Sejak tadi Azila tak berhenti mengoceh, telinga Azela pun panas mendengarnya. Saudari kembarnya itu sangat cerewet.
"Zila ... gue boleh minta tolong, nggak?" tanya Azela.
"Boleh-boleh. Mau minta tolong apa Kakak Kembaran?"
"Tolong diam, sakit telinga gue denger lo ngoceh." Ucapan Azela membuat Azila mengerucutkan bibirnya.
Dering ponsel yang berasal dari dalam tas Azela langsung mencairkan suasana yang tadi mendadak hening.
"Hallo?"
"Hai, Azela Fathia," sahut seseorang dari balik telepon. Tangan Azela langsung terkepal.
"Anda siapa?" tanya Azela datar.
"Haha. Kamu tidak perlu tau saya siapa. Saya ingatkan pada kamu, ya, jangan mencari masalah dengan keluarga saya, jika tidak ... kamu akan tau akibatnya!"
Azela terkekeh sinis, Azila langsung menoleh ke arahnya dan takut mendengar kekehan itu.
"Anda pikir saya takut? Anda dan suami Anda, bahkan anak Anda pun bisa saya lenyapkan sekaligus. Lalu, ancaman siapa yang berlaku sekarang?"
Tut ... tut ... tut.
Telepon langsung terputus. Azela tersenyum miring, ia semakin tidak sabar ingin menghancurkan keluarga orang yang telah menghancurkannya dulu.
"Siapa yang nelepon?" tanya Azila mulai kepo.
"Bukan siapa-siapa," jawab Azela.
"Ah, masa, sih? Tadi kok ...."
"Pak, nanti berhenti di Super Market dulu, ya!" suruh Azela pada Pak Patman—supir pribadi Azela dan Azila.
"Baik, Non!"
"Kak," panggil Azila lagi. Namun, Azela langsung keluar mobil karena sudah sampai di Super Market.
***
Fatan memetik senar gitarnya, menciptakan sebuah alunan musik baru. Ia sangat bersemangat mengaransemen hari ini.
"Azila," ucap Fatan tersenyum membayangkan gadis itu.
"Dia makin cantik aja. Tapi ...." Fatan meletakkan gitarnya, lalu bangkit dan berjalan ke luar balkon kamar.
"Perasaan gadis impian nggak selebay itu, apa jangan-jangan dia nge-fans sama gue kali, ya, makanya responsnya gitu."
Fatan mengangguk-angguk sambil memegang dagunya.
"Fatan!" panggil suara dari balik pintu kamar Fatan. Buru-buru pria itu membukakan pintu.
"Iya, Tan?" tanya Fatan.
"Tante boleh masuk?"
"Boleh."
Audi langsung masuk dan duduk di ranjang. Ia menyuruh Fatan duduk di sampingnya.
"Ada apa, Tan?" tanya Fatan, karena Audi diam saja.
"Menurut kamu, Tante masih pantas nggak, ya, nikah lagi?"
"Tante mau nikah?"
"Bu--bukan. Tapi, ah ... Tante kan cuma nanya pendapat kamu."
"Ya gak pa-pa. Lagian Tante masih muda."
"Ah, masa iya Tante masih muda? Tahun ini tiga puluh empat loh, Sayang."
"Masih muda itu," jawab Fatan.
Fatan ingin melihat Audi memiliki pasangan hidup, agar Tantenya itu tidak kesepian, walau ada dirinya yang menemani, tetapi Audi tetap butuh suami.
Audi memiliki masa lalu yang buruk, karena suaminya lebih memilih wanita lain dan meninggalkan Audi pada saat satu minggu setelah menikah. Rumah tangga yang baru saja dibangun hancur sudah. Sejak saat itu, Audi tak berani lagi membuka hati untuk seseorang masuk. Ia pun mengambil alih untuk membesarkan Fatan, saat nenek Fatan sudah meninggal dunia.
Saat itu Audi berumur dua puluh tahun, sedangkan Fatan berumur lima tahun. Di mana orang tua Fatan? Jangan ditanyakan, karena Fatan pun tidak tahu di mana orang tuanya sekarang, mereka terlalu sibuk dengan dunia pekerjaan sehingga melupakan Fatan sebagai anak mereka.
"Fatan? Kok ngelamun?" tanya Audi mengibaskan tangannya di depan muka Fatan.
"Eh, nggak kok, Tan."
"Hayo, kamu lagi lamunin apa? Takut Tante gak sayang lagi sama kamu? Tenang aja, cinta pertama Tante itu kamu," ucap Audi yang membuat Fatan tersipu malu.
"Sini peluk!" ucap Audi merentangkan tangannya. Fatan pun langsung menghambur ke pelukan Audi. Bagi Fatan, Audi adalah wanita yang paling berharga dalam hidupnya, karena Audi sudah memberikan kasih sayang sebagai ibu maupun ayah pada Fatan.
Audi adalah adik dari Firman—ayah kandung Fatan. Namun, Audi sendiri tak mengetahui di mana keberadaan kakaknya itu.
***
"Papa!" Teriakan itu menggelegar seisi rumah. Suara nyaring Azila sangat memekakkan telinga. Namun, gadis itu tak peduli jika banyak orang yang protes karena suaranya, terpenting sekarang adalah seseorang yang ia panggil Papa di hadapannya.
"Hai, Sayang!"
Buru-buru Azila menghambur ke pelukan Daniel—papanya. Azela yang melihat itu hanya menghela napas, biasalah.
"Apa kabar, Pa? Gimana liburannya di Bali? Oleh-oleh untuk Zila mana?" Azila langsung menyerbu dengan beberapa pertanyaan.
"Ada di dalam koper, nanti Papa kasih, ya."
"Yey!"
Daniel menatap Azela yang duduk di sofa tampak sibuk dengan ponselnya, seakan-akan tak menyadari kehadiran Daniel.
"Putri Papa yang satu ini kok cuek aja? Nggak kangen sama Papa?" tanya Daniel. Azela melirik sebentar ke arah Daniel yang masih dipeluk oleh Azila.
"Kangen. Tapi Azel nggak selebay Zila, Pa," jawab Azela masih sibuk dengan ponselnya. Azila yang mendengar itu mencebik kesal.
"Pa, lihat, tuh, si Azel!" adu Azila.
"Kalian ini ... masih aja suka bertengkar."
Daniel mengajak Azila duduk si sofa. Pria berumur tiga puluh lima tahun itu duduk di samping Azela dan mengacak rambut putri sulungnya itu pelan."
"Duh, Pa. Berantakan rambut Azel," protes Azela merapikan rambutnya dan kembali mengucirnya.
"Oh, ya, Pa. Sekolah Zila ada acara reuni alumni dari tahun ke tahun gitu. Papa datang, ya! Soalnya Zila bakal nge-dance. Rugi kalau nggak Papa lihat."
"In sya Allah ya, Sayang. Kalau ada waktu pasti Papa datang."
"Yey, makasih Papa."
Daniel menatap kedua putrinya itu bergantian. Ia sangat menyangi putri kembarnya itu. Namun, bagaimana jika nanti mereka tahu bahwa Daniel bukanlah ayah kandung mereka.
***
Pagi ini, sesuai permintaan Azila tadi malam. Daniel akhirnya mengantarkan Azila dan Azela ke sekolah dahulu sebelum ke kantor.
"Makasih, Pa," ucap Azila melambaikan tangannya, sedangkan Azela hanya tersenyum singkat.
"Semangat belajarnya!" ucap Daniel. Setelah itu, ia melajukan mobil meninggalkan pekarangan SMA Maju Bangsa.
"Lo duluan aja, gue mau ke toilet," ucap Azela. Azila hanya mengangguk setuju.
Azela bukan melangkah ke toilet, melainkan ke taman belakang sekolah. Setidaknya di sini lumayan sepi, karena hari masih pagi.
"Hallo?"
"Kalian di mana?" tanya Azela to the point.
"Di belakang lo!" ucap suara yang benar terdengar jelas di belakang Azela. Gadis itu langsung membalikkan badan dan tersenyum menatap dua orang di hadapannya.
Siapakah mereka? Lalu, apa urusannya dengan Azela?