Bersama Fatan

1634 Words
Azela masih tak berkutik, ia hanya diam seakan membisu. Matanya melirik ke arah cowok yang duduk di sampingnya. 'Mampus! Dia, kan, idola si Azila itu. Siapa, ya, namanya ... Satan, Titan, ah, ya itulah.' Cowok itu berdeham pelan. HP-nya disimpan. Azela sibuk menundukkan kepala agar cowok itu tak melihatnya atau mengenalnya. Azela hanya takut jika cowok di sampingnya itu ingat ialah yang mencuri sepatunya. "Kenapa nggak gabung di sana?" tanya cowok itu tanpa menatap Azela. "Gak penting," jawab Azela singkat—masih menundukkan kepalanya. "Masih ada ternyata cewek yang nggak suka acara begituan," ucapnya pelan yang masih dapat didengar oleh Azela. "Nama lo siapa?" tanya cowok itu membuat Azela semakin mati kutu. Lebih parah lagi, ia mengulurkan tangannya pada Azela. Gadis itu tampak ragu membalas uluran tangannya. "Gue Fatan. Nama lo siapa?" Azela berpikir keras, tiba-tiba satu nama terlintas di kepalanya. Ia pun segera menjabat tangan Fatan. "Nama gue Azila," jawabnya menoleh ke arah Fatan menatap cowok itu. Azela terpaksa mengaku bernama Azila, karena ia tahu jika saudari kembarnya itu sangat menyukai Fatan. Jadi, setidaknya cowok itu menganggap sedang bersama Azila saat ini. Apalagi penampilan Azela mendukung. "Sebentar ... Azila? Benarkah?" tanya Fatan. Bisa-bisanya ia tak mengenali cewek yang menjadi cewek impiannya itu sejak tadi. "I--iya." "Azila ... Azila. Kita, kan, udah kenalam sebelumnya. Kamu masih nggak mengenalku?" "Eum--anu ... mmm." Azela jadi semakin gugup, tak tahu harus beralibi apa. "Anu, cahayanya, kan, remang-remang. Jadi, gu--aku nggak lihat tadi, Fat--eh Kak Fatan." Azela harus lebih hati-hati berbicara, karena pandangan Fatan pastinya pada Azila. "Haha, oke-oke. Kamu masih ingat aku, kan? Dulu kita sering bertemu." Azela mengerutkan keningnya. Sejak kapan? Bukannya Azila mengatakan ia bertemu baru dua kali dengan cowok itu? "Eh, i--iya. Ingat, dong," jawab Azela sok asyik. "Sebenarnya aku udah lama cari-cari kamu, Azila." Azela kembali mengerutkan keningnya. Apa cowok itu tidak salah orang? Jika memang Azila sudah lama bertemu dengan Fatan, mungkin telinga Azela sudah panas daridulunya karena cerita kembarannya itu. "Ingat, gak? Waktu di taman, itu pertemuan pertama kita." Azela tak tahu harus menjawab apa. Namun, kenangannya waktu kecil bertemu dengan seorang laki-laki yang tengah jatuh dari sepeda langsung melintas di pikiran Azela. Gadis itu melirik Fatan singkat. Tidak ... tidak mungkin juga jika Fatan cowok yang ia tolong dulu. Ah, Azela terlalu jauh melamun. "Zil?" "Eh, iya, gimana tadi?" "Kamu nggak ingat, ya?" "Eh, emm. Ingat, kok, ingat. Yah ... waktu itu. Jadi, cowok itu Kak Fatan?" tanya Azela mencoba berposisi menjadi Azila. "Iya, Zil. Akhirnya kamu ingat." Fatan tiba-tiba menggenggam tangan Azela membuat gadis itu menegang. "Zila ... aku sebenarnya ...." Fatan menatap mata gadis itu dalam. "Suka sama kamu." Mata Azela melotot lebar. Oh, tidak! Bagaimana bisa Fatan menembak Azila tetapi saat ialah yang menjadi saudari kembarannya itu. Bisa gawat ini! Azila, kan, tidak tahu apa-apa soal ini. "Zil?" "Hm? I--iya." Azela menunduk, tidak tahu harus apa. Ia menggesek-gesekkan high heelsnya ke tanah. "YAA. PERBUTAN NOMOR ANTRIAN SELESAI!" Teriakan MC di atas panggung sana mencairkan suasana yang tadi sangat menegangkan bagi Azela. "Kamu nggak suka denganku, ya?" tanya Fatan dengan nada kecewa, dengan cepat Azela menggeleng. "Bukan, bukan begitu. Ak--aku hanya tidak tahu harus menjawab apa. Apalagi Kak Fatan seorang Publik Figur," jawab Azela. Fatan menghela napas pelan. "Ya, aku juga nggak akan mengajakmu pacaran sekarang, karena belum saatnya. Aku hanya mengutarakan perasaanku yang selama sepuluh tahun ini kupendam." Azela melotot. Sepuluh tahun? Lama sekali. Di mana Fatan mengenal Azila? "Iya, Kak. Terima kasih." "Kalau perasaan kamu gimana, Azila?" Azela terdiam. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. *** Di samping itu, Azila sangat bahagia karena Hannan berhasil mendapatkan perebutan nomor antrian. Ia mendapatkan nomor tujuh. "Eh, iya. Kita mau nampilin apa, ya?" tanya Azila bingung. Gadis itu menoleh menatap Hannan. "Gue cuma bisa ngedance," ucapnya yang membuat Hannan diam. "Ya udah, dance bareng aja," ucap Hannan yang membuat mata Azila melebar. "Emang Hannan bisa ngedance?" "Sedikit." "Ya udah, ayo, sini gue ajarin!" ucap Azila menarik tangan Hannan untuk berdiri. "Jadi, pertama ... Hannan harus berdiri tegap gini dulu. Terus ... tangannya gini, kakinya diam aja dulu. Nah, terus kakinya maju ke depan satu ...." Azila pun asyik mengajari Hannan, sedangkan cowok itu sibuk menatap Azila yang tampak sangat cantik jika dilihat dari dekat seperti ini. "Nah, tangannya diputar sedikit gini, Nan. Tatapannya tetap ke depan, ya." "Cantik." Azila tiba-tiba menegang. Ia pun terdiam beberapa detik. "Hah, Hannan ngomong apa?" tanya Azila berpura-pura tidak dengar saja. "Hm, ng--nggak ada. Terus ... ini gimana lagi?" Hannan jadi salah tingkah. Azila pun tersenyum kecil dibuatnya. "Udah, itu aja, Hannan. Jadi tinggal Hannan ulang-ulang aja gerakannya." "Oh, u--udah, ya? Oke." "Jangan gerogi ya, Hannan. Santai aja," ucap Azila lalu tersenyum. Ia pun menarik tangan Hannan, lalu menggenggamnya. "Semangat," ucap Azila menyemangati. Hannan pun tersenyum, melihat senyuman Azila saja sudah menjadi motivasi terbaik untuknya. *** Azela tak menjawab pertanyaan Fatan tadi, ia memilih diam membuat suasana menjadi canggung di antara mereka. "Eum ... maaf, Kak. Aku masih belum tau tentang perasaanku. Kadang perasaan suka itu bisa berubah, kan? So, untuk sekarang aku gak tau harus menjawab apa," jelas Azela mencari alibi yang pas. "Hm ... ya, ya, aku tau, kok. Bertemu denganmu kembali saja sudah cukup." Azela lalu menatap ke arah panggung sana, tampak acara penampilan with pasangan sudah mulai. Azela penasaran, apakah Azila juga akan ikut? Ya, tentu saja. "Oh, iya. Kak Fatan diundang juga, ya, ke sini?" tanya Azela mencoba mengalihkan pembicaraan. "Iya. Sebenarnya temanku yang ngajak ke sini. Dia udah sibuk sama ceweknya di sana." "Eh, ya. Emangnya orang-orang nggak ngeh kalau Kak Fatan datang?" Fatan lalu memperlihatkan masker yang tergantung di dagunya. Azela juga menatap kacamata hitam bertengger di kepala cowok itu. Memang susah ternyata jadi artis. Sebenarnya Fatan sedikit aneh. Bukannya Azila ini salah satu fans-nya, tetapi kenapa sekarang ia tampak biasa saja? Bahkan di saat ada kesempatan berdua seperti ini, ia sama sekali tak menanyakan suatu hal atau bahkan meminta foto bareng dengannya. Keanehan itu dirasakan oleh Fatan sejak tadi. Namun, ada perasaan aneh pula yang tergambar di hatinya sekarang. Azila yang ia temukan malam ini tampak berbeda, dari cara berbicaranya, tatapannya, dan tingkahnya. Tak bisa dipungkiri jika Fatan lebih terasa nyaman dengan Azila yang ditemukannya malam ini. Berbeda dengan Azila yang ia temukan saat di toko bunga dan tadi siang di atas panggung. Ah, apakah perasaan Fatan saja? Oh, ayolah Fatan! Orang yang mengaku sebagai Azila ini adalah sebenarnya gadis impian yang kau cari, yaitu Azela! "Azila, kamu tinggal di mana? Nanti pulang mau kuantar?" "Eh, nggak usah, Kak!" jawab Azela cepat. "Kenapa?" Fatan mengernyitkan keningnya heran. Kenapa gadis itu tampak tak ingin sekali ia antar? "Eum ... anu, itu ... papaku jemput, nah iya! Papaku nanti jemput, jadi nggak usah repot-repot." "Oh, oke." Fatan lalu mengeluarkan HP-nya. "Selvie, yuk!" ajak Fatan mengarahkan kameranya ke depan. "Eh, nggak usah, Kak! Gak usah," tolak Azela cepat sembari menutup mukanya. Melihat itu Fatan terkekeh singkat. "Kamu kenapa, sih?" tanya Fatan diiringi kekehanya. "A--aku nggak suka foto," jawab Azela. "Oh, gitu. O--oke." Fatan kembali menyimpan HP-nya. Sangat aneh. "Mmm ... maaf, ya, Kak." "Nggak pa-pa, kok." Jarang-jarang seorang Fatan meminta foto, tetapi malah ditolak. Benar-benar gadis yang langka, bagaimana Fatan tak suka. Tiba-tiba telepon Azela berdering. Ia pun segera bangkit. "Kak, aku angkat telepon dulu, ya." "Iya, silakan." Azela pun sedikit menjauh, lalu mengangkat telepon. "Halo?" "Lo di mana, Zel? Sebentar lagi si Azila tampil, tuh. Lo nggak mau lihat?" tanya Reyhan. "Eh, dia ikutan?" "Iya, sama si Hannan. Termasuk gue, sih, tapi gue tadi udah selesai." "Oh, ya ... gimana, ya. Gue di sini, bilang aja gue lihat kok dari jauh." "Oke-oke. Tapi lo jangan ke mana-mana, Zel. Emang lo nggak takut?" "Sejak kapan gue penakut?" "Haha, iya, deh, Mbak Preman. Ya udah, gue matiin dulu, ya, teleponnya." Azela mengembuskan napas pelan. Ia pun kembali duduk di samping Fatan. Tampak cowok itu sedang memainkan HP-nya. "Zila, ini acaranya sampai jam berapa, ya?" tanya Fatan. "Kayaknya sampai jam dua belas, Kak." "Masih satu setengah jam lagi, ya." "Iya." "Sembari nunggu acara kelar, kamu mau nemenin aku, nggak?" tanya Hannan. "Hah, ke mana?" "Aku lupa jika sekarang temanku ulang tahun dan dia udah undang satu minggu yang lalu. Kamu mau nggak nemenin ke sana? Tempatnya juga nggak jauh dari sini." Jantung Azela tiba-tiba berdegup kencang. Jalan bersama seorang cowok? Sungguh Azela belum pernah merasakan dan lihat seberapa canggungnya ia sekarang. "Kalau aku datang sendirian, pasti mereka akan meledekku abis-abisan," ucap Fatan. Apa maksud tersirat cowok itu? Sungguh Azela tak mengerti. "Kamu mau, kan, nemenin aku, sekaligus jadi my parthner?" "Hah?" Azela semakin menegang. Ia tak terbiasa dan rasanya sangat aneh. Seorang Azela akan menjadi pasangan seorang cowok dan datang ke pesta bersama? Oh, tidak. Membayangkannya saja sudah menbuat perasaan Azela tak karuan. Ia tak pernah menyukai atau mencintai seorang cowok sebelumnya. Bukannya Azela tak normal, tetapi menurutnya masalah perasaan terlalu ribet. "Kalau kamu nggak mau, ya udah nggak pa-pa, kok." Terdengar nada kecewa. Azela jadi tak enak pula. 'Yuk, Zel, posisikan diri lo sebagai Azila. Bukannya kalau lo semakin dekat dengan Fatan, maka Azila akan bahagia, karena Fatan menganggap sedang dekat dengan Azila? Oh, ayolah, demi Azila!' batin Azela berkecamuk. "Iya, Kak, aku mau, kok," ucap Azela akhirnya membuat Fatan tersenyum. Sebenarnya ia tak datang ke acara itu pun tak masalah, tetapi kapan lagi, kan, untuk sedikit modus dengan gadis impiannya? Itulah tujuan Fatan sesungguhnya. "Tapi ... ada syaratnya," ucap Azela tiba-tiba. "Syarat, apa?" "Kak Fatan jangan kenalin aku ke publik, ya. Aku belum siap." "Ya, tenang aja. Tidak akan ada infotaiment, kok." "O--oke." "Ya udah, yuk!" Fatan lalu bangkit dan mengulurkan tangannya di hadapan Azela, dengan ragu gadis itu menerima uluran tangan cowok itu dan menggenggamnya. Mereka pun berjalan ke arah parkiran dengan tangan yang masih bergandengan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD