Usai menangis. Fatan membawa Zea duduk di gazebo depan kolam berenang. Ia ingin mendengarkan cerita Zea. Kali ini Fatan akan berperan sebagai pendengar baik.
"Kamu pasti udah tau, kan, kalau abangku udah meninggal?"
"Iya."
Fatan tentu sudah mendengarnya. Fatan juga tahu sedikit tentang keluarga Zea.
Zea anak yatim piyatu. Orang tuanya meninggal, karena kecelakaan saat ia berumur tiga tahun. Setelah itu, Zea diasuh oleh neneknya. Namun, saat Zea berumur sepuluh tahun, neneknya pun pergi meninggalkannya.
Zea masih memiliki abang satu-satunya. Namun, selama ini abangnya itu menutup diri dan tak terlalu memedulikan Zea. Cewek itu sempat berpikir, bahwa abangnya tak sayang padanya.
Karier Zea menjadi idola cilik berawal dari ia berumur sebelas tahun. Berkat kelincahan dan kecantikannya, ia ditawarkan oleh beberapa sutradara untuk bermain film layar lebar.
Cukup sampai situ yang Fatan tahu, karena teman-temannya sibuk membahas Zea, Zea, dan Zea dulu. Waktu di loksyut.
Zea sangat populer di mata fans, di mata crew, dan juga di mata teman-temannya. Entah kenapa di mata Fatan kemarin seolah tertutup dan tak melihat seorang Zea.
"Kamu pasti pernah denger kalau aku punya abang yang cuek, abang nggak penyayang, dan abang yang jahat," ucap Zea memulai.
"Kurang lebih," sahut Fatan.
"Semua orang pasti nyangkanya begitu, karena abang aku nggak pernah keliatan peduli denganku. Waktu aku menang audisi awards sebagai pemain cilik, sebagai pendarang terpopuler dan lainnya, juga Abangku nggak datang dan nggak menyaksikan langsung."
"Aku benci abang, karena dia nggak pernah dukung aku, gak pernah lihatin sayangnya dan perhatiannya."
"Tapi ternyata ...." Air mata Zea kembali jatuh.
"Abang kayak gitu karena nggak mau aku merasa kehilangan saat dia nggak ada nantinya."
Zea menyeka air mata yang terus berlinang.
"Ternyata Abang punya penyakit selama ini yang dia pendam dan sembunyikan. Pankreas abangku udah nggak berfungsi baik. Selama ini dia cuma pura-pura kuat. Dia seperti nggak ada beban dan berusaha cuek di depanku."
Fatan mengangguk paham, seolah mengerti bagaimana perasaan Zea saat ini. Ia cukup prihatin.
"Detik-detik Abangku meninggal ...."
Ingatan Zea kembali berputar pada kejadian tiga tahun yang lalu. Saat Kakaknya yant bernama Zeo terbaring lemah di rumah sakit.
Saat itu Zea hanya marah pada diri sendiri, kenapa baru mengetahui penyakit yang diderita kakaknya seorang diri.
"Jangan nangis terus, beg*" ucap Zeo dengan nada datar.
"Kenapa Abang nggak pernah cerita? Kenapa aku nggak dikasih tau."
"Nggak penting, bodoh."
Zeo sudah terbiasa berbicara seperti itu dengan Zea. Saat ini, Zea tak akan memperdebatkan apa pun u*****n yang keluar dari mulut Zeo.
"Udah gue bilang, jangan nangis, Gobl*k!"
Zea tiba-tiba memeluk Zeo yang terbaring di bangsal. Zeo terkejut, bibirnya tak sanggup mengeluarkan suara untuk memarahi Zea.
"Sudah cukup pura-pura bencinya sama aku, Bang," ucap Zea terisak.
"Abang pikir aku nggak tau? Siapa selama ini yang terlibat dalam karier aku? Siapa yang nyariin aku job, sampai-sampai aku kuawalahan mau milih job yang mana. Itu semua berkat usaha Abang, kan? Terus, Abang juga yang buat sutradara itu ngelirik aku pertama kali buat jadi artis. Kenapa Abang ngelakuin itu di semua di belakang? Kenapa nggak terang-terangan aja kasih tau, kalau semua itu berkat Abang, ha?"
Zeo hanya diam. Ia jadi kesal dengan dirinya sendiri yang kehabisan kata-kata untuk mengumpat. Bahkan tangannya terasa kaku, untuk mendorong Zea agar melepaskan pelukannya.
"Zea sayang Abang!"
Degh.
Hati Zeo menghangat. Belum pernah hatinya terasa sehangat dan sedamai ini sebelumnya. Tanpa sadar, bibir Zeo membentuk sebuah senyuman kecil.
"Pergi ke kamar gue, ambil kotak bewarna merah yang ada di sana. Itu hadiah dari gue untuk ulang tahun lo besok," ucap Zeo terang-terangan saja.
Mata Zea berbinar. "Wah, Abang ngasih aku kado?"
"Besok-besok nggak lagi."
"Aaa, makasih Abang!" Zea kembali memeluk abangnya.
"Hmm ... gue ...."
Zeo jadi ragu untuk mengatakannya.
"Nggak jadi," ucap Zeo mematahkan harapan Zea.
"Yah! Abang nggak asyik."
Zea lalu melepaskan pelukannya.
Malam pun tiba. Zea melihat Zeo sudah terlelap. Ia akan menemani Zeo di sini. Zea lalu duduk di bangku di samping bangsal. Kepalanya direbahkan ke kasur. Tangan Zea menggenggam tangan Zeo.
Sebenarnya Zeo belum tidur, ia hanya memejamkan mata.
Terdengar dengkuran halus. Zea sudah tertidur. Zeo lalu membalas genggaman tangan Zea.
"Gue ... gue sebenarnya sayang sama lo."
Akhirnya Zeo mengatakan kalimat manis itu untuk Zea, walau pada saat adiknya itu tertidur. Namun, siapa sangka jika Zea mendengar itu. Ia juga hanya berpura-pura tidur. Sudah menjadi kelebihan artis untuk berakting kapan saja.
Kalimat itu sangat manis, akan tetapi ternyata kalimat itu merupakan kalimat terakhir yang diucapkan Zeo.
Paginya, saat matahari kembali memulai rutinitasnya. Zeo sudah tak menghirup udara. Zeo sudah pergi meninggalkan dunia, tanpa berpamitan dahulu dengan Zea, adiknya.
Zea semakin terisak tak dapat membendung air matanya. Tangan Fatan tergerak untuk mengusap bahu Zea pelan, mencoba menguatkan gadis itu.
Tenyata, di balik Zea yang ceria, ada luka yang dipendamnya.
"Abangku meninggal tepat di hari ulang tahunku," ucap Zea tersedu-sedu. Kado yang dia kasih adalah boneka yang pernah aku inginkan waktu kecil, saat kami ke pasar malam sama nenek, tapi aku nggak berani minta beliin. Dan ternyata Abangku tau kalau aku pengen boneka itu."
"Harganya mungkin nggak seberapa, tapi aku yakin, dia pasti berusaha keras mencari di mana boneka yang sama persisi kayak yang waktu itu. Setiap ngelihat bonekanya, aku selalu ingat Abangku."
"Zea," sela Fatan.
"Iya, Fatan?"
"Maaf."
Satu kata itu seolah menggambarkan semua sifat Fatan selama ini kepada Zea.
"Nggak pa-pa, Fatan. Aku yang salah, karena nggak tau caranya gimana melelehkan seorang Fatan."
"Gue nggak benci sama lo, kemarin gue cuma risih doang."
"Iya, aku paham. Caraku memang salah. Maaf, ya. Padahal aku buat gosip gitu, biar nama kita berdua semakin dikenal dan bisa seproject lagi. Aku cuma ingin dekat sama kamu aja, kok, sebagai adek dan abang."
Fatan menghela napas berat. "Lagian kenapa lo malah milih gue, di antara banyaknya cowok yang ngedeketin lo? Hm, satu lagi. Jangan terlalu berekspetasi tinggi. Gue nggak bisa jadi kayak Abang lo."
Zea tersenyum singkat. "Aku kan udah bilang kamu tuh mirip sama abangku."
"Mirip di mananya, sih?"
"Ya, mirip pokoknya."
"Terserah, deh."
Zea tersenyum kembali. Ia bahagia, akhirnya bisa terang-terangan dengan Fatan sekarang.
"Kamu tau, nggak, waktu aku nanyain nama cewek yang kamu suka. Sebenarnya aku mau bantu comblangin kalian, tapi aku cari-cari di kalangan artis nggak ketemu. Kayaknya dia cewek biasa aja, ya?"
"Nggak perlu repot. Gue juga gak terlalu mikirin itu."
Fatan sedikit merasa aneh. Kenapa fakta-fakta yang baru ia lihat ini terjadu begitu saja. Sosok lain Zea.
Maksud Zea selama ini, sikap Zea, dan kepribadiannya semuanya tampak berbeda. Apakah yang di hadapannya ini benar-benar Zea?
"Eum, Fatan?"
"Iya."
"Kalau aku bilang, semua yang tadi itu cuma bercanda gimana?"
Mata Fatan melotot horor. Zea tertawa dibuatnya.
"Gak lucu," kesal Fatan.
"Ih, nggak, kok. Tadi itu beneran tau. Aku cuma ngetes aja, apa Fatan masih sama atau nggak. Ternyata kamu lebih menarik saat kesal Fatan."
Fatan memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya sekarang Zea berani menjailinya.
"Awas, ya!"
Fatan pun bangkit. Zea segera berlari menjauhi Fatan.
Cowok itu kembali duduk. Kenapa ia jadi akbar begini dengan Zea?
Semoga hubungan mereka benar-benar terjalin seperti Adek-Kakak. Sesuai dengan apa yang diinginkan Zea.
****