"Sepupu lo?" tanya Azila kaget bukan main. Azela pun ikut terusik, karena teriakan Azila.
"Iya. Sepupu jauh, sih, dari kerabat papa gue."
Azila tiba-tiba memegang tangan Devi. "Please! Katakan lo pasti tau alamatnya, kan? Di mana dia tinggal sekarang?"
Mata Azila berbinar-binar mengharapkan Devi menjawab tahu segalanya tentang Zeko. Namun, dengan berat hati Devi menggeleng.
"Kekuarganya udah jarang keliatan sejak tiga tahun yang lalu. Gue juga nggak tau dia tinggal di mana sekarang."
Azila melengos pasrah. Sebegitu susahkah mengulik informasi tentang Zeko? Lagi pula, kenapa keluarga Zeko seolah-oleh menghilang dari peradaban? Azila benar-benar butuh alasan.
"Eum, tapi, coba gue tanya sama ayah gue, ya. Siapa tau ada kabarnya."
"Wah, makasih, Dev!"
Azela mendengkus pelan. Ia pun memutar bola mata malas. "Zila, ke mana janji lo yang bakalan lupain si biru-biru lo itu?"
"Azel ... gue udah move on, kok, tenang aja. Gue cuma penasaran aja sama alasannya."
"Tapi sama aja lo ngulik-ngulik tentang dia lagi, kan? Gue nggak suka."
"Azel, please. Kali ini aja. Kalau gue udah tau alasannya, nggak akan ngurusin hidup mereka lagi, kok."
"Emangnya lo ada hubungan apa sama Zeko dulu?"
"Partner bucin." Bukan Azila yang menjawab, melainkan Azela yang menyambar begitu saja.
"Azeeel," kesal Azila.
"Kan fakta."
Azila menghela napas pelan. Azela daritadi sedang kumat jailnya.
"Jadi, gimana, Zila?" tanya Devi mengulang.
"Gue sama Zeko cuma teman dekat, kok, tapi kami selalu bareng dari kelas delapan."
"Oh. Kok gue nggak tau, ya, hehe. Mungkin gue nggak terlalu akrab sama Zeko, karena memang keluarganya jarang terekspos. Selama ini, kalau ada acara keluarga besar, pasti keluarga Zeko yang jarang hadir."
Azila mencoba paham, mungkin karena faktor ekonomi keluarga Zeko. Ya, Azila tahu akan hal itu.
"Eh, bentar, papa gue balas pesan." Tadi Devi sempat mengirim pesan kepada papanya untuk menanyakan perihal keluarga Zeko.
"Papa gue ngirim alamat barunya keluarga Zeko!" ucap Devi membuat mata Azila langsung melebar.
"Serius?"
"Iya! Nih, lihat ...." Devi memperlihatkan HP-nya pada Azila. "Gue tau, nih, tempat ini. Besok gue temenin, deh."
"Lo mau nemenin? Aaaaa, makasih!" teriak Azila girang, langsung memeluk Devi erat.
"Sama-sama. Ya udah, besok kita jelajahi, ya!"
"Yey!"
Azela yang melihat itu hanya diam tak berkomentar. Biarlah itu menjadi urusan Azila. Selagi tak membahayakan, ia tak akan mempermasalahkan. Lagipula Azela cukup tenang, karena Devi mau berteman dekat dengan Azila.
"Tidur, Woi, udah malam," ucap Azela berbaring di kasur.
"Wah, Azel tidur di sini juga?"
"Iya. Kenapa, nggak boleh, ya? Ya udah gue pindah, nih."
"Eh, eh, siapa yang bilang nggak boleh! Boleh, dong, Azel! Yuk, Devi, mari kita tidur!"
"Ayo."
Ketiganya pun berbaring di kasur yang sama. Untung saja kasur Azila berukuran lebar dan luas, sehingga mereka tidak akan kesempitan walau tidur bertiga.
***
Sepulang sekolah seperti yang telah dijanjikan Devi kemari. Mereka benar-benar mengunjungi rumah Zeko, menurut alamat yang sudah diberikan oleh papanya Devi.
Azela juga ikut menemani. Ia terpaksa menjadi supir, karena tak membiarkan Azila menyetir sendiri. Azila belum terlalu bisa menyetir mobil. Sedangkan Azela sudah bisa membawa mobil dari tahun kemarin, setelah belajar langsung dengan Daniel.
"Keknya bener, deh, ini alamatnya," ucap Devi celingak celinguk ke kanan dan kiri.
"Iya. Di sebelah itu, Zel. Belok kiri, ya, dikit lagi," ucap Azila.
Mobil mereka masuk ke wilayah seperti kampung. Memang sedikit jauh dari jalanan kota, karena wilayah ini terlalu menjorok ke dalam.
"Kata papa gue, rumah yang bercat abu-abu."
"Kayaknya itu, nggak, sih?" Azila menunjuk rumah bercat warna abu-abu di seberang sana.
"Kayaknya iya. Parkir di depan sana aja, Zel."
"Oke."
Azela pun memutar setirnya, kembali menancap gas dan menjalankan ke seberang. Mobil berhenti, mereka pun segera turun.
Para penduduk di kampung itu tampak memusatkan perhatian pada ketiga gadis itu.
"Yuk, langsung ketuk aja," suruh Devi.
Sebenarnya Azila benar-benar merasa gugup. Bagaimana jika nanti Zeko tiba-tiba keluar, apa yang akan dilakukan Azila? Mengingat mereka sudah tak pernah bertemu lagi. Ah, Azila semakin deg-degan.
Lama, karena Azila diam saja. Tangan Azela pun mewakili mengetuk pintu. Azela juga berteriak memanggil sang tuan rumah. Namun, sudah lima kali ketuk dan tiga kali panggilan, tetap tak ada sahutan dari dalam. Ke mana perginya orang di rumah ini? Apa memang tak ada orang?
"Nihil. Nggak ada orang, pulang, yuk!" ajal Azela santai.
"Nggak, Azel. Masa main pulang langsung, kita tunggu aja, sampai yang punya rumah keluar."
"Serrah lo, deh, gue nunggu di mobil aja, ya. Ngantuk!" ucap Azela berlalu dari situ.
Kini, gantian tangan Devi yang mengetuk pintu.
"Kayaknya emang nggak ada orang, Zila," ucap Devi.
"Nggak, Dev. Sia-sia dong kita ke sini. Kita tunggu aja."
Mereka pun duduk di kursi yang tersedia di teras itu. Menunggu sang pemilik rumah kembali.
"Cari siapa?" tanya sebuah suara yang langsung membuat Azila menoleh.
Mata Azila langsung melebar saat melihat seseorang di hadapannya sekarang.
Siapakah dia?
"Ge--Geko!" teriak Azila girang. Ia pun segera memegang tangan Geko agar tak kabur lagi.
"Kenapa ada Kak Devi?" tanya Geko heran.
"Lama nggak jumpa, Geko. Gue temannya Azila," jawab Devi.
Geko hanya berdeham pelan. Kenapa Azila masih saja mengusik hidupnya?
"Geko, please. Kasi tau, di mana Zeko sekarang?"
"Gue nggak tau," jawab Geko.
"Nggak mungkin! Lo kan adeknya."
"Gak penting."
"Geko! Kasi tau Kakak cepat. Ke mana Zeko? Terus, ke mana Tante Linda? Kok nggak ada orang di rumah?" tanya Devi.
"Mau tanya apa pun, gue tetep nggak tau," ucap Geko sudah terlalu malas meladeni orang-orang yang selalu menantakan keberadaan Zeko padanya.
"Nggak mungkin lo nggak tau."
"Tapi nyatanya gue emang nggak tau," kesal Geko.
Azela yang tadi berada di mobil, mendadak keluar. Ia pun berjalan menghampiri mereka.
"Woi, bocil," panggil Azela. Geko terkejut, kenapa Azela huga ke sini?
"Di mana Zeko? Kenapa dia pengecut banget jadi cowok? Yang begitu mending ganti aja celana sama rok, deh, nggak lakik banget," ucap Azela membuat Geko semakin geram. Ternyata Azela tak berubag juga, ucapannnya tetap saja tak disaring terlebih dahulu.
"Udah dibilang, gue nggak tau. Gak penting!" ucap Geko.
"Geko, lo mau gue aduin ke papa gue, ha?"
"Terserah. Wong, gue juga nggak tau."
"Masih berani boong?" tanya Azela menendang betis Geko yang membuat cowok itu terjatuh.
Ah, s**l, jika begini ia tak mungkin bisa lari lagi. Apa ia harus jujur?
***