Hal ini benar-benar di luar ekspetasi Azela. Ia tak berpikir bahwa Tiwi berniat untuk membawa Azila juga ke sini. Ia pikir jika dirinya saja yang berkorban, sudah cukup. Akan tetapi, Tiwi benar-benar sudah di luar batas gila.
Jika sudah begini. Apa yang akan dilakukan Azela?
"Saya sudah menyerahkan diri pada Anda. Kenapa masih bawa-bawa kembaran saya, ha?"
"Ya, karena kalian kembar! Biar adil, saya akan melemahkan mental kalian berdua. Saya yakin, kalau kembaran lemah kamu tak tahu apa-apa, kan? Wah. Bagaimana ya reaksinya jika tahu Daniel bukanlah ayah kandung kalian. Terus gimana pula reaksinya melihat saudari kembarnya ini disekap di sini. Oh, ya ada satu lagi! Yang paling mengejutkan, bagaimana saat dia tahu kalau Ayah kandungnya saya sekap selama ini."
"Diam!" teriak Azela benar-benar marah. Ia tak peduli jika dibunuh sekalipun oleh Tiwi, akan tetapi ia tak sudi jika Azila juga terlibat.
"Anda adalah iblis paling gila. Saya gak yakin, Anda masih punya otak atau pun hati," ucap Azela.
"Hati saya sudah dihancurkan oleh Ibu kamu! Jadi salahkan Ibumu sana!"
"Anda hanya iri, kan, dengan Ibu saya? Ibu saya lebih cantik, lebih pintar, lebih kuat daripada Anda," ucap Azela tersenyum miring.
"Juga lebih menarik hati semua orang daripada Anda," lanjut Azela.
"Harusnya Ibu kamu tidak terlahir di dunia ini! Harusnya dia gak lahir! Dia nggak ada di dunia ini! Dia hanya perusak kebahagiaan saya."
Ya. Azela tahu sedikit tentang Tiwi.
Dahulu, setelah ayahnya Tiwi meninggal. Ia yang tak memiliki siapa-siapa lagi terpaksa menjadi gelandangan.
Tiwi pun sudah memiliki bibit balas dendam dari kecil, di mana saat kecil ia sudah mengemis di jalanan, tak bisa dipungkiri juga pernah dicaci orang, dimarahi, bahkan tak diterima oleh orang-orang.
Sampai akhirnya saat ia berumur tujuh belas tahun. Keperawanannya sudah direnggut oleh preman jalanan. Mental Tiwi benar-benar sudah terpatahkan. Mental Tiwilah yang disebut dengan mental kapas.
Ia pun hamil, lalu keguguran. Keluarga Alex-lah yang memberikannya harapan untuk tetap hidup.
Tiwi pun diangkat oleh orang tua Alex, menjadi anak angkat mereka. Tiwi juga diberikan pendidikan homeschooling khusus, karena selama ini ia tak pernah belajar.
Ia pun jatuh cinta dengan Alex. Ya, Tiwi sudah terbuai akan pesona kakak angkatnya itu. Namun, lagi-lagi Tiwi harus merasakan patah hati, karena Alex sudah memiliki pacar dan ternyata ... pacarnya Alex adalah ... Fathia. Anak dari pembunuh ayahnya! Tiwi semakin meronta-ronta membenci keluarga Fathia.
Mentalnya sudah hancur, sedangkan Fathia malah tampak hidup bahagia, serba berkecukupan, dan mempunyai pasangan yang ia idam-idamkan.
Tiwi sangat iri dengan Fathia. Ia ingin merenggut kebahagiaan Fathia pula! Tiwi pun menjadi orang ketiga di hubungan mereka. Akan tetapi, sama sekali tak mempan.
Hubungan mereka tetap baik-baik saja. Hal itu membuat Tiwi semakin geram. Hingga tak ada pilihan lain. Ia terpaksa membiarkan saja mereka menikah sampai memiliki anak.
Orang tua angkat Tiwi pun meninggal karena kecelakaan. Lagi-lagi ia ditinggal sendiri.
Untuk itu, ia ingin merebut Alex lagi, karena hanya Alex satu-satunya yang ia punya. Tiwi pun menculik Alex dan menyekap pria itu jauh dari tempat ini.
Ia pun memaksa Alex menikahinya, atau tidak dengan ancaman bayi kembarnya akan celaka. Alex pun dengan pasrah dan terpaksa menikahi Tiwi.
Satu tahun setelah menikah dengan Tiwi. Alex pun mendapatkan kabar jika istri tercintanya, Fathia meninggal dunia.
Alex pun berniat kabur dari Tiwi. Namun, nasih malang lagi-lagi menimpanya. Alex kecelakaan yang membuatnya koma sebulan. Ternyata, kaki Alex pun lumpuh permanen, sehingga tidak bisa berjalan.
Tiwi kembali membawa Alex ke kediamannya sampai sekarang. Alex hanya hidup di rumah, tak bisa kabur ke mana pun, apalagi ada anak buah Tiwi yang mengawasinya.
Ya seperti itulah latar belakang mengenai orang tua Azila dan Azela, serta bagaimana kehidupan Tiwi.
Kembali pada laptop, Azela mencemaskan apa yang terjadi pada Azila nantinya. Sepertinya Azela pun tak tahu harus apa, selain berdoa agar Azila baik-baik saja.
***
"Kalian kenapa, sih, ngikutin gue mulu?" tanya Azila heran, menatap Agil dan Reyhan yang selalu berjalan di belakangnya.
"Kami hanya ingin jagain lo Zila, sebagai pengganti Azela," ucap Reyhan.
"Dih, emangnya gue anak kecil dijagain segala!"
Devi juga berjalan di sebelah Azila, sambil menggenggam tangan gadis itu pelan.
"Abis ini kita boleh pulang, kan?" tanya Devi.
"Iya."
Azila lalu menatap ke arah Reyhan dan Agil.
"Udahlah, kalian pulang aja. Gue juga mau pulang, nih, masa mau ngikutin gue terus?"
"Ya udah, deh," ucap Agil menarik Reyhan agar tak mengikuti Azila lagi.
"Hmm ... Dev, Pak Patman udah jalan ke sini, mungkin bentar lagi sampe. Kita tunggu di luar aja, yuk!"
"Oke, Zila."
Mereka berdua pun berjalan ke luar menuju gerbang sekolah.
"Azila!" panggil sebuah suara. Azila pun menoleh.
"Ya?"
"Ada orang nyariin lo."
"Siapa?" tanya Azila.
"Hai. Lo Azila, ya?" tanya cewek itu menghampiri Azila.
"Iya. Ada apa perlu apa, ya?"
Devi menatap penuh selidik. Sepertinya wanita itu bukan siswa atau pun guru di sekolah ini.
"Kenalin, gue Lita. Gue datang ke sini disuruh Azela buat jemput lo."
Mata Azila melebar saat mendengar nama Azela disebut.
"Lo siapa. Lo kenal Azela?"
"Ya. Gue temennya Azela. Nah, karena Azela ga bisa pulang tadi malam, dia ingin lo jemput dia, karena dia nggak mau juga dianterin atau pulang sendiri.
"Kok gitu?" tanya Azila.
"Karena Azela juga ingin lo ke tempat dia."
Devi semakin curiga. Ia pun memilih memainkan HP-nya.
"Ya udah, ayuk! Azela udah nunggu lo," ajak Lita.
"Pergi aja, Zila. Sorry gue keknya nggak bisa ikut, deh, soalnya nyokap gue nyuruh cepat-cepat pulang. Maaf, ya."
"Kebetulan sekali. Maaf, ya, yang diundang juga cuma Azila," ucap Lita.
"Oh, ya, gak pa-pa, kok."
"Ya udah, ayo, Azila," ajak Lita mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Azila.
Devi tersenyum meyakinkan, bahwasanya tak apa-apa jika Azila pergi bersama orang asing itu.
Setelah Azila masuk ke mobil orang yang membawanya itu, buru-buru Reyhan, Agil, dan Hannan menghampiri Devi.
"Mana mobilnya?" tanya Hannan yang sudah siap dengan motornya.
"Itu, tuh, lo kejar duluan cepat!"
"Oke!"
"Dev, buruan naik ke motor gue!" suruh Agil. Devi pun menaiki motor Agil. Motor Reyhan pun sudah melaju menyusul Hannan.
Ya, inilah rencana Devi. Saat ia mulai curiga dengan Lita tadi, ia pun menghubungi teman-temanya untuk menunggu di gerbang dan bersiap mengikuti orang yang membawa Azila.
Devi curiga dan khawatir Azila. Ia tak yakin jika Lita adalah orang yang baik.
***