Tiwi terkekeh tak melanjutkan ucapannya. Azela miriknya sinis.
"Saya anaknya Daniel dari Perusahaan Muichi. Salam kenal ... Om," ucap Azela menekankan kata Om. Tiwi tersenyum kecut.
"Perusahaan Muichi? Perusahaan besar itu? Wah, sayang sekali kerja sama perusahaan saya ditolak oleh ayah kamu."
"Oh, ya? Jika Om ingin mengulang kerja samanya. Saya bisa bicarakan pada ayah saya. Namun, sebelum itu. Boleh saya tau, nama Om siapa?' tanya Azela sangat sopan.
"Saya Alex. Panggil Pak Alex saja, daripada Om."
Azela tersenyum miris, "padahal yang gue inginkan, Anda menyuruh saya memanggil Ayah," batin Azela.
"Baik, Pak Alex."
"Oh, ya, Mas. Terima kasih, ya, udah beliin aku mobil baru. Makin sayang, deh." Tiwi malah bergelayut manja dengan Alex di depan Azela.
Tiwi ingin membuat Azela panas. Akan tetapi, Azela sama sekali tak peduli. Sosok ayah seperti Alex tak sesuai ekspetasinya. Jadi, jika realitanya begitu. Azela juga tak akan kecewa.
"Mm ... Mas. Orang-orang pada bawa istri dan anaknya. Anak kita mana, Mas?" tanya Tiwi.
"Kita gak punya anak, Wi. Jangan bersedih, ya."
"Lagian percuma aku nikah sama duda, tapi nggak ada anak," ucap Tiwi mengerutkan bibirnya. Azela serasa ingin muntah.
"Kan aku sudah bilang, istri dan anakku udah meninggal. Hanya aku yang tersisa. Untung aku dipertemukan dengan kamu."
"Hemhem," dehaman Azela mengalihkan perhatian Alex.
Satu fakta lagi yang Azela dapatkan. Kenapa Ayah kandungnya itu bucin sekali? Bahkan terlihat menjijika bermesraan dengan Tiwi.
"Mas, kalau seandainya aku punya anak gimana?" tanya Tiwi.
"Baguslah. Aku akan sayangi anak itu."
Azela berdeham. "Oke, sudah cukup sandiwaranya. Saya tau, kalau Anda bukan Alex Ayah kandung saya," ucap Azela bangkit, sambil menggebrak meja. Semua perhatian pun tertuju pada meja mereka.
Ya sudah diduga. Sejak tadi Azela hanya mengikuti arah persandiwaraan Tiwi dan Alex palsu itu.
"Apa maksud kamu?" tanya Alex sok polos. Hal itu membuat Azela semakin muak.
"Gue ga bodoh ya, Tiwi," ucap Azela.
"Heh, jaga sopan santu kamu berbicara dengan istri saya, ya."
"Udahlah Alex palsu juga jangan banyak omong. Dipikir saya bodoh apa," ucap Azela.
"Oh, udah tau, ya? Okelah, kalau gitu. Sekarang!"
Tiba-tiba dari arah belakang ada beberapa orang yang menyergap Azela. Mereka memegang tangan Azela menariknya ke belakang, dan mengunci pergerakan Azela.
"Oh, ternyata kamu sudah mengetahui perangkapnnya, ya? Sayang sekali, sudah tau tetap saja masuk ke perangkap saya."
"Saya juga tau, abis ini akan tertidur," ucap Azela tersenyum singkat.
"Ya. Emang saatnya tidur, Anak Manis!"
Tiwi pun melangkah mendekati Azela, memukul tengkuk gadis itu, yang membuat Azela langsung tak sadarkan diri.
"Bawa dia ke mobil!" suruh Tiwi. Para anak buahnya itu pun mengangguk paham. Mereka pun mengangkat badan Azela.
***
Mata Azela mengerjap-ngerjap pelan saat melihat pencahayaan minim di ruangan ini. Ah, sudah sampai, ya?
Pura-pura tidurnya selesai, batin Azela. Ia juga tahu, jika sekarang tangan dan kakinya sudah terikat dengan tali.
"Saatnya bangun tidur, Anak Manis."
Tiwi lalu sedikit membungkukkan badannya, menatap wajah Azela.
"Akhirnya, saat yang saya tunggu-tunggu tiba. Hahaha!"
Tiwi lalu duduk di kursi yang berada di sana.
"Kamu taulah, alasan saya sangat membencimu dan keluargamu."
"Ini semua salah Ibumu!" ucap Tiwi dengan bola mata besarnya yang semakin membulat besar.
Azela hanya diam. Mau berbicara pun, mulutnya sudah dilakban. Jadi, mending Azela mendengarkan saja apa yang akan dikatakan iblis di hadapannya ini.
"Nenek kamu merenggut kebahagian saya! Ibu kamu juga sudah mematahkan semangat hidup saya! Kamu dan kembaran lemah kamu itu sangat membuat darah saya mendidih!"
Tiwi menatap Azela tajam. "Apalagi wajah sifat, dan sikap kamu mirip sekali dengan Ibu kandung kamu!" tunjuk Tiwi.
"Kamu tau, setiap melihat wajah kamu. Darah saya terasa mendidih, emosi saya selalu diubun-ubun."
"Kamu tau, ayah kandung kamu yang nggak berguna itu sudah saya sekap dan tak akan bisa menemui kamu."
Ya sudah diduga. Azela juga sudah menduga itu sejak lama. Makanya, ia daridulu selalu mendesak dan memaksa Tiwi memberitahu di mana keberadaan Ayahnya, karena memang Tiwi yang menyembunyikan Alex—ayah Azela.
"Nenek kamu sudah membuat keluarga saya menderita!" teriak Tiwi di depan muka Azela. Wajak Mak Lampirnya pun keluar kembali. Aźela hanya menatap datar. Selama ini ia sudah terbiasa menatap wajah hantu, ya itulah gunanya ia suka menonton film horor, karena hantu sebenarnya sedang berada di hapannya sekarang. Oh, bukan.
Lebih tepatnya Ratu Iblis. Ya, Azela sedang berhadapan dengan iblis sekarang.
"Nenek tua bangka kamu itu, sudah membunuh Ayah saya!"
Tiwi melepaskan lakban yang menempel di mulut Azela. "Bagaimana menurut kamu? Nenek kamu sangat kejam, kan?"
"Dapat info ngarang dari siapa?" respons Azela, membuat Tiwi naik pitam.
"Diam kamu. Apa yang saya katakana mutlak kebenarannya!"
"Nenek saya tidak membunuh Ayah Anda, tapi Ayah Anda-lah yang membunuh Kakek saya, karena mengancam untuk mewariskan perusahaan untuknya, tapi Kakek saya menolak. Ayah Anda lalu menikam Kakek saya dan diketahui oleh Nenek saya! Anda tau sendiri, Nenek saya seorang polwan! Karena tak ingin dihukum mati, Ayah Anda membunuh dirinya sendiri," jelas Azela panjang lebar. Semua yang dikatakannya adalah benar tanpa dibuat-buat.
"Kamu pikir saya percaya dengan ucapan bocah kayak kamu, ha? Kamu hendak membodohi saya, ha?"
"Anda yang bodoh!" ucap Azela. "Sudah tau, s*****a yang selalu dipegang Nenek saya adalah pistol, sedangkan Ayah Anda mati karena tersusuk pisau. Lalu, siapa yang membawa pisau di tempat kejadian?"
"Diam kamu! Jangan mengada-ngada cerita!" teriak Tiwi semakin murka.
"Nenek kamu yang membunuh ayah saya!"
"Terus, Anda pikir siapa yang membunuh Kakek saya?" tanya Azela membuat Tiwi tak berkutik.
"Saya tau, Anda masih terlalu kecil waktu kejadian itu. Bahkan saya sendiri belum lahir, karena Ibu saya juga masih kecil, tapi Anda harusnya mencari fakta yang benar."
"Jangan sok menggurui saya!"
"Terus, apa yang akan Anda lalukan? Membunuh saya? Silakan," ucap Azela tersenyum tenang.
"Jika kamu masih saja terus melawan saya. Saya juga gak akan segan membunuh kamu!"
"Ya, silakan. Saya sudah siap, nih," ucap Azela semakin menantang.
Tiwi mengepal tangan kuat. Ia lalu menampar pipi Azela. Tamparan itu cukup kuat, membuat pipi Azela memerah dibuatnya.
"Kok hanya ditampar?"
"Diam kamu!"
Tiwi memilih meninggalkan Azela. Ia tak akan bisa membunuh Azela. Selain tidak ada guna baginya. Jika Azela mati, maka akan membuat Tiwi semakin tersiksa, karena tak ada mainannya lagi.
"Yah, tidur di sini, ya," ucap Azela menatal sekitarnya yang gelap, pencahayaan remang-remang. Terduduk di kursi dengan keadaan kaki dan tangan terikat.
"Apes bener," ucap Azela.
***