Misi Bantu Reyhan

1101 Words
Pagi lagi. Sekolah lagi. Ya, seperti itulah rutinitas anak sekolah, yang pastinya cepat-cepat menginginkan hari minggu, agar bisa merefresh otak yang sudah lelah dari senin sampai sabtu. Kali ini, kelas 12 IPA A sedang merasakan surga dunia, yaitu Free Class. Mereka memanfaatkan itu dengan pergi ke kantin, tidur, atau bergibah ria. Ada juga yang malah nonton bareng di kelas. Wah, sungguh hal paling menyenangkan. "Zel!" panggil suara membuat Azela menoleh ke depan pintu kelasnya. "Napa?" tanya Azela. Ternyata, Agil-lah yang memanggilnya. Mengetahui guru tak ada di kelas, Agil pun memilih masuk saja. Ia berjalan mendekati meja Azela. "Reyhan kumat lagi." Azela menghela napas gusar. Masalah Reyhan tak ada habisnya. Ia pun langsung bangkit. "Di mana dia sekarang?" "Di atas, roftop sekolah." Azela segera pergi meninggalkan kelas, menuju roftop. "Agil, ada apa?" tanya Azila. "Anu, ga ada, kok, tenang aja. Daaa, gue pergi dulu," ucap Agil segera menyusul Azela yang sudah pergi duluan. "Ada apa, ya?" tanya Azila bingung. "Mungkin ada masalah sama teman mereka yang satu lagi," ujar Devi. "Hmm, iya. Ya udah, deh, karena ada Azela, pasti masalahnya kelar." Azila dan Devi pun melanjutkan perbincangan mereka yang tertunda. *** "Lo mau ngapain, gblk?" teriak Azela saat sampai di roftop melihat Reyhan berdiri di ujung atap. "Lo gak usah ikut campur. Gue udah capek! Orang tua gue mau pisah! Bahkan udah ada surat cerainya!" Reyhan benar-benar frustrasi. Belum lagi selalu kena mental, karena pertengkaran hebat orang tuanya yang dari pada saat ia kecil selalu begitu. Benda-benda di rumah hancur, berantakan. Tidak ada kelembutan, pasti hanya keributan. "Rey, tapi lo jangan buat aneh-aneh, deh. Gak ada gunanya juga, kan?" teriak Agil pula. "Ini jalan satu-satunya, biar orang tua gue sadar, kalau mereka punya anak!" "Lo makin gobl*k ya," ucap Azela santai. Tangannya bersedekap d**a. "Lo yang kayak gini, malah buat orang tua lo saling jauh, karena nggak ada penengah di antara mereka. Lo harusnya lebih bijak, mencari apa inti masalah orang tua lo dan cari jalan keluarnya. Bukannya melarik diri kayak gini," ceramah Azela panjang lebar. "Gue udah capek!" "Ya makanya lo jangan begoo dong!" Reyhan hanya bisa terdiam. "Gue gak bisa mikir, gue ingin lari aja." Azela lalu menarik tangan Reyhan untuk mendekat ke arahnya. Agil sudah waswas jika Azela memberikan pukulan lagi intuk Reyhan, akan tetapi dugaan Agil salah. Agil menatap tak percaya, saat melihat ternyata Azela memeluk badan Reyhan. Eh, Azela memeluknya? Berpelukan? Benarkah? Seorang Azela? Agil terkejut bukan main. Reyhan pun dibuat terkejut, tetapi, ia paham guna punggung Azela sekarang untuk apa. Reyhan pun tanpa segan, menangis sejadi-jadinya. Ia membenamkan kepalanya di pundak Azela. "Nangis aja sepuas lo." Reyhan semakin melepaskan tangisannya. Azela pun mengusap punggung Reyhan pelan. Ia tahu, beban yang ditanggung oleh Reyhan sangat berat, belum lagi mentalnya yang semakin melemah, karena sudah dihancurkan dari dulu. "Kita akan cari jalan keluarnya sama-sama," ucap Azela diangguki oleh Agil. "Makasih, guys." Reyhan tanpa Azela dan Agil, mungkin sudah hancur dari dulu. Hanya dua sahabatnya itu yang sèlalu ada untuk Reyhan. *** Seperti yang dikatakan mereka tadi, Azela, Reyhan, dan Agil akan menelusuri apa masalah orang tua Reyhan. Mereka akan menemukan titik temu masalahnya dan berniat mencarikan jalan keluarnya. "Biasanya jam segini bokap lo di mana?" "Masih di kantor." "Oh, ya udah langsung ke kantornya aja." Agil yang mengendari mobil pun mengangguk. Sekarang yang pertama diselidiki adalah ayahnya Reyhan. "Gue boleh tanya dikit, nggak?" "Tanya apa?" "Dulu orang tua lo pacaran sebelum nikah, apa dijodohin?" "Kata nenek gue, sih, mereka pacaran. Bahkan lima tahun pacaran. Setelah nikah malah renggang." "Hmm ... berarti masalahnya itu setelah menikah, ya." "Iya. Gue nggak tau sebabnya, yang pasti mereka selalu bertengkar." "Nggak pernah rukun?" "Paling pas hari raya doang," jawab Reyhan singkat. "Eh? Berarti pas lebaran orang tua lo saling memaafkan gitu, ya? Terus nanti bertengkar lagi?" "Ya, gitu aja terus, sampai gue mau mati rasanya," ucap Reyhan mendengkus pelan. "Hmm ... lo tau kalau orang tua lo selingkuh atau gimana?" "Ya. Bokap gue selingkuh, katanya, sih, nggak tau juga. Nah, tapi bokap gue selalu mempermasalahin, kalau nyokap gue terlalu sibuk dan nggak bisa ngurus rumah. Ya, itu-itu aja terus." "Hm, oke. Gue curiga ada orang ketiga yang berperan sebagai pengganggu hubungan orang tua lo." "Siapa, ya? Apa selingkuhannya bokap?' "Bisa jadi, sih. Makanya kita selidiki dulu kantornya bokap lo." "Oke, deh." *** Sesampainya di kantor ayahnya Reyhan, ketiga sahabat itu pun langsung keluar dan masuk ke kantor. Banyak karyawan yang memperhatikan mereka, tetapi saat melihat Reyhan, mereka jadi tahu jika Reyhan datang bersama teman-temannya.. Ayah Reyhan bekerja sebagai wakil HRD Perusahaan ini, jadi ... para karyawan di sini sudah mengenali Reyhan. Reyhan pun menuju meja resepsionis untuk meminta izin masuk. "Sekarang Pak Feri sedang kedatangan tamu di ruangannya. Jadi, tunggu sekretaris Pak Feri mengizinkan masuk dulu, ya, baru kalian masuk." "Baik," jawab Reyhan. Mereka pun melangkah menuju lift, untuk naik ke lantai atas. "Lo kenal wajah selingkuhan papa lo?" tanya Azela berbisik. "Sekretarisnya itu, Zel," jawab Reyhan. "Eh, sekretaris? Wah, wah, seru, nih." Lift itu pun berhenti di lantai tujuan. Mereka langsung keluar dan menuju ruangan Ayah Reyhan. Sebelum masuk ke ruangan Ayah Reyhan, mereka langsung dihambat oleh seorang wanita yang diyakini sebagai sekretaris. "Wah, ada Reyhan. Apa kabar, Sayang?" tanya Jeni sok asyik. "Gue cuma mau ketemu Ayah." "Ayah kamu sedang ada tamu. Mending kamu pulang aja, pasti lama nunggu nantinya." Tangan Jeni hendak menyentuh wajah Reyhan, tetapi cowok itu langsung menghindar. "Jaga tangan Anda," ucap Reyhan. "Aduh, masih aja malu-malu. Saya kan, akan jadi Ibu tiri kamu." "Ini sekretarisnya?" sela Azela tiba-tiba. Jeni melirik ke arah Azela sekilas. Ia menatap meremehkan, karena menganggap Azela hanya anak sekolahan bandel yang tak memiliki masa depan, melihat dari penampilannya yang acak-acakan. "Napa lo ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Azela datar. "Duh, Reyhan Sayang. Kamu punya teman, kok, nggak ada sopan santunnya." "Berhenti sok baik dengan gue, jijik tau nggak," ucap Reyhan kesal. "Udah, ya, mending sekarang pulang aja. Ayah kamu banyak kerjaan." "Kita tunggu aja," ucap Azela menatap ke arah Agil dan Reyhan. "Oke." "Duh, kalian masih aja bandel, ya. Dibangin juga." "Bodo amat, dah, Tante," sahut Agil yang tadi hanya diam. Lima belas menit lebih kurang menunggu, akhirnya tamu yang dimaksud, keluar juga. Buru-buru mereka menghampiri pintu untuk masuk. Namun, Jeni kembali menghalangi. "Kami ingin masuk, jangan menghalangi dong," kesal Azela. "Dasar anak-anak bandel," kesal Jeni mendorong Azela dan Agil. Saat Azela terjatuh, ia menatap ke arah Reyhan yang membuat cowok itu mengangguk paham. Azela menarik balik Jeni, yang membuat Reyhan berkesempatan masuk. Jeni pun tersungkur ke depan. Buru-buru Azela dan Agil bangkit, lalu ikut masuk. "Ih, dasar bocah kurang ajar!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD