Ekspetasi Tinggi

854 Words
"Ayo, ngomong!" suruh Azela, masih memegang tangan Geko, agar tidak kabur. Geko menghela napas pelan. "Oke, gue bakal cerita." Geko terpaksa pasrah. "Tapi, lepasin dulu." "Cerita aja, bisa kan," ucap Azela tak ingin Geko kabur lagi. "Keluarga gue sedang dililit utang sana sini. Jadi, kami sekeluarga tidak tinggal bersama," ucap Geko singkat. "Yang gue tanyain cuma Zeko. Dia di mana?" tanya Azila. "Ya, mana gue tau. Kan udah dibilang, kami tinggal berpencar." "Lo sama sekali nggak tau Zeko di mana?" tanya Azila tak yakin. "Gue bener-bener nggak tau. Cuma dia yang nggak ngasih kabar." Azila menghela napas pelan. Sepertinya Geko tak berbohong. "Terus, abang-abang lo yang lain, termasuk adek lo?" "Semua berpencar. Gak penting juga buat lo tau, kan?" "Geko. Kenapa keluarga lo nggak kasih tau keluarga besar?" tanya Devi mengintrogasi. "Gak penting, Kak." "Jangan ngomong gak penting terus, Geko. Gue serius!" ucap Devi terbawa emosi. "Buat apa ngasih tau keluarga besar? Cuma minta belaskasihan? Yang ada jadi bahan tawaan." "Maksudnya?" tanya Devi tak mengerti. "Udahlah. Urusan gue udah kelar, kan? Gue mau masuk." Geko pun mengeluarkan kunci rumah, lalu membuka pintu. "Geko!" panggil Azila. "Apa lagi?" "Kalau lo nggak tau di mana Zeko. Lo pasti tau nomor HP-nya kan? Minta nomor Zeko," ucap Azila tak ingin kehilangan jejak lagi. Geko berdecak sebal. "Gue nggak tau. Dia ngilang tanpa jejak." "Geko, gak mungkin. Lo, kan, adeknya." Geko lalu menyerahkan HP-ya pada Azila. "Periksa sendiri kalau ada nomornya," ucap Geko sudah malas meladeni mereka. Azila benar mengambil HP Geko. Jika tak dapat nomor Zeko, siapa tau ada informasi lain di HP Geko. Namun, setelah dengan lancangnya Azila mengotak-atik HP Geko, ia tak menemukan informasi apa pun. Akan tetapi, Azila menyimpan nomornya sendiri di HP Geko, lalu menghubungi nomornya, agar ia bisa menyimpan nomor Geko juga. Tangan Azila kembali menyodorkan HP Geko. "Nih." "Gimana? Gak dapat apa-apa, kan? Makanya, dibilang juga nggak percaya." "Geko, tolong sopan dikit. Azila lebih tua dari lo," nasihat Devi. Geko hanya mengangkat bahu, tetap bersikap cuek. Ia pun masuk ke dalam rumahnya. "Udahlah. Tuan rumah gak sopan itu udah masuk kandangnya. Mari kita pulang," ajak Azela. "Gue nggak terima penolakan," lanjutnya membuat Azila tak bisa menolak lagi. "Ya udah, ayo, Zila!" ajak Devi pula. Lagi dan lagi mereka tak mendapatkan informasi mengenai Zeko. Hanya saja, mengetahui sedikit info tentang keluarga Zeko saja sudab cukup. Devi akan membicarakan itu pada papapnya nanti. "Sia-sia, kan?" "Gak sepenuhnya, kok. Berkat kalian, gue jadi tau apa yang dialami keluarga Geko dan Zeko. Nanti gue bakal bilang ke papa." "Syukurlah kalau emang ada manfaatnya," ucap Azela. 'Biruuu ... kamu ke mana, sih?' batin Azila. *** Sebelum pulang, mereka menyempatkan singgah terlebih dahulu di salah satu kafe yang mereka lewati. Tidak bisa dipungkiri bahwa perut mereka keroncongan, karena selepas pulang sekolah tadi mereka belum makan dan malah langsung ke alamat Geko. Bukan bertemu dengan Zeko, malah bertemu bocil meresahkan seperti Geko lagi. "Zila, lo mau pesan apa?" tanya Azela. "Samain sama Azel aja." "Oke." Tatapan Azela beralih pada Devi. "Lo, Dev? Mau mesen apa?" "Hm, samain juga, deh, sama kalian." "Etdah, kalian kenapa, sih?" tanya Azel heran. Sejak tadi keduanya tampak aneh. Biasanya bukan tugas Azela mau memesankan pesanan seperti sekarang. Biasanya seorang Azela hanya diam menanti Azila yang memesankan, tetapi melihat raut wajah Azila yang tak seperti biasanya membuat Azela terpaksa yang akan turun tangan untuk memesankan. Biarlah, untuk kali ini. "Zila, lo kenapa?" tanya Devi. Sebenarnya ia sudah menyadari sejak tadi keanehan Azila. Gadis itu tampak lesu tak bersemangan dan sering melamun. "Hah? Nggak ada, kok." "Cerita aja," ucap Devi. Azila tersenyum kecil. "Gue cuma sedih aja, ekspetasi gue dipatahkan oleh realita." Sekarang, Devi paham. Ia pun berdeham pelan. "Gue tau. Emang, sih, ekspetasi terlalu tinggi kalau terpatahkan oleh realita sangat mengecewakan. Tapi, lo tenang aja. Pasti ada jalan lain, kok," ujar Devi mencoba menenangkan Azila. "Iya, Dev. Tapi, gue udah hampir nyerah. Tapi, gue juga nggak bisa nyerah gitu aja sampai gue tau alasan Zeko tuh apa." "Iya, Zila. Gue paham. Gue akan bantuin lo buat nemuin Zeko. Gue janji." Azila langsung menatap ke arah Devi. Benarkah? "Gue senang lo mau bantuin." "Iya, dong, gue bakal bantuin lo pastinya, karena lo udah banyak bantu gue." "Lagi ngomongin apaan, sih? Asyik bener," ucap Azela tiba-tiba muncul. "Azel mana pesanannya?" tanya Azila, mengalihkan pembicaraan Azela. "Bentar lagi dianteri pelayan." "Gue udah lapar," ucap Azila. "Lah, sama gue juga," sahut Azela. "Hehe. Gue juga, nih," ucap Devi ikut. "Pesanan atas nama Azila Jangan Sedih Lagi," panggil pelayan itu memgerutkan kening saat membaca nama sang pemesan. Mata Azila melotot. Sudah pasti itu kerjaan Azela. "Pesanan atas nama Azila Jangan Sedih Lagi," panggil ulang pelayan itu. "Sini, Mbak!" sahut Azila. Jika ia tak menyahut, sepertinya tidak akan ada yang menyahut dan namanya jadi lama-lama trrpanggil. "Silakan dinikmati," ucap pelayan itu. "Mbaknya jangan sedih-sedih, loh." "Ba-baik, terima kasih Mbak," ucap Azila dengan pipi merona malu. Ah, Azela ada-ada saja. "Udahlah, makan aja dulu, marahnya entar," ucap Azela. Azila hanya menghela napas pelan. Devi tersenyum, ia bisa melihat kedua kembar itu yang tak melulu akur ternyata. Azila dan Azela tampak menggemaskan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD