Tiwi semakin bertingkah gila. Ia benar-benar berniat menghancurkan mental Azela. Tiwi membuat kebakaran kecil di dahapan Azela. Walaupun tak akan melukainya, akan tetapi Azela memang trauma dengan api.
Sepertinya Tiwi mengetahui kelemahan Azela tersebut. Azela sekarang hanya terduduk lemah tak berani menolehkan kepalnya. Api di depannya semakin berkobar besar.
Dulu, rumah Azela sempat kebakaran dan salah satu ART yang bekerja di rumah Azela dahulu, terbakar, hal itu membuat Azela trauma dengan api.
"Cukup," lirih Azela pelan. Ia pun terbatuk. Wajah Azela terasa memanas, belum lagi keringat dingin sudah membanjirinya. Tiwi tertawa kencang, sangat puas melihat wajah kefrustrasian Azela itu.
"Gimana? Mau dibesarin lagi apinya?" tanya Tiwi hendak membesarkan sumbu api itu.
"Berhenti! Please, gue udah nggak tahan." Azela semakin terbatuk.
Tiwi pun tertawa puas. Ekspresi itulah yang ia inginkan.
"Nyonya! Mobil Lita sudah sampai!" teriakan dari salah satu anak buah Tiwi.
"Haha, bagus! Apakah gadis itu berhasil?"
"Sepertinya berhasil, Nyonya!"
Tiwi pun tertawa kencang. "Azela, kamu tahu? Saudari kembarmu yang lemah berhasil dibawa ke sini oleh anak buah saya. Hahaha! Akhirnya ... akhirnya saya bisa melihat anak-anak Fathia menderita! Akan saya hancurkan mentalnya!"
Tiwi sudah di atas batas tak waras. Ia sepertinya memang sudah gila karena terlalu depresi.
Ternyata benar. Azila didorong paksa masuk ke ruangan itu oleh Lita. Ia pun terjatuh tepat di depan kaki Tiwi.
"HAHHA. Satu lagi kelinciku." Tiwi pun tanpa segan menginjak jari tangan Azila. Mata Azela melotot tak percaya. Melihat saudarinya itu kesakitan, membuat Azela naik pitam. Ia pun mengeluarkan pisau yang terselip di punggungnya, lalu memotong tali pengikat tangannya, dengan cepat Azela melepaskan ikatan kakinya juga.
Terlebih dahulu Azela memadamkan api yang semakin membesae di hadapannya itu.
Setelah itu, satu tendangan Azel berhasil membuat Tiwi tersungkur.
"Azel!" teriak Azila yang sudah menangis.
"Lo tenang dulu. Sekarang berdiri di belakang gue!" suruh Azela.
Azela tanpa ragu menyodorkan pisaunya ke arah Tiwi.
"HAHAHA. Masih mau ngelawan?"
"Anda sudah tidak waras," ucap Azela.
"Hei, kalian yang ada di luar. Jangan sampai ada penyusup yang masuk ke sini!" teriak Tiwi.
"Baik, Boss."
"Baik, Nyonya!"
Jawab mereka dengan berbagai panggilan kepada Tiwi.
"Biar saya sendiri yang menghabisi dua bocah ini." Tiwi pun tertawa kencang.
Ia lalu mengeluarkan pisaunya juga. Azila semakin takut, akan tetapi Azela tetap bersikap tenang. Ia tak boleh gegabah. Ia tak ingin ada pertumpahan darah lagi di sini.
Di luar, terdengar suara orang baku hantam, yang tentu saja itu adalah teman-temannya yang sedang melawan premab-preman anak buah Tiwi.
"Mau adu pisau? Ayo!"
"Azel, gue takut!
"Lo jangan takut. Ada gue!" ucap Azela berdiri di depan Azila.
Tiwi pun menyerang, dengan gesit Azela menghindari serangan. Tiwi yang tak ahli dala hal bela diri tentu saja akan kalah dengan Azela yang sudah menguasai jurus pertahanan, perkelahian, dan lain-lain tersebut.
Akan tetapi, yang diincar Tiwi sekarang bukanlah Azela, melainkan Azila. Maka dari itu Azela kesusahan untuk melindungi Azila agar tak terkena oleh pisauu itu.
Shit! Lengan kiri Azela pun tergores pisau Tiwi. Namun, rasa sakit itu tak dipedulikan dahulu oleh Azela, yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya melindungi Azila.
Azela berhasil mengambil langkah, ia pun mendekati Tiwi, menyergap dan menangkap tangan Tiwi, menariknya ke belakang yang membuat Tiwi tak berkutik. Azela lalu menjatuhkan badan Tiwi ke lantai, dengan tangan yang sudah ia tarik ke belakang.
"Talinya cepat!" teriak Azela.
Azila mengangguk paham, lalu segera memberikan tali-tali yang mengikat Azela tadi.
Azila pun membantu mengikat Tiwi yang terus memberontak.
"Bocah ingusan! Bocah s****n, lepasin saya!" teriak Tiwi terus memberontak.
Bunyi suara pistol yang diletuskan ke langitu pun menjadi pertanda, bahwasanya polisi sudah datang.
Azila segera menghambur ke pelukan Azela. Ternyata kekhawatirannya memang insting anak kembar mereka. Azela dalam bahaya, makanya Azila tak tenang.
"Syukurlah Azel selamat!" ucap Azila.
"Lo nggak pa-pa kan?" tanya Azela khawatir. Ia pun menarik tangan Azila, memeriksa jari-jari Azila yang memerah akibat diinjak oleh Tiwi tadi.
"Gue nggak pa-pa, kok."
"Azila, Azela!" Sebuah teriakan pun membuat mereka menoleh.
Daniel mendobrak pintu ruangan itu. Ia pun segera memeluk kedua putrinya.
"Syukurlah kalian selamat!"
Polisi pun masuk ke ruangan itu membawa Tiwi pergi.
"Saya akan balas dendam. Haha ... mental kapas, mental kapas!"
"Kayaknya Tiwi benar-benar sudah gila," ucap Daniel.
"Iya, Pa."
"Tapi syukurlah kalian selamat. Ayo, pulang!"
Daniel pun membawa kedua putrinya itu keluar dari sana. Di luar sudah ada teman-teman mereka.
"Zel, lo nggak pa-pa, kan?"
"Zila, lo baik-baik aja, kan?'
"Azela, Zila, kalian ada yang luka, nggak?'
Ya seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang langsung menodong Azila dan Azela.
"Kami baik-baik aja, kok," ucap Azila dan Azela serentak.
"Terima kasih, ya," ucap Azela tulus.
"Maaf ngerepotin," sambung Azila.
"Sama-sama."
***
Setelah kejadian itu berlalu. Esoknya Azela terkena demam dan flue, juga batuk. Mungkin akibat asap api yang dibakar di hadapannya itu membuat Azela tidak enak badan jadinya.
"Lo beson jadi ikut casting, kan?" tanya Azela.
"Iya, Zel."
"Ya udah, latihan, gih!" suruh Azela, karena Azila sejak tadi hanya mengpres suhu badannya, menemaninya sejak pagi.
"Azel kan lagi sakit. Biar gue temenin dulu."
"Gue nggak pa-pa, gak usah ditemenin juga gak papa, kok, Zila."
"Tetep aja, Azel. Biarkanlah adekmu ini merawatmu dengan baik."
"Dih, aku-kamu bahasa apaan, tuh," ucap Azela bergidik.
"Hehe, Azel, mah."
"Udah, sana. Latihan aja. Entar nyesel kalau gak latihan."
Pintu kamar Azela pun diketuk. Azila pun berteriak membolehkan masuk. Ternyata tamu itu adalah Devi.
"Gimana, Zel? Udah baikan?"
"Mayanlah."
"Syukurlah. Ini, gue bawain bubur ayam. Dimakan, ya."
"Thanks, Dev, entar gue makan, deh, sekarang masih kenyang."
"Ya, tapi jangan lama-lama, keburu nģgak enak entar."
"Iya. Eh, ya, Dev. bantuin Azila, dong, dia mau latihan nih."
"Eh, iyakah Zila? Besok kan castingnya? Lo jadi ikutan, kan?"
"Iya, jadi. Tapi gue gak mau ah latihab sekarang. Pengen rawat Azel aja."
"Lo latihan di kamar gue aja, biar bisa gue lihat."
"Hmm, oke, deh."
Azila pun berlatih untuk besok. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Azila harus bisa! Terserah, urusan nanti jika lolos atau tidak lolosnya, yang terpenting Azila berusaha saja dahulu.
Sikap panjang menyerah Azila sangat dibutuhkan sekarang.
"Yuk, dimuali ya, Dev!"
"Oke!"
***
Hari ini adalah hari di mana Azila ikut casting! Setelah lama latihan, saat inilah puncak hasil latihannya tersebut.
Azila sudah berpenampilan rapi, layaknya artis yang akan bermain peran.
Ah, masalah kecantikan tak usah diragukan lagi, karena Azila sudah cantik dari sananya. Ia pun hanya memakai baju santai, biasaz agar tak kelihatan norak.
Sembari menunggu antrian. Mereka pun duduk di kursi yang kosong. Tidak hanya Azela yang menemaninyaz tetalpi, Devi pun ikut mendukungnya.
"Go-go, go, Azila!"
"Hehe, thank yous, Guys!"
Mereka pun tertawa menatap Azila yang malu digoda sepertu itu.
Namun, tiba-tiba ada seseorang yang menyenggol Azila, membuat sesuatu tumpah dari kaleng itu, membuat baju Azila basah.
"Ups, sorry, ya. Ga sengaja," ucapnya berlalu santai. Azela yang melihat saudarinya sudah dikerjai seperti itu tak terima. Azela bangkit, lalu menghampiri gadis yang dengan sengaja menumpahkan minumannya ke baju Azila.
Tanla pikir panjang, Azela juga menyiramkan gelas yang berisi air penuh di meja tersebut ke arah cewek tadi.
"What? Siapa lo, ha! Bearani-beraninya basahin baju gue."
"Lo duluan yang mulai," ujar Azela.
"Ish, dasar!" kesal cewek itu.
Azela melangkah kembali duduk di meja yang dutempati Azila dan Devi.
"Udahlah, Zel, nggak usah ditanggepi."
"Nah, iya. Azel. Gue nggak pa-pa, kok."
"Ga papa gimana. Baju lo jadi basah, kan?"
"Hehe, bentar lagi juga kering, kok."
"Peserta nomor tuju delapan." Refkeks Azila pun bangkit. Ia mengode Azela dan Devi agar mendoakanya.
"Semangat Azila, semangat! Pastu bisa," ucap Devi menyemangati.
"Makasih, Gengs!"
Azila pun berjalan masuk ke ruangan itu. Ia diminta untuk berakting sesuai dengn apa yang ada di skenario tersebut. Untung saja Azila sering berlatih. Ia juga sudah memahami bagaimaha cara menulis dan membaca yang benar.
"Oke, stop. Makasih, ya."
Azila membungkukkan badannya sedikit, lalu berjalan ke arah medan perang.
"Gimana tadi Zila?" tanya Devi langsung menyambut.
"Sykurlah gue bisa lewatin, tapi ... untuk hasil gue gak tau, sih. Yang penting gue udah berusaha."
"Nah, benar. Gimana atas sykuran Azila udah tampil, kita makan-makan?' usul Azela.
"Ayo! Makan gratis siapa, sih, yang berani nolak!"
"Hahah, iyain, deh."
***
Mereka pun kembali ke Kafe Katerin. Ternyata kafe ini bikin nagih. Makanannya yang enak dan harga terjangkau, belun lagi tempat yang nyaman.
Mereka bertiga jadi betah kalau ingin bermain ke sini.
"Silakan dinikmati!" ucap Pelayan itu, lalu segera kembali mengambilkan pesanan yang lain.
"Jamgan lupa doa dulu sebelum makan, bukannya malah selfie," ucap Azela.
"Iya, Azel, iya."
"Azela kayaknya jadi makik cerewet ya," komentar Devi.
"Ya nggak pa palah Dev, daripada dingin banget kayak batu es, mending Azela hangat kayak pelukan doi."
Azela berdeham pelan.
"Hehe canda doi," ucap Azila telekeh singkat.
"Ehm, Zil. Menurut lo lebih cakepan mana Reyhan atau Agil?" tanya Devi tiba-tiba.
"Sama aja, sih, mereka tuh punya kelebihan masing-masing."
"Nah iya. Tapi gue lebih tertarik sama Agil, sih, tapi akhir-akhir ini Reyhan juga terlihat tertarik.
"Pacarin keduanya aja," ucap Azela santai.
"Mana boleh sekali dua, Azel," ucap Azila menimali.
"Bisa aja sih kau kedua pihak setuju.
"Hahah ada-ada aja Azel, yang ada tuh cinta sejati cuma satu dari awal sampai akhir."
"Iyaz deh," ucap Azela pasrah.
Soal percintaan ia tak tahu banyak.
***