bc

Tebing curam seperti SURGA

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
loser
superpower
like
intro-logo
Blurb

Seorang pemuda yang tidak dapat keadilan di manapun,karena ia tidak tahan lagi dia pergi dari rumahnya,lalu ia masuk kesebuah dimensi lain dimana disana ada sebuah tebing yang begitu curam serta pemandangan yang sangat indah seperti surga,disini senyum-nya terbuka kembali sejam sekian lama,lalu apakah Alan ini bisa kembali ke dunianya,atau ia berubah setelah memasuki dimensi ini.itu semua masih tanda tanya...?

chap-preview
Free preview
bab 1
Di lapangan sepak bola SMA Harapan, siang hari yang terik Suara sorak penonton menggema memenuhi stadion mini sekolah. Ribuan pasang mata tertuju pada lapangan hijau dengan garis putih yang mulai pudar. Matahari tepat di atas kepala, membakar rumput hingga memunculkan uap panas yang bergetar di udara. Skor masih 0–0. Pertandingan memasuki menit-menit akhir babak kedua. Ini adalah final turnamen antar sekolah se-kabupaten. Tribun penuh sesak, bahkan pagar pembatas dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Di bangku pemain, pelatih berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang. Asistennya terus melihat jam tangan. Di lapangan, para pemain kelelahan, napas tersengal, namun semangat tak padam. Hari ini, lapangan berubah menjadi medan perang. Di tengah semua itu, berdiri seorang kiper yang menjadi harapan terakhir timnya. Namanya Alan. Sejak kecil, ia hanya punya satu mimpi: membanggakan ayahnya melalui sepak bola. Kamera seakan fokus padanya. Alan, 17 tahun, berdiri di bawah mistar gawang. Tubuhnya tegap meski sedikit kurus. Lututnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Wajahnya tegang, keringat membasahi seragam nomor 1 yang dulu pernah dipakai Doni sebelum kecelakaan merenggutnya tiga tahun lalu. Matanya tajam mengawasi bola. Jari-jarinya gemetar. Napasnya berat. Ia berbisik pelan pada dirinya sendiri. “Tenang... fokus... lihat bola... lupakan keramaian...” Di depannya, pertahanan mulai goyah. Lawan bermain cepat, memanfaatkan kelelahan. Alan berteriak lantang. “Tanduk! Jaga pemain nomor 9! Andi, tutup! Bagas, jangan maju!” Andi menjawab keras. “Siap, Lan! Gue jaga!” Bagas terengah-engah. “Lawannya kayak orang gila! Nyerang terus!” Seorang penyerang lawan bernomor 10 melesat cepat. Ia melewati Andi dengan mudah, lalu melewati satu pemain lagi. Kini tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Alan. Penonton menahan napas. Penyerang lawan tersenyum sinis. “Sekarang giliranku, kiper...” Ia masuk ke kotak penalti. Alan maju, memperkecil sudut. Tubuhnya merendah, tangan terbuka. Dalam hati, Alan fokus. “Ayo... tebak arahnya... lihat kaki, bukan mata... gue pasti bisa...” Penyerang menendang keras ke pojok kiri bawah. Alan melompat. Tubuhnya melayang horizontal. Ujung jarinya menyentuh bola. Bola berubah arah, menghantam tiang dengan suara keras, lalu keluar lapangan. Penonton meledak. “Alan! Alan! Alan!” Alan jatuh dengan tangan kiri tertekuk di bawah tubuhnya. Debu mengepul. Wajahnya langsung pucat. Rasa nyeri menjalar dari pergelangan ke bahu. Namun ia memaksa bangkit. Ia bergumam menahan sakit. “Nggak apa-apa... tahan, Lan... lo harus bisa...” Pertandingan berlanjut. Lawan semakin gencar menyerang. Wasit memberi tambahan waktu tiga menit. Tendangan pojok untuk lawan. Semua pemain masuk ke kotak penalti. Bahkan kiper lawan ikut maju. Suasana tegang. Wasit meniup peluit. “Tendangan pojok! Tambahan waktu tiga menit!” Alan berteriak mengatur tim. “Jaga daerah! Nomor 9 jangan lepas! Marking ketat! Ini menit terakhir!” Bola melambung dari sudut, melengkung ke kotak penalti. Alan melompat tinggi. Tubuhnya bertabrakan dengan pemain lawan. Ia meninju bola menjauh dengan tangan kanan. Saat jatuh— Crack! Suara tulang terdengar jelas. Tangan kiri Alan menghantam tiang gawang dengan keras. Rasa sakit menjalar seperti petir. Ia berguling di rumput, memegangi tangan kirinya yang mulai membengkak. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Alan merintih. “Aaa... sakit... tangan gue... tolong...” Wasit berlari panik. “Hentikan pertandingan! Panggil tim medis!” Pelatih berteriak dari pinggir lapangan. “Cepat! Bawa tandu! Hati-hati!” Dua official mengangkat Alan dengan tandu darurat. Ia dibawa ke bangku cadangan dengan hati-hati. Teman-temannya mengerumuni dengan wajah cemas. Rahman menyodorkan air. “Minum dulu, Lan. Tahan... lo kuat.” Rinto tercengang. “Ya Allah... tangannya bengkak parah... biru... kita bawa ke rumah sakit!” Alan terbata, menahan sakit. “Nggak... nggak usah... gue... gue nggak apa-apa...” Ia mencoba tersenyum, tapi gagal. Rasa sakit jelas terlihat. Tangannya membengkak, membiru. Di tengah keributan itu, tak ada yang menyadari satu sosok berdiri di kejauhan, di balik pagar. Doni. Wajahnya tenang, matanya penuh perhatian. Ia menatap Alan dengan lembut. Ia berbisik pelan, seperti angin. “Sabar, Lan... lo pasti baik-baik aja. Gue jagain lo... selalu.” Tak ada yang mendengar. Tak ada yang melihat. Hanya angin yang membawa bisikan itu. Namun di antara kerumunan, seorang siswa baru bernama Ryan menatap ke arah itu. Matanya menyipit. Ia bergumam pelan. “Aneh... kayak ada yang berdiri di sana...” Situasi di Klinik Sehati saat sore hari Kerumunan mulai bubar. Pertandingan berakhir dengan kekalahan tipis 0-1 setelah gol di menit akhir tendangan jarak jauh yang tak mampu diantisipasi kiper cadangan. Alan sudah dibawa ke klinik. Doni masih berdiri di tempatnya, mematung seperti patung, menatap kepergian Alan. Ia menghela napas panjang, lalu mengambil ponsel dari saku celana. Tangannya sedikit gemetar saat menekan nomor yang dihafal di luar kepala. Doni, suara pelan tapi jelas, sedikit bergetar: “Halo, Yah... ini Doni. Alan cedera di lapangan. Tangannya... kayaknya parah banget, bengkak biru. Iya, di lapangan sekolah. Cepat ke sini, Yah. Aku tunggu di klinik dekat sini, Klinik Sehati.” Dari ujung telepon terdengar suara cemas yang berusaha ditahan suara berat yang mencoba tetap tenang. Ayah, dari telepon, suara dalam: “Sekarang juga ayah ke sana! Jaga Alan, Don! Jangan ke mana-mana!” Doni: “Iya, Yah. Hati-hati di jalan.” Doni mematikan telepon. Ia memandang langit sore yang mulai jingga kemerahan, awan-awan berlapis emas, lalu berjalan perlahan menuju klinik. Di sana, Alan sedang diperiksa mantri dengan tangan masih membengkak. Suasana klinik sederhana. Bau obat dan alkohol menyengat hidung. Dinding putih pudar dengan poster-poster kesehatan. Kursi-kursi plastik berjajar. Alan duduk di kursi pasien dengan tangan dibalut kain kasa tebal. Mantri seorang pria paruh baya berkumis tebal memberinya obat pereda nyeri dan menyuntikkan antiradang. Mantri, serius: “Ini cuma pertolongan pertama. Besok harus ke rumah sakit buat rontgen, takutnya ada retak. Jangan digerak-gerakkan dulu. Istirahat total.” Alan, mengangguk lemah, suara serak: “Iya, Pak. Makasih banyak, Pak.” Pintu klinik terbuka. Ayah masuk dengan langkah lebar, wajah campuran antara cemas dan marah. Keringat membasahi kemeja lusuhnya ia baru pulang kerja dan langsung meluncur ke sini tanpa sempat ganti baju. Wajahnya merah, napasnya memburu. Ayah, langsung menghampiri, suara tinggi memenuhi ruangan: “Biar saya lihat!” Ia langsung meraih tangan Alan. Alan spontan meringis kesakitan, napasnya tersengal menahan sakit. Alan: “Aduh, Yah... sakit... pelan-pelan, Yah...” Ayah, memegang lebih hati-hati, meraba tulang bahu dan lengan: “Diam... jangan bergerak. Biar ayah periksa betul-betul.” Dengan gerakan cepat dan tepat menunjukkan pengalaman ia memegang bahu Alan dan menariknya sedikit. Tangannya yang terampil memijat area sekitar sendi dengan tekanan pas, mencari titik saraf. Dan terdengar klik! Sendi kembali ke tempatnya. Alan tersentak kaget, tapi rasa sakitnya berkurang drastis. Alan, terkejut lalu lega: “Yah... udah sembuh? Kok bisa cepat banget? Sakitnya hilang...” Ayah menghela napas panjang: “Cuma bergeser bahu, bukan patah. Udah sering kejadian sama pemain bola. Biasanya jatuh dengan posisi tangan menahan beban.” Wajahnya berubah marah, urat leher menonjol. “Kenapa main nggak hati-hati, hah?!” Ayah berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruang kecil klinik. Tangannya menunjuk-nunjuk Alan dengan kesal. Sepatu boots-nya menghentak lantai. Ayah, lantang: “Lihat Doni! Dia main bola dari kecil, dari umur lima tahun, tapi nggak pernah cedera kayak gini! Dia selalu hati-hati, selalu jaga diri!” “Kamu tuh grusa-grusu terus! Mau jadi apa kamu kalau cedera terus? Mau jadi pemain bola atau mau jadi orang cacat?!” Alan terdiam, menunduk dalam, tak berani menatap. Doni, melangkah maju, suara lembut: “Yah, mungkin Alan terlalu semangat. Lagian lawannya keras banget tadi. Mereka main kasar sikut-sikutan, dorong-dorongan. Bukan salah Alan sepenuhnya. Dia udah berusaha maksimal, bahkan jadi penyelamat tim.” Ayah memotong, suara meninggi: “Semangat? Itu bukan semangat, tapi bodoh! Kiper harus bisa jaga diri! Punya insting, punya naluri!” “Kalau kamu cedera parah, siapa yang tanggung jawab? Masa depanmu gimana? Sekolahmu gimana?! Ayah kerja banting tulang tiap hari, lembur sampai malam, biar kamu sekolah, tapi kamu malah hancurin diri sendiri di lapangan!” Alan masih diam. Tangannya mengepal di pangkuan. Matanya berkaca-kaca. Ayah masih melanjutkan: “Doni itu contoh yang baik! Rajin sekolah, nilainya bagus, main bola juga pintar jaga diri! Dia nggak pernah bikin ayah khawatir kayak kamu!” “Kamu tuh kebalikannya! Nggak pernah mikir panjang... nggak pernah!” Matanya mulai berair. Alan, berbisik, suara pecah: “Maaf, Yah...” Ayah menghela napas kasar. Ia sadar kata-katanya terlalu keras, tapi egonya menahan. Ia hanya menggeleng, lalu keluar dari klinik. Pintu berdenting pelan, meninggalkan keheningan berat. Doni menepuk pundak Alan: “Lo nggak apa-apa, Lan? Jangan terlalu dipikirin omongan ayah. Beliau cuma cemas, sayang sama lo. Caranya aja yang salah.” Alan, menunduk: “Gue biasa kok, Don. Udah kebal. Dari dulu juga gitu terus. Sejak lo...” Ia berhenti. Doni: “Tapi lo sedih, kan? Lo nangis...” Alan tak menjawab. Air matanya akhirnya jatuh. Doni memeluknya erat. Doni berbisik: “Lo kuat, Lan. Lo pasti bisa lewatin ini. Gue di sini.” Di rumah, malam harinya Suasana hening. Rumah sederhana tapi hangat. Karpet lusuh di ruang tamu. Foto keluarga di dinding Ayah, Alan kecil, dan Doni kecil saat Lebaran. Tak ada foto Ibu. Alan duduk di ruang tamu. Doni di sampingnya, memegang remote TV tanpa benar-benar menonton. Ayah duduk membaca koran bekas dengan wajah cemberut. Ayah: “Udah makan?” Alan: “Udah, Yah.” Ayah: “Obat diminum.” Alan: “Udah.” Hening kembali. Hanya suara TV dan jangkrik. Doni berdiri: “Yah, Lan, aku tidur dulu ya. Capek.” Ayah: “Iya, Nak. Selamat tidur.” Doni masuk kamar. Kini hanya Alan dan Ayah. Hening lama. Ayah, suara lebih lunak: “Tangan masih sakit?” Alan, sedikit kaget: “Udah nggak, Yah. Makasih... Ayah jago.” Ayah: “Ayah tahu kamu marah.” Alan: “Nggak, Yah...” Ayah memotong, menatap: “Ayah cuma nggak mau kamu kenapa-napa. Sepak bola itu bagus, tapi kalau sampai hancurin masa depan... ayah takut.” “Ayah udah kehilangan Doni. Ayah nggak mau kehilangan kamu.” Alan cepat menjawab: “Alan cuma mau banggain ayah. Lewat bola. Doni dulu juga banggain ayah.” Ayah menatap lama, lalu tersenyum tipis. Matanya berkaca-kaca. Ayah: “Kamu udah banggain ayah, Nak. Cukup dengan jadi anak baik.” Alan tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa hangat. Di dalam kamar, Doni yang berbaring hanya tersenyum sayu. Ia menatap langit-langit. “Maaf, Yah... Lan... aku belum bisa pergi. Aku masih harus jaga Alan... sampai dia benar-benar baik-baik saja.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Trapped in My Future Boss

read
3.2K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.5K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.3K
bc

Menyala Istri Sah!

read
3.8K
bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
8.8K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
10.3K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook