Seperti yang dikatakan oleh Azela, bahwanya tindakan Azila mencari-cari keberadaan Zeko percuma saja. Azila terduduk di bangku halte—tempat ia bertemu Geko beberapa hari yang lalu.
"Sia-sia, kan?" sindir Azela. Azila mengelos pasrah.
"Udahlah, biasanya juga lo gak ingat dia lagi, kan?"
"Tapi beberapa hari yang lalu, gue selalu teringat sama dia, Zel."
"Ya udah, gampang, tinggal lo lupain lagi aja, kan."
"Nggak segampang itu, Azel," ucap Azila gemas.
"Huft. Urusan hati emang ribet, ya. Untung gue belum pernah jatuh cinta," ucap Azela ikut duduk di bangku halte itu.
Mata Azila melirik kembarannya itu singkat. Benar juga. Selama ini Azila tak pernah melihat Azela sedang jatuh cinta, atau sekedar memberitahunya siapa orang yang ia suka.
"Zel, lo masih normal kan?" tanya Azila, membuat Azela mendengkus pelan.
"Yaiyalah. Yakali, dah, amit-amit."
"Tapi, kok ... lo nggak pernah suka sama cowok?"
"Nggak penting, Zila. Ribet amat mikirin cowok."
"Maaf, ya, karena masalah gue sendiri. Gue nggak merhatiin masalah Azel."
"Lah, emang apa masalah gue?"
"Nggak pernah punya pacar," jawab Azila polos.
"Dih, nggak pacaran bukan masalah buat gue. Lagian, emang guenya yang nggak mau cinta-cintaan dulu."
"Tapi hidup tanpa cinta itu hampa tau, Azel."
"Sekarang gue tanya. Emang cinta itu ke cowok lawan jenis doang? Gue lebih milih cinta terhadap saudara sendiri. Kasih sayang adek-kakak."
Pipi Azila merona malu. "Berarti, Azel lebih milih sayang sama Zila, ya, daripada sama cowok?"
"Ya. Tapi, sayang sebagai adek. Jangan ke mana-mana pikiran lo."
"Iya-iya," ucap Azila mengerti. "Azel, tuh, sosweet tau."
"Udah, ah, cari topik lain."
"Dih, Azel mah gitu."
Azela menatap kakinya yang ia ayun-ayunkan. Ia teringat sesuatu. Sebaiknya ia menanyakan pada Azela.
"Azel dulu bukannya pernah ketemu sama cowok di taman, ya? Kata Bibik, Azel nolongin cowok itu."
Mata Azela melebar. Kenapa baby sitternya itu malah menceritakan pada Azila! Azela jadi ingin menyembunyikan mukanya sekarang.
"Ah, ng--nggak ada."
"Ih, Azel nggak bisa bohong! Beneran, kan? Kenapa nggak pernah cerita, sih!"
Azela berdeham pelan. Jika ia tampak malu-malu, Azila malah semakin menggodanya.
"Oke gue cerita."
Mata Azila langsung berbinar. Ia pun berteriak senang. Jarang-jarang bukan, Azela mau membicarakan topik seperti ini.
"Ayo, Azel, ayo. Ketemunya, tuh, gimana, sih? Cowoknya gimana? Ganteng, nggak? Soft boy, apa badboy, atau coolboy? Ah, iya. Terus, kalian ngobrol, nggak? Ngomongin apa, aja? Dia orangnya asyik, nggak?"
"Stooop!" sela Azela memberhentikan pertanyaan Azila yang tak akan ada habisnya itu.
"Hehe. Lagian, Azel kelamaan, sih."
"Gue ketemu di taman, dia jatoh. Gue tolongin. Dah, selesai!" jelas Azela singkat.
Mata Azila semakin berbinar-binar. "Wah ... walaupun singkat, uwuu-nya sampai sini, loh, Azel!" teriak Azila heboh.
"Nggak, ah. Biasa aja."
"Ish, Azel kenapa nggak pernah cerita, sih, padahal uwuu gitu."
"Lagian gue udah nggak ingat wajah cowoknya," ucap Azela jujur. Ia juga tak tahu namanya siapa.
Hmm ... andai saja Azela tahu, jika cowok itu adalah Fatan!
"Yah, Azel! Siapa tahu dia adalah jodoh Azel di masa depan!"
Azela tanpa segan menyentil dahi kembarannya itu pelan.
"Ngaco!"
"Dih, Azel, sakit tau!"
"Lagian, ngaco! Udah, ah. Malas gue bahas gituan. Pulang, yuk!" ajak Azela. Mereka berkeliling tadi menaiki taksi.
"Ya udah, ayo!" Azila pun ikut bangkit. Sepertinya misi pencarian Zeko hari ini gagal total, karena memang Azila tak tahu jejaknya.
Mereka pun berjalan ke halte depan—halte baru tempat penungguan angkutan, karena tadi mereka berada di halte yang lama.
"Eh, Azel, bentar." Tangan Azila menarik tangan Azela, membuat gadis itu terkejut.
"Apa?"
"Itu ... Devi, kan?" Azila semakin menajamkan penglihatannya. Tak salah lagi. Gadis yang bermenung di bangku taman itu adalah Devi—teman sekelas mereka yang tak pernah berbicara pada siapa pun.
Azila hendak menghampiri, tetapi tangannya dicekal oleh Azela cepat.
"Bukan urusan kita. Udahlah, langsung pulang aja."
"Tapi gue penasaran. Kayaknya dia lagi ada masalah, deh."
"Dia tiap hari juga kayak lagi ada masalah. Udah, biarin aja."
"Azel, kok, gitu? Devi lagi butuh teman, loh."
"Emangnya lo teman dia?"
"Walaupun Devi nggak anggap gue temannya. Tapi, gue tetap anggap Devi teman kita, karena dia kan teman sekelas kita, Azel."
Azela melepaskan tangannya. Lalu, menghela napas pelan. "Terserah."
Azila tersenyum singkat. Ia lalu berjalan menuju ke arah taman itu. Di samping halte yang mereka duduki itu memang ada taman mini. Namun, tak terlalu ramai dikunjungi, karena ada taman yang lebih besar di seberang sana yang benar-benar dijadikan objek wisata.
Di sini hanyalah bagian taman kecil yang tak terlalu disinggahi orang-orang.
Lebih tepatnya, karena tempatnya kurang strategis untuk dijangkai khalayak ramai.
Devi yang melihat dua orang gadis datang menghampirinya pun terkejut. Ia segera bangkit, hendak pergi, tetapi tangan Azela berhasil menggapai tangannya yang membuat Devi berhenti melangkah.
"Devi, please, jangan pergi," ucap Azila berdiri si hadapan Devi yang menunduk.
"Duduk lagi aja, yuk!" ajak Azila. Devi yang awalnya menggeleng, terpaksa mengangguk, karena Azela mengencangkan pegangan tangannya.
Sosok Azela memang menyeramkan.
"Nggak usah malu, Devi. Kami nggak jahat, kok," ucap Azila.
Seperti biasa, Devi hanya diam.
"Devi suka main di sini, ya?" tanya Azila.
Tetap tak ada jawaban. Devi hanya menatap depan, tanpa menoleh ke arah Azila.
"Lo emang nggak bisa ngomong, atau nggak tau cara menghargai orang?" sindir Azela menohok. Devi pun langsung menunduk dibuatnya.
"Ish, Azel, jangan gitu."
"Capek gue sama dia. Lagian lo ngapain ajakin batu ngomong, nggak bakal dijawab," kesal Azela.
"Azel ...."
"Emang kenyataannya, kan?"
"Iya, tapi, Azel nggak boleh ngomong gitu ...."
"Maaf."
Bola mata Azila melebar. Ia menatap tak percaya ke arah Devi yang menunduk.
"Ta--tadi, gue nggak salah denger, kan?"
"Maaf." Suara itu keluar lagi dari mulut Devi, membuat Azila tersenyum lebar. Sedangkan Azela hanya memutar bola mata malas.
"Deviii! Akhirnya lo mau ngomong juga!" Azila refleks memeluk Devi, membuat gadis itu tercengang.
Ternyata Azila memang baik. Devi jadi semakin merasa bersalah, karena sudah mengabaikan Azila selama ini.
"Maaf, Azila," ucap Devi sekali lagi.
"Nggak pa-pa, Devi. Sama sekali nggak pa-pa. Aaa ... gue senang banget akhirnya bisa denger suara lo!"
Devi tersenyum kecil. Pelukan yang diberikan Azila memberikan kehangatan untuknya.
"Devi nggak usah ragu lagi kalau mau ngomong, ya," ucap Azila membuat Devi mengangguk.
Ternyata ia memang benar-benar mendapatkan seorang teman.
Duo kembar itu sudah membuat Devi kembali lagi. Tentu saja Devi berhutang budi pada keduanya. Suatu saat, ia akan menceritakan apa yang terjadi dengannya. Akhirnya, seorang teman datang juga padanya.
Harapan Devi selama ini sudau terkabul. Bahkan, tidak hanya Azila. Sepertinya Azela juga mau berteman dengannya.
***