Azila dan Devi menatap mahakarya yang sudah mereka buat dengan penuh cinta itu berbinar-binar. Apakah kali ini mereka berhasil?
Jika dinilai dari aromanya, sepertinya kue yang dibuat sekarang lebih baik dari yang kemarin. Namun, sebelum dicoba, tidak akan tau bagaimana rasanya, bukan?
"Pokoknya harus kita yang nyicipin dulu, baru orang lain," ucap Azila.
"Iya, biar kalau gak enak, kita gak malu," ujar Devi.
"Nah. Gue persilakan untuk Devi menyicipinya terlebih dahulu."
"Eh? Gue? Lo aja, Zila."
"Nggak pa-pa, Devi. Gue ikhlas, kok."
"Hem? Ok--oke, deh."
Devi tahu, Azila tak mau menyicipinya terlebih dahulu, karena takut jika nanti rasanya tak sesuai ekspetasi mereka.
"Bismillah," doa Devi sebelum memasukkan potongan kue itu ke mulutnya.
Pupil Devi melebar. Azila semakin takut, untuk mendengar hasilnya.
"Enak banget!" ucap Devi, mengunyah kue itu penuh nikmat.
"Eh, serius?"
"Iya. Cobain aja."
Azila pun segera memotong kue itu, membaca doa dan memasukkannya ke dalam mulut hati-hati.
"HUA ENAK!" teriak Azila senang. "YEY! Akhirnya ...."
Azila pun bertos ria dengan Azila. Kerja sama yang bagus.
"Udah jadi?" tanya Azela yang baru saja masuk dapur. Azela mendengar teriakan Azila tadi. Ia jadi penasaran, langsung menyusul ke dapur.
"Udah, Zel. Cobain, deh."
Azela pun memotong kue itu dan melahapnya. "Nah, ini baru kue namanya," ucap Azela berkomentar jujur untuk yang sekarang.
"Hehe. Makasih!"
"Ke depan, gih, Hannan udah datang, tuh," ucap Azela.
"Eh, udah datang? Aaa. Gue belum mandi!"
"Ya gak pa-palah."
"Ish, mana mau gue ketemu Hannan berantakan gini."
"Wah, kalian buat kue, ya," ucap sebuah suara, membuat Azila melotot lebar.
Ia terkejut menatap Hannan yang tiba-tiba muncul di dapur. Azila pun segera membalikkan badannya, tak ingin terlihat berantakan seperti sekarang oleh Hannan.
Azela terkekeh pelan. Tadi ia yang menyuruh Hannan mengikutinya, untuk melihat Azila ke dapur.
"Ih, Hannan kok main masuk dapur aja, sih!" kesal Azila berbicara tanpa menatap Hannan.
"Azela yang nyuruh."
"Azeeel!"
"Haha. Lagian, gapapalah. Lo juga gak bakal ilfeel, kan, lihat Azila belum mandi?" tanya Azela santai, membuat Azila semakin malu.
"Santai aja, Zila," ucap Hannan terkekeh singkat.
"Ih, Azel! Lihat aja nanti, ya!" kesal Azila.
"Ehm, anu ... kalian tunggu di ruang tamu aja, ya. Nanti kami siapin, kok," ujar Devi menengahi.
Untung saja ada Devi di sini.
"Eh, iya. Ada si Agil juga, tuh, di depan," ucap Azela, membuat Devi terdiam tak berkutik.
"Lama amat lo, Zel," ucap sebuah suara lagi yang muncul di dapur.
Devi pun ikut membalikkan badan seperti Azila.
"Woy, orangnya di depan bukan di sono," ucap Azela menjaili mereka.
"Azeeel" teriak Azila dan Devi kompak.
Azela tertawa puas. Ia pun menarik Hannan dan Agil kembali ke ruang tamu.
Melihat mereka sudah pergi, barulah Azila dan Devi membalikkan badan lagi. "Huft, kita kudu bikin perhitungan sama Azel," ucap Azila.
"Iya, nih. Kenapa Agil tiba-tiba ada di sini juga?"
"Agil mah sering main ke sini, bentar lagi juga Reyhan datang, tuh."
"Duh, Zilaa. Tau gini gue gak nginep," ucap Devi. Kenapa rumah Azila jadi ramai begini? Apa memang sudah biasa seperti ini? Ah, Devi saja yang kesepian di rumah.
***
Semuanya pun berkumpul di ruang tamu. Tadi mereka salat magrib berjemaaah di sini, karena sudah azan. Sekarang, saatnya duduk santai menunggu waktu isya.
"Eh, nonton film horor seru, nih," ucap Azela membuat Azila dan Devi memucat.
"Zel, jangan aneh-aneh."
"Ke ruang tengah, yuk!" ajak Azela.
"Yuklah, gue juga pengen nonton yang horor, nih," ucap Reyhan. Ya, cowok itu baru saja datang setelah salat magrib tadi.
"Ayo! Gue tantangin, ya," ucap Azela. "Siapa yang nonton tapi pejamin mata doang, harus tidur di sini semalam," ucap Azela yang sebenarnya menantangi Azila dan Devi.
"Dih, Azel kok gitu?"
"Makanya nonton baik-baik. Seru kok ini. Lagian rame-rame juga. Ngapa takut?"
"Ya, tapi, nanti Azela matiin lamp--"
Baru saja Azila berkata. Ternyata Azela sudah mematikan lampu ruang tengah. Hanya ada cahaya TV yang menyala. Ruang tengah ini memang tertutup, karena ini ruang keluarga yang bersifat privat.
"Aaa, tuh, kan gelap!" Azila memegangi tangan Devi erat.
"Gapapa, Zila, tenang aja Hantunya kan dalam TV bukan di sini," ujar Hannan.
"Dih, Hannan. Kalau nanti hantunya keluar dari layar gimana?" celoteh Azila.
"Gapapa, kan ada gue," ucap Hannan yang malah membuat Azila salting.
"Hueeek, di sini kawasan horor, bukan romantis," sindir Reyhan.
"Biarinlah," jawab Hannan.
Film horor yang waktu itu mereka tonton, diputar ulang oleh Azela. Memang DVD kemarin diambil oleh Azela dari kamar Azila, karena ia ingin menontong ulang.
"Yes, ready!" ucap Agil, ikut tertarik.
Sepanjang film diputar, hanya suara Azila dan Devi yang paling keras berteriak ketakutan. Sedangkan Azela hanya diam tetap santai, sembari memakan kue yang dibuat Azila tadi.
Azila yang sudah sangat ketakutan memeluk seseorang di sampingnya—yang ia yakini adalah Devi. Namun, ternyata yang tengah dipeluknya sekarang bukanlah Devi, melainkan Hannan.
Tak jauh beda dengan Devi. Ia tanpa sadar menggenggam tangan seseorang. Dalam pikiran Devi ia masih menggenggam tangan Azila. Namun, kenyataannya ia sekarang sedang menggenggam tangan Agil. Cowok itu pun membalas genggaman tangan Devi.
"Iiih, takuut!" teriak Azila semakin nyaman berada di pangkuan itu. Namun, detik kemudian ia tersadar jika yang dipeluknya sekarang bukanlah Devi.
"Ma--maaf, Hannan!" Azila segera melepaskan pelukannya. Ia pun memutup mukanya malu, karena sudah memeluk Hannan seperti itu. Jangan sampai Hannan berpikiran ia hanya modus.
"Gak papa kok," ujar Hannan yang malah menarik kembali Azila ke pangkuannya. Azila tersenyum malu. Untung saja di sini gelap, sehingga orang-orang tak akan melihat rona merah di wajahny.
Nyaman. Ya itulah yang dirasakan oleh Azila berada dalam dekapan Hannan. Detak jantung pria itu pun bisa didengar oleh Azila. Detakannya sangat candu. Ia benar-benar berada di pelukan ternyaman.
"Film berakhir, Woy! Jangan modus," ucap Azela yang menyadari sejak tadi jika Azila berpelukan dengan Hannan.
Azila yang hendak melepaskan pelukannya, ditahan oleh Hannan.
"Biarin gini dulu."
Ternyata, Hannan pun merasakan hal yang sama.
Reyhan melirik Azela sekilas. "Zel, lo kenapa nggak takut juga, sih? Pelukan gue nganggur, nih. Lo nggak mau meluk gue?" goda Reyhan.
"Ogah, Rey. Tobat sana tobat!" kesal Azela.
Azela mendengkus pelan. Renacananya yang ingin mengerjai Azila dan Devi agar ketakutan malah berujung pelukan, uwu-uwuuan.
"Ah, gak asyik!" ucap Azela.
***