6. LASTRIATIH (RATIH)

1336 Words
Seminggu setelah kejadian yang memalukan itu. Aku benar-benar menjaga jarak dengan Ratih. Begitu juga sebaliknya. Aku bereaksi secara alami seperti itu karena malu. Aku kepergok menggendong Ratih oleh Roro. Lalu aku jelaskan semua kronologisnya dan dia tidak bisa berhenti tertawa. Aku seperti orang bodoh dibuatnya. Roro menjelaskan padaku segala hal tentang haid yang dialami oleh wanita sebagai seorang dokter. Dia mengatakan bahwa Ratih tidak mungkin mengeluarkan darah dan hingga menetes-netes dijalanan. Katanya, itu darah bukan air ketuban. Ya mana aku bisa membedakannya sih. Punya pacar aja tidak pernah, nikah saja belum. Aku melupakan sejenak hal konyol itu. Hari ini aku memiliki agenda ke pantai parangkusumo dengan beberapa abdi dalem yang berjumlah tidak kurang dari seratus orang. Ada Reza juga dan beberapa Paman. Ada banyak sesaji yang harus dihanyutkan mengingat sebentar lagi bulan Sura tiba. Dimana benda-benda pusaka keraton akan segera dibersihkan dan dikeluarkan dari tempatnya. Seperti keris, tombak, kereta kuda. Sebenarnya upacara ritual seperti ini tidak hanya dilakukan di laut. Tapi juga di gunung Merapi. Namun, utamanya memang dilaut kidul. Baru hari berikutnya ke gunung Merapi. Jika di laut ada Kanjeng Ratu Kidul. Maka di gunung Merapi ada Mbah Petruk sebagai penjaganya. Tokoh dalam pewayangan yang sering digambarkan selalu berempat dengan Bagong, Gareng dan Semar. Sesaji yang diberikan hampir sama. Di sana ada beberapa titik khusus tempat ritual diselenggarakan. Bukan tidak mau ikut, tapi perjalanan ke sana lebih memakan tenaga. Menaiki anak tangga yang entah jumlahnya berapa. Belum lagi tidak diperkenankan menggunakan alas kaki. Sebenarnya, aku tidak begitu mempercayai hal seperti ini. Jaman telah berubah, tentu. Aku manusia yang lebih modern, bukan lagi manusia yang hanya mengandalkan keris dan sesaji yang dipersembahkan entah untuk siapa. Tapi bukan berarti aku tidak menghormati budaya yang telah membesarkanku. Aku tidak pernah sekali pun menganggap hal itu adalah tabu. Hanya saja bukan "gayaku". Jadi aku melakukan semua hal ini sebagai tradisi budaya yang harus aku lestarikan. Tapi tak pernah kuyakini. Setiap keturunan di dalam keraton. Dipercaya selalu dijaga oleh leluhur kami. Bahkan Ngarso Dalem atau raja-raja Jawa yang bertakhta ratusan tahun silam juga dipercaya memiliki hubungan gaib dengan Ratu pantai selatan. Presiden pertama kita, Ir. Sukarno juga memiliki hubungan khusus dengan penguasa cantik itu. Entah ini hanya mitos atau legenda. Aku juga tidak pernah benar-benar mengetahui. Terlalu banyak hal yang tak bisa aku mengerti dari waktu ke waktu di dalam perjalanan dinasti kami. Jadi aku memilih diam dan sekedar hanya mengetahuinya saja. Tapi tak benar-benar berusaha ingin tahu lebih dalam. Sebab, hidup memang harus seperti itu. Aturan pertama dan terpenting di dalam keraton. Jika ada sesuatu hal yang berjalan "di luar logika." Maka tugasmu hanya menunduk dan berlalu seolah tidak terjadi apapun. Jika memang kau punya nyali lebih. Bolehlah sekali-kali uji nyali di malam satu Sura. Tapi aku tak akan menanggung bagaimana nanti jadinya. Menurut kepercayaan Jawa, pada malam itu seluruh mahluk yang tak dapat kita lihat akan menampakkan wujudnya. Bukan hal asing bagiku atau mungkin bahkan bagi Reza sendiri yang akan menjadi penerus tahkta selanjutnya. Aku tersenyum sekilas setelah menyadari hal konyol yang terlintas di kepalaku. Jika memang menikah dengan Ratu kidul adalah kewajiban bagi setiap Raja. Berarti Reza akan menjadi yang selanjutnya. Meski sering kali aku melihat dia cepat akrab dengan lawan jenis. Pasti pamor dan ketampanannya akan lebih memikat ketika kelak menjadi Raja. Siapa yang tidak ingin menjadi pendamping dari seorang penguasa? "Mas, bengong aja. Nanti kesambet lho." "Hmmm, kesambet opo?" "Ya kesambet si nyai." "Hussh ngawur. Nanti kamu didatengin baru tahu rasa," ucapku menakut-nakuti Reza. "Hahahaha aku pernah melihatnya kok." "Serius kamu?" Reza mengangguk lalu berlalu acuh dengan pertanyaanku. Aku hanya menggeleng-geleng tak percaya. Belum jadi Raja saja dia sudah di tampak kan seperti itu. Bagaimana nanti, berarti siapapun isterinya kelak. Harus rela berbagi kasih dengan mahluk lain, aku satu saja enggak punya. Aku melihat seluruh makanan, seperti tumpeng serta lauk pauknya, ingkung ayam yang utuh, bunga tujuh rupa, serta hasil bumi yang lainnya, seperti kelapa dan beras dilarung ke tengah laut. Dengan bantuan kapal milik para warga yang memang selalu didedikasikan secara suka rela untuk ditumpangi para abdi dalem dan beberapa Pangeran untuk melarung semua sesaji tersebut jika memang volume air terlalu tinggi untuk bisa disusuri berjalan kaki. Biasanya banyak sekali yang menonton, tapi mungkin karena langit mendung dan ombak juga tinggi. Hanya ada beberapa warga yang rela mengikuti ritual ini. Aku sibuk menahan belangkonku agar tidak terbang ditiup angin pantai yang kencang sambil mengawasi ritual labuhan dari pesisir pantai. "Eh ada Mas Gilang." Aku menengok ke arah kiri, ke sumber suara. Ada seorang perempuan yang tersenyum kepadaku. Wajahnya sebenarnya biasa saja, tapi karismanya begitu kuat. Aku beberapa kali berusaha menyadarkan otakku sendiri agar tidak terhipnotis. "Mas Gilang kenapa ndak ikut ngelarung ke tengah laut?" "Ohh, itu ada Kanjeng Gusti Pangeran yang sudah mewakili. Tapi, apa kita pernah ketemu ya sebelumnya?" Perempuan itu terus saja tersenyum kepadaku. Ramah sekali dan aku baru menyadari bahwa rambutnya terurai panjang, tertiup oleh angin pantai. "Aku sih sudah mengenal Mas Gilang sejak lama. Tapi ndak tahu ya kalau Mas Gilang," ujarnya. "Saya tidak kenal sama mbaknya," ucapku jujur. "Tuhkan bener, makanya kenalan dulu. Boleh ya?" Aku tersenyum canggung melihat perempuan itu mengulurkan tangannya ke arahku. Dengan ragu-ragu aku menyambut uluran tangannya yang lentik. Ia memakai kebaya berwarna hijau lumut dengan jarik motif parang rusak. Seperti motif batik untuk berperang. Aku hanya sekilas memperhatikan penampilannya. "Namaku, Lastriatih. Tapi biasa dipanggil Ratih." "Ratih?" "He'em. Kenapa?" "Ah enggak, namanya sama dengan adik saya." "Adik mas Gilang yang mana? Setahuku adik Mas Gilang hanya dua. Roro dan Yayi." Aku mengerutkan kening, curiga sekali dengan perempuan yang mengaku dirinya Ratih ini. Bagaimana mungin dia tahu kalau aku hanya punya dua orang adik kandung dan bahkan tahu namanya. Belum lagi dia seperti kenal sekali dengan diriku. "Wah Mas Gilang kenapa takut? Aku bukan orang jahat kok. Cuma mau kenalan saja," sambungnya lagi. Semua spekulasiku dibubar jalankan oleh suaranya yang entah bagaimana harus aku jelaskan. Ada kesan manja tapi tidak memuakkan, ada kesan riang tapi tidak nyaring memekak telinga. Enak untuk didengar, menurutku. "Kapan-kapan aku boleh ya main kekediamannya Mas Gilang?" "Oh ya monggo, Mbak." "Yasudah, aku pamitan sek ya, Mas. Monggo dilanjutkan ritualnya. Hati-hati lho, jangan kebanyakan bengong. Nanti Nyai Roro Kidul nyamperin Mas Gilang." "Hehehe ya, Mbak." Aku benar-benar merasa canggung dengan si Lastriatih. Meski namanya mirip, tapi kenapa harus sangat berbeda jauh seperti itu dengan Ratih yang kukenal. Wajah Lastriatih oval sempurna, kulitnya kuning langsat, juga tubuhnya sintal berisi. Ah kenapa aku malah membandingkan dengan Ratih. Jelas saja dia kalah, kemarin saja dia baru mendapatkan haid pertamanya. Rasanya tidak feer kalau membandingkan seperti ini. Aku menengok lagi ke arah kepergian Lastriatih yang baru kukenal, namun ia telah menghilang cepat sekali. Lalu seseorang menepuk pundakku, Reza. Aku baru menyadari bahwa kelompok yang pergi ke tengah laut untuk melarung telah kembali pulang ke pesisir pantai. "Pulang yuk, Mas." "Udah selesai po?" Reza menatapku bingung,"Sudah setengah jam yang lalu." "Ha?" "Makanya jangan kebanyakan bengong." "Aku enggak bengong kok." Akhirnya kami berdua berjalan menuju ke arah mobil. Telapak kaki kami dipenuhi oleh pasir pantai yang berwarna kehitaman. Belum lagi aroma laut yang melekat erat di badan. Tapi, langit tiba-tiba saja jadi cerah. "Eh Za." "Opo Mas?" "Moso tadi aku ketemu sama perempuan cantik." Ujarku yang langsung ditanggapi raut wajah bingung oleh Reza. "Perempuan? Kapan?" "Barusan, sebelum kamu nyamperin aku." "Mboten enten mas." "Tidak ada mas." Justru sekarang aku yang bingung dengan jawaban Reza. Gimana dia bisa bilang tidak ada. Bahkan seharusnya ia tahu bahwa ada perempuan yang sedang mengobrol denganku. Karena kedatangannya tadi tak selang berapa lama setelah kepergian Lastriatih. "Opone?" "Apanya?" "Ya itu, perempuan." "Ada kok tadi, ngobrol sama aku. Anehnya dia kenal aku. Padahal aku ndak pernah punya temen perempuan. Ndak banyak maksudnya." "Mas Gilang lupa ya?" "Hmm?" "Kan perempuan dilarang ikut ritual larung, apalagi ke pantai. Paling juga kalau ada hanya abdi dalem yang sudah tua." Aku mulai malas dengan kesimpulan yang bisa kubuat sendiri dari jawaban Reza. Maksudnya perempuan tadi adalah perempuan jadi-jadian? "Kamu ndak usah nakut-nakutin aku Za." "Hahahaha lho aku emang ngomong opo? Mas kaya baru sekali aja ikut upacara labuhan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD