Azela tersenyum menatap dua orang di hadapannya sekarang. Mereka adalah Agil dan Reyhan. Sahabat Azela saat senang maupun susah. Mereka sudah bersahabat sejak kecil.
"Gil, thanks, ya, semua datanya."
"Yoi, santai."
"Nanti mau nggak temenin gue ke kampus. Gue mau cari anak si onoh," ucap Azela.
"Kampus mana?" tanya Reyhan.
"Maju Bangsa. Mau, nggak?"
"Iya, mau," jawab Reyhan dan Agil bersamaan.
"Nah, gitu, dong. Nanti pulang sekolah gue tunggu di parkiran, oke?"
"Oke."
Azela mengulurkan tangannya untuk bertos bersama mereka. Setelah itu, ia pun pergi dari sana, kembali ke kelas. Mereka memang tidak satu kelas, tetapi masih satu sekolah. Padahal kelas sepuluh dan sebelas mereka sekelas, tetapi ketika naik kelas dua belas mereka berpisah. Tidak masalah bagi Azela, karena ia masih sekelas dengan kembarannya. Jadi, Azela bisa mengawasi Azila jika terjadi apa-apa.
***
Pagi ini Azila sudah membuat satu kelas heboh karena ceritanya. Azila menceritakan jika ia kemarin bertemu dengan Fatan—idola mereka. Siapa yang tidak mengenal Fatan? Seorang selebgram dan juga keponakan dari artis papan atas. Audi seorang designer dan musisi. Sekarang, kariernya itu disusul oleh Fatan yang mulai bermain film dan juga penyanyi. Followers Fatan di i********: sudah mencapai 7 juta pengikut.
"Beneran? Lo nggak ngarang, kan?" tanya Alexa masih tak percaya.
"Ish, gue serius! Kemarin kita juga sempat kenala. Aaaa, bahagia banget gue!" teriak Azila membuat semua kaum hawa di kelas iri.
"Eh, lo foto bareng, nggak?"
"Minta tanda tangannya, nggak?"
"Dia aslinya gimana? Ganteng, nggak? Bukan ganteng karena filter, kan?"
"Lo nanyain single terbarunya, nggak?"
Azila mengangkat tangannya, karena ditodong berbagai pertanyaan. "Nggak sempat!" teriak Azila.
"Yah," ucap semuanya.
Azela yang baru memasuki kelas tentu saja heran, karena sudah ada lingkaran yang mengelilingi kembarannya. Apa yang sedang mereka bicarakan?
"Woy. Udah-udah, sana! Gue mau duduk," usir Azela yang membuat semuanya mencibir kesal.
"Yah, Zel. Gue, kan, lagi cerita!" Azila mendengkus kesal.
"Bentar lagi bel. Jangan gosip mulu!"
"Ish, nggak asyik, ah, Azel!"
Tak lama kemudian bel berkumandang, menandakan pembelajaran segera dimulai. Bu Retno langsung masuk kelas 12 A itu.
"Selamat pagi, Anak-anak."
"Pagi, Bu."
"Sebelum memulai pembelajaran, silakan kumpulkan tugas terlebih dahulu, ya!" ucap Bu Retno duduk di kursinya.
Azila memucat di depan. Ia memeriksa sekali lagi tasnya, mencari buku tugas yang seingatnya sudah dimasukkan ke dalam tas.
"Kenapa?" tanya Azela melihat Azila panik.
"Bu--buku gue ketinggalan," ucap Azila menggigit kelingkingnya. Azila menatap Bu Retno di depan yang tampak sangar. Bu Retno memang termasuk guru paling galak di SMA Maju Bangsa.
"Duh, gimana, dong. Gue takut Bu Retno marah," ucap Azila.
Di balik kepanikkan Azila. Ternyata Azela sedang mengganti sampul bukunya. Setelah itu, ia bangkit dan mengumpulkan buku di atas meja Bu Retno.
Azila masih ketakutan dan semakin menggigit kelingkingnya.
"Ayo, segera kumpulkan! Jangan ada yang menyalin tugas temannya dulu di belakang, ya!" seru Bu Retno.
"Pada hitungan ke sepuluh, tugasnya tidak akan Ibu terima lagi. Satu ... dua ... tiga ... empat ...."
"Duh, gimana, dong," ucap Azila semakin panik. Sedangkan Azela tampak duduk tenang.
"Tujuh ... delapan ... sembilan ... sepuluh. Stop!"
Bu Retno lalu menghitung buku yang sudah terkumpul di mejanya. Ada dua puluh tiga buku, sedangkan muridnya berjumlah dua puluh empat orang.
"Ada satu orang yang tidak mengumpulkan tugas!" bentak Bu Retno.
Azila sudah menggigil. Tangannya gemetar, bibirnya memucat.
"Siapa orangnya? Lebih baik mengaku sekarang, sebelum Ibu tunjuk!" ucap Bu Retno.
Azila pun bergerak akan berdiri. Namun, tangan Azela tiba-tiba mendorongnya untuk kembali duduk. Azela lalu berdiri sembari mengangkat tangannya.
"Saya tidak mengumpulkan tugas, Bu!" ucap Azela mengangkat tangannya.
"AZELA. Selain hobi berantem. Kamu juga pemalas dan tidak disiplin!" bentak Bu Retno membuat seisi kelas merinding.
Azila dibuat kebingungan. Kenapa malah Azela yang mengaku tidak mengumpulkan tugas?
"Zel, kan, gu--"
"Udah, lo diam aja," bisik Azela pelan.
"Kamu contoh, dong, kembaran kamu si Azila. Sudahlah anaknya pintar, berprestasi, sopan, ramah, baik lagi." Bu Retno malah membanding-bandingkan Azela dengan saudari kembarnya.
"Iya, Bu. Azila memang lebih baik dari saya. Sekarang, katakan saja, apa hukuman untuk saya?"
"Pergi ke lapangan. Hormat pada tiang bendera sampai jam istirahat!" suruh Bu Retno.
"Baik, Bu."
"Zel," lirih Azila memegang tangan Azela.
"Gue nggak pa-pa," ucap Azela melepaskan tangan Azila, lalu segera keluar kelas.
Azela menuju lapangan dan berdiri di depan tiang bendera. Terik matahari pagi sangat menyengat. Namun, tidak masalah bagi Azela. Setidaknya bukan Azila yang berdiri di sini sekarang.
***
Bel istirahat berkumandang. Azila mengambil botol air minumnya, lalu segera berlari keluar kelas menuju lapangan. Azila yakin, Azela sudah kepanasan dan kehausan. Azila selalu membawa air minum sebagai bekalnya.
Azela menghela napas lega, ia pun menurunkan tangannya. Dua jam sudah ia berdiri di sini. Peluh membanjiri pelipis dan sekujur badannya.
Azela lalu berjalan ke tempat duduk yang ada di tepi sana. Ia lalu menyelonjorkan kakinya yang sudah keram, karena berdiri terlalu lama.
"Azel!" teriak Azila dari kejauhan seraya membawakan sebotol air minum untuk Azela. Gadis itu tampak bersemangat hendak menghampiri Azela. Namun, mata Azela menatap sebuah kaki yang dengan sengaja diulurkan untuk menghalangi Azila.
"Azila. BERHENTI!" teriak Azela. Namun, terlambat. Tungkai kaki seseorang itu sudah membuat Azila terjatuh. Buru-buru tanpa mengiraukan letih badannya, Azela mengampiri Azila.
BUGH!
Satu tinjuan Azela berhasil mendarat di pipi pria itu. Ia adalah Zaki. Pria yang telah membuat Azila terjatuh, karena ulah kakinya yang menghalangi.
"MAKSUD LO APA?" bentak Azela menatap Zaki tajam.
Zaki mengusap pipinya yang terasa membengkak akibat Azela.
"Wes, santai, dong, cewek bar-bar," ucap Zaki.
"KENAPA? MAU GUE PUKUL LAGI?" bentak Azela yang emosinya sudah memuncak. Suara Azela sudah membuat semua orang berkumpul membuat satu lingkaran.
"Azel, udah," ucap Azila memegang kaki Azela, karena ia terduduk dengan lutut yang berdarah.
Azela menatap Azila yang meringis kesakitan dan melihat darah yang mengalir di lutur kembarannya itu membuat Azela semakin berapi-api. Tanpa pikir panjang lagi, Azela menggumpal tangannya dan melayangkan beberapa pukulan pada Zaki.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
"AZEEL. UDAAAH!" teriak Azila mencoba melerai.
Untung saja, Agil dan Reyhan datang dan langsung menarik Azela yang sudah kehilangan kendali. Zaki sudah babak belur, karena ia tak diberi kesempatan untuk membalas. Pukulan demi pukulan yang dilayangkan Azela sangat keras membuat Zaki sampai kehilangan kesadarannya.
"Zel, udah! Dia udah pingsan, Zel!" ucap Reyhan menahan badan Azela yang hendak memukuli Zaki lagi.
"ADA APA INI?" Bentakan itu membelah kerumunan. Pak Tono langsung menghentikan perkelahian. Ia pun membawa Azela ke ruang BK.
***
Azila sesegukan, mengusap air mata yang masih mengalir. Ia bukan menangis karena lututnya yang terasa perih, diobati oleh Hannan, tetapi menangisi nasib Azela yang sedang diintrogasi di ruang BK.
Hannan—ketua PMR—terkekeh melihat sikap Azila. Ya, sangat bertolak belakang dengan kembarannya, Azela.
"Udah dong, Zil. Kalau lo nangis terus, darahnya nanti nggak berhenti, loh. Mau lututnya nanti diamputasi?" ucap Hannan yang sebenarnya bercanda, tetapi malah dianggap serius oleh Azila.
"Ih, nggak mau!" rengek Azila.
"Nah, makanya jangan nangis lagi, ya," ucap Hannan mengambil tisu, lalu menghapus bercak air mata Azila.
Hannan menatap muka Azila lama, ternyata gadis manja itu sangat cantik. Berkulit putih, berhidung runcing, dan beralis tebal. Serta yang membuatnya semakin manis adalah gingsul gadis itu.
Jika ingin menemukan perbedaan Azila dan Azela dari paras muka, maka lihatlah gingsul itu, karena Azela tak mempunyai gingsul.
Tiba-tiba pintu UKS terbuka, ternyata yang masuk adalah Azela.
"AZEL!" teriak Azila kencang. Azela pun menghampiri kembarannya itu. Azila pun menghambur memeluk Azela.
"Maafin Zila, ya, ini semua salah Zila," ucap Azila lembut dengan nada lirihnya.
Hannan yang melihat itu tersenyum singkat. Sejuk sekali menatap dua gadis kembar itu.
"Gue nggak pa-pa," ucap Azela meyakinkan jika ia baik-baik saja.
"Tapi ... Azel nggak dihukum Pak Tono, kan?"
"Nggak. Tapi ...."
"Tapi apa, Zel?"
"Gue ...."
***
BERSAMBUNG
***