Malam ini Devi dipaksa menginap oleh Azila di rumahnya. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Devi seharian penuh ini. Jadi, mau tak mau, Devi terpaksa mengiyakan saja permintaan sahabat barunya itu.
Hari ini dijadikan hari best friend forever mereka. Berjanji untuk menjadi sahabat selamanya.
Azela juga sudah pulang. Sekarang, mereka sedang makan malam bersama. Tidak ada Daniel, karena pria itu lembur dan pulang larut malam.
"Azel tadi ke mana?" tanya Azila.
"Rumah Reyhan."
"Ooh." Azila pun hanya ber'oh' saja. Jika ia tak segera mencari topik, maka meja makan itu akan sunyi. Hanya bunyi dentingan sendok yang beradu dengan piring saja terdengar.
"Dev, ayo diambil lauk-nya," suruh Azila.
"Iya, Zila."
"Jangan sungkan, Dev. Ayo, sini tambahin."
"Hehe, udah cukup kok, Zila."
"Lo nginap?" tanya Azela menatap ke arah Devi.
"I--iya," jawab Devi segera mengalihkan matanya dari mata Azela. Ternyata benar. Tatapan Azela menyeramkan.
Usai makan. Azela langsung bangkit.
"Azel!" panggil Azila, mengurungkan niat Azela melangkah pergi dari meja makan.
"Hm?"
"Gabung ke kamar gue, yuk! Kita curhat bareng, terus maskeran, sama ngopi-ngopi cantik gitu," ajak Azila girang.
"Ogah," jawab Azela singkat.
"Tuh, kan, Dev. Azela nggak mau," bisik Azila. Tadi Devi yang menyarankan agar Azila mengajak Azela bergabung malam ini.
"Hm. Ya udah, deh, mau gimana, kan?"
"Nanti kita nonton bareng, yuk!"
"Yuk. Film horor, ya, biar seru."
"Wah, ayo teriak-teriak bareng!"
Azela hanya memutar bola mata malas mendengar teriakan dua gadis itu yang masih terdengar olehnya. Azela segera masuk kamar.
***
"Dimulai dengan ini dulu. Ceritanya, kayak anak hilang yang diculik sama hantu gitu," ucap Azila bersiap memutar dvd-nya.
"Wah, kayaknya seru."
Setelah diputar. Azila dan Devi langsung menaiki kasur, mereka menarik selimut. Menutup sebagian muka mereka saat melihat hantu-hantu yang muncul. Backsound yang membuat mereka takut, karena suara yang datang mendadak membuat suasana semakin mencekam. Apalagi lampu kamar dimatikan.
Azila dan Devi pun berteriak ketakutan saat muka hantu itu nongol di layar. Wajah penuh da.rah itu mengejutkan mereka.
Bersamaab dengan itu. Pintu kamar Azila tiba-tiba terbuka menampakkan wajah seseorang yang tersorot senter.
"HANTUUU!"
Teriak keduanya, menatap seseorang berambut panjang, muka bercahaya putih di depan pintu.
Azila dan Devi pun masuk ke dalam selimut, ketakutan.
"Ah, elah. Nonton film hantu, tapi nyali ciut. Gimana, sih."
Azila kenal suara itu. Ia pun dengan takut-takut menyingkapkan selimut untuk melihat sosok yang masuk ke kamarnya.
"Ini gue, Azela."
Azila dan Devi langsung menyingkapkan selimut, lalu menatap Azela sembari menghela napas lega.
"Azel ngagetin aja! Kenapa tadi senternya disorot ke muka Azel? Sengaja mau ngerjain kita, ya!"
"Emang," jawab Azela tanpa beban. Ia lalu mengikat rambutnya dengan ikat rambut yang tadi melingkar di pergelangan tangannya.
"Mana rambutnya sengaja digerai! Ih, Azel!" Azila masih saja kesal. Sedangkan Devi hanya diam, tak tahu harus berkomentar apa.
"Tadi lo sendiri yang nyuruh gue gabung," ucap Azela.
"Ya, tapi, kan tadi Azel nggak mau!"
"Berubah pikiran itu manusiawi."
Azila mendengkus pelan. Percuma berdebat dengan Azela.
Mereka kembali fokus pada film yang berputar. Azela duduk di barisan paling depan. Sedangkan Azila dan Devi di belakang, merem-melet, tak berani melotot langsung.
Azel hanya menatap datar saat muka hantu itu tiba-tiba nongol di layar. Ia sama sekali tak kaget, tak takut, atau pun meras ngeri.
"Apaan, sih, masa hantunya punya badan kayak manusia gitu. Hantu, tuh, buntung kek, ga berkepala, atau ga punya kaki," komentar Azela.
"Ih, Azel. Itu aja udah seram tau!"
"Ga ada seram-seramnya."
"Ih, Azel, mah ...."
"Udah, ah, ganti film." Azela lalu mengacak-acak rak dvd Azila. Ia menemukan satu film horor yang menarik.
"Nah, ini boleh, nih," ucap Azela.
"Ih, itu belum pernah gue tonton, karena pas baru hidupin aja hantunya udah gantung manusia!" Azila bergidik ngeri.
"Nah, mayan, tuh."
Azela pun memutar film itu. Devi dan Azila langsung memekik ketakutan. Mereka bahkan tak berani memeletkan mata lagi, dengar suaranya saja sudah sangat mengerikan.
Azela tampak tertarik menonton. Ia tak takut, hanya saja cerita film ini tampak menarik.
"Hei, kalian nonton, dong!" suruh Azela, karena Azila dan Devi hanya memajamkan matanya.
"Takuuut!"
Azela semakin mengeraskan volumenya, membuat Azila dan Devi semakin berteriak ketakutan.
"Ah, gak asyik."
Azela pun mematikan filmnya. Percuma, jika hanya ia yang menonton sendiri.
Setelah film itu tak terdengar lagi, barulah Azila dan Devi membuka mata mereka.
"Gila, yang tadi itu serem banget Azel!" teriak Azila.
"B aja."
"Nyali lo kuat ya, Azela," ucap Devi.
"Hm? Bukan nyali gue yang kuat, mental kalian terlalu lemah," ucap Azela santai.
"Udah, ah. Mending sekarang kita sesi curhat! Yey!"
Ah, sudahlah. Bagian ini sama sekali tak tertarik oleh Azela. Ia berjalan ke arah nakas, lalu mengambil earphone Azila dan memakainya.
"Azel pasti nggak mau, deh. Ga papa. Kita aja, Dev."
"Oke."
"Sebenarnya, gue suka sama Hannan," ucap Azila langsung saja. Ah, ia tak suka basa-basi.
"Wah. Kayaknya Hannan juga suka, deh, sama lo."
"Hm. Nggak tau, sih." Pipi Azila merona. Ia pun tersenyum malu.
"Ciee ... langsung salting gitu!"
"Hehe, udah, ah! Devi suka sama siapa?"
"Hm, nggak tau, sih."
"Pasti ada, kan?"
"Hehe. Untuk sekarang nggak ada," ucap Devi jujur.
"Oke, deh. First love Devi, deh. Siapa?"
"Oo, namanya Aldo, teman di sekolah gue yang lama."
"Wah, kapan-kapan kenalin, ya!" goda Azila.
"Ah, hehe, kan, dulu. Sekarang nggak ada. Kalau Zila siapa first lovenya? Hannan, ya?"
"Bukan, sih, sebenernya."
"Eh, berarti Azila pernah jatuh cinta sebelum SMA ini, ya? Waktu SMP berarti?"
Azila mengangguk ragu. Sebenarnya ia malas menceritakan hal ini lagi, tetapi sepertinya menceritakan ke Devi saja tak masalah.
"Sebenarnya first love gue, tuh, namanya Zeko."
"Zeko?"
"Ya. Namanya Zeko Alvian."
Mendengar nama itu langsung membuat Devi terkejut bukan main.
"Zeko Alvian. Berarti lo SMP Mandiri Bangsa?"
"Iya. Emang kenapa?"
"Zeko yang lo maksud adalah, sepupu gue!"
"APAAA?"
***