Tibalah hari di mana tanggal yang tertulis di undangan yang dipegang oleh Azela. Ia sudah siap. Apa pun yang akan terjadi nanti, Azela sudah bersiap diri.
Ia tahu, ini pasti ada maksud lain. Ingat, tak mungkin iblis berbuat baik, tanpa ada maksud dan tujuan lain.
"Azel mau ke mana?" tanya Azila yang sedang menyisir rambut.
"Gue mau ke pesta."
"Wah, kok nggak aja gue? Pesta apa?"
"Ada, deh. Cuma gue yang diundang lo di rumah aja. Dan satu lagi ... kalau gue gak pulang hari ini, kemungkinan gue pulang besok atau lusa. Lo cukup tunggu gue pulang aja."
"Maksud, Azel?"
"Acaranya, prosenya panjang gitu. Jadi, mungkin sampai hari minggu baru kelar, atau senin."
"Tapi sekarang jumat loh, Zel, lama banget acaranya. Emang pesta apaan, sih?"
"Aduh, ini undangan dari teman gue. Udah, ingat pesan gue, ya! Kalau gue gak pulang, itu tandanya acaranya masih panjang dan teman gue belum bolehin pulang."
"Oke-oke, tapi Azel kabarin aja, ya."
"Eh, ya, satu lagi. Taulah ya HP gue, kan, gampang low batrainya. Jadi, kalau HP gue mati itu tandanya batrainya dah abis dan gue lupa ngecharger. Pokoknya lo jangan panik kalau gue gak ngabarin. Gue baik-baik aja, kok."
"Azel kayak ninggalin pesan amanah aja, deh, udah kayak mau pergi ke mana aja gitu."
"Iya, kan, lo orangnya gampang panikkan Azila."
"Oke, deh."
"Gue juga udah nyuruh Devi buat nemenin lo selama gue ke acara."
"Wah, oke!"
"Ya udah, bye ...."
Azela pun berjalan melangkah meninggalkan rumah. Namun, tiba-tiba Azila memeluknya dari belakang.
"Zila gamau pisah lama-lama sama Azel," ucap Azila yang membuat Azela tertegun. Rasanya semakin berat untuk meninggalkan rumah.
Azela menoleh, tersenyum meyakinkan Azila.
"Ahelah, gue cuma pergi bentaran."
"Tapi kenapa perginya mendadak? Malam-malam pula."
"Gak mendadak, kok, lo nya aja yang ga gue kasih tau. Papa juga tau, kok, gue mau pergi ke acara.
"Eh, Papa tau? Kenapa Papa ga bilang ke gue, sih," kesal Azila.
"Haha. Mungkin Papa lupa kali. Ya udah. Taksi online gue bentar lagi datang, nih. Bye!"
"Hati-hati, Azel!" teriak Azila melambaikan tangannya.
Azela tersenyum singkat. Taksi yang dipesannya pun datang. Azela segera menaiki taksi tersebut. Ia menatap Azila yang masih melambaikan tangannya.
"Gue rela berkorban demi lo Azila, karena gue takut kehilangan lo," ucap Azela.
Ia teringat tentang kemarin saat ia minta izin untuk pergi pada Daniel.
"Gak, tetap Papa gak izinin. Bisa jadi itu cuma perangkap, Zel."
"Ya, aku udah menduga, sih, tapi gimana? Kita ambil sisi keuntungannya aja. Aku hanya ingin ketemu sama Ayah."
"Tapi kalau kamu dibahayakan gimana?"
"Papa tenang aja. Aku pasti bisa mengatasinya."
"Tetap aja Papa khawatir sama kamu, Zel. Yang akan kamu hadapi Tiwi, loh."
"Tiwi bukan apa-apa, kok, Pa."
"Ya kalau nanti yang lainnya gimana?"
"Menurut Papa, untuk apa aku belajar beladiri sama Kakek Raman?"
"Azela ... Papa hanya mengkhawatirkan kamu." Daniel mengacak rambutnya panik.
"Papa cukup lindungi Azila. Makanya, aku wanti-wanti jangan sampai dia nyusulin."
Daniel menghela napas pelan. "Okelah kalau itu yang kamu inginkan."
"Papa tenang aja. Kalau pun aku ditahan mereka, yang pasti Tiwi gak akan bisa bunuhh aku."
Daniel memegang pundak putrinya itu pelan. "Sulitkah jadi anak pertama?"
Azela langsung menggeleng. "Udah tugas Azel, Pa."
Daniel menarik Azela, membawanya ke dekapannya. Daniel sangat kagum dengan keberanian, keteguhan, dan kekuatan mental Azela selama ini. Bagaimana caranya agar ia bisa melindungi saudarinya sangat patut diacungkan jempol.
"Kasi tau Papa alamatnya."
"Alamatnya pasti nanti gantilah, Pa."
"Hidupkan gps aja, Nak."
"Ya, baru mau ngatur gps."
"Hati-hati!" ucap Daniel menepuk-nepuk pundak Azela pelan.
"Thank you, Pa. Titip Azila, ya."
"Pastinya. Kamu gak usah khawatir."
Azela tersenyum, sangat lega mendengarkannya.
***
Taksi yang ditumpangi Azela pun berhenti tepat di alamat tujuan. Azela pun membayar ongkosnya. Setelag itu, ia menghadap ke arah hotel bintang lima.
"Oke, mari bersenang-senang dulu," ucap Azela melangkah masuk.
Tepat di lantai tiga. Para pengunjung sangat ramai. Ya, tentu saja. Perusahaan Firqo memiliki banyak cabang. Belum lagi undangan perusahaan lain, kebarabat, dan sebagainya.
Azela duduk di meja nomor dua puluh dua. Ia mengirimkan foto nomor meja itu pada Tiwi.
Pesan terkirim dan langsung dibaca oleh Tiwi.
"On time juga ya kamu," ucap Tiwi yang sudah berada di belakang Azela. Tiwi pun menarik kursi, lalu duduk di hadapan Azela.
"Udah ga sabar ketemu ayah kamu, ya?"
"B aja, sih."
"Tenang aja, Azela. Saya gak bohong, kok. Nanti kamu bisa lihat ayah kamu, panggil, peluk, dan menangis bersama. Duh, mengharukan."
Azela hanya mendengkus pelan. "Lebay," sahut Azela membuat Tiwi tersenyum miring.
Sang MC yang mengatur jalannya acara pun mulai mengambil alih perhatian para pengunjung.
"Sebentar lagi ayah kamu akan ke sini. Siap-siap, ya," ujar Tiwi tertawa palsu, yang dibuat-buat.
"Ck, ga penting banget," ucap Azela.
"Eh, iya, sampai lupa. Makan dulu Azela. Mumpung banyak, tuh, makanan di hidangan."
"Gak lapar, makasih."
"Wah, nanti kelaparan berhari-hari, loh, kalau nggak makan," ucap Tiwi, kembali tertawa. Entah apa yang lucu.
"Udah kenyang."
"Eum. Maksudnya, kenyang sama penderitaan selama ini? Duh, kasian."
Azela hanya mengabaikan. Kata-kata menyakitkan yang dikeluarkan racun mulut Tiwi sudah tidak mempan. Azela sudah terlalu kebal dengan kata-kata itu.
"Basi," ucap Azela datar. Ia memilih memainkan HP saja, daripada meladeni Tiwi.
"Tiwi. Aku cari ke mana."
"Mass!"
Mata Azela melirik ke arah pria paruh baya yang menghampiri Tiwi. Oh, inikah sosok ayah kandungnya?
"Duduk dulu, Mas," ujar Tiwi mempersilakan suaminya itu duduk di sampingnya.
"Iya." Mata pria paruh baya itu beralih menatap Azela. Jujur Azela sangat degdegan ditatap oleh ayah kandungnya itu. Namun, ia berusaha tetap tenang.
"Dia siapa, Wi?"
Oke. Hati Azela serasa dipatahkan begitu mudah. Hati anak mana yang tak sakit jika ayahnya sendiri tak mengenalnya? Ya, itulah yang dirasakan Azela.
Tiwi tersenyum sinis. "Kamu gak kenal, Mas?"
"Nggak."
Azela langsung mengalihkan tatapannyan Percuma juga, kan?
"Duh, sayang sekali, ya," cemeeh Tiwi yang membuat tangan Azela terkepal. Namun, ia akan tetap tenang, tak boleg terbawa emosi.
"Kamu siapa? Anaknya dari direktur perusahaan apa?" tanya pria itu membuat Azela menoleh.
"Saya Azela," jawab Azela singkat.
"Nama yang bagus."
Azela tersenyum miris. Bahkan namanya saja tak membuat pria itu mengingat siapa dirinya. Atau emang pria itu tak pernah mengingat punya anak?
"Mas, aduh ... masa nggak tau, sih. Azela ini ...." Tiwi menatap Azela. Gadis itu pun membalas tatapan Tiwi.
"Dia adalah anak ...."
***