5. YANG PERTAMA

1682 Words
Hari berganti hari seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Pagi ini aku berniat mandi lebih awal dan menemukan Roro sedang menghampiri kendi yang berisi air dan melepas sumpelan di tengah-tengahnya. Ia langsung cuci muka dari kucuran air itu. Aku hanya memperhatikannya sejenak, sebelum memutuskan masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi pun, aku masih sempat berpikir bagaimana nasib Ratih selanjutnya. Apa dia akan dibiarkan keluar dari keraton oleh Ngarso Dalem? Atau Reza mungkin akan membuat alasan agar Pak le Ganu saja yang keluar? Tidak, tidak. Tidak mungkin Ngarso Dalem membuat Pak le Ganu keluar dan membiarkan Ratih dan ibunya tetap di keraton. Aku jadi gusar sendiri memikirkan nasib anak itu. Bukan dengan maksud terselubung. Aku hanya ingat bagaimana Yayi juga meninggalkan keraton ini. Ingatanku memutar kembali. Kemasa dimana adegan Yayi yang memutuskan untuk pergi dari rumah ini. "Yi, kamu gak seharusnya pergi kaya gini kan?" "Terus aku harus gimana, Mas? Aku sudah menuruti maunya Ibu untuk menjauhi Galih." "Yayi, semua orangtua selalu mau yang terbaik buat anaknya." Aku masih saja mencoba menghalangi kepergian Yayi. Membuatnya merubah pikiran dan memperbaiki hubungannya dengan Ibu. Namun anak yang satu ini kerasnya melebihi batu karang. Roro saja yang lebih dekat dengan dia, tidak pernah didengarkan omongannya. Si Mbok yang memang sudah merawat Yayi dari bayi. Juga ikutan menangis tapi juga tak bisa berbuat banyak. Ia ikut membantu Yayi membenahi pakaiannya. Membantu memasukan barang-barang ke koper dengan sesekali mengelap air mata yang menetes. Sedangkan Ibu entah kemana, mungkin ke rumah orangtua nya yang tak jauh dari keraton. Rama juga tak tampak sedari pagi dan Roro pun hanya mampu menatap Yayi diujung pintu. "Yi, setidaknya nunggu Ibu pulang dulu toh. Moso kamu pergi gak pamitan sama Ibu," ujar Roro. Yayi berhenti membenahi kopernya. Lalu berbalik ke arah aku dan Roro. Ia hanya menatap kami bergantian dengan raut wajah yang sedih. "Aku sudah berusaha yang terbaik yang aku bisa Mbak, Mas. Tapi cuma sebatas itu saja. Pesawatku jam tiga akan berangkat ke Jakarta dulu. Aku sudah mengurus segalanya dari jauh-jauh hari dan Rama juga sudah mengijinkanku pergi." "Ya tapi kan.." "Maafin aku Mas Gilang, salam buat Ibu dan Rama. Aku ndak mungkin bisa sebesar ini kalau bukan berkah dari Ibu dan Rama juga Ngarso Dalem. Aku juga ndak mungkin bisa punya perlindungan yang luar biasa kalau ndak karena Mas Gilang dan Mbak Roro," Yayi menghela nafas saat mengucapkannya. Setelah semua koper telah di tutup. Yayi memelukku dan Roro secara bergantian. Roro yang memang sangat menyayangi Yayi, mencium pipi dan keningnya. Seperti tidak rela membiarkan Yayi pergi seperti ini. Aku menghela nafas saat membayangkan adegan itu. Menjadi Kakak tak pernah mudah. Jika Ratih juga akan keluar dari keraton. Ibu pasti akan tambah sedih. Padahal beberapa minggu ini aku sudah bisa melihat Ibu tersenyum karena Ratih. Seolah mendapatkan anak pengganti dari Gusti Allah. "Mas Gilang," panggil Ratih dari luar. "Opo?" "Masih lama ndak? Aku sakit perut." "Sek sek, aku keringin rambutku dulu." Ratih masih saja menggedor pintu kamar mandi, aku mulai merasa terganggu sampai akhirnya kubuka saja pintunya dan pada saat yang sama Ratih justru kaget dan menjatuhkan dirinya padaku. "Aw," ucap kami serentak. "Kamu tuh gak sabaran banget sih," gerutuku. "Awas awas, aku kebelet." "Dasar kucrut." Akhirnya aku mengalah pada Ratih. Padahal masih ingin berlama-lama mandi. Saat aku baru saja ingin masuk kamar, aku berpapasan dengan Ibu. Aku melangkah ke kiri untuk memberikan jalan padanya. Tapi Ibu juga melangkah ke kiri. Aku beralih ke kanan. Ibu juga melangkah ke kanan. "Duh bu, ono opo sih?" "Duh bu, ada apa sih?" "Kamu temenin Ratih ya, ketemu Ngarso Dalem. Tadi pagi ibu sudah bicarakan hal kemarin dengannya. Sekarang Ngarso Dalem mau tahu keinginan Ratih yang sebenarnya." "Kenapa mesti aku? Kenapa gak Roro atau Ibu saja sendiri?" "Lho kamu tuh disuruh malah nyuruh. Pokoknya habis ini kamu anterin Ratih saja. Udah titik, Ibu maunya kamu kok. Masa nganterin adik sendiri ndak mau." "Yo yoo." Mau tidak mau harus mau. Itulah peraturan yang tak tertulis ketika Ibu sudah memerintahkan sesuatu. Aku lebih memilih nurut dari pada harus berdebat dan memperpanjang masalah. Aku pergi ke kamar untuk mengganti bajuku dengan surjan polos berwarna putih yang memiliki kancing sederet lurus dari leher sampai perut. Tidak lupa menggunakan jarik bermotif Semen Kuncoro yang memang khusus untuk dipakai oleh para Raden Mas dikesehariannya. Jika ingin bertemu Ngarso Dalem. Wajib hukumnya menggunakan pakaian yang sopan seperti ini. Surjan untuk laki-laki dan kebaya untuk perempuan. Bagian bawah harus memakai jarik. Entah perempuan atau laki-laki. Harus bisa menggunakan jarik. Aku keluar kamar sambil mengenakan blangkon dan mendapati Ratih telah menggunakan kebaya dan jarik sederhana. Rambutnya digelung seperti konde kecil. Tapi yang paling mengusikku adalah, wajahnya yang terlihat sangat pucat. Apa dia sakit? Aku mengajak Ratih untuk segera berangkat kediaman Ngarso Dalem. Dia hanya mengangguk sekali, lalu mengikuti dari belakang. Sedikit tidak nyaman sebenarnya berada diposisi seperti ini. "Tih, kamu sakit?" tanyaku memecah keheningan. "Ndak tahu nih, Mas. Perutku melilit sakit banget dari semalem." "Ya nanti juga sembuh." "Mas kira-kira Ngarso Dalem mau ngomong opo yo sama aku?" "Hmmm," aku berpikir sejenak. "Mungkin kamu mau dinikahin sama kakek-kakek tua terus jadi isteri ke empat." "Lha emang ada kakek-kakek muda? Mau godain malah kecelek sendiri." "Ya ampun bercanda kali Tih, sensitif amat." Senang rasanya menggoda anak ini. Seperti punya mainan baru. Tapi kasihan juga melihatnya tidak seriang biasanya. Ah mungkin memang dia sedang sakit. Untuk menuju kediaman Ngarso Dalem hanya membutuhkan waktu lima sampai tujuh menit. Kami berjalan kaki tanpa alas. Sebenarnya bisa saja menggunakan sandal. Tapi lebih sopan jika nyeker seperti ini. Diluar rumah ada Reza yang tengah menyiram bunga dengan beberapa abdi dalem. Ia melihat kami sambil tersenyum menyambut. "Lho rapih banget. Mau ketemu Bapak ya?" "Iyo Za, Ngarso Dalem enten?" "Iya Za, Ngarso Dalem ada?" "Enten mas, sudah ditunggu dari tadi. Eh Tih, kok mukamu pucet banget. Kamu sakit?" "Sedikit mas, tapi ndak papa." "Oh yawis, masuk saja mas." Kediaman Ngarso Dalem lebih mewah dari setiap rumah yang dibangun di dalam keraton. Ada lampu-lampu menggantung yang umurnya telah beratus tahun namun tetap terawat apik. Ada beberapa lukisan dan foto raja-raja terdahulu sebelum Ngarso Dalem yang sekarang. Aku dan Ratih segera berjalan jongkok ketika mendapati Ngarso Dalem tengah duduk di ruang keluarga yang luasnya tiga kali lipat ruangan keluargaku sendiri. Sebelum berbicara, kami selalu sungkeman. Meletakan kedua telapak tangan yang tertelungkup di lutut Ngarso Dalem sebagai penghormatan dan Ngarso Dalem akan menerima salam kami sesekali mengelus pundak atau puncak kepala. "Ratih." "Ngih Gusti." "Saya sudah dengar apa yang terjadi di dalam keluargamu dari Raden Ayu Aryo. Ibunya kakangmu, Gilang." "Ngih Gusti." "Jadi piye karsanipun, cah ayu? Bade urip teng ndalem nopo teng djawi keraton?" "Jadi gimana kemauanmu cah ayu? Mau hidup di dalem atau keluar dari keraton?" Ratih tidak langsung menjawab pertanyaan Ngarso Dalem. Dia melirikku sekilas, seperti meminta bantuan. Tapi aku diam saja, karena tugasku hanya menemani dia untuk menghadap Ngarso Dalem. "Ngapunten Gusti, kulo bade teng ndalem. Kula.." "Maaf Gusti, saya mau di dalam keraton. Saya.." "Kenapa Tih?" tanya Ngarso Dalem yang heran dengan kalimat Ratih yang menggantung. "Kalau Ratih tinggal di dalam keraton. Apa Ibu juga bisa tetap tinggal di dalam keraton? Dan bagaimana dengan Bapak?" Ngarso Dalem tersenyum dan menatap Ratih seperti memakumi kegelisahan nya. "Bapakmu akan dikeluarkan dari keraton dan harus hidup menjauh dari sini, itu sudah menjadi keputusannya. Untuk ibumu, dia bebas menentukan pilihan hidupnya yang tentu Ratih tahu apa maunya. Jika Ratih masih betah di sini. Ratih bisa tinggal dengan Kanjeng Ratu Jenar atau Raden Ayu Aryo. Terserah pada Ratih, saya hanya mau tahu apa pilihan Ratih sekarang?" Aku sedikit terkejut dengan keputusan Ngarso Dalem. Ini sebuah langkah besar dengan mengusir satu pangeran dari keraton. Tapi aku setuju dengannya, jika terus dibiarkan. Mungkin Pak le akan terus semena-mena. Ia harus mendapatkan sangsi tegas. "Ratih boleh pikir-pikir dulu mau tinggal dimana. Nanti setelah Ratih sudah mantep. Ratih bisa menemui Kanjeng Ratu Jenar." "Maturnuwun Gusti." "Terimakasih Gusti." Setelah selesai bicara, kami memutuskan untuk kembali ke rumah. Reza masih sibuk di perkarangan dan Ratih berjalan di depanku. Tapi tunggu dulu, ada bercak warna merah besar di jarit Ratih. Aku langsung menghentikan Ratih dengan menarik tangannya. Ratih yang bingung menatapku penuh tanda tanya. "Kamu dapet ya?" aku berbisik padanya. "Dapet opo mas?" Aku menggeleng,"Kamu haid?" "Haid?" "Itu tembus." Ratih panik dan berusaha melihat ke arah jaritnya di belakang namun sia-sia. Lalu menutupinya dengan tangan, Reza yang melihat gerak-gerik aneh kami menatap curiga. "Ada apa, Mas?" "Itu Ratih ha.." "Maaassss." teriak Ratih menghentikan omonganku. "Haaa haa haaa, gitu Za." Reza mengerutkan kening bingung kepadaku yang menjawab pertanyaannya dengan aneh. "Mbok Mbok, sini," panggil Ratih sambil mengayunkan tangannya. "Ngih Den Ajeng?" Ratih membisikkan sesuatu pada Mbok dan kemudian raut wajahnya kaget. Entah apa yang diperintahkan Ratih tapi abdi dalem itu langsung masuk dan tidak lama kemudian membawa kain jarit yang di tangannya. Ratih dengan sigap membelitkan jarik itu kepinggang sebagai penutup bagian belakang tubuhnya. Aku yang memahami apa maksudnya hanya mengangguk mengerti. Tapi muka Ratih benar-benar membuat ku khawatir. Ia lebih pucat dari sebelumnya. "Kamu bisa jalan ndak? Mau aku gendong?" tawarku sambil berjongkok. "Ha?" "Eh iya Tih, kalau beneran sakit yaaa digendong aja sama Mas Gilang." Reza membuat tawaranku semakin kuat. Meski nadanya seakan ragu mengucapkan ide itu. Tapi kan tidak lucu jika saat berjalan Ratih mengeluarkan darah yang akan berceceran di jalan. Aku saja ngeri membayangkannya. Sedangkan Ratih yang bingung kini hanya diam. Lalu ia mencoba merenggangkan jariknya agar bisa leluasa bergerak. Ratih naik ke atas punggungku. Aku bangun dan membopong badannya. Sebagian abdi dalem yang bekerja juga menatap khawatir melihat wajah pucat Ratih. Seperti memaklumi tindakanku, mereka memberi salam sebelum akhirnya aku melangkah keluar dari kediaman Ngarso Dalem. Ratih seperti tidak nyaman aku gendong. Terasa sekali bahasa tubuhnya yang kaku. Tanganku juga berusaha tidak menyentuh area "itu" Aaaah ya, walau pun Ratih sudah kuanggap adik. Tapi dia kan juga tetap perempuan. "Tih, kok kamu bisa tembus gitu sih?" tanyaku heran. "Aduh Mas, aku aja hmmm. Aku aja hmm ndak tahu kalau aku haid." "Emang kalau haid gitu gak ketahuan?" "Maksudnya, aku baru pertama kali haid." Langkahku berhenti ketika mendengar penjelasan dari Ratih. Secara refleks kepalaku mencoba menengok ke arahnya dan pandangan kami bertemu. *Kecelek atau kecela
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD