Kuis

1036 Words
Kuit Matematika diadakan sekali sebulan untuk mengetes kemampuan siswa. Bu Afni yang terkenal galak itu, selalu membuat soal kuis lebih susah daripada soal ujian nasional. Padahal, apa yang diajarkannya tak sesulit saat kuis. "Tidak ada suara, tidak ada yang mencontek. Kerjakan sendiri, jangan tengok kiri-kanan," ucap Bu Afni mulai membagikan kertas soal pada masing-masing muridnya. "Bagi yang ketahuan mencontek, kuisnya Ibu batalkan dan tidak boleh ikut ujian semester." Ancaman-ancaman itu sudah sering mereka dengar. Sangat jarang mereka berani mencontek saat ada kuis matematika, karena Bu Afni selalu memperhatikan mereka. "Silakan dimulai!" Semua siswa pun mulai membaca soal. Ya, seperti biasa, soalnya sangat susah, melebihi ekspetasi mereka. Jika yang diajarkan oleh Bu Afni Bab sepuluh, maka yang akan keluar di kuis adalah pelajaran bab sebelas atau tidak bab dua belas, yang artinya mereka harus belajar sendiri tentang bab berikutnya. Kesulitan pun mulai dirasakan oleh semua murid. Akan tetapi, Azela tampak santai, tangannya bergerak cepat untuk menuangkan rumus-rumus yant sudah hinggap di kepalanya. Namun, Azela mengetahui banyaknya soal jebakan. Ia harus lebih teliti. Sedangkan saudari kembarnya, Azila tampak kesusahan menjawab soal nomor tiga. Azila masih belum menemukan jawaban pasnya, karena salah rumus. 'Kayaknya emang salah rumus, deh, harusnya pakai rumus yang ini.' batin Azila. Terpaksa ia kembali mengulang mencari jawabannya. "Waktunya tinggal lima menit lagi." Mendengar waktu yang tinggal sebentar lagi, membuat siswa panik dan susah berkonsentrasi. Termasuk Azila yang lagi-lagi salah memasukkan rumus. Ketika sudah dikejar-kejar waktu, Azila tak bisa berpikir tenang. Azela tak sengaja melirik ke arah Azila. Ia sudah menyadari jika Azila stuck di nomor tiga. Apa boleh buat, memang itu soal jebakan. Azela lalu menuliskan nama di kertasnya. Ia memang selalu membuat nama di akhir. Tak ada bedanya dengan Azila. Kertas gadis itu masih tanpa nama, karena sudah panik dengan soal yang belum juga selesai. "Waktunya habis!" ucap Bu Afni. "Siap nggak siap, kumpul!" suruh Bu Afni, yang membuat semua siswa berdiri dan melangkah maju mengumpulkan kertas jawaban. Azila masih berkutik dengan rumusnya. Azela hendak menegurnya, untuk menyuruh Azila mengumpulkan kertas soal, akan tetapi sekarang ia tak boleh mengeluarkan suara. Azela lalu maju memberikan kertas jawabannya pada Bu Afni. "Dalam hitungan kesepuluh, kalau belum dikumpul juga. Tidak akan Ibu terima lagi, ya." Mendengar itu, dengan pasrah Azila berdiri, lalu berjalan pasrah ke depan mengumpulkan jawabannya. Azela hanya tersenyum kecil menatap Azila yang tampaknya sangat lesu, karena tak dapat menyelesaikan soal terakhir. "Baik, terima kasih semua. See you next week. Jangan lupa kerjakan PR-nya. Ibu pamit." Bu Afni pun melangkah keluar kelas. Azila terduduk lesu. Moodnya seketika hancur. Mungkin karena kejadian pagi tadi membuat Azila gagal fokus. Hufh, sangat mengganggu. "Ish, apaansih, soal nomor tiga kenapa. Argh! Harusnya tadi pake rumus simpel aja kelar! Kenapa gue puter-puterin sana sini!" Azila memukul meja kesal. Ya, seperti inilah Azila jika tidak puas menjawab soal. Sudah dipastikan jawaban nomor tiga Azila salah, karena rumus yang dipakainya salah. Azila menyesal tak mempelajari itu tadi, padahal ia yakin soal yang akan keluar pasti soal jebakan. "Udahlah, nggak usah gitu," ucap Azela menenangkan. "Nilai gue pasti cacat, deh, argh!" Menginginkan nilai sempurna. Ya, itulah Azila. Terlalu mengejar nilai dan selalu mengharapkan kesempurnaan. Azila sangat pintar dan ambisius. Maka dari itu, ketika ia gagal, maka penyesalannya tak akan hilang. Berbeda dengan Azela, walaupun kepintaran mereka sama saja, tetapi Azela tak begitu mengejar nilai sempurna. Ia cukup belajar dan mengetahui saja sudah cukup, karena ia tak mencari nilai, melainkan mencari ilmu pengetahuan saja. Pada dasarnya, cari ilmu tidak hanya di sekolah, melainkan di mana saja. Azela mempercayai itu. Jadi, nilai bukanlah tujuan utamanya belajar. "Nanti siang ada ulangan sejarah, kan? Pokoknya gue nggak mau gagal lagi. Gue harus hafalin tiga bab sekaligus!" ucap Azila yang masih tak terima dengan kegagalan kuis tadi. "Nggak usah gitu, ah, santai aja," ucap Azela. "Dih, Azel santai karena tadi Azel dapat jawabannya, kan?" "Hm ... ya." "Pasti nilai Azel lebih tinggi dari gue," ucap Azila. "Kalau lebih rendah dari Azel nggak pa-pa, tapi kalau nilai gue yang paling rendah di kelas gimana?" tanya Azila tak siap membayangkan. Tidak. Ia tak ingin itu terjadi. Azila hanya bisa berharap semoga dua jawabannya yang tadi betul. Tidak masalah jika cuma salah satu, asalkan tidak salah semua. Walaupun begitu, Azila sudah merasa gagal hari ini. "Tenang aja, Zila," ucap Azela lagi, membuat Azila mendengkus. "Tenang gimana, Azel, kalau nilai gue taruhannya." Azela menghela napas pelan. Ia pun mendekati Azila, lalu berbisik. "Kertas jawaban gue tadi gue bikin nama lo. Jadi, lo tenang aja." Mata Azila melebar. Benarkah? Mengingat nama. Azila baru ingat, jika ia belum membuat namanya di kertas jawaban tadi, karena terburu panik. "Lo pasti belum buat nama, kan?" tanya Azela. Azila pun mengangguk. "Bagus. Jadi, kertas jawaban lo itu jadi punya gue." "Zel ... kenapa? Kenapa lo lakuin ini?" "Ah, udahlah. Kan udah gue bilang, nilai nggak penting." Azila tiba-tiba memeluk Azela. "Walaupun gue senang, tapi gue juga marah dama diri sendiri. Kenapa gue selalu jadi beban buat lo?" "Lo bukan beban gue." Sebenarnya Azila senang, karena sudah dipastikan nilainya aman. Namun, ia tak enak dengan Azela. Walaupun mereka kembar, tetap saja itu sebuah kecurangan. Azila ingin mengaku jujur pada Bu Afni. Namun, jika ia jujur yang ada ia dan Azela malah kena, karena dianggap curang dan pastinya itu akan membuat Azela semakin dirugikan. Tentu saja Azila tak ingin Azela berkorban untuknya lebih jauh lagi. Selama ini ia memang sudah menyusahkan Azela. "Zel, cukup yang ini terakhir kalinya. Jangan korbankan diri lo, demi gue." "Gue nggak merasa berkorban, kok, Zila." "Nggak mau denger! Azel selalu lebih mentingin gue daripada diri sendiri!" Azila menutup kedua telinganya. "Karena lo adik gue, Zila." "Sebagai adik harusnya gue nggak jadi beban kakaknya kan?" "Lo ngomong apa, sih?" "Jujur aja. Ini kedua kalinya kan Azel ngelakuin kayak gini? Dulu pas ujian Azel juga nukar kertas jawabannya kan?" Azela hanya terdiam. "Azel nggak harus ngelakuin itu." "Gue ...." "Harusnya Azel yang juara kelas, ya," lirih Azila. "Zila, lo ngomong apa, sih. Lo juga pintar kali!" "Pintar karena dibantu Azel." "Gue cuma bantu saat genting doang." "Tetep aja." Azela memegang pundak Azila pelan. "Kebahagian lo nomor satu bagi gue." Azila pun langsung berkaca-kaca. Ia pun kembali memeluk Azela. Tak peduli, jika mereka sudah menjadi pusat perhatian teman sekelas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD