Azila with Hannan

1186 Words
"Selanjutnya ... penampilan Azila dan Hannan, dipersilakan!" Tepukan meriah penonton pun menyambut. Azila mengembuskan napas pelan, lalu berjalan memasuki panggung bersama Hannan. Musik dance pun dibunyikan. Azila mengambil posisi di depan, lalu melompat pelan. Gerakan awal membuat riuh tepukan tangan penonton. Azila lalu menggandengan tangan Hannan, mereka pun beradu dance, melenggokkan badan ke kanan dan kiri menyesuaikan irama. Tungkai kaki Azila tampak lincah menguasai panggung. Hannan memegang tangan Azila, lalu gadis itu memutar badannya dan terjatuh di pangkuan Hannan. Adegan itu membuat teriakan riuh penonton menggelegar. Saat masih di pangkuan Hannan, entah kenapa waktu terasa berhenti. Azila menatap mata cokelat Hannan yang indah dengan bulu mata lentiknya. Jantung Azila berdebar kencang. Tiba-tiba bibirnya membentuk senyuman membuat Hannan tak berkedip, betapa manisnya senyum itu. Azila tersadar, karena sudah terlalu lama melamun. Ia pun segera bangkit dan melanjutkan gerakannya. Hannan pun jadi salah tingkah. *** Di samping itu, Azela hanya diam menatap keluar kaca mobil. Ia merasa canggung, karena sebelumnya tak pernah satu mobil dengan cowok selain Reyhan dan Agil. Apalagi sekarang ia berada di mobil seorang artis yang lagi naik-naik daunnya. 'Gue kenapa jadi kayak cewek banget, sih!' batin Azela, karena daritadi harus berperan sebagai Azila. "Tempatnya di mana? Masih jauhkah?" tanya Azela, entah perasaannya saja jalan mobil ini sangat lambat, makanya terasa lama. "Dekat lagi, kok." Sejak tadi Fatan tak berhenti-hentinya menatap ke arah gadis di sampingnya. Azela jadi tahu bagaimana sifat cowok itu ketika bersama orang yang ia sukai. Tampak bucin. Ya! Seorang Fatan yang terkenal dingin di dunia Entertaiment, ternyata sangatlah terbalik. Apa Fatan seperti ini hanya pada orang-orang yang ia cintai? Mobil berhenti. Fatan pun membuka sabuk pengamannya. Azela pun mengikuti. Sebelum itu, Fatan lebih dulu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Azela. Tangan Fatan terulur untuk membantu gadis itu keluar. Azela jadi segan jika tak menerima uluran tangannya. Akan tetapi, saat keluar dari mobil tiba-tiba kakinya terseleo—karena lupa sedang memakai high heels. Ia pun hampir saja terjatuh, jika bukan Fatan yang menahan tubuhnya. Cowok itu meneguk salivanya susah, karena mukanya yang sangat berdekatan dengan muka gadis di hadapannya. Fatan tak bisa mengalihkan perhatiannya beberapa detik, karena terfokus menatap wajah cantik itu. "Eh--ma ... maaf, Kak." Azela segera bangkit. Ia menyeimbangkan badannya agar tak terjatuh lagi. "Kamu nggak pa-pa?" tanya Fatan khawatir. "Nggak pa-pa, kok, Kak. Cuma keseleo dikit, karena gak terbiasa pake heels." "Tapi kamu bisa jalan, kan? Atau mau diurut dulu?" "Eh, nggak usah, Kak. Udah nggak pa-pa, kok. Ini cuma nyeri dikit, bentar lagi juga pulih. "Tapi kalau--" "Nggak pa-pa, Kak." Azela memegang pundak Fatan, meyakinkan. Fatan menatap tangan gadis itu di pundaknya. "Eh, so--sorry." Azela segera melepaskan tangannya. Sungguh, ia memang terbiasa memegang, merangkul pundak cowok, karena kedua sahabatnya adalah laki-laki. Azela bukan bermaksud lain. "Ya udah, masuk, yuk!" ajak Fatan, diangguki oleh Azela. *** "Lo keren banget, Zila, gue langsung mundur, deh, kalau lawan lo," puji Reyhan membuat Azila tersenyum. "Ah, Reyhan tadi juga bagus, kok, penampilan gitarnya." "Tapi lo lebih keren, Zila." "Ahaha, Reyhan bisa aja. Eh, ya, btw ... Azel ke mana, ya? Kok nggak keliatan daritadi?" tanya Azila sembari celingak-celinguk. "Tadi udah gue telepon, katanya bakal liatin lo tampil dari jauh. Mungkin ada di ujung sana." "Tapi, kok ... Azel nggak samperin gue, ya?" lirih Azila. Ia sedih tak melihat kembarannya itu setelah ia tampil. Apa Azela tak melihat penampilannya? "Mungkin dia lagi makan, Zila. Biasalah, tuh, anak kan suka nyemil malam-malam," ucap Reyhan agar Azila tak merasa sedih. "Hmm ... yakali, ya. Ya udah, deh, Rey. Gue ke sana dulu ya sama Hannan. Nanti kalau ada kabar tentang Azel, bilang, ya." "Oh, ya, kenapa lo nggak telepon Azela aja?" "HP gue ketinggalan di mobil, hehe." "Oh, ya, oke!" "Makasih, Rey." "Sama-sama, Zila." Azila lalu menggandengn Hannan yang sejak tadi diam saja. Cowok itu tampak tak suka jika Azila berbicara dengan cowok lain. *** Kenapa Azela jadi terdampar di acara ini? Bersama seorang Fatan pula. Ah, hari ini benar-benar sangat random bagi Azela. Entah dorongan apa yang membuat ia mau saja menuruti apa kata Fatan. "Hai, Bro. Akhirnya lo datang juga!" sapa Zidan. "Hai. Happy Birthday, ya!" ucap Fatan, lalu berpelukan ala laki-laki dengan Zidan. "Thanks, Bro." "Sorry, nih, gue nggak bawain kado, karena tadi mendadak aja ke sini." "Ah, santai, Bro. Lo dateng aja udah cukup. Eh, btw ... tuh, siapa? Pacar lo, ya?" goda Zidan membuat Fatan salah tingkah. Azela memilih diam. Ia menatap sekitar, melihat tidak adakan kamera yang akan me-paparazi dirinya. "Ah, biasalah," jawab Fatan mengelak. "Oh, ya. Silakan, Bro. Makan dulu sana." "Iya, thanks." "Gue ke sana dulu ya, Bro. Enjoy!" Zidan pun pamit undur diri. Fatan mengangguk singkat. Ia pun menggandengan tangan Azela dan berjalan ke tempat hidangan makanan. Sejak tadi Azela merasa heran. Kenapa orang-orang tampak biasa saja melihat Fatan, bukannya jika bertemu artis, mereka akan berebut memint foto atau semacamnya? "Hei, kenapa?" tanya Fatan membuyarkan lamunan Azela. "Eum, nggak. Aku hanya heran. Kok mereka natap Kak Fatan biasa aja? Atau udah sering ketemu, ya?" "Kamu nggak tau? Semua yang hadir di sini, artis." Mata Azela melebar. Benarkah? Ah, ini mungkin karena dirinya jarang menonton TV. Coba saja memang benar Azila yang datang ke sini, pasti saudari kembarnya itu mengenali semua orang di sini. Azela jadi tak enak, karena sudah mengambil kesempatan Azila. "Dimakan, Zila, kok ngelamun?" "Eh ... eum, iya, Kak." Azela mencoba makan dengan seanggun mungkin, bisa hancur image-nya, jika makan seperti biasanya. Malam ini Azela benar-benar harus bertolak belakang dengan dirinya sendiri. Zidan kembali menghampiri Fatan. Kali ini ia bersama seorang cewek cantik dalam gandengannya. "Bro, panggung nganggur, tuh. Lo nggak mau ngisi? Ayolah!" suruh Zidan menaik-turunkan alisnya. "Gue mau, tapi kalau cewek gue juga naik ke atas panggung," jawab Fatan, membuat Azela melototkan matanya. "Ya gak pa-palah, kalau lo mau ajakin cewek lo sekalian. Sok atuh!" paksa Zidan. "Kita juga dah lama nggak denger suara lo. Iya nggak, Sayang?" tanya Zidan meminta persetujuan pacarnya. "Iya, Zid," kompor Nina—pacar Zidan. Fatan menghela napas pelan, lalu menatap ke arah gadis yang dibawanya malam ini. "Gimana, mau, kan?" tanya Fatan. Azela menggigit bibir bawahnya. Ia pun menatap mata Fatan yang tampak penuh harap. Azela menarik napas dalam, lalu mengembuskannya pelan. "Oke," putusnya. Fatan tersenyum. "Oke, Bro. Nanti gue ke sana, setelah makan, ya." "Thank you, Bro! Lo emang sobat gue banget." "Anggap sebagai kado dari gue." "Haha, siap, Bro! Ya udah gue tinggal, gue tunggu, ya!" "Iya." Zidan pun kembali pergi, juga membawa Nina. "Aku cuma berdiri doang, kan?" tanya Azela. "Kamu nggak bisa nyanyi?" Azela langsung menggeleng. "Ah, masa, sih? Pas ngomong aja suara kamu bagus, loh. Kamu pasti bisa, nanti kita duet." "Hah?" "Bukannya pas nge-dance tadi kamu juga ikutan nyanyi, ya? Bagus, kok, suaranya." Azela mendengkus pelan, itu mah bukan dia, melainkan Azila yang sebenarnya. "Tapi aku ...." "Dicoba aja dulu. Di sini semuanya santai, kok. Nggak ada orang yang aneh." "Kalau ada yang paparazi-in gimana?" "Nggak akan. Kurang kerjaan banget artis ambil paparazi artis lainnya. Kamu nggak lupa, kan, aku siapa dan orang-orang di sini juga siapa?" Azela kembali mendengkus, sombong sekali dia. "Iya, Kak." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD