Menjadi sesuatu yang mengejutkan pada kelas 12A IPA, karena Azila dan Devi tampak tertawa bersama.
Lebih mengejutkan lagi Devi sudah mau berbicara dengan Azila, walaupun hanya mau berbicara dengan Azila dan Azela saja.
Akan tetapi bagi Azela ada yang menganggu paginya saat ini, yang mana ada sosok penggangu di kelasnya sekarang. Duduk menghadap ke arah Azela dan menatapnya intens.
"Woi, lihat gue, dong! Lo nggak buta, kan?"
Azela tetap memainkan HP-nya. Tak melirik sedikit pun ke arah cowkn yang duduk di hadapannya.
"Woi, cewek jadi-jadian! Lo denger, nggak, sih? Apa lo juga tuli?"
Azela hanya menghela napas. Helaan napas itu sudah menjawab, bahwa Azela tak ingin diganggu.
Cowok yang menyusup pagi-pagi ke kelasnya adalah Zaki. Ia datang bersama squad-nya. Teman sekelas Azela tampak takut kepada Zaki, karena cowok itu terkenal sebagai preman sekolah. Namun, mereka harus mengakui, jika ada yang lebih menakutkan daripda Zaki di kelas mereka sendiri. Yaitu, Azela.
Tatapan tajamnya saja sudah mengitimidasi, bagaimana jika Azela mengeluarkan perkataan pedasnya, mengayunkan pukulan dan tendangannya? Azela memang menyeramkan.
Maka dari itu Azela tak memiliki teman. Berbeda dengan Azila yang ... ya, seperti yang sudah terlihat. Azila memang sosok yang menyenangkan.
"Woi!" teriak Zaki menggebrak meja Azela. Wah ... wah, sepertinya Zaki benar-benar sudah menganggu mood Azela.
Gadis itu ikut membalas menggebrak mejanya, jauh lebih keras dibandingkan gebrakan Zaki.
"Mau lo apa?" bentak Azela.
Inilah yang diinginkan Zaki. Membuat Azela marah dan melihat wajah kesal gadis itu.
Azela lebih menarik ketika sedang naik pitam. Zaki sangat menyukai ekspresi itu.
"Gitu, dong, daritadi," ucap Zaki.
Azela tersenyum sinis. "Gue? Kepancing sama lo? Tenti tidak, bodoh!" ucap Azela kembali memainkan Hp-nya.
"Lo!"
Zaki geram. Ia pun hendak melayangkan tangannya. Namun, teriakan Bu Mita, menahan gerakannya.
"Zakiii! Kamu mau ngapain? Mau sok jagoan? Cepat ikut Ibu ke ruang BK!" ucap Bu Mita terkejut melihat Zaki hendak melayangkan pukulan ke arah Azela.
Zaki melirik Azela sekilas. Cewek itu terkekeh pelan. Oh, jadi Azela sengaja mengulur waktu dan memancingnya, agar ketahuan oleh guru?
"Makanya jangan b**o jadi orang," ucap Azela santai.
"Zakiiii! Ayo!" teriak Bu Mita.
"I-iya, Bu," jawab Zaki kesal.
"Lihat nanti, ya, cewek preman jadi-jadian."
"Hm, oke. Entar gue lihat."
Setelah Zaki pergi dan teman-temannya itu meninggalkan kelas bersama Bu Mita. Azila kembali duduk di samping Azela.
"Azel keren, deh," ucap Azila memuji.
"Keren apaan?"
"Ya, keren aja gitu. Nggak tau kenapa, Azel tuh, kereeen!"
"Dih, lebay," ucap Azela seperti biasa, ya, permisa.
***
Sepulangnya sekolah. Devi diajak oleh Azila main ke rumahnya. Cewek itu menurut saja, karena ia pun ingin berkunjung ke rumah Azila.
"Wah, rumah lo gede juga, ya," ucap Devi menatap ke sekeliling rumah. Ia berdecak kagum Ternyata benar, Azila berasal dari keluarga yang berada. Sedangkan Devi ... ah, sudahlah. Sepertinya ada topik yang lebih menarik.
"Nah, gimana kalau kita masak kue," ajak Azila.
"Boleh," jawab Devi tesenyum.
"Oke!" Azila berjalan mendekat ke arah tanda.
"Azel, mau ikut masak, nggak?" tanya Azila berteriak.
"Gak."
"Ya udah, entar Azel tukang nyicip aja."
"Ya!"
Azila kembali berbalik menghadap Devi.
"Yuk, gass!"
Azila pun menarik tangan Devi menuju dapurnya. Ada dapur bersih dan dapur berisi kotor.
***
Sore ini, saat Azila dan Devi memasak. Azela bersama kedua sahabatnya, yaitu Reyhan dan Agil yang selalu ada.
sore ini mereka menghabiskan waktu untuk bermain basket. Sudah lama tak mengeluarka keringat, biasanya mereka nongkrong dan main PS saja.
"Rey! Di belakang lo!" teriak Azela. Akan tetapi, Reygan baru sadar. Sepertinya ia melamun.
Bola diambil oleh Azela dan dipegangnya. "Ada apa, Rey? Lo keliatannya nggak semangat dari tadi."
"Gapapa.'
"Ahelah, di balik kata gapapa pasti ada apa-apanya nih," ucal Agil yang disetujui Azela.
Reyhan hanya diam. Ia lalu berlarik menghampiri Azela, merebut bolanya dan memasukkan ke keranjang itu dengan lihai.
Ya, memang Reyhan ahlinya jika masalah basket.
Setelah memasukkan bola ke kerajangnya itu. Ia pun bergegas pulang.
"Eh, Rey. Bentar, mau ke mana?" teriak Azela.
"Pulang," jawab Reyhan singkat.
Azela menatap Agil sebentar, seolah paham dengan tatapan Azela, Agil mengangguk paham.
"Kayaknya ada yang nggak beres, nih," ucap Azela diangguki Agil.
"Kita kudu cari tau, nih."
"Iya, harus.'
"Kuylah!"
"Kuy!"
Ada apa dengan Reyhan? Akan diselediki oleh Azela dan Agil
***
Akhirnya, kue yang dibuat oleh Azila dan Devi pun jadi. Mereka pun sibuk untuk memfoto kue hasil mahakarya mereka tersebut.
Azila akan memamerkan ini dengan Daniel nantinya.
"Soal rasanya, gimana, ya kira-kira?" tanya Azila penasaran, karena mereka tak mencicipinya tadi saat memasak.
"Coba aja, Azila."
"Oke. Devi juga, ya."
Azila lalu mengambil pisau dan memotong kue itu beberapa bagian.
"Azel! Coba cicipi kuenya, dong!" teriak Azila saat melihat bayangan Azela melintas.
"Gue buru-buru."
"Ih, Azel, kudu coba dulu!" paksa Azila.
Mau Bagaimana, kan? Azela pu menurut saja. Ia mengambil satu potong bagian kue itu.
"Eh, Agil juga, ayo ambil!" suruh Azila, dengan ragu Agil pun ikut mengambilnya.
"Yey. Silakan dicoba!" teriak Azila dan Devi, setelah membuat yel-yel tadinya.
Azela dan Agil pun menggigit kue itu, mematahkan sayap-sayap kuenya dan menelan masuk ke tenggorokan.
Setelah merasakan bagaimana rasanya. Saat mulut Agil hendak mengomentari, buru-buru Azela menutup mulut sahabatnya itu dan mengajaknya segera pergi dari sana.
"Gimana Azel, Agil?" tanya Azila antuasias.
"Enak, kok, enak banget!" teriak Azela, yang sudah menghilang dari balik ruang tengah, tetapi suaranya masih terdengar.
Azila dan Devi bertos ria dan memekik girang.
"Saatnya kita yang coba!" ucap mereka berdua kompak.
Baru saja kue itu masuk ke mulut mereka, buru-buru keduanya memuntahkan lagi kue itu ke luar.
Saling bertatapan, dengan ekspresi aneh mereka berteriak ... "NGGAK ENAKKK!"
***