Kulit Pisang

1039 Words
"Gue cuma diskors doang, kok," ucap Azela santai. "DISKORS?" pekik Azila. Ia pun kembali menangis membuat Azela dan Hannan panik. "Zila, udah, jangan nangis lagi," ucap Azela menenangkan. "Nggak bisa, hiks ... ini semua salah Zila! Azel jadi diskors karena Zila!" Azela menatap Hannan meminta pertolongan agar membujuk kembarannya itu. Namun, Hannan pun bingung, tidak tahu bagaimana caranya. "Udah, nggak pa-pa, Zil. Cuma dua minggu, kok, gue kan bisa belajar di rumah sama lo entar." "Iya, Zil. Lo jangan sedih lagi, ya." Azila pun perlahan meredakan tangisannya dan mengangguk pelan. Ia pun kembali memeluk Azela yang dibalas langsung oleh kembarannya itu. "Oh, ya, Zel. Kan sekarang udah ada lo, gue balik ke kelas, ya," kata Hannan. "Oke. Thank you, Nan." "Sama-sama." Hannan pun berlalu dari situ. Azela tiba-tiba tersenyum menggoda Azila. "Cie ... tadi yang berduaan sama Hannan," goda Azela membuat pipi Azila bersemu. "Ish, apaan, sih. Tadi kan dia cuma ngobatin." "Kayaknya waktu kelas sepuluh ada yang curhat suka sama Hannan, deh, siapa, ya ...." Azela semakin menggoda Azila membuat gadis itu semakin salah tingkah. "Itu, kan, dulu. Sekarang gue sukanya sama Kak Fatan seorang," ucap Azila tersenyum membayangkan pertemuannya dengan Fatan kemarin. "Huft, Fatan ... Fatan. Fatan terus. Kayak nggak ada cowok lain aja, deh." "Zel. Cuma lo yang nggak nge-fans sama Kak Fatan di sekolah ini tau." "Masa?" "Iya." "Ya udah. Gue emang nggak akan pernah suka sama yang gitu-gituan." Azila mendengkus pelan. Selama ini Azila tak pernah melihat kembarannya itu dekat dengan seorang cowok, bahkan berkata jika ia menyukai seseorang saja belum pernah. Apakah Azela tidak tertarik dengan cowok? Ah, tidak mungkin. "Gimana lutut lo? Bisa jalan, nggak?" "Udah bisa, kok. Eh, tapi ... nggak bisa nge-dance dong!" teriak Azila lagi. "Bisa itu pasti bisa. Acaranya, kan, dua hari lagi. Besok pasti lo udah sembuh," ucap Azela. "Iya, Zel." *** Sepulang sekolah. Azela menunggu Reyhan dan Agil di parkiran. Seperti yang mereka janjikan tadi pagi, bahwa kedua sahabat Azela itu akan menemaninya ke kampus. "Sorry telat, Zel." "Iya, Zel. Tadi kita piket dulu." "Iya-iya. Nggak pa-pa. Ya udah, yuk, langsung meluncur!" Reyhan dan Agil lalu mengeluarkan motornya dari parkiran. Azela lalu memilih menaiki motor Agil. Setelah itu motor mereka pun melaju meninggalkan perkarangan sekolah. "Lihat, tuh, cewek jadi-jadian malah pergi sama mantan gue! Coba aja dia nggak deket-deket sama Agil. Kita nggak akan putus!" ucap Reha menatap kesal. "Tapi si Azela itu, kan, sahabat Agil dari kecil, Re. Sebelum Agil ketemu lo dia udah akrab duluan sama Azela," ujar Fina yang malah memojokkan Reha. "Pinaaa!" "Hadir!" "Lo bisa nggak, sih, sekali aja dukung gue," kesal Reha, lalu pergi dari situ. Fina menggaruk kepalanya bingung. Gadis polos itu pun menyusul Reha yang udah pergi duluan. *** "Nah, ini, nih, kampusnya!" ucap Azela turun dari motor menatap gedung tinggi di hadapannya. Universitas Mandiri Bangsa masih satu yayasan dengan SMA Mandiri Bangsa, tetapi tempatnya yang sedikit jauh daripada SMA-SMP-SD-nya yang berdekatan. "Eh, tapi, kita boleh masuk, nggak, nih?" tanya Reyhan. "Siapa yang ngelarang?" "Tapi, kan, kita bukan mahasiswa, Zel." "Nggak pa-pa." Tiba-tiba seorang satpam menghampiri mereka. Agil menatap Reyhan, tidak yakin jika bisa masuk. Azela lalu melangkah mendekati satpam itu, biar ia yang turun tangan. "Saya anaknya Daniel Afrianta." Hanya kalimat itu yang dilontarkan oleh Azela membuat satpam itu mempersilakan mereka masuk. Agil dan Reyhan mengernyit heran, lebih baik mereka mengikuti Azela saja. Azela dibuat pusing, karena banyaknya mahasiswa yang berlalu-lalang. Sesungguhnya Azela tidak tahu bagaimana muka orang yang tengah ia cari, tetapi mengetahui di mana tempat seseorang itu berkuliah saja Azela sudah puas. Azela lalu mengeluarkan HP-nya, memotret gedung di hadapannya, lalu mengirim kepada nomor seseorang di salah satu kontaknya. Tak lama kemudian tampak balasan dari orang itu membuat Azela terkekeh. Reyhan dan Agil kembali menatap satu sama lain, sama-sama dibuat heran. [Untuk apa kamu ke kampus anak saya!] Azela pun membalas, ia mengetikkan pesan di layar ponselnya. || Menurut Anda?|| Azela semakin terkekeh. Membuat seseorang di seberang sana greget. "Makanya jangan bermain-main dengan saya," ucap Azela pelan. "Zel," panggil Reyhan. "Hm?" "Terus, sekarang, gimana? Lo udah ketemu sama orang yang lo cari?" "Belum, tapi nggak masalah. Ini aja udah cukup, kok." "Ya udah. Terus kita sekarang mau ke mana?" Azela menatap ke atas. Ia penasaran setinggi apa gedung ini. "Ke atas, yuk!" ajaknya. Azela pun menaiki tangga, Reyhan dan Agil memilih mengikuti saja. Penat menaiki tangga, akhirnya Azela berada di lantai paling atas. Ternyata ini adalah roftop. Azela tersenyum memandang ke sekeliling. Angin dengan sengaja menerpa wajahnya yang menerbangkan anak rambut Azela. "Lo makan sendiri aja, minta, dong!" ucap Reyhan meminta pisang yang dimakan oleh Agil. "Eh, ini pisang gue," protes Agil, saat Reyhan akan merebut pisang itu darinya. Azela menoleh ke belakang, menatap sahabatnya yang sedang memperebutkan pisang membuat Azela pun ikut berebutan. Akhirnya, kedua cowok itu mengalah, karena Azela-lah yang mendapatkan pisang itu. Azela berjalan ke ujung, ia pun membuka kulit pisang dan memakannya. Setelah habis, tangan Azela dengan santainya mencampakkan kulit pisang itu ke bawah. Kulit pisang itu mendarat dengan sempurna di atas kepala seseorang yang sedang berada di lantai bawah. Pria itu terkejut atas kehadiran sesuatu yang menimpa kepalanya secara tiba-tiba. Pria itu pun lalu mengambilnya, yang ternyata adalah kulit pisang. Ia pun segera membuangnya ke bawah. Pria yang tak lain adalah Fatan menggeram kesal. Ia pun menatap ke atas, darimana kulit pisang itu berasal. Ia melihat ada seorang gadis yang sedang berdiri di atas sembari menatapnya. "WOY!" teriak Fatan. Gadis itu pun segera beranjak dari situ. "Eh, mau lari ke mana lo?" teriak Fatan yang hendak mengejar gadis itu, tetapi tiba-tiba ia terpeleset karena menginjak kulit pisang tadi. Kejadian memalukan itu disaksikan oleh teman-teman Fatan, bahkan mereka tak segan menertawakan seorang artis yang sudah famous itu. "Ah, dasar gadis pisang!" kesal Fatan. *** "Zel, Zel, kenapa, sih? Kok lo ajak kita sembunyi?" tanya Agil heran. "Ssst, diam. Kita kudu sembunyi. Ada moster," ucap Azela menyuruh kedua sahabatnya itu diam. "Monster?" tanya Reyhan. "Iya. Kita harus pergi secepatnya dari sini!" ucap Azela. Ia menatap sekitar, memastikan keadaan sudah aman. Setelah itu, barulan mereka beranjak dari situ dan pulang. Andai kedua insan itu tahu, jika mereka telah dipertemukan kembali setelah tujuh tahun berlalu, walaupun pertemuannya tak semanis pertemuan pertama. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD