Misi Bocah Berantakan

1166 Words
Feri terkejut menatap anak semata wayangnya itu tiba-tiba masuk ke ruangannya. Tidak hanya Rayen, tetapi kedua sahabat anaknya itu pun berada di sini. "Rey, kamu ngapain ke sini?" Reyhan mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Ia lalu melangkah mendekati meja Feri. "Rey di sini menentang keputusan Ayah buat ceraiin ibu," ucap Reyhan tegas. "Rey ... kamu, kan, tau sendiri ibu kamu gimana." "Pokoknya Rey tetap nggak setuju kalau Ayah mau ceraiin Ibu. Kalau Ayah tetap melakukan itu, lebih baik Rey pergi aja dari rumah." "Reyhan ... kamu--" "Maaf, Pak. Saya sudah menahan mereka, tetapi mereka tetap memaksa masuk, Pak," ucap Jeni tiba-tiba masuk. "Tidak masalah, Jeni." "Baik, Pak, saya permisi." Jeni menunduk singkat, lalu segera meninggalkan ruangan. Sebelum itu, ia melirik ke arah Azela, memberikan tatapan kesalnya. Azela hanya acuh tak acuh, ia kembali memusatkan perhatian pada Reyhan dan Feri. "Selama ini Rey hanya diam. Sekarang, Rey ingin tau alasannya. Emang apa alasan Ayah menceraikan Ibu?" "Sudah terlihat jelas, Rey. Ibu kamu selingkuh dan selama ini tidak pernah mengurus rumah." "Ayah pun sama," ucap Reyhan tersenyum senggeng. Apa Feri tak bisa berkaca? Ia pun sama saja. "Lagipula Ibu nggak selingkuh. Ayah, kan, yang selingkuh di belakang Ibu?" "Reyhan. Apa yang kamu bicarakan? Ayah tidak selingkuh." "Lalu, wanita berdaada besar di luar itu siapa?" "Dia cuma sekretaris Ayah, tidak lebih. Percaya sama Ayah." "Oh, ya? Padahal dia sendiri yang bilang akan menjadi Ibu tiri Rey," ucap Reyhan yang membuat Feri melebarkan matanya. "Mohon maaf sebelumnya, Om. Maaf atas kelancangan saya ikut campur, tapi sekarang kami ingin membantu Reyhan. Jadi, kami minta kejujuran Om, apakah benar Om sudah selingkuh dengan Jeni, sekretaris itu?" tanya Azela to the point. "Kalian kenapa, sih. Ini bukan urusan anak-anak." "Tapi kami sekarang berperan untuk membantu Reyhan. Om pasti tidak tahu, apa dampaknya bagi Reyhan selama ini, karena permasalahan Om dan Tante Vava," ujar Agil pula. Feri menatap Reyhan. Wajah anaknya itu memang selalu tampak suram, jika berada di rumah. Apa memang ia telah memberikan dampak buruk pada anaknya itu? "Ayah tidak selingkuh, Rey, tapi emang Jeni yang selalu menghibur Ayah ketika sedang ada masalah dengan Ibu kamu." "Sama aja, Om," timpal Azela. "Sebenarnya Om nggak berniat selingkuh, kan?" "Untuk apa saya selingkuh, jika mengurus satu istri saja sudah bikin saya sakit kepala," ujar Feri jujur. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Azela mengangguk-angguk paham. Ia sudah membaca situasi. "Tante Vava, pun, seperti itu Om. Mungkin terlihat sedang selingkuh, padahal itu hanya sekadar manipulasi seseorang saja." Alis Feri terangkat ke atas. Merasa heran dengan ucapan Azela. "Masalah Om dan Tante, pasti ada dalang di belakangnya. Dia selalu mengganggu ketenangan rumah tangga Om dan Tante." Azela membuka pintu ruangan itu. Berjalan mendekati Jeni yang duduk di kursinya. 'Tidak salah lagi,' batin Azela yakin. Jika Jeni adalah orang yang sama waktu itu. Tanpa pikir panjang Azela langsung menarik, memaksa wanita itu masuk ke ruangan Feri. "Wanita ini hanya alat dalang tersebut. Dia mendekati Om, agar terlihat selingkuh oleh Tante Vava," ucap Azela. Otaknya sudah membaca situasi dan permasalahan tadi. Jangan ragukan cara Azela dalam mencari jalan keluar. Feri hanya tercengang. Apa ini? Ia sama sekali tak mengerti. "Lepasin saya, bocah! Apa maksud kamu, ha?" "Tante Jeni, jujur aja. Pasti Anda disuruh seseorang untuk mendekati Om Feri?" Jeni tertawa pelan. "Jangan sok tau, bocah. Bocah sepertimu tak akan mengerti urusan orang dewasa." "Jujur aja, atau Anda ingin berurusan dengan saya?" bisik Azela menatap tajam ke arah Jeni, yang membuat Jeni menelan salivanya susah. Entah kenapa mata intimidasi Azela sangat mengerikan, membuatnya tak berkutik. "Apa keuntungan untuk saya, jika saya kasih tau kamu, ha?" "Oh, mau main-main dengan saya?" ucap Azela dengan nada tenang, yang malah semakin terasa mencekam. "Ingin kenal saya lebih jauh, Tante?" tanya Azela tersenyum. Ia merogoh saku celananya, memunculkan pisau lipat yang membuat Jeni memucat di tempat. "Ba--baik, saya jujur!" teriak Jeni. Feri, Reyhan, dan Agil yang tadi hanya diam tak tahu apa yang sudah dikatakan oleh Azela pada Jeni, pun sama-sama heran apa yang sudab terjadi pada Jeni, karena tampak ketakutan seperti itu. Jeni lalu berjalan menghampiri Feri. Kepalanya pun menunduk. "Maaf, Pak. Memang benar selama ini saya disuruh oleh seseorang untuk mendekati Pak Feri, agar istri Pak Feri salah paham." Feri terkejut. Jadi, selama ini Vava menganggapnya selingkuh, karena ia dekat dengan Jeni? Padahal selama ini mereka hanya membicarakan tentang pekerjaan. "Sa-saya sengaja mengajak Bapak ke kafe, restoran, atau di luar kantor membicarakan pekerjaan, karena untuk memanipulasi keadaan, agar istri Pak Feri menganggapnya Bapak sedang selingkuh." Jeni dalam hati mengeram kesal. Kenapa semuanya dibongkarnya sendiri? Kenapa bocah berantakan seperti Azela bisa mengintimidasinya sejauh ini! Orang yang sudah menyuruh Jeni melakukan itu, sangat mengerikan yang membuat Jeni harus menuruti keinginannya, tetapi Azela lebih mengerikan daripadanya. Jadi, untuk apa lagi Jeni memihak kepada seseorang itu, sedangkan ia tak berada di sini untuk menyelamatkan Jeni. Terpaksa Jeni harus membongkarnya. Apalagi tadi Azela sempat membisikannya, 'jangan takut. Gue akan mengatasi masalah lo.' Jeni pun percaya dengan Azela. Sepertinya Azela bukan bocah tak punya masa depan yang dipikirkannya. Anak itu sangat jenius dan memiliki seribu satu cara untuk memecahkan masalah. Bocah bukan sembarang bocah. Ya, Jeni jadi menyesali perkataannya yang meremehkan Azela tadi. "Siapa yang menyuruh kamu melakukan itu?" "Orang yang sama, yang juga memanipulasi Pak Feri menganggap istri Bapak selingkuh. Dan orangnya adalah ... Pak Grani." Tangan Feri terkepal kuat. Jadi, Grani—sepupunya—itu yang sudah mengacaukan rumah tangganya selama ini? "Om Grani?" tanya Reyhan tak percaya. "Lo kenal?" tanya Azela berdiri di samping Reyhan. "Selama ini gue ngadu ke Om Grani dan ternyata ... dia yang menyebabkan semua ini!" "Jeni. Saya kecewa sama kamu, tapi saya juga berterima kasih karena sudah jujur. Sekarang, semuanya boleh keluar. Saya akan keluar juga, untuk menemui Grani." Feri mengepalkan tangannya. Ia akan berurusan dengan Grani. Semuanya pun keluar dari situ. Membiarkan Feri menyelesaikan sisanya. *** "Zel, gue mau tanya. Kenapa lo bisa ngancem si Jeni buat jujur?" Sekarang mereka sedang berada di kantin kantor Feri. Mereka memilih mengisi perut dahulu di sinu sebelum pulang. "Jeni mungkin gak kenal gue, tapi gue pernah lihat Jeni dulu. Udah lama, sih, tapi gue gak lupa sama wajahnya." "Hah, seriusan, Zel?" tanya Agil ikut penasaran. "Gue pernah lihat Jeni diancem oleh seseorang, seperti yang gue lakuin tadi. Taulah, gue kalau gabut, suka jalan-jalan. Nah, gue pernah liat di pinggiran jalanan kota si Jeni ditodong pisaau oleh seseorang. Terus gue ngintip deh. Nah, orang itu mungkin buat perjanjian dengan Jeni, nah pisaunya disimpan, orang itu malah ngasih Jeni duit." "Jadi, lo tadi ngelihat Jeni intens gitu, mengingat kalau pernah ketemu sebelumnya?" tanya Agil. "Ya, betul! Makanya gue bilang, kan, pasti ada dalangnya yang memperalat Jeni." "Sebuah kebetulan yang bermanfaat ya," lanjut Azela. "Terima kasih banyak, Zel. Lo udah banyam bantu gue selama ini." "Ya. Sama-sama." "Gue cuma mau bilang lo keren banget, Zel," ujar Agil. "Ahelah, lebay lo pada!" Ketiganya lalu terkekeh pelan. Ya seperti itulah anak-anak yang tampak berantakan itu. Padahal, seberantakannya Azela, otaknya selalu memikirkan ide secara rapi. Untuk itu, misi yang mereka lakukan dicap berakhir. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD