Bab 14 Keracunan atau di racun?

1513 Words
Setelah sampai di depan meja makan, kulihat di atas meja sudah tersedia bermacam-macam menu yang tertata rapi. Air minum pun sudah terisi dalam gelas di samping piring. Alika sedang sibuk membersihkan dapur bekas tempat ia masak. Perempuan busuk itu tidak menyadari kehadiranku. Ia berkerja dalam diam. Kutarik kursi di depan meja, lalu mendudukkan tubuh diatasnya. Alika yang mendengar suara yang di ciptakan oleh kursi yang barusan kutarik, seketika membalikkan tubuhnya. Wanita itu menatap seolah tidak suka akan kehadiranku di sini. Ia memainkan bibirnya dengan bola mata dinaikkan ke atas. Dia pikir, aku tidak tahu perbuatannya karena aku fokus melihat ke meja makan. Jangan salah Marimar, perbuatanmu akan selalu kupantau. Semua gerak-gerikmu bisa kuketahui. Perempuan busuk itu memejamkan matanya seperti sedang meredam amarah. Matanya kemudian beralih menatap pintu kamarku. Mungkin mencari suaminya, berharap laki-laki itu yang muncul di sini bukan aku. Kasian sekali! Silakan bermimpi perempuan busuk! Ku pastikan mimpimu akan selalu berada di alam tidur, takkan bisa ke alam nyata. Kunikmati makan malam dengan santai. Sengaja aku makan duluan tanpa menunggu Mas Bagas. Aku ingin wanita ini tahu, jika Mas Bagas tidaklah terlalu penting bagiku. Lika berlalu dari dapur menuju teras belakang, ia berjalan sambil menghentakkan kakinya. Kuangkat kepala demi melihat kelakuan madu busukku itu. Dasar pelakor minim akhlak. Kulanjutkan mengunyah makanan di dalam mulut. "Yang," sapa Mas Bagas saat sudah sampai di meja makan. "Hmm," balasku malas. Suamiku itu kemudian menarik kursi lalu menghempaskan panta* nya dengan kasar. Sepertinya ia merasa perubahanku. Selama ini, aku selalu menunggu dan melayaninya di meja makan, tapi kali ini semua itu tidak akan terjadi. "Makan, Mas," ucapku santai. Sengaja aku tidak melihat kerahnya, tapi tetap melirik lewat ekor mata. Mas Bagas menghentakkan nafasnya kasar. Seperti ingin protes, tapi ditahan olehnya. Perlahan tangan lelaki itu membalikkan piring dan mengisinya dengan nasi dan aneka lauk yang dimasak oleh istri keduanya. Selama dua tahun perkawinan, aku selalu melayani semua kebutuhannya dengan baik, tapi semua itu tiada artinya. Lelaki itu tetap berselingkuh, dan menghadirkan madu diantara kami. Madu busuk pula. Aku bukan mengingkari poligami, karena itu adalah syariat islam, dan Rasulullah melakukannya dengan niat ibadah. Namun, poligami yang dilakukan Mas Bagas, semua karena nafsu belaka. Bahkan mungkin mereka telah berzina sebelum hubungan mereka halal. Mas Bagas menyuap makanan di piringnya. Kami makan dalam diam, tak ada di antara kami yang berniat memulai pembicaraan. Mas Bagas terlihat lahap menyuap makanan ke mulut, menikmati lezatnya masakan istri sirinya. Perih sekali yang kurasakan. Andai aku tak tahu jika Lika adalah istri Mas Bagas, mungkin aku tidak akan merasakan ini, karena tidak mungkin aku cemburu pada seorang pembantu, tapi setalah mengetahui kebenaran mereka, semua yang menyangkut Mas Bagas dan Alika selalu memancing emosiku. Seperti sekarang ini, hanya melihat Mas Bagas menyantap nikmat masakan Lika, membuat hatiku sakit. Sakit yang tak berdarah. Kuteguk air putih dalam gelas yang sudah disediakan Alika, mengakhiri aktifitas makanku. Menyandarkan belakang ke sandaran kursi ingin menunggui Mas Bagas menyelesaikan makannya. Walau bagaimanapun, dia masih suamiku, terlalu tak beretika jika aku meninggalkannya sendiri di meja makan. Lagipula, itu sama saja memberi kesempatan bagi Alika untuk menemani Mas Bagas. Wanita itu akan merasa senang bisa duduk di sini menemani dan melayani suaminya. Takkan kukasih kesempatan itu pada mereka berdua. Kepala terasa muter-muter, mual rasanya seperti ingin muntah. Ya, Allah ada apa denganku? Sedikit demi sedikit pandangan mengabur, Mas Bagas berubah menjadi dua. Disaat pandanganku kian melemah, mata ku masih bisa menangkap sosok Lika yang sedang mengintip di balik pintu dapur. Perempuan itu seperti sedang tersenyum. Tuhan ... apa kah aku salah lihat? Mengapa aku merasa senyuman Lika seperti senyum licik. Atau jangan-jangan .... Lama kupijit kepalaku untuk mengurangi rasa pusing. Mas Bagas masih saja asyik menyantap makanannya dengan begitu nikmat. Suamiku itu belum menyadari keadaanku. Kucoba terus membuka mata, agar tidak kehilangan kesadaran, tapi gagal. Akhirnya, aku tumbang juga, kepala ku terhempas ke atas meja. "Sayang, kamu kenapa?" masih bisa kudengar kepanikan Mas Bagas sebelum kesadaran benar-benar hilang. ****** Saat mataku terbuka, aku merasa asing dengan tempatku berbaring. Ini bukan ranjangku. Otak berfikir, mengingat apa yang telah terjadi. Kenapa aku bisa berada disini. Memindai seisi ruang mencari Mas Bagas, tapi lelaki itu tak juga ku temui wujudnya. Kemana Dia? Ingatanku berhenti pada satu titik. Terakhir di meja makan, setelah selesai makan malam kepala ku terasa pusing hingga akhirnya aku pingsan tak sadarkan diri, dan bangun-bangun sudah di sini. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa pingsan. Ingin sekali menghubungi Sandra. Mengabari apa yang terjadi, tapi aku tak melihat ponselku, mungkin ketinggalan di rumah. "Sandra ... disaat begini, aku sangat membutuhkanmu." Dalam hatiku bergumam. Ditengah pikiranku yang asyik sendiri. Pintu ruangan perlahan terbuka. Muncul sosok seorang gadis muda dengan pakaian serba putih dengan jilbab instan yang ujung bawah jilbabnya di masukkan kedalam baju seragamnya. Gadis itu tersenyum ramah ke arah ku. Lesung pipi di kedua belah pipinya, semakin menambah manis senyuman gadis yang sedang berjalan pelan menghampiri ranjang. "Selamat pagi, Bu," ucapnya ramah. "Selamat pagi, Mba," balasku tak kalah ramah. Meski badan tetap berbaring karena tak ada tenaga. "Saya periksa dulu ya, Bu," ucap perawat itu lagi sembari tangannya memegang selang infus. Kubalas dengan anggukan dan senyuman. "Saya kenapa ya, Mbak," tanyaku penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi denganku, kenapa aku bisa berada di sini. "Semalam Ibu keracunan. Untung suami Ibu cepat membawa ke rumah sakit," ucapnya menjelaskan. "Keracunan, Mbak?" tanyaku mengulang ucapan Mbak perawat. Sungguh kaget, bagaimana aku bisa keracunan? Semalam aku tak makan apa-apa, selain makan malam yang di masak oleh Lika. Apa jangan-jangan Alika yang meracuniku? Ya Tuhan ... tega sekali dia, jika memang itu benar. Jika benar ini kerjaan Lika, maka takkan ku ampuni dia. Beraninya dia meracuniku, dasar tak tau diri. Ia masuk sebagai madu yang menghancurkan pernikahanku, sekarang dengan lancang ia mau membunuhku. Dasar perempuan sialan! "Suami saya mana, Mbak?" tanyaku pada Mbak perawat. "Suami Ibu, semalam langsung pulang. Katanya mau ambil perlengkapan. Saya permisi ya, Bu. Semoga cepat sembuh," jawabnya sambil berlalu. "Mbak ...." panggilku sebelum perawat itu menggapai gagang pintu. "Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" sahutnya seraya membalikkan badan. "Mm, sa–saya bisa pinjam HP nggak, Mbak?" tanyaku antara ragu dan malu. Perawat cantik itu tersenyum, lalu melangkah kembali mendekat padaku. "Iya, boleh, Bu." Tangannya merogoh kantong baju mengambil benda pipinya, lalu menyerahkan padaku. Aku langsung memencet nomer Sandra setelah mengucapkan terima kasih. Sudah dua kali panggilan, tapi Sandra belum juga mengangkat panggilanku. Mungkin karena nomer baru, makanya Sandra tidak langsung mengangkat panggilan. "Ayo, angkat, Ra," gumamku dalam hati. "Halo, Assalamu'alaikum," ucap suara di seberang telpon. "Wa'alaikumsalam." "Iya, cari siapa?" tanya Sandra. Sahabatku itu mungkin tidak mengenali suaraku saat ini. Karena memang suaraku sedikit berubah, mungkin akibat semalaman tidur hingga sedikit serak. "Ra, ini aku, Dewi ...." "Astaga! Dewi ... kamu kemana aja? Aku telpon kok nggak di angkat-angkat, sih? Kamu pakai nomer siapa?" Sandra mengeluarkan pertanyaan beruntunnya. Sepertinya sahabatku itu khawatir, mungkin dari semalam menelpon, tapi tak kunjung di angkat. Mana berani Mas Bagas angkat telpon dari Sandra. "Aku di rumah sakit. Ini pinjam HP suster. Ka–" "Hah! Di rumah sakit! Ngapain, Wi?" Ucap Sandra memotong ucapanku. Sandra memang seperti itu. Panikan orangnya, kadang malah terlalu over. "Nanti aku cerita, Ra. Kamu bisa ke rumah sakit?" tanyaku pelan. Sekarang aku hanya ingin bertemu Sandra dan memberitahu segalanya. Aku harus segera mendapatkan tanda tangan Mas Bagas, agar bisa mengusir mereka berdua dari rumahku tanpa masalah. Perbuatan Alika kali ini sangat keterlaluan, dia bisa saja membunuhku. "Ok, ok. Aku kesana sekarang. Kamu di rumah sakit mana." Sandra langsung memutuskan sambungan telpon, setelah aku memberitahu nama rumah sakit tempatku di rawat. "Makasih ya, Mbak," ucapku pada Mbak perawat, seraya mengulurkan ponselnya kembali. "Sama-sama, Bu. Kalau gitu saya permisi ya, Bu," ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkan senyum manis. Ku anggukkan kepala dan membalas senyuman suster cantik nan baik hati itu. Kusandarkan belakang ke sandaran ranjang. Mencoba mengingat kembali kejadian sebelum aku tak sadarkan diri. Hati ini begitu yakin, jika semua ini ulah Alika. Aku yakin perempuan busuk itu yang telah menaruh racun di makananku. Dasar monster tak tau diri. Kupandangi meja kecil yang terletak di samping ranjang pasein. Tidak ada apa-apa di sana. Itu artinya Mas Bagas belum kembali dari semalam. Pasti dia sedang di rumah bersama istri sirinya, meneguk madu busuk. Tega kamu, Mas. Aku sedang di rumah sakit kerana ulah madu busukmu, kamu malah enak-enakan di rumah bersama dengannya. Lama diri ini merenung. Mau dibawa kemana rumah tangga ini. Jika ditanya hatiku. Hati ini sudah tidak punya gairah untuk melanjutkan pernikahan. Pengkhianatan Mas Bagas sungguh telah mengikis habis rasa cintaku. Pria yang dulu sangat ku banggakan itu, kini hanya menyisakan rasa benci di hati ini. Maafku tak ada lagi untuknya. "Pintu kamar tempat ku dirawat terbuka dengan pelan. Dibalik pintu muncul sosok Sandra. Sahabatku itu datang dengan menenteng plastik bening ditangannya. "Assalamualaikum," ucapnya dengan senyum manis dibibir. "Wa'alaikumsalam, Ra," jawabku lalu membalas senyum. "Kenapa bisa masuk rumah sakit sih, Wi?" tanya Sandra, dengan meletakkan bawaannya ke atas meja. Kuhela nafas, sebelum menjawab pertanyaan Sandra. Sahabatku itu menduduk panta*di kursi, matanya menatapku penuh tanya "Entahlah, Ra,. Kata suster aku keracunan," ucapku dengan wajah kecewa. "Keracunan? Kok bisa?" Sandra memekik heran. "Keracunan atau diracun."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD