangkah ke kamar mandi. Biarlah! Biar dia rasakan sedikit sakitnya jadi aku, yang mereka tipu habis-habisan tanpa ampun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD