Alasan Zea

1151 Words
Pelukan hangat. Dekapan kasih sayang, semua itu seolah tengah dirasakan oleh Fatan dari seorang wanita yang sedang memeluknya sekarang. Fatan tak dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas, tetapi ia bisa merasakan pelukan itu sangat nyata. Siapa yang tengah memeluknya? "Sayang, maaf, ya." Fatan mengerutkan kening. Kenapa wanita itu malah minta maaf? "Tante siapa?" tanya Fatan. Wajah wanita itu tampak samar. "Aku sangat menyayangimu," ucap wanita itu membuat Fatan terdiam. Ia sama sekali tidak kenal dengan wanita itu, lagi pula Fatan dangat kesusahan mendeteksi wajahnya. Semua tampak buram. Sedang di mana ia sekarang? "Tetap bahagia, ya, aku akan mengawasimu dari jauh." "Maaf, Tante siapa, ya?" "Tidak perlu tahu, Nak." Wanita itu makin lama semakin tak terlihat, badannya pun tiba-tiba menghilang. "Tante, ke mana? Tante kok. Tante ...." "TANTE!" Fatan tersentak dari tidurnya. Ah, ternyata mimpi! Fatan mengatur napasnya yang tak beratur. Mimpi apa itu? Kenapa ia bermimpi bertemu dengan wanita yang tak dikenal? "Fatan! Kamu ngapain teriak-teriak?" Audi masuk ke kamar Fatan dengan langkah tergesa. Ia pun menghampiri putranya itu. Audi menyentuh kening Fatan yang masih terasa hangat. "Kamu demam lagi, ya?" "Ah, nggak kok, Tan. Fatan udah sembuh." "Terus kenapa ngigo gitu? Kamu mimpi apaan? Hm ... jangan-jangan ...." Audi malah tersenyum menggoda. "Gak, ih, Tante apaan, sih." "Terus mimpi apa, hayo?" "Nggak ada, Tan. Cuma," "Cuma, apa, hayo?" "Tante ...," dengkus Fatan. "Haha, gemes banget, sih. Ya udah cerita, tadi kamu mimpi apa?" "Tadi Fatan mimpi ketemu wanita seumuran Tante, sih, kayaknya." "Eh? Nak ... kamu masih demen yang gadis, kan, bukan janda?" Fatan kembali mendengkus. Audi malah tidak serius. "Tante ...." "Iya-iya, maaf. Terus gimana? Kamu diapain?" "Fatan kayak dipeluk gitu, terus, tiba-tiba ibu itu ngilang." Audi mengerutkan kening. Ia mencoba menganalisis mimpi Fatan tersebut. "Jangan-jangan itu ibu kamu?" Fatan terdiam. Ibu? Seseorang yang melahirkan anak ke dunia ini? Fatan hampir lupa jika ia juga memiliki ibu dulunya. Walaupun sosok ibu yang selama ini mendampinginya adalah Audi. Akan tetapi, ibu kandungnya tentu ada, jika tidak maka siapa yang melahirkan Fatan ke dunia ini? "Kok malah bengong?" tanya Audi. Ia jadi merasa bersalah, jika Fatan sedih karena mengingat ibunya. "Emangnya ibu Fatan masih ada ya, Tan?" "Tante nggak tau, yang pasti, ibu kamu pernah ada." "Kalau masih ada. Kenapa nggak pernah ketemu sama Fatan, ya?" Audi memilih duduk di kasur Fatan, menghadap sepenuhnya ke arah cowok itu. Tangan Audi pun menggenggam tangan Fatan erat. "Anak Tante udah gede, ya," ucap Audi tersenyum. Fatan hanya diam. "Anak Tante udah dewasa. Udah nggak cengeng lagi." Fatan meliriknya, Audi terkekeh pelan. Waktu Fatan kecil. Saat melihat teman-temannya bermain bersama ayah mereka, Fatan sangat sedih dan mengadu kepada Audi, karena ia ingin juga memiliki ayah yang bermain dengannya. Saat itu Audi hanya bisa membujuk Fatan agar berhenti menangis. Audi mengajaknya bermain, tetapi Fatan menolak. Sampai akhirnya Audi berpura-pura sakit, agar Fatan tidak murung lagi. Sandiwara Audi berhasil. Fatan pun mengalihkan perhatiannya pada Audi dan merawat wanita yang pura-pura sakit itu. Saat itu Fatan masih kecil. Jadi tidak tahu mana yang akting dan mana yang beneran. Fatan tidak sadarkah, jika ia diasuh oleh artis ternama. "Fatan nggak mikirin itu, kok," ucap Fatan setengah berbohong. Ia masih memikirkan mimpi tadi, Fatan sebenarnya merindukan sosok ibu kandungnya, bahkan ia tak pernah melihat wajah rupa ibunya seperti apa. "Tan, boleh ceritain, nggak? Dulu orang tua Fatan kenapa bisa nikah, terus setelah Fatan lahir, kenapa mereka nggak mau ngasuh Fatan? Apa mereka nggak mau punya anak?" tanya Fatan panjang lebar. Tidak seperti seorang Fatan yang irit bicara. "Bukannya itu pertanyaan udah sering kamu tanyakan, ya? Kamu juga udah tau jawabannya, kan?" Fatan mengembuskan napas pelan. "Mana tahu Tante ada jawaban lain." "Masih sama, kok, jawabannya." "Hm," gumam Fatan. "Udahlah. Kalau kamu kangen Tante bilang aja. Pasti tadi di mimpi kamu itu Tante, deh, karena sangking kangennya kamu," ucap Audi menggoda. Ia pun bangkit. "Kalau benar itu Tante. Tapi Tante nggak akan ninggalin Fatan, kan?" "Kamu tau jawabannya, kan, Sayang?" Fatan mendengkus. Tidak ada gunanya bertanya dengan Audi. "Udahlah. Tante mau siap-siap. Kamu juga mandi, gih." "Iya, Tan." "Bentar lagi Zea datang, tuh." Mata Fatan melebar mendengar nama itu disebut. "Tan ...." "Tante yang undang Zea ke sini. Kamu nggak bisa nolak. Udah sana siap-siap." "Lebih baik Fatan tidur lagi Tan, kalau gitu," ucap Fatan jujur. "Ah, kamu." *** Ternyata ucapan Audi benar. Zea sudah datang, bahkan ikut sarapan bareng dengan Fatan dan Audi. Ingin sekali Fatan mengusir Zea sekarang, tetapi Audi tampaknya malah sedang asyik bercenkrama dengan gadis itu. "Fatan, kenapa nggak nafsu gitu sarapannya? Mau disuapin sama Zea?" goda Audi. "Nggak, Tan. Thanks." "Kalau beneran mau disuapin boleh, loh, Fatan," ucap Zea memanfaatkan kesempatan. "Nggak." "Fatan ... Fatan, masa nggak mau disuapin sama cewek cantik, sih? Atau emang benar kalau kamu demennya sama jan--" "Tan," sela Fatan datar. "Hehe. Lagian kalian gemes banget, deh. Kenapa nggak jadian aja?" "Gak." "Udah, Tante." Dua buah jawaban yang keluar serentak, tetapi tak sama. "Tuh, kan, kalian makin gemes, deh." Fatan menyudahi sarapannya. Sudah tidak nafsu. Apalagi Audi semakin menggodanya. "Zea, kalau mau samperin, samperin aja. Fatan pasti ke taman belakang." "Boleh, Tante?" "Boleh, silakan." Zea tersenyum lebar. Ia pun bangkit menyusul Fatan. *** Ternyata ucapan Audi benar. Fatan memang berada di taman belakang rumahnya. Fatan menyadari kehadiran Zea yang menyusulnya, karena langkah kaki mendekat ke arahnya. "Lo kenapa nggak pernah kapok, sih?" tanya Fatan masih berdiri membelakangi Zea. Gadis itu berhenti tepat di belakang punggung Fatan. "Eum, anu ... sebenarnya aku ke sini, mau ngomong sesuatu sama kamu." "Aku mau jujur," ucap Zea. Fatan hanya diam. Tak menoleh sedikit pun ke arah lawan bicaranya. Zea memajamkan mata sebentar. Ia menarik napas dalam sebelum berbicara. "Aku mau jujur soal, alasan aku kenapa deketin kamu selama ini." "Hm," gumam Fatan cuek. "Sebenarnya ... eum, anu ... aku ...." "Bisa to the point aja?" tanya Fatan datar, seperti biasanya. Zea memainkan rambutnya yang terjuntai di dadanya. "Aku ...." Lidah Zea terasa kelu untuk mengatakannya. Fatan tersenyum miring, jika nanti ternyata Zea menyatakan perasaannya, maka Fatan tak akan segan untuk menolaknya mentah-mentah, agar Zea tak menganggunya lagi. "Aku sebenarnya nggak suka sama kamu." Eh? Jujur Fatan cukup terkejut mendengar pernyataan itu. Mungkin ia terlalu kepedean. Akan tetapi, apakah itu benar? Kenapa selama ini Zea .... "Aku cuma anggap kamu sebagai abang." Pernyataan itu membuat Fatan langsung menoleh ke arah Zea. Benarkah? Abang? Berarti seperti seorang kakak? Tidak lebih? Kenapa sulit dipercaya. "Entah kenapa pas pertama kali kita ketemu. Aku ngelihat kamu, tuh, kayak abang aku. Vibesnya sama dan sifatnya juga mirip. Kamu mengingatkan aku dengan abangku yang udah pergi tiga tahun yang lalu." Zea tak berani mengangkat kepalanya menatap Fatan. Air matanya tiba-tiba terjatuh dan Fatan mengetahui jika gadis itu menangis. Tanpa pikir panjang, Fatan segera mendekap Zea ke pelukannya. Hal itu membuat Zea terkejut. Fatan memeluknya? Zea masih tak percaya. "Nangis aja kalau mau nangis," ucap Fatan. Zea meremas baju pundak Fatan, menahan isakannya. Ia pun mengeluarkan semua isak tangis itu. Zea menangis di pelukan Fatan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD