Malam ini, malam pertama saat Ratih tinggal sementara di rumahku. Roro yang merasa kehilangan Yayi. Sekarang justru menyambut Ratih dengan pelukannya, seperti menemukan adik baru kata dia. Sedangkan aku? Ah aku seperti biasa, lebih asik di kamar sendiri sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda kemarin.
Kamarku bergaya klasik Jawa. Jendela-jendela, lantai, ranjang sampai dengan lemari. Memiliki design yang kuno. Seperti kebanyakan bangunan tempo doloe. Kami tak pernah menggunakan ac. Sirkulasi udara terjaga dengan baik di sini.
Aku sengaja tidak pernah menutup jendela sebelum aku tidur. Alasannya satu, angin malam selalu membuatku merasa nyaman untuk bekerja lembur. Ditemani secangkir teh hangat dan beberapa camilan.
"Mas Gilang lagi apa?"
"Astagfirullah," aku secara refleks memegang dadaku.
"Eh kenapa?"
Aku hampir mati melihat wajah Ratih yang tiba-tiba saja muncul dari balik jendela kamar. Kalau tidak ingat dia hanya seorang anak kecil. Aku pasti sudah melemparinya dengan sandal jepit yang kupakai sekarang.
"Kamu tuh, ada pintu kenapa mesti lewat jendela?" protesku.
Ratih menunjukan sesuatu di tangannya. Jambu, itu jambu air yang tinggal setengah dan aku bisa melihat Ratih sedang mengunyah bagian lainnya.
"Mas Gilang mau?"
"Duh Ratih, emang gak ada waktu lain lagi makan jambu air di tengah malam kaya gini?"
Dia hanya nyengir kuda sambil mengunyah jambu air dalam mulutnya,"Hehehe, mau gak?"
"Lempar sini."
Ratih melempar satu jambu air ke arahku. Lalu ia duduk di jendela, memainkan jambu-jambu air yang kuketahui dapat dari kebun belakang rumah. Di sana ada pohon jambu besar, dulu waktu kecil. Aku sering mengambil jambu itu dengan sebilah bambu dan Yayi akan menertawaiku karena lelaki tidak bisa panjat pohon jambu katanya.
Bukan tidak bisa, tapi aku geli. Geli melihat ulat bulu yang hidup di sana dan anehnya. Ratih kenapa bisa mengambil jambu tanpa merasakan gatal-gatal?
"Kenapa ngeliatin aku terus Mas?"
"Kamu kok enggak gatal-gatal setelah ambil buah jambu ini? Kan banyak ulet bulunya."
"Hehehe aku pake mukenah pas manjat pohonnya Mas."
"Mukenah?"
"Iya."
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Ada saja akal anak ini. Tapi boleh juga dicoba lain waktu jika aku memetik jambu di pohon itu.
"Untung enggak ada yang nganggep kamu kuntilanak."
"Hahaha."
Ratih hanya tertawa mendengarkan ocehanku. Aku melirik jam dinding yang jarumnya menunjukkan angka duabelas lewat tiga puluh.
"Kenapa kamu belum tidur?"
"Karena belum ngantuk."
"Luar biasa jawabanmu," aku kesal dengan jawaban yang ia berikan.
"Ya aku mesti jawab apa dong?"
"Ya yaudah, lupain aja."
Ratih yang melihatku kesal, hanya cekikikan. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku sambil mengunyah jambu air yang diberikan Ratih. Sedangkan anak itu justru sibuk melihat padang bulan malam ini.
Sinar bulan selalu lebih terang dari biasanya saat berbentuk bulat sempurna seperti malam ini. Angin juga biasanya tidak berhembus kencang. Aku bisa melihat Ratih sedang menikmati suasana malam dengan caranya yang tak biasa.
"Bisa juga dia diam," batinku.
"Mas, Mbak Yayi kenapa pergi dari keraton?"
"Dia lagi kuliah, Tih."
"Aku juga kalau kuliah nanti mau keluar negeri ah."
"Hmm."
"Pasti nanti mbak Yayi pulang-pulang bawa bule yo? Terus nanti nikah, punya anak jadi koyo londo ngono ta Mas?"
"Kamu pelajaran sejarah aja masih dapet tiga puluh. Sok sok an ngomonin londo."
Ratih mengerutkan bibirnya, sebal,"Sejarah itu ngapain diinget-inget. Yang udah lewat biarin lewat. Ketahuan Mas Gilang gak nikah-nikah gara-gara gak bisa moveon mesti."
Aku menatap Ratih dengan pandangan datar. Bagaimana bocah ini bisa membuat kesimpulan gila seperti itu. Apa aku memang terlihat semenyedihkan itu?
"Punya mantan aja gak."
"Opo mas?"
"Aku ndak pernah pacaran."
"Hahahaha serius?"
"Hmm."
Rati tertawa seperti mendengar sebuah lelucon,"Hahahaha masa kalah sama.."
"Karo sopo?"
"Sama siapa?"
"Sama si Mbok Juminten, dia aja udah nikah tiga kali mas. Masa kamu yang masih muda pacar aja gak punya."
Gila saja aku disamakan oleh Mbok Juminten yang terkenal dengan track record nya memiliki banyak mantan suami.
"Seleraku tuh tinggi Tih, lagian ngapain aku bahas kaya gini sama anak SMP?"
Ratih membentuk kotak dari jari-jari dan mengarahkannya kepadaku. Sebelah matanya ia pejamkan, seolah sedang memotret ke arahku.
"Kalau lihat mukamu Mas, memang kurang laku di pasaran," ejeknya.
"Ha? Jadi ini ceritanya aku lagi diledekin sama anak bau kencur kaya kamu? Yang rambutnya aja masih bau matahari?"
"Kalau mukanya kaya Mas Reza. Naaaah itu pasti langsung sold out."
"Kenapa jadi bandingin aku sama Reza?"
Ratih mengangkat kedua pundaknya,"Aku cuma ingetnya Mas Reza."
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Anak jaman sekarang terlalu liar. Bahkan dijamanku dulu, untuk melirik lawan jenis saja malu-malu. Kalau anak perempuannya cantik, pasti bapaknya galak, berkumis tebal.
Aku yang memang memiliki tampang seadanya ini. Tidak pernah muluk-muluk berusaha mendekati perempuan. Bahkan teman perempuanku saja bisa dihitung dengan jari.
Bukan karena tidak laku, tapi memang tidak ingin memiliki pacar adalah moto hidupku. Bukan juga berharap dijodohkan. Dalam hal ini aku sependapat dengan Yayi. Cinta tak pernah bisa dipaksa.
"Aku juga ndak mau nikah dari perjodohan. Nanti kaya Bapak sama Ibu."
"Kok ngomongnya gitu?"
Alur topik obrolan kami berpindah cepat. Menjadi curhatan colongan Ratih.
"Ya emang gitukan Mas," Ratih menghela nafas.
"Kamu tuh tugasnya belajar, ngapain mikirin jodoh. Nanti kalau sudah saatnya. Jodoh juga datang sendiri, Tih."
Sebagai Kakak yang baik. Tentu aku berusaha memberinya nasehat. Agar ia tahu apa yang sebaiknya ia lakukan dan apa yang sebaiknya tidak perlu dia pikirkan.
"Ini ceritanya aku lagi dinasehatin sama bujang lapuk kaya Mas Gilang?"
"Biarin saja yang penting aku bahagia."
Kita harus memiliki tingkat percaya diri di atas rata-rata. Sebab hanya itu penyelamat harga diri kita saat terpojok oleh situasi yang mirip situasu.
"Hahaha yang bener aja."
"Lha emang bener."
Aku berdiri dari dudukku. Lalu berjalan ke arah Ratih yang masih duduk di jendela. Posisi kami sekarang sejajar. Aku juga duduk di bagian jendela yang lainnya. Menatap ke arah Ratih.
Kami memang memiliki perbedaan umur yang jauh. Aku juga kadang tak menyukai beberapa tingkah laku Ratih. Tapi aku bisa mewajarinya karena dia masih anak-anak dalam benakku.
"Kenapa yo, Mas? Aku ndak bisa punya orangtua kaya orangtua nya Mas Gilang dan Mbak Yayi. Atau kaya Ratu Jenar dan Ngarso Dalem."
"Hidup itu enggak selalu sesuai dengan keinginanmu, Tih."
Ratih menghela nafas lagi, kali ini lebih kasar."Aku pernah berharap kalau nanti aku nikah. Aku bisa punya suami yang sayang sama aku. Gak mesti ganteng, tapi harus sayang sama aku dan Ibu."
"Amin."
"Ndak mesti dari golongan ningrat tapi harus dari golongan orang yang setia dengan isterinya."
"Amin."
"Aku juga ndak mau jadi isteri yang kedua atau ketiga. Aku mau jadi isteri yang pertama dan satu-satunya."
"Amin. Doanya udah?"
"Belum," ucap Ratih sambil memanyunkan bibirnya.
Aku mengacak-ngacak rambut Ratih. Rasanya geli sekali mendengar anak umur lima bebas tahun sudah menginginkan jodoh dengan banyak keriteria seperti tadi.
Tapi kadang, hanya terkadang saja. Dia bisa nampak seperti orang seumuranku. Dalam beberapa kesempatan, aku mengetahui bahwa Ratih memiliki potensi yang besar untuk menjadi seorang wanita yang mampu menarik perhatian lawan jenisnya kelak.
"Kalau Bapak dan Ibu sampai pisah. Berarti aku harus keluar dari keraton sama Ibu," nada suaranya berubah menjadi murung.
"Emang kamu enggak mau keluar?"
"Gak, gak juga sih. Aku seneng disini, ada Budhe dan Pakde yang baik sama aku, ada Mas Reza yang ganteng, ada Mbak Roro yang cantik."
Aku melirik sekilas ke arah Ratih dan saat itu juga Ratih melirik ke arahku.
"Opo?" tanyaku.
"Ada Mas Gilang juga yang.."
"Yang apa?"
"Yang jelek hahahaha."
Aku menjitak Ratih secara refleks. Disusul suara keluhan dari bibir tipisnya. Tapi tawa kami meledak setelahnya.
"Sekolah yang bener, baru mikirin nikah."
"Kerja yang bener, supaya cepetan nikah."
"Yeee dibilangin malah jawab terus."
"Tapi, Mas."
"Hmmm?"
"Mas mau gak nikah sama aku?"
"Ha?"