Kekhawatiran

1112 Words
Azila tak bisa tertidur. Apa yang diucapkan oleh Azela tadi menjadi boomerang untuknya sebelum tidur. Kenapa Azela pergi mendadak seperti itu? Bilangnya pun hanya ke pesta. Lalu, Daniel juga mengetahui itu tetapi ia sama sekali tak tahu. "Azila, kenapa?" tanya Devi, ikut duduk, karena Azila belum tidur. "Kok perasaan gue nggak enak ya, Dev." "Kenapa? Lo mikirin apa?" "Gue mikirin Azela." "Bukannya Azela bilang, gak usah khawatirin dia." "Ya, tetap aja, Dev. Gue gak pernah merasa sekhawatir ini mikirin Azela. Mungkin ini insting anak kembar." "Udah, Zila. Kalau lo pikirin terus malah nyiksa diri lo sendiri, loh. Azela bilang dia pasti baik-baik aja, kan? Lo harus percaya sama dia." Azila mengusap wajahnya pelan. "Gue sama sekali gak tenang." "Ya wajar, sih, kalau lo mikirin Azela, tapi jangan dipikirin terus, ya. Azela juga pasti gak suka kalau lo panik gini sampai gak bisa tidur." "Gue harus tanya Papa." Azila sama sekali tak mendengarkan ucapan Devi. Ia lalu bangkit, dan keluar kamarnya. Devi hanya bisa melengos pasrah. Jika sudah begini ia pun juga tak tahu harus apa. Azila mengetuk pintu kamar Daniel, berteriak memanggil papanya itu untuk membukakan pintu. "Kenapa, Sayang? Udah malam, kok, belum tidur?" tanya Daniel menguap pelan, setelah membukakan pintu. "Sebenarnya Azel ke mana, Pa?" tanya Azila menodong Daniel dengan pertanyaan itu langsung. "Ke pesta." "Masa ke pesta ga pulang. Emang pesta apaan?" "Itu ... pesta pernikahan temannya, Sayang. Kan adatnya juga banyak, tuh, mungkin Azela disuruh nginap. Sama kayak Devi nginap di rumah kita." Azila tersenyum kecil, lalu berkacak pinggang. "Sejak kapam Azel punya teman, Pa?" Daniel mati kutu. Benar juga! Teman Azela selama ini hanyalah Agil dan Reyhan. Lalu, alasan apa pun yang diberikan juga sudah terbaca jika itu adalah alasan palsu. "Papa jujur aja, deh, sama Zila. Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dari Zila?" "Nggak ada, Sayang. Kamu tenang aja. Azel baik-baik aja, kok." "Zila kecewa sama Papa. Kecewa sama Azel juga. Kenapa nggak mau jujur aja sama Zila. Emangnya Zila siapa di keluarga ini? Zila kayak gak dianggap." "Duh, Sayang. Jangan melebar ke mana-mana." "Zila kecewa sama Papa." Azila pun melangkah pergi, meninggalkan kamar Danir. Lalu, berjalan kembali ke kamarnya. Daniel mengusap wajah frustrasi. Sekarang yang ia pikirkan tidak hanya Azela bagaiamana keadaannya sekarang, akan tetapi memikirkan Azila juga yang sudah kecewa padanya. Bisa bajaya jika Azila merajuk pula padanya. Bagaimana jika Azila berniat menyusul Azela? Walaupun Daniel yakin, Azila juga tak tahu ke mana Azila pergi. *** Azila kembali berbaring di kasur. Devi yang melihat raut wajah Azila yang tak bersahabat sekarang, terpaksa menutup mulut rapat-rapat saja. Ia tak akan mengganggu Azila dahulu. Biarlah gadis itu berkenala dengan pikirannya sendiri, karena jika Devi salah bicara salah, bisa-bisa Azila nekad mengusirnya malam ini juga. Devi menatap Azila yang masih melamun sekilas. Ia hanya bisa berharap semoga rasa kantuk Azila datang dan ia tertidur, sehingga tak berpikir macam-macam lagi. "Azela. Kok Zila kangen aja sama Azel," ucap Azila terdengar lirih. Ternyata orang kembar jika terpisah sebentar, sudah merasa kehilangan. Memang salut melihat suadari satu ini. *** Pagi kembali menyambut. Hari ini tidak belajar, karena ada acara pelantikan anggota osis baru dan juga guru-guru rapat untuk ujian kenaikan kelas. Azila sama sekali tak bersemangat. Ternyata Azela benar-benar tak pulang semalaman. Bahkan sampai pagi ini, Azela tak menyusul untuk datang ke sekolah. "Selanjutnya adalah pemindahan tugas Osis Bidang Seni kepada anggotanya yang baru." Saatnya giliran Azila melepas-turunkan tugasnya pada anggota yang baru dilantik. Ia hanya memancarkan senyum palsu sejak tadi. Hannan pun menyadarinya. Setelah selesai acara pelantikan pada bagiannya. Azila kembali berbaris ke tempat anggota osis lama. "Ada apa?" tanya Hannan menghampiri Azila. "Gapapa." "Cerita aja," ucap Hannan. "Lagi malas." "Oh, ya udah." Hannan mengenggam tangan Azila pelan. Mencoba membangkitkan semangat gadis itu lagi. Hannan tak tahu apa yang terjadu, tetapi melihat Azila tak seperti biasanya membuat Hannan tahu ada suatu hal yang terjadi. Biarlah nanti ia menanyakan pada Azela atau Devi saja. Hannan juga baru menyadari jika Azela tak tampak. Oh, apakah Azila sedang bertengkar dengan Azela? Tetapi sepertinya bukan itu alasannya. Setahu Hannan, mereka berdua sering beradu mulut, akan tetapi tak pernah yang benar-benar bertengkar serius, karena Azela sangat meyanyangi Azila, begitupun sebaliknya. Tidak mungkin mereka saling menyakiti satu sama lain. *** "Azila, makan, yuk. Lo gak sarapan kan tadi pagi?" ajak Devi. Namun, Azila menggeleng. Ia tak nafsu makan. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah Azela. Terlebih nomor kembarannya itu sudah tak aktif. Membuat rasa khawatir Azila semakin bertambah. "Azela bisa marahin gue, kalau lo nggak makan, Zila." "Gue gak ada selera makan." "Dipaksa makan aja, biar perut lo nggak kosong." "Nggak mau!" Saat ini mereka berada di kantin, tetapi Azila sama sekali tak memesan makanan apa pun. Mata Azila melebar saat melihat Agil dan Reyhan yang berjalan memasuki kantin. Buru-buru Azila memanggil keduanya, untuk duduk di meja mereka. "Hai, Zila," sapa Reyhan. "Hai, Devi," sapa Agil pula. "Reyhan, Agil, kalian tau Azela ke mana?" "Hah, emang dia ke mana? Daritadi gue juga nggak lihat," jawab Reyhan. "Gue juga nggak lihat, tumben banget. Apa di perpus kali, ya?" Harapan Azila untuk bertanya pada kedua sahabat kembarannya itu pun pupus sudah. Ternyata Reyhan dan Agil lebih tak tahu darinya. Berarti yang tahu hanyalah Daniel dan Azela saja. Azila jadi makin penasaran, kenapa Azela merahasiakan hal ini padanya? *** "Bangun, Bocah!" Azela mengerjapkan matanya. Matahari sudah naik, ruangan ini pun cukup terang, karena sinar mentari yang masuk dari celah ventilasi. "Udah pagi. Saatnya bangun," ucap Tiwi. "Berapa lama Anda mau kangen-kangena sama saya di sini?" tanya Azela. "Tentu saja sampai kembaran lemahmu datang ke sini. Pasti mentalnya makin lemah, saat melihat saudari kesayangannya terduduk lemah di sini." "Azila tidak akan datang." "Dia pasti datang. Dia akan menjadi pahlawan untuk menyelamatkan kamu, duh sangat mengharukan." "Apa mau Anda?" tanya Azela mengubah topik. "Simpel saja. Saya ingin kamu merasakan apa yang saya rasakan dahulu, bagaimana rasanya mental dihancurkan dan hidup tidak tenang." "Mental saya tak selemah itu. Maaf, ya," ucap Azela. "Ya karena kamu baru semalam di sini! Nantikanlah hari-hari berikutnya!" ucap Tiwi tertawa pelan. "Kamu cukup pintar juga, ya, membawa HP yang tidak ada apa-apanya," ucap Tiwi melempar HP Azela ke lantai. Padahal Tiwi ingin menggunakan HP Azela untuk menghubungi Azila, tetapi Azela sudah mengosongkan semua kontak di HP-nya. Ia mencabut sim-card, memori-card, agar HP-nya tak disalahgunakan oleh Tiwi. Kemarin malam, Azela tak benar-benar pingsan. Ia menggigit lidahnya, agar tak jatuh pingsan. So, Azela masih dalam keadaan sadar saat dibawa ke sini. "Tapi saya juga tidak bodoh. Saya sudah menyuruh anak buah saya untuk membawa paksa Azila kemari. Dia pasti berada di sekolah sekarang, kan?" Azela terkejut, jika Tiwi memang beniat menculik Azila ke sini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD