Baju biru polos membalut tubuh Kalila yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, hanya cairan infus yang masuk ke dalam tubuhnya. Monitor memperlihatkan bagaimana jantungnya berdetak. Berselimutkan kain putih tipis. Kelopak matanya tertutup rapat, Kalila tak ubahnya seperti putri tidur yang menunggu pangeran datang. Sudah terlalu lama Kalila tidak merasakan hangatnya sinar mentari secara langsung, selain dari jendela yang terbuka juga dari celah ventilasi udara seperti pagi ini. Sebulan lebih Mey berjaga di rumah sakit, dia sampai akrab dengan semua petugas rumah sakit. Bahkan, dia tak pernah bosan karena dokter Gala selalu hadir memantau perkembangan Kalila. Itu menjadi kesempatan emas baginya karena dengan begitu, dia bisa melakukan pendekatan pada dokter tampan itu. Namun,

