Bab 13 Dasar pembohong!

1119 Words
Selagi Mas Bagas dikamar mandi, aku melanjutkan membaca cerbung sembari menunggu balasan dari Sandra. Kulirik jam yang tertera di layar benda pipih tersebut. "Tumben Sandra lambat membaca pesanku. Biasanya juga langsung dibalas. 'Kan dia nggak pernah jauh dari ponselnya." Aku membatin heran. Baru kali ini Sandra lambat membalas pesanku. Sedari tadi pesanku hanya centong dua abu-abu. Itu artinya Sandra belum memegang ponsel. Kemana dia? Padahal aku sudah nggak sabar ingin bercerita pada sahabatku itu. Hanya dia yang kupercaya, dan hanya dia juga yang bisa memberiku solusi. Kuhela nafas pendek menghalau resah. Pintu kamar mandi terbuka dengan pelan. Sosok Mas Bagas keluar, sejenak pria itu menatapku yang sedang asyik dengan ponsel. "Yang," panggilnya pelan, lalu duduk ditepi ranjang. Kugerakan kepala menoleh padanya. Menatapnya sebentar, kemudian kepala ini kembali lagi melihat layar HP. Kudengar lelaki itu menghela nafasnya kasar, mungkin merasa diabaikan. Dari ekor mata, dapt kulihat pria itu menatap lekat padaku yang asyik bermain ponsel. "Yang, kamu kenapa?" tanyanya dengan suara pelan dan lembut. Namun, sedikitpun tidak menarik perhatianku. Hatiku masih kesal, teringat obrolannya dan Alika tadi. Bisa-bisanya dia membukakan usaha Alika, sementara aku? Aku dia biarkan menjadi ibu rumah tangga, yang taunya hanya sekitar sumur, dapur, dan kasur. Sialan memang! Aku yang sedang membaca, menghentikan aktifitasku. Ku tolehkan kembali kepala padanya, lalu membalas tatapan Mas Bagas. Pria yang telah menduakan cintaku itu, salah tingkah mendapat tatapan balasan dariku. Wajah berubah gugup matanya naik–turun. Namun, dia mencoba mengendalikan rasanya. Dia menatapku lembut. Entahlah, apa arti tatapannya, sulit untuk ku menebak, apakah ada kebohongan atau kejujuran di dalam sana. Sejak aku tahu ia menipuku, sukar sekali untuk kembali percaya padan pria itu. "Aku? Emang kenapa aku, Mas? tanyaku seraya menunjuk diri sendiri. Aneh aja mendengar pertanyaan laki-laki yang sedang duduk di sebelahku ini. Harusnya pertanyaan itu ia tujukan pada dirinya sendiri. Ada apa dengannya, sehingga tega mengkhianati cinta suciku. Pria ini tidak sadar, kesalahan ada pada dirinya sendiri. "Kamu itu akhir-akhir ini jutek banget, Sayang. Selalu aja sensi. Kenapa? Aku ada salah?" Aku memutar bola mata mendengar ucapannya. Mestinya dia tidak perlu bertanya. Dasar kadal buntung. "Selalu sensi? Perasaan kamu aja kali, Mas. Lagian kalau memang aku berubah, coba tanya deh diri kamu apa penyebabnya," balasku santai, lalu menatap layar HP. "Aku? Emang aku salah apa?" tanyanya dengan kening mengerut. Pura-pura bodoh seolah bingung dengan ucapanku. Muak rasanya melihat wajah laki-laki pengkhianat ini, benar-benar tak tau diri. " Ya kali aja, Mas. Siapa tau kamu ada sesuatu yang disembunyikan dariku. Insting seorang istri itu kuat loh, Mas. Nggak tau kenapa, akhir-akhir ini, aku itu bawaannya baper terus sama kamu," ocehku lagi, tetap dengan nada santai Sedikitpun tidak mengalihkan pandangan dari benda canggihku. Kulirik dari ekor mata, Mas Bagas terlihat menelan cairan di dalam mulutnya. Mukanya berubah pias terlihat jelas kalau ia sedang ketakutan. Mungkin takut rahasianya ku ketahui. Mas ... Mas! Kugelengkan kepala pelan, ingin ketawa guling-guling rasanya. "Ma–mana ada, Yang! Emang apa yang mau aku sembunyiin dari kamu. Nggak baik loh curiga sama suami, tanpa dasar pula." Mas Bagas membantah ucapanku. Ingin rasanya berteriak dan mengatakan, aku sudah tahu kali, Mas! Silakan kamu ngeles sekarang, Mas. Sampai aku tau semuanya lihat saja nanti. Jangan kamu pikir aku ini bodoh, mentang-mentang aku sebatang kara, seenaknya saja kau menipuku. Apa kau lupa Mas, jika aku ini juga seorang sarjana. Aku bukan orang bodoh yang bisa kau buat sesuka hatimu. Jangan kamu pikir aku takut berpisah darimu, Mas. Meskipun besar di panti asuhan, tapi aku mandiri dan bisa menyelesaikan sekolahku tanpa bantuan orang lain. Jadi walaupun berpisah darimu, aku masih bisa hidup tanpa bergantung pada siapapun. Kalau memang nanti kamu terbukti berkhianat dengan Alika, apalagi sampai kalian melakukan zina. Aku tidak akan mengampunimu. Aku akan pergi, karena bagiku seseorang yang sanggup mengkhianati Tuhan, tidak akan bisa di percaya. Suatu saat ia akan berkhianat lagi dan lagi. Takkan ada kata maaf, tapi sebelum itu, aku akan membalas kalian berdua. "Semoga saja, Mas. Semoga kamu bisa menjaga hati dan imanmu. Karena semua kesalahan akan aku maafkan, tapi tidak dengan berselingkuh dan pengkhianatan." Kutatap sejenak wajah Mas Bagas yang berubah pucat. Pria itu mengusap wajah kasar. Aku bukanlah seorang yang alim dan sholeha. Aku juga seorang yang pernah berbuat dosa, tapi aku masih tau batasan dan iman dalam hati. "Kamu kenapa, Mas? Kok pucat begitu?" " Ng–nggak ada apa-apa kok, Yang," ucap Mas Bagas gugup. Dasar pembohong! Mas Bagas terdiam, pria itu menunduk memainkan jari-jarinya. Mungkin pikirannya yang dangkal sedang mencerna ucapanku barusan. Raut wajahnya seperti ketakutan. Makanya, jangan bermain api jika takut terbakar. Di dalam kamar berukuran 6X6 ini, aku dan Mas Bagas saling diam. Aku melanjutkan membaca cerbung favoritku di aplikasi merah jambu. Sementara Mas Bagas larut dalam rasanya sendiri, pria itu membaringkan badannya lalu menopang kedua tangan di atas jidatnya. Entahlah, apa yang ada di pikiran laki-laki itu saat ini. Sesekali ia menatapku dengan tatapan sendu, tapi bodo amat! Apa kabar hatiku yang telah mereka iris tipis-tipis, lalu di siram air garam pula. Adzan isya' menggema, aku menghentikan aktifitas membacaku. Mas Bagas sedang berbaring terlentang, matanya menatap langit-langit kamar. "Yang!" ucapnya spontan. Saat menyadari aku yang hendak beranjak dari dudukku. "Hmmm," balasku, tatap melanjutkan langkah. Aku masuk ke kamar mandi ingin mengambil wudhu. Bagiku sholat tepat waktu adalah harga mati. Aku akan mengusahakan selalu on time saat panggilan sudah menggema. Kecuali ada alasan syar'i yang mengharuskan aku harus menunda sholatku. "Nggak sholat kamu, Mas?" tanyaku basa-basi, tapi sampai aku menggelar sejadah Mas Bagas tak juga beranjak dari tempatnya berbaring. Bahkan posisinya pun tidak berubah, masih seperti tadi. "Hmmm." Hanya itu yang keluar dari mulut suami kadalku itu. Terserahlah, hidup, hidupnya sendiri. Paling tidak sudah kuingatkan. Jadi saat nanti di tanya Tuhan, aku ada jawabannya. Tanpa mempedulikan Mas Bagas yang masih setia berbaring. Segera kujalankan kewajiban pada sang pencipta. "Assalamu'alaikum Warahmatullah ... Assalamu'alaikum Warahmatullah." Ku akhir ibadah empat rokaatku dengan salam. Kepala mengeleng sendiri saat melihat Mas Bagas masih tetap berbaring. Entah setan apa yang menempel di badan suamiku itu, hingga ia abai dengan sholatnya. "Sholat, Mas ... sholat!" tegurku lagi. Dalam hati berbisik, setelah ini mau sholat atau tidak terserah. Aku sudah tak peduli lagi. Mas Bagas mengangkat badan, bangun dari baringnya. Pria itu terlihat menyeret langkah malas masuk ke kamar mandi. Aku menatap datar, entahlah ... terkadang hati bertanya, kenapa semua ini terjadi padaku. Pernikahanku dahulu sangat bahagia, tidak pernah ada masalah besar. Mas Bagas adalah sosok suami yang baik dan sempurna di mataku, tapi sekelip mata berubah menjadi pengkhianat pernikahan. Kutinggalkan Mas Bagas yang sedang di kamar mandi. Melangkah keluar kamar dan menuju dapur. Aku ingin melihat madu busukku itu. Apakah sudah selesai dengan tugasnya. Jangan sampai aku kecolongan lagi. Menghadapi Alika, si madu busuk itu harus jeli, sekali saja lalai maka ia akan menerkam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD