Belajar

802 Words
Devi mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Ia menggigit bibir bawahnya—sangat gugup, karena sekarang sedang duduk berdua saja dengan Agil. Sepertinya Azila sengaja membuat mereka berduaan. Devi benar-benar gugup. Apalagi Agil yang juga tampak diam saja. "Hmm ...." Keduanya malah sama-sama bergumam. "Eh, ya, mau ngomomg apa, Dev?" tanya Agil. "Eng ... lo duluan aja." "Ehm ...." Agil mengusap tengkuhnya pelan. "Gak ada, sih," ucap Agil. Devi terkekeh singkat. Ternyata bukan hanya dirinya yang gugup, tetapi Agil pun sama. "Kalau lo mau ngomong apa?" tanya Agil. "Nggak ada juga." "Ya udah, entar siap pulang sekolah lo ada acara, nggak?" tanya Agil. "Nggak. Emang kenapa?" "Ehm ... mau jalan bareng?" "Ke mana?" "Ke mana aja. Jalan-jalan keliling kota juga gapapa." Devi berpikir sebentar. "Oke, deh." "Ya udah, nanti gue tunggu di gerbang." "Oke." Bel pun berbunyi menandakan jam istirahat sudah selesai. Devi dan Agil lalu berpisah, masuk ke kelas masing-masing. Sesampainya di kelas. Seperti dugaan Devi, Azila pasti akan menggodanya. "Cie ... cie, yang abis kencan di kantin," goda Azila. Pipi Devi pun memerah dibuatnya. "Dev, tadi kalian ngomongin apa aja?" "Ah, nggak ada." "Masa, sih? Dia udah membak lo, kan? Terus, lo terima gak? Gak mungkin lo tolak, kan?" Devi menghela napas pelan. "Dia nggak nembak." "Yah, penonton kecewa." "Kejauhan lo mikirnya, Zila. Gue aja baru deket sama Agil." "Ya siapa tau Agil mau cepat-cepat jadian, kan," ucap Azila. "Kan kata Azel, Agil itu orangnya to the point." "Ah, masa, sih? Bukannya Reyhan yang blak-blakan, ya?" "Gak tau juga, sih." Azila lalu melirik ke arah Azela yang sedang memainkan HP duduk du kursinya. "Azel," panggil Azila. Azela pun menoleh. "Hm?" Azila menghampiri kembarannya itu. "Agil punya mantan, nggak?" "Punya." "Ada berapa?" "Dua." "Wih, mayan juga si Agil. Kalau Reyhan?" "Mungkin dua puluh." Mulut Azila membulat tercengang. "Reyhan playboy banget ya ternyata." "Hm." "Azel gak pernah dijadiin pacarnya, kan?" tanya Azila. "Gaklah. Mana mau gue." "Tapi Reyhan dan Agil, tuh, ganteng, loh, Zel." "Emangnya gue suka sama cowok karena ganteng?" "Ya, nggak, sih." "Kalian ngomongin apa?" tanya Devi semakin tak paham. Tadi Azila membahas dirinya dan Agil. Sekarang tentang Reyhan dan Agil yang menjadi sahabat Azela. "Gue pengen nyariin sahabat gue cowok yang bener-bener baik. Ga sembarang cowok. Jadi, gue bakal selediki dulu Agil tuh gimana." "Gak usah sebegitunya, Zila." "Ya, gak pa-pa, dong. Untuk Devi juga, kan." "Gue belum mikirin tentang pacaran, tapi untuk berteman dengan cowok gue udah biasa dari dulu." "Wah. Kayaknya gue gak pernah denger, deh. Dulu lo suk temenan sama cowok, ya?" tanya Azila. "Hm. Gue punya sahabat cowok dulu, tapi teman bareng pergi sekolah aja. Gue nebeng sama dia pas berangkat dan pulang. Tetangga juga, sih." Azila tiba-tiba tersenyum, membuat Devi semakin heran. "Seneng, deh, lihat Devi yang udah suka bicara banyak kayak sekarang. Kayaknya Devi yang dulu sangat hangat, ya," ucap Azila tersenyum singkat. Devi dibuat semakin malu. Kenapa jadi begini, ya? "Makin aneh lo berdua," komentar Azela. "Ish, Azel! Gue tuh seneng tau sama perubahan Devi yang sekarang." "Gak kok gue gak berubah. Gue cuma ... kembali kayak dulu aja." "Nah, ini, yang pengen gue lihat. Sosok asli Devi yang hangat!" "Ga hangat juga, sih." Azila yang akan membalas ucapan Devi, seketika terhenti, karena guru yang akan mengajar sudah masuk. Semua murid pun bergegas duduk rapi di bangku masing-masing. "Selamat siang, semua." "Siang, Bu." "Ujian semester akhir sebentar lagi. Untuk itu, waktu kalian sebagai siswa kelas dua belas tinggal beberapa minggu lagi. Ibu ingatkan, selalu mengulang materi dari kelas sepuluh, karena semuanya akan keluar pada saat ujian akhir." "Baik, Bu." "Nah, untuk persiapan ujian. Dimohon untuk melengkapi semua persyaratan ujian. Bagi yang nilainya bermasalah, silakan hubungi guru mapel masing-masing. Paham?" "Paham, Bu." "Baik. Kita mulai pembelajaran hari ini. Materi kita tinggal dua lagi, ya. Hari ini akan kita selesaikan keduanya, agar minggu depan bisa membahas soal." Semua penjelasan guru itu didengarkan oleh semua murid di kelas. Dalam otak mereka sudah terbayang soal-soal hot yang akan menyerang. Namun, meningat sebentar lagi mereka akan meninggalkan bangku kelas dua belas atau sama saja dengan meninggalkan sekolah ini setelah lulus, tinggal sebentar lagi. Tak terasa, mereka akan menjadi alumni. "Oh, ya. Nanti Ibu bagikan formulir rencana masa depan, ya. Diisi di rumah, ditanda tangani orang tua, lalu dikumpulkan besok ke Ibu. Paham semua?" "Paham, Bu." "Keluarkan buku paket buka bab 9 halaman 375." "Baik, Bu." Azela menghela napas pelan. Belajar memang membosankan baginya jika di sekolah, karena bagi Azela, ia terasa lebih fokus jika belajar sendirian di kamarnya. Cara orang menangkap pembelajaran berbeda-beda. "Zel, gak dicatat?" tanya Azila. "Entar aja di rumah," ucap Azela. "Catat sekarang aja, Zel." "Gue ngantuk." Azila menghela napas. Azela memang jarang sekali belajar di sekolah. Ia hanya menghabiskan waktu untuk tidur atau melamun saja. "Mau gue salinin?" "Gak usah." "Ya udah, tapi nanti catet, ya." "Hm, iya." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD