"Zel, gue nggak bisa boong. Kue buatan si Azila ga enak banget, mana asin, pahit. Hueek!" komentar Agil setelah mereka keluar rumah.
"Gue juga ngerasain itu, tapi awas aja lo nyakitin hati Azila karena bilang kuenya gak enak," ancam Azela.
"Ya, tapi emang nggak enak, gimana, dong?"
"Bilang enak aja di depannya!"
"Huft, iya-iya. Lo emang takut banget, ya, buat si Azila sakit hati."
"Yaiyalah."
Mereka saat ini berjalan kaki menuju rumah Reyhan. Rumah mereka masih dalam satu komplek yang sama. Jadi, jalan kaki pun bisa sampai. Makanya Agil dan Reyhan sering bermain ke rumah Azela.
"Gue jadi penasaran Reyhan kenapa. Nggak biasanya dia kayak gitu."
"Hm. Gue juga," sahut Azela.
"Kayaknya dia lagi ada masalah."
"Iya."
Sedikit lagi, mereka sampai di rumah Reyhan. Pintu rumahnya tak terkunci, Agil dan Azela menunggu di depan.
Suara pecahan kaca terdengar dari dalam, membuat Azela dan Agil terkejut.
"Suara apa, tuh?" tanya mereka serentak.
"Masuk aja, yuk!" ajak Azela. Keduanya pun menyelinap masuk ke dalam rumah.
Langkah kaki mereka berhenti saat melihat dua orang dewasa di ruang tengah sedang bertengkar.
"PERGI KAU! Pergi dari rumah saya!"
"OKE! SAYA JUGA TIDAK SUDI TINGGAL SERUMAH DENGAN ANDA!"
"AYAH, IBU, STOP!" teriak Reyhan melerai. "Malu sama tetangga!"
"Reyhan, kamu harus pilih. Ikut Ibu atau dia!"
"Rey kamu sama Ayah saja. Dia nggak becus jadi Ibu untuk kamu!"
"HEH! Emangnya Anda becus menjadi seorang ayah?"
"Kau lebih tidak pantas!"
"STOP!" teriak Reyhan keras. "Kalau Ayah dan Ibu masih aja berdebat, biar Rey yang angkat kaki dari rumah ini!" Reyhan mengacak rambutnya frustrasi.
"Reyhan ...."
"Rey, Sayang ...."
"Rey capek!" ucap Reyhan, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamarnya.
"Ternyata ini sebabnya," bisik Agil ke telinga Azela.
"Hm."
"Kita samperin Reyhan, yuk!" ajak Agil.
"Entar dulu."
Vava menatap suaminya itu tajam. "Ini semua salah Anda!" Vava lalu berjalan keluar.
Mampus. Mereka ketahuan menguping. Namun, Vava tampak tak acuh. Ia mengabaikan saja kehadiran Azela dan Agil di rumahnya. Vava melenggok keluar rumah. Disusul oleh Feri—ayah Reyhan—yang juga mengabaikan kedua teman anaknya itu ternyata berada di rumah mereka.
Vava pergi meninggalkan rumah bersama mobilnya. Begitupun dengan Feri pergi bersama mobilnya.
"Syukur, deh, Tante Vava sama Om Feri nggak marah," ucap Agil menghela napas lega.
"Langsung ke kamar Reyhan aja, ayo!" ajak Azela.
"Ayo!"
Keduanya pun melangkah menuju kamar Reyhan. Seperti biasa, cowok itu tak pernah mengunci pintu kamarnya.
Akan tetapi, saat ini ia sedang ingin sendirian. Tak ingin diganggu oleh siapa pun.
"Rey ...."
"Gue mau sendiri," ucap Reyhan singkat, tanpa menoleh ke arah kedua sahabatnya. Ia berbaring memunggungi keduanya.
"Kita ke sini mau nemenin lo. Mau hibur lo," ucap Agil.
"Gak perlu!"
"Tapi kita ingin ...."
Azela memegang tangan Agil, memperingati cowok itu untuk diam saja dahulu.
Azela berjalan mendekati Reyhan. Ia duduk di tepi kasur. "Huft, nggak biasanya lo kayak anak kecil gini."
"Terserah gue. Bukan urusan lo," ucap Reyhan yang benar-benar sedang dikuasai emosinya. Moodnya sangat buruk. Sebaiknya lebih baik Agil dan Azela tak usah menghampirinya dahulu, sampai mood Reyhan membaik.
Namun, tujuan Azela dan Agil datang ke sini adalah untuk membangkitkan mood Reyhan kembali, agar cowok itu tak melulu dipatahkan oleh moodnya.
"Gue dan Agil juga udah tau, kan, apa masalah lo. Biasanya juga lo yang cerita."
"Untuk sekarang gue cuma mau sendiri."
"Oh, udah nggak butuh teman lagi?"
"BERISIK! Mending kalian pergi dari sini!"
"Sifat lo yang kayak gini kudu diubah Rey. Dari kecil lo selalu tempramental."
"Berisik gue bilang, Anj--mending lo pergi sana!"
Sifat buruk Reyhan akhirnya keluar juga. Agil jadi mengkhawatirkan Azela, jika memang terus memancing Reyhan.
"Ngadep sini, dong, jangan pengecut berani munggungin doang," sindir Azela.
Reyhan semakin geram. Ia berbalik. Lalu terduduk di kasur, matanya melirik tajam ke arah Azela.
"Ck. Reyhan yang dulu balik lagi," ucap Azela. Tanpa aba-aba, tangan gadis itu melayang menampar pipi Reyhan keras. Cowok itu terhuyung ke samping, berkat tamparan keras itu, membuatnya meringis, pipinya pun memerah.
"APA MAKSUD LO, HA?" Tangan Reyhan hendak membalas, tetapi Azela segera menangkisnya.
"Jangan buat usaha gue selama ini buat ngubah lo sia-sia," ucap Azela dingin. "Lo udah bukan Reyhan yang kayak dulu lagi, kenapa lo sekarang nunjukin sikap kayak itu lagi di depan gue?"
"GUE DEPRESI! LO NGERTI, NGGAK? GUE STRESS NGADEPIN ORANG TUA GUE!" bentak Reyhan naik pitam.
Azela menatap mata Reyhan tajam, membuat Reyhan terdiam tak berkutit. Tatapan Azela sangat menyeramkan, membuat hawanya terasa mencekam.
Tangan Azela mengepal kuat, lalu meninju pipi Reyhan keras, membuat cowok itu langsung tergeletak di kasur.
Agil menutup mulutnya terkejut. Untuk kedua kalinya Azela membuat Reyhan pingsan akibat pukulannya.
"Zel, bukannya itu udah kelewatan?"
"Lo nggak lupa, kan, kalau Reyhan frustrasi gimana?"
"Ya, ta--tapi, lo nggak harus buat dia pingsan juga Zel."
"Terus, lo lebih milih lihat dia nyiksa dirinya, kalau kehilangan kendali lagi, sampai mau bunuh diri kayak dulu lagi gimana?" ceramah Azela panjang lebar. "Lebih baik dia tidur enteng gitu, lagian tangan gue udah gatel daritadi liat sifat dia."
"Zel ...." Agil jadi merinding sendiri. "Lo serem."
"Kenapa, mau juga?" tanya Azela mengepalkan kembali tangannya.
"Gila lo. Janganlah!"
"Lo urus si Reyhan. Gue mau nyari minum dulu," ucap Azela bangkit, lalu keluar dari kamar Reyhan. Ia akan berjalan ke dapur untuk mencari minuman segar.
Agil jadi ikut prihatin dengan Reyhan. Sudahlah dipatahkan orang tuanya, dibuat pingsan pula oleh sahabatnya.
"Apes banget lo Rey," lirih Agil.
Namun, tindakan Azela tidaklah salah. Mungkin caranya sedikit keras, akan tetapi lebih baik ia melakukan itu. Azela punya alasan tersendiri dan Agil pun paham dengan itu.
***
Lain sisi, Devi dan Azila sedang berada di kamar. Wajah mereka tertutup oleh masker wajah yang berguna untuk merawat kulit.
Ya, mereka sedang perawatan atau skincare-an. Devi sempat terkejut melihat berbagai macam skincare Azila.
"Eh, ya, btw ... Azela tadi ke mana, ya?" tanya Devi.
Saat ini mereka sedang berbaring bersama.
"Mungkin ke rumah Agil atau Reyhan kali," jawab Azila. Tangannya menekan remot, menggonta-ganti film yang terdapat di layar TV-nya yang tergantung di dinding.
Jadi, mereka sekarang sedang bersantai, sembari maskeran sambil menonton TV.
"Azila."
"Hm, iya?"
"Lo nggak terlalu sering main sama Azela, ya?"
"Bukannya ga sering, sih, gue tuh selalu bareng Azela, tapi jarang melakukan hal yang sama. Kayak yang gur lakuin sama lo sekarang, nah, Azela mana mau. Dia nggak suka maskeran, gak suka make up, gak suka masak juga."
"Hmm ... Azela dan Azila memiliki hobi yang berbeda, ya? Padahal kalian kembar."
"Hm, ya begitulah, Dev. Tapi gak pa-pa. Yang penting gue dan Azela bisa sama-sama terus."
"Iya. Gue suka lihat persaudaraan kalian, yang saling melindungi satu sama lain."
Azila terkekeh pelan. "Menurut gue gak saling melindungi, sih, tapi Azel yang selalu jadi pelindung buat gue."
"Hehe, iya, sih, tapi kalian saling melengkapi."
"Hm, entahlah. Setahu gue, Azel tuh punya kelebihan-kelebihan lain dari gue, tapi dia selalu nyembunyiin. Azel tuh bisa apa aja, cuma satu, sih, kekurangan dia. Nggak suka bersosialisasi dan nggak punya banyak teman. Paling cuma Reyhan dan Agil doang, tuh, karena mereka dah temenan dari kecil," jelas Azila panjang lebar.
"Iya. Gue aja takut deket-deket Azela, hihi. Auranya beda, ya."
"Azel agak misterius, sih."
"Nah iya, gitu, hihi."
Azila lalu menghadap penuh ke arah Devi.
"Dev, ada yang mau gue tanyain."
"Nanya apa, Zila?"
"Kalau gue boleh tau juga, sih, sebenernya gue penasaran, apa yang buat lo gak mau bicara waktu itu?"
Devi terkekeh pelan. Apakah ia harus menceritakannya?
"Okelah, karena lo udah jadi teman gue. Gue bakal cerita semuanya."
"Wah, siap, gue bakal jadi pendengar yang baik, nih!"
"Sebenernya ...."
***