Pena Pink

1016 Words
Azila membaringkan badannya di kasur. Ia jadi malas untuk membuka HP, karena gosip tentang Fatan berpacaran dengan Zea saja yang muncul di sosial medianya. Azila benar-benar tidak suka. Akan tetapi, ia tak memiliki hak juga. Azila ingin mencari kegiatan lain, agar tangannya tak hanya memainkan HP. Mata Azila melirik ke arah meja belajarnya. Apakah ia belajar saja? Azila berjalan mendekati meja belajarnya itu, lalu duduk di sana. Tangannya pun membuka buku cetak fisika. Melihat rumus-rumus yang tertulis di buku itu membuat mood Azila tak berubah. "Argh, lagi nggak mood belajar!" ucapnya. Azila kembali menutup bukunya itu. Matanya tak sengaja menatap tempat pensilnya. Ada bermacam pena, pensil, penghapus di tempat itu. Namun, satu pena menarik perhatian Azila. "Pena pink," ucapnya. Azila tersenyum miris. Ternyata ia masih menyimpannya, ya. "Udah nggak ada isinya," ucap Azila mencoba mencoretkan pena itu ke bukinya. "Udah kosong. Hm, wajar, sih, ini kan pena lima tahun yang lalu." Pena itu mengingatkan Azila dengan seseorang yang selalu di sisinya lima tahun yang lalu. Apa boleh buat, kenangan itu berputar-putar di otaknya sekarang. *** Tepat lima tahun yang lalu. Seorang gadis kecil cantik, siapa lagi jika bukan Azila sedang bermain ke perpustakaan. Niatnya ingin membaca novel, karena bosan di kelas. Kebetulan kelas Azila sedang kosong, karena gurunya tidak masuk. Teman-teman Azila tadi sudah mengajaknya ke kantin, tetapi Azila menolak. Ia ingin meminjam buku di perpustakaan dan juga membaca novel di sini saja. Menurut Azila, perpustakaan adalah tempat ternyaman, karena sejuk. "Gue cariin lo, ke mana," ucap Azela yang ternyata mengekori Azila. "Haha, tenang aja Azel. Zila nggak ke mana-mana, kok. Kalau Azel mau ke kelas, gapapa. Nanti Zila balik lagi, kok, ke kelas." "Hm. Gue ngantuk. Ya udah, gue ke kelas aja, ya. Jangan lama-lama." "Oke, Azel." Azila mengacungkan jempolnya. Azela pun kembali ke kelas. Azila kembali memilih-milih novel yang hendak ia baca. Perpustakaan sepi, karena memang sekarang jamnya pelajaran, maka dari itu tak banyak yang berada di sini. Terlalu fokus menatap ke atas, karena jejeran novel ada di bagian atas. Azila tak sengaja menginjak tangan seseorang yang sedang duduk menyandar di rak buku tersebut. "Eh, sorry!" ucap Azila terkejut. Cowok yang duduk lesehan di lantai itu hanya mengangguk singkat. "Sakit, nggak? Sorry, ya. Gue nggak lihat." Azila ikut duduk di depan cowok itu. "Gak pa-pa," jawabnya singkat. Cowok itu masih sibuk dengan buku yang dibacanya, tanpa menoleh ke arah Azila. "Lo lagi baca buku apa?" tanya Azila, tertarik dengan buku yang dibaca oleh cowok itu. "Sejarah." "Buku pelajaran?" "Bukan." "Buku fiksi, ya?" "Hm." Ternyata cowok itu sangat cuek. Namun, entah kenapa sangat menarik bagi Azila. "Lo sering ke sini, ya?" "Hm." "Nama lo siapa?" "Zeko." Walaupun cuek, tetapi ia selalu merespons Azila. Sudah lebih dari cukup. "Kenalin, gue Azila," ucap Azila mengulurkan tangannya ke hadapan Zeko. Cowok itu menurunkan buku yang menutupi wajahnya. Azila sedikit tercengang, ternyata cowok itu sangat tampan. Zeko hanya menatap datar ke arah tangan Azila yang terulur di depannya. Melihat tangannya diangguri, Azila tanpa segan, menarik tangan cowok itu langsung untuk menjabat tangannya. "Salam kenal," ucap Azila tersenyum. "Hm." "Lo kelas berapa?" "8D." "Wah, gue 8A." "Hm." "Lo kenapa di sini? Emangnya nggak belajar?" tanya Azila. "Free class." "Sama lagi, dong, hehe." Azila terkekeh pelan. Sepertinya hanya ia yang akan mencari topik, jika tidak maka pembicaraan mereka akan berhenti. "Kok gue nggak pernah lihat lo, ya, hehe. Padahal kelas kita bersebelahan," ucap Azila, merasa heran. "Hm." "Eh, iya. Kelas D ada yang gue kenal. Namanya Jeno." "Oh." "Lo temenan sama Jeno juga, kan?" "Teman? Siapa yang mau temenan sama gue?" Mendengar ucapan Zeko, membuat Azila langsung terdiam. Apakah Zeko tak memiliki teman? Apakah ia kesepian? "Lo ... nggak punya teman?" "Punya." "Siapa?" "Buku." Entah kenapa, Azila malah tertawa mendengarnya. "Ish, serius. Lo nggak temenan sama teman sekelas lo?" "Nggak." "Kenapa?" "Bukan urusan lo." Azila tiba-tiba kembali menarik tangan Zeko dan mengaitkan jari-jari mereka. "Mulai sekarang, gue akan jadi teman lo." Zeko terdiam, ia memberanikan diri untuk menatap mata Azila langsung. Gadis itu pun terkejut saat Zeko menatapnya. Azila laku tersenyum. "Senang kenalan sama lo," ucap Azila. "Gue juga." Senyum Azila semakin melebar. Menurutnya Zeko adalah cowok yang menarik. Selama ini teman-teman cowoknya tidak ada yang semenarik Zeko. Sejak itulah, keduanya bertemu dan menjadi teman dekat. Azila selalu di samping Zeko, lebih tepatnya mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan untuk membaca. *** Kenangan itu berputar-putar di kepala Azila, tanpa sengaja air matanya pun mengalir dengan sendirinya. "Zeko ...," lirih Azila. Ia pun mencium pena bewarna pink itu. "Lo di mana sekarang Zeko?" tanya Azila lirih. Rasanya ia ingin mencari Geko untuk menanyakan Zeko di mana sekarang. "Gue harus cari Geko! Gue harus tanyain sama Geko ke mana Zeko!" tekad Azila. Namun, ke mana ia harus mencari? Kota ini luas, walaupun ia tahu Geko dan keluarganya berada di sini, tetapi Azila tak tahu alamatnya di mana. Sayang sekali saat bertemu Geko dulu, ia tak menanyakan lengkap. Pintu kamar Azila terbuka, menampakkan Azela yang berjalan masuk. Mata Azela langsung menyorot ke arah pena yang dipegang oleh Azila. Kening Azela mengernyit saat mengingat tentang pena itu. "Azel! Lihat, dong. Gue dikasih pena dari Pangeran Biru! Cantik banget, kan?" Ya itulah yang dikatakan oleh Azila dulu saat memamerkan penanya. "Hm. Keinget si Biru lo lagi?" "Iya, Azel." "Udahlah. Gue nggak suka. Bukannya lo udah janji bakal lupain dia?" "Udah lupa, kok, tapi keinget lagi." "Ya udah, jangan diinget-inget lagi, dong." "Ya, maaf, Azel. Tapi, gue masih penasaran." Azela merebahkan badannya di kasur. "Udahlah, Zila. Percuma lo cari-cari dia. Si Biru lo udah menghilang." "Gue pengen cari dia." "Jangan gila, Zila." "Pokoknya gue harus cari dia sampai ketemu." "Jangan gitu, kata gue." "Tapi, gue kemarin ketemu adeknya, Azel." "Nggak ada gunanya kalau lo nyari-nyari mereka lagi. Semua udah berakhir." Azila bangkit, sorot matanya tajam. Azela menatap mata Azila yang tengah menyorotkan kekesalan itu. "Terserah," ucap Azela pada akhirnya. Azila lalu keluar dari kamarnya, membanting pintu keras. Azela menghela napas gusar. "Ya, gimana lagi, kan, namanya juga Azila," dengkus Azela pasrah. Ia pun bangkit, Azela harus mengikuti Azila, tak akan membiarkan saudarinya itu pergi sendirian. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD